My Chosen Wife

My Chosen Wife
APAAAA!!!



Kediaman Raka Atmadja.


“Paman, Bibi, Kak Rava. Harsen dan Vara siap untuk MENIKAH!!!”


 


Ketiganya tercengang, gila benar si Harsen, sungguh tidak membuang waktu saja dia. Mengatakan tujuannya yang sesungguhnya, tanpa basa-basi.


 


Kedua mata Rava di buat membulat oleh Harsen, menatap raut wajah kemantapan dari Harsen. Sedangkan Vara, wajahnya masih berselimutkan kegusaran.


 


"Ini nih... Pria yang gentleman. Tanpa melalui papa dan mamanya, datang langsung membawa tubuhnya meminta izin untuk menikahi Putriku Vara." Raka berucap dengan beranjak dari duduknya, dengan jari telunjuk yang di arahkan pada keduanya.


 


Kedua mata Vara di buat mengikuti gerak sang Papa. Kalau Harsen, cuma menatap dengan kemantapan hatinya. Tidak ada ketakutan, kegusaran, hanya keberanian yang ada pada dirinya.


 


"Duduklah dulu." ajak Raka dengan menarik bahu Harsen.


 


Vara langsung berjalan mengarah ke Eva. Duduk di samping Eva dan memeluk tubuh Eva. Harsen sendiri, berada di tengah-tengah Raka dan Rava.


 


"Apa Kau sudah yakin Sen, menghadapi tingkah Vara yang manja?" tanya Rava sekilas menaikkan alisnya dan melihat ke Vara.


 


"Sangat yakin Kak." Harsen menatap kedua manik mata Rava tanpa berkedip.


 


"Hemmmm.... Baiklah, kalau Rava terserah pada keputusan Mama dan Papa." kata Rava dengan santai.


 


"Mama sih Yes." sambung Eva dengan mantap.


 


"Serius Ma?" Vara yang di dalam pelukan sang Mama mendongak ke atas.


 


Eva tersenyum dan menganggukan kepalanya.


 


"Serius... kenapa tidak serius? Bukannya Harsen sudah kenal baik dengan kita? apa yang harus kita ragukan lagi Nak? Perlakuannya ke Vara juga sangat lembut. Mama yakin, Harsen itu pria yang sangat bertanggung jawab." kata Eva memuji.


 


"Seperti Aku." sambung Raka gak mau kalah.


 


"Iya benar. Seperti Papa kamu, sangat bertanggung jawab kepada keluarganya." kedua mata Eva saling beradu pandang dan senyuman melingkar di bibir keduanya. Tangan Eva mengelus kepala Vara dengan sangat lembut.


 


"Terima kasih Mama Bear." Raka mengedipkan salah satu matanya ke Eva.


 


"Dih, papa genit." ucap Vara manja.


 


"Biarin! Vara gak bisa kan?" ledek Raka ke Vara.


 


"Idih Papa..."


 


Raka tertawa.


 


"Baiklah, keputusan Papa sama dengan Mama dan Kak Rava. Jika memang kalian sudah bersiap, ya ayo. Papa akan nikahkan kalian berdua. Tidak usah berlama-lama. Kalau memang sudah berniat, kenapa tidak bukan? Jadi, intinya Papa setuju." Raka berucap dengan tegas.


 


Vara yang mendengar perkataan Raka, di buat senang bukan main. Vara berlari ke arah Raka yang berdiri di depan mereka.


 


Vara memeluk Raka, dengan kedua sudut matanya yang sudah di genangi buliran cairan putih.


 


"Terima kasih Papa." ucapnya di dalam pelukan sang papa.


 


Raka mengeratkan pelukan putrinya. Walaupun rasanya ada kesedihan tersendiri, membayangkan sang putri kecilnya, akan meninggalkannya, untuk hidup bersama sang suami. Tapi, sedihnya Raka hanyalah semata, karena lebih besar rasa bahagianya untuk melihat Vara tersenyum bahagia.


 


"Sama-sama Anakku. Jangan menangis, kan ini kabar bahagia." Raka mengelus puncak kepala Vara.


 


"Vara terharu Pa. Tapi, Vara cuma mau bilang sama Papa, buat Vara, Papa masih yang pertama di hati Vara. Cinta pertama Vara yang sangatttt membekas dalam kehidupan Vara." Vara mendongak ke atas dan mengecup pipi Raka. Karena memang benar, bagi Vara, Raka adalah sosok Papa terbaik dalam hidupnya.


 


"Jangan seperti ini, nanti calon suami kamu cemburu loh." Raka menatap wajah Vara, dan tangannya mengusap lembut kedua pelupuk mata Vara dengan ibu jarinya.


 


Semuanya hanya tertawa.


 


"Selamat ya Sen. Gak susah kan? Di terima di keluarga Atmadja? Kau memang layak bersanding dengan adikku. Ketimbang si Ansel." Rava merangkul pundak Harsen.


 


"Ansel?" Vara dan Harsen sama-sama berucap dengan melihat ke arah Rava.


 


Rava mengangguk.


 


"Iya... Ansel. Tadi pagi, Kakak dan Papa akan melakukan kerja sama. Karena Papa takut melakukan kesalahan, Papa mengajak Kakak untuk menemani Papa, melakukan perjanjian kerja sama. Yang tak lain dan tak bukan, perusahaan milik papanya si Ansel. Kalian tau apa yang dia mau dari kerja sama ini?" Rava menatap serius pada Vara dan Harsen.


 


"Enggak Kak." balas Vara.


 


"Papanya Ansel, meminta Vara menjadi istri dari anaknya si Ansel. Gilaaaa! Pria macam apa seperti itu." umpat Rava.


 


"Astaga, segitunya banget! Pantesan aja tuh si Ansel suka tebar-tebar pesona kalau lihat Vara." decak Vara tidak percaya.


 


"Syukur mereka gak jumpa Mama." sambung Eva.


 


"Kenapa emangnya kalau jumpa Mama?" Raka menjawab.


 


"Bakalan Mama cocol cabe mulut mereka. Masa iya, jadi pria kok sebegitunya?" Eva sedikit emosi.


 


"Karena anak Mama cantik kayak Mamanya. Kalau anak kita gak cantik, Ma. Mana mungkin, Harsen juga kelepek-kelepek sama Vara." Raka menatap ke Eva.


 


"Benar juga ya Pa." kata Eva turut senang.


 


Hsrsen sendiri hanya berdiam. Kedua tangannya terkepal. Mencengkram erat tanganya sendiri, perasaan geram atas ulah Ansel dan papanya, membuat Harsen marah.


 


"Ya sudah, yang terpenting adalah kebahagiaan putri Papa. Papa tolak kok kerja sama yang mengaitkan dengan keluarga." Raka kini berpindah duduk di samping Eva dan merangkul pinggang Eva dengan mesra.


 


"Terima kasih ya Pa. Tapi, Papa jadi kehilangan kerja sama dong? Karena Vara." Vara menunduk.


 


"Tidak! Papa sebelumnya, memang tidak ingin menerima ajakab kerja samanya. Karena Papa mengingat, anak tuan Edward adalah teman kamu, Papa merasa tidak enakan. Karena dari perusahaan paman Frans sudah duluan mengajukan untuk bahan baku impor ke perusahaan Papa. Intinya, Papa hanya kasihan Nak, mengecewakan keluarga teman kamu." jelas Raka.


 


"Bukan teman Vara, Pa! anak perempuannya jahat! Hampir jebak Vara di hotel!" jawab Rava.


 


Eva dan Raka sama terkaget dengan ucapan Rava.


 


 


"Iya Ma. Syukurnya, selama Vara di sana , Rava mengirim orang untuk melihat ke mana saja arah aktivitasnya Vara. Dan syukurnya itu tepat waktu. Karena Vara jarang ikut mereka pulang malam. Jadinya ya gitu, katanya anak Mama. Gak gaul, nah... Vara jadi mau di gauli tuh sama mantan teman-temannya." balas Rava sedikit emosi.


 


"Benarkah itu Vara?" Raka menatap sang putri.


 


Vara menganggukan kepalanya.


 


"Benar Pa, tapi syukurnya Vara juga sadar, karena itu juga Vara kabur. Dan orangnya Kak Rava datang tepat waktu."


 


Raka menghela nafasnya.


 


"Syukurlah, Aku memiliki anak yang pintar dan bisa jaga diri." Raka menghela nafasnya.


 


"Karena Mama dan Papa, contoh baik untuk Rava dan Vara." balas Rava dengan menatap Vara.


 


"Benar... yang Kakak bilang." Vara menimpali.


 


"Dan menantu kita juga, anak-anak yang baik. Bersyukur banget, jadi orang tua kalian. Agh.. baiklah kalau begitu, kapan Vara dan Harsen menggelar pesta?" tanya Raka menatap ke Vara dan Harsen.


 


"Minggu depan Pa." balas Vara dengan santainya.


 


Raka dan Eva saling berpandang-pandangan.


 


"Bagaimana bisa minggu depan nak? Kan banyak yang harus kita persiapkan?" Raka menatap sang putri.


 


"Pa, Ma. Vara dan Kak Harsen, tidak mau pesta yang gimana-gimana. Vara gak mau ribet, Vara mau seperti pestanya Kak Rava dan kakak ipar. Biar gak melelahkan juga." balas Vara dengan manjanya.


 


"Gak mau gitu, pesta di kapal pesiar?" Rava memberikan idenya.


 


"Gak Kak. Vara gak mau, sederhana saja. Yang penting sah sebagai suami istri." kata Vara menatap Harsen.


 


Harsen tersenyum. Benar yang di katakan Vara, pernikahan yang sederhana saja sudah cukup bagi mereka berdua.


 


Bukan di lihat dari seberapa megahnya pesta pernikahan itu, seberapa cantiknya dekorasi yang menghiasi ruangan gedung pesta.


 


Dan Seberapa mahalnya gaun pengantin, bahkan seberapa banyaknya tamu undangan. Bukan itu yang di lihat dari pernikahan di pikiran Vara dan Harsen.


 


Bagi Vara dan Harsen, pernikahan adalah komitmen. Komitmen untuk hidup menjadi satu. Menyatukan perbedaan dari kedua sifat pasangan.


 


Menyatukan tujuan mereka dari perbedaan kemauan. Bahkan, menyatukan perbedaan pikiran untuk menjadi selaras dalam ikatan rumah tangga.


 


Vara dan Harsen berkomitmen untuk sehidup semati. Melewati badai rumah tangga yang akan melanda nantinya.


 


"Baiklah, kalau mau seperti itu. Tergantung kalian berdua, konsepnya mau seperti apa. Papa hanya bisa membawa Vara berjalan ke pelaminan, untuk bersanding bersama Harsen. Selebihnya kalian berdua yang tentukan." kata Raka dengan kedua mata berbinar.


 


"Okey Pa." kata Vara dengan senang.


 


"Bagaimana Harsen? Apa mama dan papa kamu sudah tau soal ini?" tanya Eva.


 


"Belum Bi. Harsen masih meminta izin dari Bibi dan Paman. Usai dari sini, Harsen akan mengabari ke papa dan mama." balasnya tegas dan kakuh.


 


Vara menatap wajah Harsen dan tersenyum.


 


'Kenapa jadi gugup dan kakuh? bukannya tadi dia sangat bersemangat sekali?'


 


"Harsen memang Pria idaman setiap Wanita. Syukurnya Kakak Pria. Kalau Wanita, mungkin duluan kakak goda!"


Rava menyentuh pundak Harsen sambil tertawa.


 


"Ngawur kamu Kak!" balas Vara dengan mata di lototkan.


 


Eva dan Raka tertawa dan menggelengkan kepalanya.


 


"Makan malam sudah terhidang di meja makan Bu, Pak." kata Mba Santi.


 


"Okey, baiklah semuanya. Ayo kita makan malam dulu." Raka beranjak dari sofa. Dan mengajak seluruhnya dengan bersemangat.


 


Seluruhnya mengikuti Raka dari arah belakang. Eva mendekati Rava.


 


"Renata sudah tau kamu makan malam di sini Nak?" tanya Eva.


 


"Sudah Ma. Terima kasih sudah mengirim Defan untuk kami Ma."


 


"Untuk Renata tepatnya. Karena kamu sangat overprotektif ke Renata sayang. Mama jadi takut, dia tertekan. Karena itu kehamilan pertama, semuanya serba pertama untuk kalian berdua. Kalau ada Defan, selama Renata di rumah, dia akan terhibur. Seperti Mama dulu, waktu mengandung kamu. Pamanmu Franslah yang menemani Mama. Selama papa kamu bekerja." ucap Eva sambil menarik salah satu bangku di meja makan.


 


"Hemmm...Benar yang di katakan Mama kamu Rava. Jangan sampai menantuku Renata tertekan." Raka menimpali.


 


"Iya Kak... awas saja kalau kakak membuat kak Renata stress." ancam Vara dengan mengangkat garpunya.


 


"Iyaaa, kalian tidak usah takut. Sebisa mungkin Rava akan memberikan yang terbaik. Mana mungkin Rava mau membuatnya stress dan tertekan. Bukan suami kaleng-kaleng ini!" Rava mendaratkan tubuhnya di samping Harsen.


 


Drtttttttt... Drttttt... Drrttttt...


 


Getaran ponsel Rava terdengar di atas meja makan. Pertanda ada panggilan masuk dari ponsel Rava, seluruh mata menatap ke ponsel Rava.


"Sebentar, Rava angkat. Dari Defan." ucap Rava dengan jantung yang berdegup kencang.


 


[Ya Fan?]~ Rava.


[Kak Rava, Kak Renata kepengen sesuatu.]~Defan.


Sejenak hati Rava legah.


[Ouuu... Kepengan di bawain apa Fan?]~ Rava.


[Kata Kak Renata, Kak Rena mau makan mangga muda, yang kakak petik dari pohonnya sendiri.]~Defan.


[Apaaaaaaaaaa!!!]~ Rava.


.


.


Mana nih VOTE dan LIKE nya 😍😘. Selamat hari minggu ya. Jangan lupa bantu dukung karya saya lewat VOTE dan Like kalian. Vote akan di tutup hari ini di jam 22:59:59. Terima kasih 😍