My Chosen Wife

My Chosen Wife
Terlalu Mengatur



Mmmm, Pak Rey, kenapa masih di sini? Tanyanya


Tidak boleh perempuan berkendara sendirian di malam hari, apa kau tau di daerah sini sering terjadi kejahatan. tukas lelaki tersebut bermaksud menakutinya.


Rey segera menarik tangan Kinaya untuk ikut dengannya.


tolong lepaskan tanganku, rontahnya


Aku hanya ingin mengantarkan mu pulang, ucapnya setelah membuka pintu mobil di bagian penumpang.


Tapi aku bisa pulang sendiri, ...


Aku sudah menyuruh orangku untuk membawa mobilmu, masuklah... perintahnya dan membuat perempuan tersebut seakan terhipnotis dan segera memasuki mobil dan duduk di samping kemudi dengan keadaan terpaksa.


Wanita bertudung ini terlihat memegang jemarinya dan meringis kesakitan akan bekas tarikan laki laki yang baru ia kenal itu.


Kau kenapa.? Tanya Rey yang sedari tadi melihat Kinaya mengibas-ngibas tangannya...


Perempuan itu hanya diam menatap tajam ke arahnya dengan wajah kesal.


Rey menghentikan mobilnya dan keluar dari ruang kemudi...


ia kembali dan membawa sebuah kotak obat.


Mau apa?, sahutnya menepis tangan laki laki tersebut


Aku obati tanganmu.


Tidak usah pak, tidak apa-apa, tolaknya memalingkan pandangannya.


Kau bisa jangan memanggilku pak, ucapnya tiba-tiba dengan suara lantang,


membuat perempuan duduk di sampingnya menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung,


Sebut saja namaku, imbuhnya dan kembali menarik pedal gas mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang,


Itu terdengar sangat tidak sopan, balasnya setelah beberapa saat terdiam


Aku tidak peduli, karena panggilan itu cocok untuk pimpinanmu, sedangkan aku bukan pimpinanmu, jelasnya kemudian


Tapi, kau seorang pimpinan di perusahaanmu,


Aku juga bukan pimpinan,


Lalu,?


Jangan banyak tanya atau kau akan aku turunkan di basecamp begal depan, ancamnya membuat perempuan itu kembali membungkam.


Mobik yang mereka tumpangi tiba telah berhenti di sebuah rumah sederhana, tubuh perempuan tersebut beranjak meninggalkan kursi duduknya. rasanya enggan untuk mengajak berbicara laki-laki, ekor matanya mengintip dan menemukan satu tatapan tertuju padanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Ia berjalan menapaki bebatuan menuju halaman rumahnya, di lihatnya mobil miliknya sudah terparkir di halaman sana,


Siapa yang membawa mobilku kemari dan bagaimana bisa tahu alamat rumahku...


Kepala Kinaya di penuhi dengan berbagai pertanyaan.


Pak Rey, panggil Kinaya dan menoleh ke arah jalan, namun laki laki itu sudah tidak di sana lagi.


^


Keesokan paginya, seperti biasa Kinaya hendak ke kantor dengan mobil miliknya, namun sebuah mobil berhenti tepat di halaman rumahnya.


Pemilik mobil tersebut tak lain ialah Rey, apa kau mau berkendara sendiri,? Tanyanya bersandar di mobil miliknya dan menyilangkan kedua tangan di dadanya melihat ke arah perempuan yang juga sedang menatapnya dengan kesal. lelaki itu tersenyum tipis dan menaikkan alisnya di kedua sisi.


Dimana kunci mobilku.? Tanyanya tanpa mengubah raut wajah kesalnya


Tanpa menjawab pertanyaan itu Rey menggantung kunci mobil yang di maksud perempuan tersebut di jari telunjuknya, lalu ia membuka pintu mobil bagian penumpang dan menyuruh perempuan itu untuk berangkat bersamanya.


Ia berdecak kesal, dengan terpaksa ia harus berangkat bersama laki laki tersebut...


Ia seperti tidak bisa menolak ajakan dari laki laki itu, meski selalu ada rasa penyeselan mengapa harus mengikutinya, namun itu terlintas dalam hatinya saja,


Ia mendaratkan tubuhnya dengan sangat canggung, untuk pertama kali hatinya menurut dengan ajakan seorang laki laki, entah ini mengapa? Pikiran itu selalu saja terlintas,


Sepanjang jalan, tidak ada interaksi keduanya, mereka saling berfokus dengan tatapannya masing-msing, hingga roda itu terhenti pas di gedung tempatnya bekerja,


Kau sudah sampai, turunlah!


Tanpa menjawab perintah itu ia segera membuka pintu mobil di sisinya dan langkahnya lihai membawanya menjauh dari jangkaun mobil yang baru saja ia tumpangi, pemilik mobil tersebut tak mempermasalahkan dirinya di abaikan,


Ia masih menatap gerak langkah tubuh yang sedang berjalan memasuki gedung tinggi yang sepenuhnya milik keluarganya itu, dengan perasaan sadar bibirnya mengukir sebuah senyuman yang begitu sangat serasi di wajah tampannya, hingga tubuh itu tak tertangkap dikedua bola matanya, ia pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum menuju tempatnya bekerja.


~


Marissa terlihat keluar dari dalam mobilnya dan melangkah ke gedung tempatnya bekerja, seperti biasa ia lebih menyukai menaiki anak tangga daripada harus naik lift, hitung hitung sedang berolahraga di pagi hari dan sore hari itu akan lebih sehat bagi tubuhnya yang sangat jarang berolahraga.


Marissa, panggil seseorang dari belakang membuat ia harus menoleh dan melihat pemilik suara itu,


Rendy, balasnya.


Kau membawa apa, tanyanya setelah melihat tangan Rendy sedang membawa kantongan kresek


Oow,, aku pikir kau membawa bekal untuk seseorang,


Kenapa bisa dia tau, gumam laki laki tersebut


Yaudah aku masuk dulu yah, pamit Marisa saat ia telah berada depan pintu ruang besar tersebut,


Oh yah Rendy, ruang kerjamu kan di tangga sebelah, lalu kau ke sini untuk apa? Tanyanya lagi sebelum tubuhnya benar benar masuk ke ruang besar itu, karena tempat yang sedang mereka pijaki hanya untuk orang tertentu dan tamu tamu penting, termasuk Kinaya dan Marissa yang memang tugas dan ruangannya telah di sediakan di sana.


Mmm,, inii aku, em,, mau numpang ketoilet, toilet sebelah belum buka, jawabnya kebingungan membuat rasa penasaran wanita itu merontah.


Ohh,, yaudah cepat ke toilet sana sebelum tuan besar datang, kau akan kena marah kalau ketahuan numpang di toilet pribadi kami.. jelasnya membuat Rendy


Perempuan itu mengintip dari dalam ingin memastikan tujuan dari laki laki yang masih berdiri di luar sana.


Marissa apa yang kau lakukan? Suara tersebut tiba-tiba mengejutkannya,


Kinaya, aku sungguh kaget, balasnya dengan sedikit memegang dadanya,


Apa yang kau lihat, ada siapa di luar? Tanyanya beruntun


Kinaya aku curiga Rendy akan menemuimu, cepat keluarlah dia terlihat menunggu seseorang. Perintahnya


Ada apa dia ingin menemuiku, apa dia mengatakan itu padamu? Tanyanya penasaran


Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi tidak mungkin dia mau menemui tuan besar, mana berani dia, ?


Cepat keluarlah! Lanjutnya sambil mendorong tubuh ramping perempuan tersebut.


Ia pun menuruti perintah sahabatnya tersebut, ia membuka pintu dan melangkah menghampiri laki-laki yang sedang menunggunya.


Rendy, sedang apa kemari? Tanyanya setelah ia berada pada jangkauan lelaki yang berada di depan ruangan besar.


Em, kinaya kau sudah datang, aku tidak melihat mobilmu aku pikir kau belum datang, jelasnya


Aku tidak membawa mobilku, jawabnya.


Kau kesini untuk menemui siapa, tuan belum datang, sahutnya lagi


Em, aku, aku mau menemuimu, jawabnya malu


Menemuiku? Ulang perempuab tersebut


Iya, ibuku membuatkan sarapan untukku dan aku juga membawanya untukmu? Katanya dengan nada bersemangat.


Ini, aku harap kau menyukai masakan ibuku, lanjutnya sembari memberi kantong yang sedari tadi melekat di tangannya, tak terlupakan pula senyum yang ia singgungkan di wajah tampan miliknya.


Terima kasih Rendy, aku pasti menyukainya, sampaikan salamku pada ibumu, ucapnya dengan tersenyum,


Aku akan menyampaikanya, ibuku pasti akan senang jika mendengar kau menyukai masakannya. Aku keruangan dulu sampai bertemu, pamitnya sebelum langkahnya benar-benar turun dari tangga ruang besar itu...


Kinaya masuk mendorong pintu satu dan membuka sebagian yang bisa memuat tubuhnya masuk ke dalam sana..


Ternyata dugaanku benar, pasti Rendy menyukai Kinaya, hmmm ,, gumamnya dengan senyum meledek.


Kinaya ada apa dengan Rendy, benar dia mau menemuimu kan? Tanyanya dengan lincah


Iya, dia memberikan ini untukku, dia menyuruhku mencoba masakan ibunya,


Wah, apa sudah sedekat ini, bahkan ibunya sudah mengenalmu.ledeknya dengan intonasi tinggi


Apa yang ada di pikiranmu Marissa, aku belum pernah bertemu ibunya, bertemu dengan Rendy saja sangat jarang, kau lihat sendiri kita bekerja di ruangan yang berbeda, ini hanya sekedar sapaan paginya, apa kau sudah makan, kau tidak ingin mencoba masakan ibunya Rendy.?


Kau ingin berbagi denganku?


Tentu, kita sudah berteman. Ayo di makan, ajaknya sambil membuka tupperwer yang di dalamnya berisikan berbagai jenis makanan.


Waw, peccel, ini sangat enak, racau perempuan tersebut tiada henti.


Mereka berdua dengan lahap menikmati makanan tersebut, hingga ludes tak tersisa kecuali rantangnya.


Aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu karena berkatmu aku bisa makan peccel lagi, ucap Marissa di sela sendawanya


Kau harus mengatakannya pada Rendy, karena dia yang memberikan ini pada kita,


Tapi itu berkatmu, sudah bertahun tahun aku di sini bekerja dengan Rendy baru kali ini aku makan masakan ibunya


Benarkah itu? Tanyanya dengan sedikit heran dan Marissa pun mengangguk...


Aku sangat kenyang sekali Kinaya, aku jadi mengantuk,,, katanya di sela kantuknya,


Aku tidak akan bertanggung jawab jika tuan melihatmu seperti itu,


^^^^


Mohon dukungannya🙏💞


Jangan lupa tinggalkan like💕