My Chosen Wife

My Chosen Wife
PEMBICARAAN SERIUS.



"Sudahlah kak, Jangan bersedih. Toh juga kakak sudah mau melamar kak Renata. Hanya untuk sementara waktu." ucap Defan seraya mengangkat tangannya merangkul pundak Rava.


 


 


Rava menoleh ke arah Defan dengan tajam, "Turunkan tangangmu!"


 


 


Langsung saja Defan menurunkan tangannya dengan mata yang takut menatap Rava. Rava melihat ke arah adik-adiknya.


 


 


"Harsen, Kau ikut kakak langsung ke perusahaan. Vara dan juga Defan, kembali ke rumah. Kakak harap kalian belajar yang baik. Kakak mau... tidak ada yang mendapatkan hasil yang buruk, Apa lagi Vara. Kau itu anak semester akhir, utamakan itu." ujar Rava dengan tegas, "Sudah ayo... berangkat masing-masing." ucao Rava berjalan menuju pintu keluar.


 


 


Mereka berempat berpisah di area parkiran, sesuai dengan yang di perintahkan Rava, semuanya mengikuti perintah yang harus mereka jalani. Kalau tidak di patuhi, tamatlah riwayat mereka. Karena sang Kakak kembali dingin.


 


 


***


 


 


Di perusahaan Rava, Ia mencoba mempersiapkan seluruh pekerjannya untuk mengambil cuti panjang selama beberapa minggu untuk menetap di Jakarta. Harsen dan Nadia, silih berganti masuk ke ruangan Rava, memberikan dokumen atau berkas yang di minta oleh Rava. Betapa sibuknya dia, sampai-sampai waktu yang berlalu begitu cepat tidak Ia rasakan.


 


 


Pikirannya yang sempat sesekali mengingat Renata itu, sempat terabaikan dengan kerjaannya. Ponselnya tak lama berdering, dengan cepat Ia melihat layar ponselnya yang tak lain adalah mamanya, Eva.


 


 


[Halo Ma.]~ Rava.


 


 


[Hallo sayang, bagaimana? Apa kau sehat?]~Eva.


 


 


[Rava sehat, Ma. Mama sendiri bagaimana?]~Rava.


 


 


[Sehat Nak, Mama menghubungi Rava untuk menanyakan soal lamaran. Kata Papa... Apa tidak langsung saja menikah tanpa lamaran?]~Eva.


 


 


[Wah... Kenapa Papa jadi tidak sabaran, Ma?]~ Rava.


 


 


[Hahahah... Mungkin saja Papa mu mengingat saat Mama dan Papa tidak pakai lamaran. Ya.... mungkinlah seperti itu Nak. Mama hanya menyampaikan saja, kalau kamu mau pakai lamaran juga enggak masalah sayang.]~Eva.


 


 


[Baiklah Mamaku sayang, Terima kasih ya Ma. Tunggu Rava pulang. Rava rinduuuu banget sama Mama.]~Rava.


 


 


[Wah... Kalau sudah menikah nanti masih rindu enggak ya sama Mamanya?]~Eva.


 


 


[Mama? Mama kok gitu sih ngomongnya. Mama itu wanita yang tidak bisa di gantikan oleh siapapun. Mama tetap akan ada di hati Rava, Ma. Selama Rava masih ada di dunia, selama itu juga Rava akan memberikan cinta Rava sebagai seorang anak yang sudah mama besarkan. Karena perjuangan Mama, Rava lahir ke dunia Ma. Pengorbanan Mama, Cinta dari Mama, pelukan mama, masih Rava butuhkan dalam hidup Rava sekalipun Rava sudah menikah. Begitu pula dengan Vara maupun Papa. Kalian tetap ada di dalam hidupnya Rava.]~Rava.


 


 


[Iya.... Sayang. Mama percaya itu, semoga Rava bisa berbahagia ya Nak. Pernikahan ini bukan paksaan seperti papa dan mama kamu. Setelah menikah baru mendapatkan cinta. Tapi Rava dan Renata, sejak kecil kalian sudah di jodohkan. Meskipun Rava sempat menolaknya. Mama percaya sama Rava, Rava tidak terpaksa menikahi Renata, tapi karena memang Rava mencintai Renata ya Nak.]~Eva.


 


 


Di sana Eva merasa haru jika mengingat kisahnya dia dengan Raka. Tetapi buat Rava, Eva sangat yakin anaknya memang benar mencintai Renata, bukan karena paksaan dari perjodohan. Sedangkan Rava yang mendengar ucapan sang Mama, tersenyum. Ada perasaan tenang di hati Rava, jika Ia mendengar suara Eva.


 


 


[Tenang saja Mama ku sayang. Rava benar-benar jatuh cinta dengan Renata. Bukan karena perjodohan, tetapi karena Renata sendiri yang membuat Rava ingin memilikinya, membahagiakannya, merasa di cintai dari seorang kekasih, di butuhkan oleh orang yang mencintai Rava seutuhnya, Ma. Jadi Mama atau pun bibi Casandra tidak perlu khawatir, karena pernikahan Rava dan Renata benar-benar di landaskan oleh cinta Ma.]~Rava.


 


 


Eva tersenyum dan merasa senang dengan ungkapan dari anak pertamanya itu.


 


 


[Baiklah Sayang, kalau begitu mama tunggu kalian di Jakarta ya. Tolong jaga ketiga adikmu, Nak. Sampaikan juga salam Mama buat mereka. Mama putus sambungannya ya Nak? Mama sayang Rava, ingat jaga diri, calon pengantin.]~Eva.


 


 


[Hahaha... Baiklah Mamaku sayang. Salam sama Papa juga Ma. Rava juga sayang Mama , Bye Ma...]~Rava.


 


 


Seusai sambungan telepon terputus, Harsen yang sempat ingin masuk melihat Rava sedang menerima panggilan, kembali masuk.


 


 


"Kak, ini rumah yang kakak cari kan?" Harsen memberikan beberapa gambar rumah yang ada di kawasan Jakarta, yang tidak jauh dari rumah keluarga Rava atau pun Keluarga Casandra.


 


 


"Hemmmm... coba kakak lihat dulu Sen." balas Rava dengan mengambil kertas bergambar dari tangan Harsen.


 


 


"Tapi Kak... Rumah dari keluarga Atmadja kan sudah banyak kak? contohnya saja, salah satu rumah yang menjadi warisan kak Rava, yang sempat di huni oleh buyut kita Lusi. Bukankah rumah itu besar dan sudah lama tidak di tempati, Kak?"


 


 


"Tidak Sen... Kakak mau semuanya baru. Itu juga rumah peninggalan. Kakak enggak mau semuanya di mulai dari situ. Biarlah itu menjadi tempat bersejarah, di sana kan juga sudah ada pekerja, bukan tidak berpenghuni, kau ini asal bicara saja!." celetuk Rava.


 


 


 


 


Rava menaikkan wajahnya dengan menatap ke Harsen tajam. Harsen yang mendapatkan pandangannya di buat terkaget. Apa lagi pikirnya, Apa jangan-jangan Rava tahu Harsen sedang berbicara dengan hatinya. Rava melepas pegangannya dari kertas gambar yang bergambar rumah-rumah yang hendak di belinya. Lalu Rava menggenggam jemarinya seraya bersandar pada kursi kerjanya dengan menatap tajam ke Harsen.


 


 


Harsen gugup, tetapi dia pintar menutupi kegugupannya. Perasaan Harsen seperti ada yang aneh dari tatapan sang Kakak.


 


 


"Sen" panggil Rava.


 


 


"Iay kak." jawabnya cepat.


 


 


"Hahaha... Santai saja. Apa kau tahu apa yang ada di pikirkan kakak sekarang?"


 


 


Harsen menatap wajah Rava dengan serius.


 


 


Mana Aku tahu Kak, Emangnya aku peramal. Kasi tahu aja, tidak usah bertele-tele, buat aku gugup seakan aku sedang mengikuti ujian tebak-tebakan.


 


 


"Enggak tahu Kak."


 


 


"Hemmmm enggak tahu ya? Bagaimana, hubungan kamu dengan Vara. Apa kau masih menggantung perasaanmu, atau Kau menggantung perasaan adikku? coba kamu jelaskan." ucap Rava dengan tegas.


 


 


Aduh.... Kenapa Kak Rava malahan lari jalur. Ini kan masalah pribadi Kak. Kenapa mesti di sini sih di tanyakan ke Aku. Aku kan gak sempat membut alasan. Apa Aku jujur aja ya?


 


 


"Tidak usah takut, jika kau katakan pada kakak, biar kakak tahu Kau itu benar-benar menganggap Vara sebagai wanita apa seorang Adik?"


 


 


"Jelas wanita dong Kak." ceplos Harsen.


 


 


Rava menatap ke Harsen, Harsen sendiri tegang dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Seakan tahu, ucapannya yang sepontan itu terdengar jelas pada indra pendengaran Rava.


 


 


"Wah bagus kalau begitu, Jadi? Kalau begitu , kakak minta Kau jaga Vara dengan baik. Jangan sampai membuatnya menangis. Karena Vara , Kau tahu sendirikan , Vara itu memiliki cinta dan kasih sayang yang luar biasa bagi kami." ujar Rava.


 


 


"Baik Kak... Harsen menunggu Vara di wisuda Kak. Karena Harsen tidak ingin menggangu pendidikan Vara." balas Harsen sekenahnya.


 


 


"Hemmm... Kau memang Pria yang matang." ucap Rava, kembali memperhatikan setiap gambar rumah.


 


 


Pria matang? Apa itu sejenis makanan ringan? Makanan berat, pakai matang segala. Tingkat kedewasaan kak Rava memang teruji sangat baik.


 


 


"Okey Sen!" ucap Rava membuat Harsen terkaget dan sadar dari curhatannya dengan hatinya.


 


 


"Iya Kak."


 


 


"Kakak mau rumah yang ini, buatlah seperti yang kakak katakan. Jadi rumah ini harus sudah selesai di renovasi sebelum pernikahan di langsungkan." perintah Rava dengan memberikan secarik kertas berisi Rumah mewah di kawasan perumahan elit Jakarta.


 


 


"Baik Kak....Siap di laksanakan. Kalau begitu Harsen permisi ya, kak." balas Harsen seraya mengambil kertas dari tangan Rava.


 


 


"Hemmm... Sampaikan pada Nadia, Sen. Kakak mengambil cuti selama 1 bulan. Karena sepertinya, masih ragu akan di adakan lamaran atau langsung acara pernikahan." ungkap si Rava.


 


 


"Baiklah kak,Harsen permisi."


 


 


Setelah kepergian Harsen, Rava mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chatnya yang masih centang satu itu. Rava sempat mengirimkan pesan singkat pada calon Istrinya. Padahal Rava tahu, Renata dan keluarganya akan tiba esok hari di Jakarta.


 


 


"Astaga... Beginikah rasanya jauh dari sang kekasih? Bukankah rasa sebelumnya tidak sama seperti saat ini. Kenapa Aku jadi gusar begini?"


 


 


.


 


 


Mohon dong berikan VOTE nya, bantu dukung karya saya. Karena saya cek dari riwayat Vote, orang yang berkomentar belum tentu mau Vote. Jangan lupa juga tekan like, like aja susah apa lagi Vote :( . Huhuhu.. oh ya, kakak " yang dari ranking Vote 1-20, jika di antara kalian yang belum masuk grup chat saya , masuk dong biar sama-sama bisa saling sapa. Buat pembaca setia lainnya juga boleh masuk, buat catatannya ya, kalau kalian itu pembaca saya..Terima kasih kakak semuanya... kalian yang terbaik ❤🙏