
“Rava, Aku mau kerja boleh ya? Aku bosan tau di rumah aja.” kata Renata saat dia membantu Rava mengenakan jas kantornya.
“Enggak boleh! Entar kalau kamu di culik lagi gimana?” balas Rava sedikit kesal.
Entah ke berapa kalinya pertanyaan yang sama Renata lontarkan ke suaminya yang semakin posesif dengan dirinya, setelah kejadian seminggu yang lalu mereka terkena musibah saat bulan madu Vara dan Harsen, di mana dirinya dan sang adik ipar itu di kurung di dalam gudang oleh Ansel. Rava saja hampir gila, memikirkan hal yang tidak bisa dia bayangkan. Jika saja dia kehilangan sang istri dan calon bayinya.
Karena itu, Rava terus menolak apapun yang menjadi bagian pekerjaan untuk Renata. Karena sebelumnya, papi Varel sudah mengizinkan Renata untuk turun dari jabatannya, sesuai kemauan Rava, dan dengan mudahnya Rava mendapatkan izin itu dari sang mertua.
Renata kalah telak dari Rava, tapi bukan Renata namanya yang bisa berhenti hanya sampai di situ aja, sebelum dia benar-benar membujuk sang suami untuk memberikan izin. Renata merasa kehamilannya sudah sangat baik dari sebelumnya. Apa lagi, Renata sudah jarang merasa mual atau juga pusing. Jika pun pusing atau mual, bukankah ada Defan yang setia bersama dengannya ikut kemanapun Renata pergi.
Tapi Renata kecewa, saat melihat sang suami akan pergi ke kantor. Dia mikir, kenapa Rava boleh sedangkan dirinya gak boleh, bukankah kehamilan-nya juga sudah baikan. lagi-lagi merasa kecewa dengan jawaban Rava pagi ini.
“Kamu benaran gak izini Aku ?” tanya Renata dengan kedua manik matanya yang sudah mengkilat.
Rava menghela nafasnya dan menyentuh kedua punggung sang Istri dan saling bertatap wajah.
“Sayang, Aku ke kantor juga mau ngurusi masalah yang mendadak. Kalau gak mendesak juga Aku gak akan pergi ke kantor , sampai kehamilan kamu benar-benar menginjak usia tiga bulan. Jadi, Aku mohon mengertilah, ini untukku , kamu dan anak kita. Setelah siap bekerja, Aku langsung pulang kok, gak akan ke mana-mana.” jelas Rava ke Renata yang sudah memasang wajah cemberut dan bersedih.
“Ayo dong, jangan bersedih gitu.” Rava berpinda ke bagaian perut Renata, dia berjongkok dan mengelus-ngelus perut sang Istri yang sudah membulat kecil kemudian dia mendaratkan ciuman di bagian perut Renata.
“Sayang, sama Mama di rumah ya. Baik-baik aja ya nak, kalau bosan ada uncle Defan yang lucu, yang akan menemani kalian selama Papa gak di sini.” ucap Rava sambil mengelus-ngelus lagi perutnya Renata.
Tidak ada respon baik dari Renata, Ia semakin sedih aja Rava tetap dengan pendiriannya. Bayangkan saja, di rumah seharian penuh, jenuh melanda diri Renata. Rava berlebihan sekali pikirnya.
Rava berdiri dan memberikan kecupan di kening Renata.
“Aku berangkat bekerja ya Sayang.” katanya sesudah memberikan kecupan sebelum beraktivitas.
Renata malahan berjalan ke arah tepi ranjang dan hanya berdiam tanpa menjawab bahkan dia tidak menatap Rava. Rava di buat pusing ini, sama sikap Istri hamil yang berubah-ubah perasaan.
“Sayang, jangan seperti ini dong. Entar Aku kepikiran loh di sana kalau kamu begini, menatap aku aja juga gak mau. Apa kamu mau ikut aku ke kantor yuk, tapi aku gak akan bisa nemani kamu, karena aku harus memimpin rapat Sayang.” Rava lagi-lagi berjongkok di depan Renata sambil menarik punggung tangan Renata yang sedang ngambek .
Tiba-tiba Renata menangis sedih, duh rasanya perasaan Renata itu tipis selama di kehamilan awalnya.
“Loh kok jadi menangis sih? Kamu benar-benar buat Aku serba salah Sayang. Ya sudah deh, Aku ngalah,Aku gak usah aja bekerja. Biar aku suru Harsen yang menggantikan Aku.” kata Rava sambil duduk di atas lantai dan mengusap air mata kesedihan dari wajah sang Istri dengan ibu jarinya, dia kehabisan akal.
“Jangan! Harsen kan masih belum pulih. Ya sudah sana pergi aja, Aku mau tiduran aja di sini. Kau hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut! Pegang janji, kalau kau harus cepat pulang. Kalau lama pulang, kau lihat saja!” kedua manik mata yang sudah tergenangi air mata menatap tajam ke Rava.
Rava bukannya takut atau marah, dia malahan mau tertawa melihat sikap Renata yang seperti anak-anak itu. Membuat dirinya ingin menghujami ciuman di wajah istrinya yang sudah membulat , tapi dia gak berani, lagi gak pas moodnya. Entar bisa-bisa, Rava di gampar sama Renata.
“Benar nih? aku bisa berangkat nih?” Rava meledek lagi dengan beranjak berdiri.
“Benar. Sudah sana pergi, sebelum Aku benar-benar marah sama Kamu! rasanya gemas gimana gitu.” ucap Renata dengan menyekah air matanya.
“Astaga, Kau sangat menggemaskan sekali.” Rava memberanikan diri untuk membenamkan sekilas ciuman, di bibir tipis Renata.
“Jangan mencoba merayuku!” ketus Renata .
“Enggak, Kau sangat cantik. Sampai jumpa nanti Sayangku, jangan marah-marah terus ya. Byeeeeee.” Rava cepat-cepat bergegas sebelum Renata melempar sandal rumahnya ke arah Rava.
Setelah mampu memberikan bujukan dan rayuan, kini Rava berjalan ke arah kamar Defan dan memintanya untuk menemani Renata selama dia tidak di rumah. Dan meminta Defan untuk membawa Renata sekedar berjalan-jalan di sekitaran halaman rumah depan. Setelah memberikan pesan ke Defan, akhirnya Rava benar-benar meninggalkan rumahnya dengan perasaan yang nyaman.
***
Siang hari, di mana Renata dan Defan selesai makan siang, dan Rava juga tidak kunjung kembali, membuat Renata terus-terusan mencebikkan bibirnya, meskipun dia sedang menonton bersama Defan dan mendengar celotehan-celotehan Defan yang harusnya bisa membuatnya tertawa, tapi ini tidak. Tidak bisa merasakan seperti biasanya, hingga membuat Defan sendiri bingung. Tumben pikirnya, dia gagal menghibur Renata.
“Kak Rena.” panggil Defan tiba-tiba yang duduknya tepat di depan Renata sambil berselonjoran di atas sofa,
“Iya?” Renata menoleh ke Defan.
“Kakak kenapa sih? kok Defan lihat murung ajaaa bawaannya dari tadi. Kakak bosan ya, ada Defan di sini?” tanya Defan sedih.
“Enggak kok, Kakak gak bosan ada kamu di sini. Jangan berpikiran seperti itu, Kakak hanya bosan seperti ini terus Fan. Terus gimana dong? rasanya kan bosan kalau kita di rumah aja?”
Defan mencoba berpikir sejenak, seakan dia mencerna dan mencari akal untuk membuat Renata tidak bosan.
“Hemmm… Kakak pengen ke mana?” tanya Defan ingin tau.
“Hemmm… Kata kak Rava dia pulang cepat gak?” tanya Defan lagi.
“Iya. Karena itu Kakak dari tadi menanti kepulangan Kakak kamu itu, soalnya kan janjinya tadi pulang cepat setelah rapat. Ini juga sudah lewat jam makan siang, gak pulang-pulang juga.” balas Renata dengan mencebikkan bibirnya kesal.
“Okey, coba Defan hubungi Kak Rava. Kita izin makan ice cream aja mau gak kak?” tawar Defan.
“Coba aja kalau di kasi Izin.” balas Renata malas.
Defan pun menyanggupi perkataan Renata, dengan cepat mengambil ponselnya dan menyentuh layar ponselnya mencari nomer Rava dan memilih panggilan. Sudah tiga kali, tidak ada jawaban dari Rava.
“Kenapa?” tanya Renata yang melihat kening Defan mengerut.
“Gak ada jawaban Kak.” balas Defan.
“Mungkin saja sibuk Fan.”
Tak lama terdengar suara notifikasi pesan masuk dari ponsel Defan.
Kak Rava.
✔ Kakak masih sibuk Fan, jangan membawa Renata keluar dari rumah, Kau berikan saja Renata hiburan sesuai dengan cara dirimu memberikan hiburan ke orang-orang. Awas saja, Kau membanta dan diam-diam membawanya ke tempat lain, Kau berhadapan dengan Kakak!
“Astaga, kok begitu amat sih?” gumam Defan ke ponselnya.
“Kenapa Fan?” pensaran dengan balasan Rava, Renata pun bangkit dari duduknya dan mencoba mendekati Defan dan menatap ponselnya Defan.
“Huuuuh… Kau lihat sendiri kan Fan? ya sudah.. tidak usah di ambil pusing, Kakak ke atas dulu ya, pengen rebahan.” balas Renata sambil berjalan ke arah tangga, tanpa menunggu jawaban Defan.
Defan memperhatikan langkah Renata yang dia tau sedang bersedih itu.
“Kak Rava keterlaluan banget sih!” gumam Defan kesal.
***
Malam pun datang, tepatnya pukul 19:56, Renata masih senang di kamarnya menghabiskan waktunya sendiri, meskipun sesekali Defan datang ke kamarnya hanya sekedar melihat keadaan Renata. Dia sudah tidak perduli lagi dengan janji Rava sebelumnya. Dengan berbaring di atas ranjang untuk menghabiskan waktu di dalam kamar, sambil menatap layar Tv di depannya, Renata mengabaikan semua pesan dan panggilan Rava yang sedari tadi ingin memberikan penjelasan akan keterlambatannya pulang, itulah cara dia melupakan waktu yang terus menerus berjalan tanpa henti.
Hingga setengah jam kemudian, suara decitan pintu terbuka membuatnya menoleh ke arah pintu. Wajah Rava yang tampak terges-gesa dan dengan nafas yang terengah-engah menatap ke wajah Renata. Keduanya saling memandang, hingga Renata yang memutuskan kontak mata. Begegas Rava berjalan menuju ranjang, saat mendapati Renata langsung memasukkan tubuhnya ke dalam selimut dan menutup wajahnya.
“Sayang, jangan marah dong, dengarkan dulu penjelasan Aku.” Rava berdiri di depan posisi Renata tidur.
“Sana! kamu bau! pergi aja sana, bobok di luar, ingkar janji kamu tuh.” suara Renata terdengar marah.
“Sayang, tadi harusnya jam tiga itu aku sudah siap mengurusi pekerjaan Aku, dan tiba-tiba aja ada klien yang ngajakin ketemuan di luar kantor, terus aku gak bisa nolak, jadinya sampai lupa waktu sayang, tolong dong jangan marah sama Aku.” ucap Rava dengan memohon.
Tidak ada jawaban dan pergerakan Renata, Renata tidak bergeming, dia hanya menutup seluruh wajahnya tanpa mau menerima penjelasan dari Rava.
“Sayang, kalau kamu diam aja, aku pergi nih!” ancam Rava.
Renata masih berdiam, hingga lima menit lamanya Rava menunggu.
“Ya udah ya, marah kan? aku benaran pergi, kamu tidur aja sendiri di situ, Aku tidur di jalanan!” ancam Rava dengan cepat dan berjalan menuju pintu.
Bruggggg…
Terdengar suara pintu yang terbuka dan tertutup. Renata membuka selimutanya dan melihat sekelilingnya. Benaran saja, Rava benar-benar pergi dari kamarnya dan meninggalkan sang Istri yang ngambek. Renata yang merasa tidak terima oleh marahnya Rava, dengan cepat bergegas dan melempar selimutnya hendak mengejar sang suami.
“Bisa juga dia ngambek?”
***
Kalau suka, mana nih VOTE nya.Huhuhu…