My Chosen Wife

My Chosen Wife
KELUARGA HARMONIS.



“Maaf  Pak Rava, ada tamu.” ucap Mba Cika ke Rava.


 


 


“Siapa Mba?” tanya Rava sekilas.


 


 


“Ini Pak.” tunjuk Mba Cika ke arah belakangnya.


 


 


Seluruhnya  menoleh kearah tangan Mba Cika, tampak tamu yang tidak di undang itu berjalan mendekati meja makan.


 


 


"Hello... Good Afternoon."


 


 


"Astagaaaa!!! Frans, Deliaaaaa." Raka terkesiap merasa kebingungan.


 


 


"Kagetttt kan? sama dong, ademu juga kaget Bang Raka." Frans berjalan dengan keren mendekati Raka dan memeluk tubuh Raka yang masih mematang kaget.


 


 


"Bagaimana Bang? masih sehat bang?"


 


 


"Ya sehatlah! Kalau gak sehat, mana mungkin bisa di sini." gumam Raka mencoba melepaskan tangan Frans dari tubuhnya.


 


 


Sedangkan Delia di sana, di sambut Eva dan yang lainnya dengan senang. Varel, Leo dan Jimmy, hanya bisa menggelengkan kepalanya, kalau manusia langkah ini datang.


 


 


"Orang-orangan salju! lo kagak pernah sadar ye, kalau Pak Raka itu gak suka kalau di peluk sama Lo. Najis gitu kayaknya." sindir Jimmy.


 


 


Frans melirik ke Jimmya, masih memeluk Raka.


 


 


"Masbuloh!" jawabnya dan memeluk tubuh Raka lagi.


 


 


"Lepaskan!!!" kata Raka.


 


 


"Sebentar lagi Bang." balas Frans masih menempelkan kepalanya di atas dada Raka.


 


 


"Agh... Frans, kau sudah tua. Masa iya masih kayak anak-anak begini?" Raka ngomel.


 


 


Frans pun melepaskan tubuh Raka.


 


 


"Yang tua kan bang Raka. Frans masih muda loh, masih kuat. Nah, bang Raka??? Heheheheh..." nyindir Raka dia.


 


 


Raka membulatkan kedua matanya.


 


 


"Gak sopan lo sama orang yang lebih tua!"


 


 


"Nah, itu ngaku kalau sudah tua.” celetuk Frans dengan menunjuk Raka.


 


 


“Paman Frans, ayo sini, makan dulu. Kenapa sih kalau datang gak bilang-bilang.” kata Vara mendekati Frans.


 


 


“Karena Pamanmu itu mirip sama Jailangkung Vara. Kenapa kamu tanyakan lagi? “ saut Casandra.


 


 


“Dih, Mba kunti kok tau sih? anak pak  RT ya?” ledek sih Frans dengan gaya sok kerennya.


 


 


“Pak RT? apaan juga?”


 


 


“Sudah-sudah, Frans ayo sini, temani Delia. Delia sepertinya kelelahan deh.” kata Eva ke Frans.


 


 


“Gimana gak kelelahan Mba. Kita sudah tiba tiga hari lalu di Jakarta, mengurusi  barang-barang yang di bawa dari sana ke sini. Jadinya ya lelah beneran, ini kita mampir untuk memberikan dukungan dan doa buat Renata dan calon cucu.” kata Frans sok bijak dan mendekati Eva juga Delia.


 


 


 


 


“Mengurusi barang? Kau jadi pindah ke Jakarta Frans?” tanya Raka dengan serius.


 


 


“Iya bang, kaget kan?” Frans tertawa.


 


 


“Asataga, kenapa gak bilang-bilang sih Paman? Kan kita bisa bantui pindahan gitu.” kata Rava dengan mata membulat.


 


 


“Tidak usah Nak, Paman yakin kau sangat lelah. Bukankah, kau juga barusan pulang dari Bandung?” tanya Frans.


 


 


“Loh kok Paman tau?” Rava  bingung.


 


 


“Tau dong, kan kamu terdaftar di salah satu pengusaha muda terprofesional. Citra mu di Irlandia, di acungi jempol.” kata Frans dengan bangga.


 


 


“Oh  ya? kenapa Rava baru tau ya?”


 


 


“Kalah dong papanya Rava?” saut Casandra.


 


 


“Sepertinya begitu,” sambung Frans.


 


 


“Kenapa jadi Papa, Aku sih yang kalian ledekin?” Vara langsung memeluk tubuh Raka dengan manja.


 


 


Raka malahan tertawa dengan mengelus sayang puncak kepala  Vara.


 


 


“Tidak masalah sayang, itu memang sudah waktunya. Bukankah sebentar lagi, papamu ini bakalan jadi Opa?”


 


 


“Iya sih, Tapi papa tetap yang terbaik,” balas Vara lagi.


 


 


“Ya sudah, lanjut makan dong,” kata Eva ke yang lainnya, karena si Harsen dengan tenangnya menikmati makananya, tanpa sibuk-sibuk mengurusi si Frans yang dia tau sudah begitu dari jaman ke jaman.


 


 


 


 


“Sebentar! Itu si James, sudah menjadi manager di perusahaan Atmadja Group. Apa dari kalian tidak ada yang tau?” tanya Frans dengan melihat ke arah semuanya.


 


 


“James??? jadi manager? Tidak tau.” kata Raka dengan keningnya yang mengerut.


 


 


“Hem…perusahaan sendiri masa tidak tau sih Bang?” sindir Frans.


 


 


“Iya dong, kan bukan abangmu yang mengurusi itu,. Abang cuma mengesahkan saat mereka ingin menambah orang baru saja, untuk staff yang kekurangan di bidangnya. Nah, Abang tidak tau kalau James ikut ngelamar di perusahaan abang.” balas Raka melihat James dan Jimmy.


 


 


Keduanya pun salah tingkah sendiri.


 


 


“Ehemmm… Sejujurnya nih Pak Raka, James melamar di Atmadja Group yang di Jakarta Pusat, jadinya ya gak tau.” balas Jimmy.


 


 


“Hemmm.. Harusnya sih saya tau. Mungkin saja, data James belum masuk. Tapi, Frans kok kau bisa tau?”


 


 


 


 


 


 


 


 


“Rava , Paman.” sambung Rava.


 


 


“Pantesan saja dia tidak tau, Rava kemarin sempat cuti beberapa kali untuk menjaga  Renata.” kata Raka.


 


 


“Terus, kenapa di permasalahkan? Harusnya kita berpesta dong, James bisa masuk dengan jalur murni.” Rere menimpali.


 


 


“Ya, karena dari itu Frans mempersalahkannya Mba Re, karena James harus memberikan traktiran makan malam buat kita.” sambung Frans dengan bangga.


 


 


“Loh! Gaperta saja belum kelar om salju! masa iya minta traktiran. Om dong, kan baru pindah nih di Jakarta, kenapa gak paman saja yang traktir kita? hitung-hitung, mengurangi kepadatan penduduk di rekening Om Frans.”


 


 


“Kau bisa saja anak Jimmy!” balas Frans dengan manik mata dinginnya.


 


 


“Yang di bilang anak si Anna  benaran itu.” sambung Casandra.


 


 


“Yuhuuu, benaran itu. Kita harus minta traktiran sama Paman Frans. Hitung-hitung hiburan sebelum lahiran.” saut Renata.


 


 


“Ide bagus. mari kita bepesta.” sambung Leo bersemangat.


 


 


“Hemmm… good. Ide bagus itu, setidaknya kita merasakan duit hasil dari seorang Tuan Frans yang gemilang di Irlandia. Gak hanya numpang lewat  juga di Tv perusahaan setiap saat.” saut Varel ke Leo.


 


 


“Yessss… saya setuju.” Delia mengangkat tangannya. Frans melirik ke sang Istri.


 


 


“Saya sih yess…” Rava ikut mengelurkan pendapatnya.


 


 


Jenny dan Frans bingung sendiri melihat orang-orang di sekitar mereka  bisa sekompak itu mendemo si Frans dan membantu James keluar dari jebakan si Frans.


 


 


“Ini namanya kalian sengaja  demo  sama-sama! biar akunya yang traktir kalian semua kaaaan?.” kata Frans protes.


 


 


“Saya sih Yessss!” sambung Jimmy kuat-kuat.


 


 


“Saya juga Yesss.” Anna ikut-ikutan.


 


 


“Saya juga Yesss.” sambung Mba Cika.


 


 


Semuanya pun tertawa dengan gelinya.


 


 


“Mba! kamu siapa sih? belain saya dong!” ketus Frans ke Mba Cika.


 


 


“Pak maaf, saya cuma latah doang kok. Maaf di lanjut saja, saya cuma mau mengambil piring kotor saja.” kata Mba Cika dengan sungkan dan malu.


 


 


“Astaga, kenapa dari kalian semua tidak ada yang membela saya?” Frans sedih sendiri.


 


 


“Karena itu, lo jangan nakal! gini nih, kalau semuanya udah gak tahan sama lo! Istri lo aja gak dukung lo!” ketus Jimmy.


 


 


“Bentar!!! masih ada Mba Eva dan Bang Raka juga.” balas Frans.


 


 


“Kalau Mba sih Yes.” jawab  Eva dengan tersenyum sumringah.


 


 


“Astaga Mbaku… gitu amat sih sama Frans.”  rengek Frans, terus melihat ke arah Raka, “Kalau Bang Raka gimana?”


 


 


“Rumahmu di mana!” Raka curiga.


 


 


“Kok lari jalur?”  tanya Frans.


 


 


“Jawab dulu! Rumahmu di mana???”


 


 


Pertanyaan Raka membuat semuanya melirik ke arah Raka, benar juga. Kenapa gak ada yang bertanya sedari tadi.


 


 


 


 


“Hemmm… empat rumah dari kediaman Bang Raka dan Mba Eva.” Frans menjawab gugup.


 


 


Raka menepuk jidatnya. “Matilah!”


 


 


 


 


Semuanya tertawa melihat respon Raka, termasuk si Frans  yang ikut cengengesan.


 


 


“Bisa gila gua tiap hari jumpa ini anak.” sambung Raka lagi dengan lesunya.


 


 


“Awet muda dong Besan.” sambung Leo.


 


 


“Agh, kamu Leo! coba saja kamu yang di posisi saya! biar kamu tau rasanya kayak apa.” Raka terduduk lemas.


 


 


“Sudah-sudah!  ayo kita makan dulu, nanti malam, baru saya ajak kalian untuk makan malam bersama.” kata Frans berbangga diri sambil mengambil makanannya yang sempat menggugah seleranya sedari tadi.


 


 


 


 


“Acara tujuh bulanan ini semakin ramai adanya paman Frans.” bisik Renata ke Rava.


 


 


“Apa kau bahagia? tentunya sangat bahagia, karena Kau terlihat tertawa sedari tadi. Apa kau mau tinggal bersama Papa dan Mama? biar berjumpa dengan paman Frans setiap hari?” tawar Rava ke  Renata.


 


 


“Aku??? tidak. Papa Raka saja, sudah lemas. Jangan-jangan aku bisa melahirkan sebelum waktunya, kalau setiap hari tertawa seperti sekarang. Ini saja, pipis ku sudah merembes sedikit demi sedikit karena menahan tawa karenanya, konon kalau setiap hari.” bisik Renata lagi.


 


 


Rava pun tertawa geli di tengah-tengah keluarga yang sedang menikmati makanannya. Sehingga Rava menjadi pusat perhatian mereka yang sudah serius dengan acara makan-makannya.


 


 


“Awas gila!” sambung Frans dengan melahap makanannya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


.


.


Yuk di bantu VOTE, berikan apresiasai kalian untuk Keluarga Atmadja, hingga besok minggu saja. Dan jangan lupa follow IG saya @putritritrii_ atau profil di Mangatoon/Noveltoon, agar kalian tau, di mana saya akan mengangkat Novel baru saya nantinya :). Terima kasih ^^