My Chosen Wife

My Chosen Wife
BEKERJA.



Kediaman Rava Atmadja.


 


Berbeda dengan pagi biasanya. Suasana rumah Rava dan Renata sangat bising. Bukan seperti biasanya, keheningan, suara burung, bahkan hentakan dari dapur alat yang sedang di gunakan oleh para asisten rumah tangga yang membangunkan Rava dan Renata. Bahkan, bias pantulan cahaya matahari yang masuk pun kalah di buat oleh Defan.


 


 


Beginilah awal mulanya Defan terbangun di jam Waktu Indonesia Barat. Defan membuat keributan, dengan memutar musik disco dari kamarnya tepat di jam 06:30. Suara musiknya, membuat Renata dan Rava bersamaan mengerjap. Karena keributan itu mengusik indera pendengaran keduanya.


 


 


"Kenapa rumah ini sungguh aneh?" suara Rava terdengar kesal.


 


 


 


"Entahlah, Aku juga baru pertama kali merasakan rumah ini penuh kebisingan." Renata mencoba mendudukan tubuhnya.


 


 


"Sepertinya itu Defan, Aku lupa kalau dia ada di sini." Rava dengan malas membawa tubuhnya turun dari ranjang dan berjalan dengan mengacak rambutnya yang pusing karena terbangun tiba-tiba.


 


 


 


Renata mengambil penutup lingerienya, menjejakkan kakinya di atas lantai dan mengikuti Rava dari arah belakangnya.


 


 


 


Dengan malasnya Rava mendekati pintu kamar yang sudah di ubah Defan menjadi tempat dugem. Rava menarik handle kamarnya, tidak terbuka. Itu terkunci dari dalam. Bertambalah rasa kesalnya si Rava, Ia menggedor-gedor pintu dengan sekencang mungkin dan menyeruhkan nama Defan.


 


 


"Defaaaaaaaaaaan." teriak Rava dari luar pintu.


 


 


Renata yang mendekat ke Rava, menyentuh lengan Rava. Memberikan ketenangan pada kekesal sang suami. Bagaimana tidak? Selama Rava bersama si Defan, tidak pernah sebegitu meriahnya di buat Defan saat menyambut paginya. Berasa pagi ini adalah sebuah gempa yang mengguncang lamunan mimpinya.


 


 


Rava menghembuskan nafasnya dan menatap wajah Renata dengan keluh.


 


 


“Ribut banget sayang, kau lihat sendiri ulahnya si pengacau ini? Masa iya pagi-pagi sudah ribut banget?  dia pikir, dia sedang berada di hutan apa?"


 


 


“Biar aku yang panggilkan, sekarang kau kembali ke kamar, mandilah. Hari ini, Kau akan menemani papa untuk bertemu dengan rekan bisnisnya.” Renata menyentuh pipi Rava, agar kekesalannya berkurang.


 


 


“Baiklah sayang. Terima kasih sudah mengingatkanku.” Rava menyentuh punggung tangan Renata yang masih tidak berpinda dari pipinya dan mendaratkan ciuman di punggung tangannya.


 


 


 


Setelah Rava berjalan meninggalkan Renata, tugas Renata memanggil Defan yang entah ngapain di dalam sana.


 


 


“Defan” panggilnya dengan mengetuk pintu kamar Defan.


 


 


Suara dentuman musik masih bergetar di setiap dinding kamar Defan, Helaan nafas Renata tidak membuatnya berhenti sampai di situ saja.


 


 


 


“Defan, Kau dengar Kakak?” Renata kembali memanggilnya dan mengetuk berkali-kali pintu yang masih tertutup rapat.


 


 


Tidak ada sautan, tapi kedua mata Renata terperangah, kepala Defan sudah  mengintip di sela pintu. Itulah si Defan, si tukang usil dan jahil. Kedua matanya berkedip-kedip ke arah Renata yang masih mematung dan lupa tujuannya.


 


 


 


“Kakak,” panggilnya dengan tawa dari bibirnya.


 


“Defan, apa sih yang kamu lakukan di dalam? ini  masih pagi tau, masa iya kamu membangunkan orang sekomplek perumahan ini dengan musik yang kamu putar ,kan kita bisa di demo Fan.” celetuk Renata.


 


 


“Hehehe iya ya Ka, sebentar Defan matikan dulu.”  Defan berjalan masuk, di ikuti oleh Renata.


 


 


 


“Astaga, kenapa kau membuat seluruh ruangan sangat gelap Fan?”


 


 


“Biar kayak malam kak, ini sangat susah untuk Defan. Gak bisa tidur, seperti biasanya. Masih mabuk mungkin Kak.” balas Defan , dengan berjalan menarik kain jendela kamarnya.


 


 


“Baiklah, bisa di maafkan. Lain kali jangan membuat keributan lagi. Kau tau? Kakak-mu sangat marah. Kau memanggu ketenangan tidurnya.” ujar Renata.


 


Defan menggaruk-garuk kepalanya dan menguap bersamaan dengan itu dia berkata.


 


 


“Baiklah Kak, mungkin Defan akan tidur. Setelahnya, Defan akan mulai menjaga Kakak.” ucapnya dengan melempar tubuhnya  ke atas ranjang dan membenam wajahnya ke atas bantal.


 


 


Renata yang melipat kedua tangannya di buat menggeleng-gelengkan kepalanya.


 


 


“Sungguh unik,” ucapnya dengan berjalan keluar kamar Defan.


 


 


 


Setelah sampai di kamarnya, seperti biasa Renata mempersiapkan pakaian kerja sang suami. Ini Rava sebenarnya masih malas mau bekerja, karena sang papa meminta untuk menemaninya, jadilah Rava berusaha semampu mungkin untuk bersemangat, meskipun dia sangat ingin untuk tetap di rumah bersama sang istri.


 


 


Baiklah, karena memang ada Defan yang menjaga Renata, akhirnya Rava memberanikan dirinya untuk percaya pada Defan. Sebelumnya, Rava merasa ragu. Ragu karena Defan di rasanya ada kurang-kurangnya.


 


 


Setelah masuk ke dalam ruangan pakaian, tampak Renata yang sudah selesai mempersiapkan pakaian sang suami.


 


 


“Itu, apakah cocok dengan suasana hatimu?” Renata menunjukkan pakaian yang sudah rapi di atas sofa.


 


“Cocok, apa yang kau buat untukku, semua sangat cocok. Bantu aku untuk memakainya,” perintah Rava dengan melepas handuknya.


 


“Astaga! kau ini kelewat manja. Pakai sendiri, nanti akan aku bantu kancingkan kemejamu.” gumam Renata.


 


Rava tertawa kecil.


 


“Aku sangat suka bermanjaan dengan istri sendiri. Gak mungkin kan? Aku harus manja dengan istri orang lain. Bisa-bisa kau membunuhku,” Rava mengenakan seluruh pakaiannya dengan di bantu Renata yang akhirnya melunak.


 


 


“Jangan menghayal, jika kau berani selingkuh di belakangku, aku tidak akan memberikan ampun pada dirimu! Kau harus ingat perjuanganku mendapatkan cinta seseorang yang gengsinya kelewatan, kelewatan sabar Aku tuh. Syukur cinta, kalau enggak uda tak tinggal.” Renata mengomel di depan wajah Rava yang sedang di bantu olehnya mengenakan dasinya.


 


 


Rava tertawa gemas, ia memetik kedua pipi Renata yang sedikit membulat dan menariknya ke kiri dan ke kanan.


 


“Dendaman amat sih kamu,” kata Rava dan kemudian mengecup bibir sang Istri.


 


 


“Iya dong! ini kata orang, besarnya perjuangan bisa menjadi ketidaksetiaan dari pasangannya. Bukankah itu tidak punya hati namanya?” Renata melototkan kedua matanya.


 


 


 


“Kenapa kalau marah  begini menggemaskan banget sih? Aku suka dengan marahmu, kau boleh memarahiku sepuas mungkin, asal tidak  mendiamkan aku. Aku gak bakalan sanggup kalau itu. Jika kau marah, dan cerewet seperti ini. Aku benar-benar ingin sekali melahapmu hidup-hidup. “ Rava menarik pinggang Renata dengan lembut, menatap kedua manik matanya yang sedikit memiliki jarak dan memberikan seulas senyumannya serta tangannya yang mengelus lembut wajah Renata.


 


 


“Kenapa aku merasa merinding? Apa kau sedang merayuku? Lepaskan Aku,” Renata mendorong tubuh Rava dan membuang pandangannya, dia masih gugup.


 


 


“Dih, sebentar lagi, Aku masih mau di peluk. sebelum Aku meninggalkanmu untuk beberapa jam kedepan.” kata Rava dengan menarik pelan tubuh Renata yang sudah sangat  bugar dari sebelumnya.


 


 


Rava memejamkan matanya, meneggelamkan pikirannya dengan meresapi sentuhan lembut sang istri yang membalas pelukannya.


 


 


“Agh… bau tubuhmu ini yang membuatku merindukan dirimu. Kau harus banyak makan,awas saja kalau tidak, Aku yang akan banyak makan.” ucap Rava dengan manjanya dan masih menutup kedua matanya didalam pelukan hangat sang Istri.


 


“Kenapa kau jadi manja begini? kan Aku yang sedang hamil?”


 


 


“Mungkin anak kita yang mau, sini Aku cium dulu anakku itu, dia sangat mengerti Papanya yang suka mesra-mesraan sama Mamanya kali ya?”


 


 


 


 


“Sayangnya Papa dan Mama. Baik-baik di situ ya sayang, ada uncle Defan yang akan menemani kalian. Titip Mama ya nak? jangan buat mama suka muntah, kasihan Mama sayang. Papa mau berangkat bekerja, tapi hanya sebentar Sayang, tunggu Papa pulang ya.” katanya dan menjadi penutup Rava kembali mendaratkan ciuman.


 


 


“Sudah sana, nanti kau telat. Kasihan papa menunggumu lama.”


 


 


“Dih, ini Mamanya kok senang banget ya, Papanya mau berangkat bekerja.” ledek Rava dengan mengambil jas nya.


 


 


“Jangan becanda lagi,  kau tidak sarapan?”


 


 


“Tidak sayang, Aku sarapan bersama papa nanti di perusahaanya.” Rava membawa sang istri turut berjalan keluar dari ruangan hingga keduanya berjalan keluar kamar.


 


 


Sesampainya di carport, mobil Rava berada.


 


 


“Kau harus makan yang banyak sayang, harus mampu melawan mualnya. Biar anak kita di sana juga kuat. Apa kau mau berjanji?” Rava membelai lembut kepalanya.


 


 


Renata tertawa kecil, raut wajah kekhawatiran Rava membuatnya senang.


 


“Iya sayang, aku sudah bisa makan banyak, tidak perlu di takutkan lagi. Sudah sana berangkat, kau berhati-hatilah.”


 


“Agh, kenapa malahan dia yang bersemangat untuk ku tinggalkan? ketimbang aku yang harus bekerja, sungguh lucu ini namanya.” gumam Rava seraya masuk ke dalam mobilnya.


 


“Selamat  bekerja suamiku,” Renata menutup pintu mobilnya.


 


Rava melajukan mbilnya dengan perasaan berat untuk meninggalkan Renata, meski adanya Defan, tak menyurutkan kekhawatirannya.


 


 


***


 


Perusahaan Atmadja  Group.


 


Rava tiba dengan tepat waktu, sesampainya di perusahaan sang Papa , Rava di sambut oleh Leo yang mengetahui kedatangannya. Ternyata, Raka masih memiliki tamu penting di dalam ruangannya. Jadilah, Rava meminta Leo menemaninya untuk ke ruangan Jimmy. Sekedar menyapa sang Paman somplak.


 


“Good morning Paman,” Rava masuk ke dalam ruangan Jimmy yang memang tidak tertutup.


 


 


“Wah, Tuan Muda Rava Atmadja. Selamat datang di singgasana Pak Jimmy Simanungkalit. Silahkan duduk Tuan, ada yang bisa saya banting?” Jimmy berubah seperti  menjadi atasan di ruangan miliknya sendiri. Ya bisalah, kelihatan seperti bos.


 


Leo sudah tertawa, kalau sudah melihat Jimmy gila begitu, kadang dia tidak bisa menahan tawanya.


 


 


"Paman bisa aja nih, Rava cuma mampir. Paman gak sibuk kan? Papa sedang ada tamu penting kata Paman Leo.” Rava menarik salah satu bangku di depan meja Jimmy.


 


 


“O Tidak! Kalau untuk Tuan Muda Rava, saya tidak akan pernah sibuk.” balasnya sok formal.


 


 


“Tolong Pak duduk di sebelah anaknya, tolong di dampingi.” Jimmy memerintahkan Leo untuk duduk di bangku sebelah Rava.


 


Dengan polosnya Leo menarik bangku di samping Rava dan mendaratkan tubuhnya untuk duduk dengan menatap ke Jimmy. Jimmy menautkan kedua jari-jari tangannya dan meletakkannya di atas mejanya, kemudian menarik nafasnya setelah itu membuang nafasnya, membuat  Leo dan Rava bingung dengan apa yang sedang dia lakukkan.


 


 


“Baiklah Pak,mari kita mulai. Apa yang menjadi permasalahan antara bapak dan anak bapak? Apa yang mau di konselingkan ke saya? Siapa tau saya bisa membantu masalah bapak berdua?”


 


 


Leo dia buat terperangah menatap wajah Jimmy, mulutnya sejenak mengangah.


 


 


"Kenapa jadi konseling?” gumam Leo.


 


 


Rava tertawa. “Anggap aja Paman Jimmy sedang latihan untuk naik jabatan Paman,” balas Rava ke Leo.


 


 


“Benarkah? Apa Jimmy mau menggantikan Pak Raka?”


 


 


“Egh… seenaknya ini Pak Leo. Mana mungkin, jelas-jelas saya latihan mau menjadi pengacara. Gimana sih? Gak bisa di ajak latihan.” Jimmy mengomel dengan menatap dingin ke Leo.


 


 


 


“Rava” seru Raka dari luar ruangan Jimmy.


 


 


“Agh Papa,” balas Rava dengan beranjak dari duduknya.


 


 


 


“Ayo Nak, kita sarapan dulu, Papa sudah membawa sarapan dan titipan mama. Jangan lama-lama di ruangan si Jimmy, Kau dan Leo bisa ketularan. Ayo ke ruangan Papa.” perintah Raka dan langsung berlalu dari ruangan Jimmy.


 


 


Rava sejenak menatap Jimmy yang sudah tertawa kecil.


 


 


“Paman, Rava tinggal dulu ya.” Rava pamit ke Jimmy.


 


“Baiklah, jangan lupa mampir lagi. Byeeee..”seru jimmy dengan berlalunya tubuh Rava.


 


“Saya juga mau pamit Jim, sepertinya kata Pak Raka memang benar,byeee…” Leo seperti ketakutan dan berlari keluar ruangan Jimmy.


 


 


Jimmy cuma bisa mendengus sedih dan menarik  nafasnya. “Mereka kezammm!


 


 


Di ruangan Raka.


 


 


Keduanya menikmati momen yang sudah lama tidak mereka lakukan, Rava menyantap sarapannya, menikmati masakan yang sudah di persiapkan mamanya untuk dirinya, sangat rindu. Tapi, baginya masakan Renata tidak kalah dari mamanya. Itu yang membuat Rava betah makanan rumah.


 


“Setelah siap sarapan, kita langsung ke cafe kopi yang ada di perempat jalan murni. Nak.” ucap Raka tiba-tiba.


 


“Hemm, baiklah Pak. Apakah paman Leo ikut? “tanya Rava.


 


 


“Tidak Nak, Leo akan mengurusi pekerjaan di sini.’


 


“Baiklah Pa, biar Rava yang menyupir.”


 


“Baiklah, Oh ya, bagaimana kabar Renata Nak? Apa dia baik-baik saja?”


 


“Jauh lebih baik Pa, setelah Mama mengirim-kan Defan ke rumah kami,” kata Rava sambil mengunyah.


 


 


“Hemm.. Itu kemauan mama, kamu. Seperti buyutmu waktu itu, dia meminta papanya Defan si Frans untuk menjaga mama kamu yang sedang mengandung kamu saat itu. Bisa jadi, mama-mu bakalan seperti buyutmu itu kalau anakmu sudah besar nantinya.”


 


“Wah… sungguh bersyukur dong Pa. Seperti Papa,  paman Frans juga yang di rawat oleh buyut dan menghasilkan masa depan yang baik bukan? Rava setuju.”


 


“Ya.. Kalau baik menurutmu, lakukan saja Nak.” Raka dengan lahapnya menyuapkan makannanya ke dalam mulutnya. tidak bisa di tepiskan, Eva itu memiliki daya tarik yang lebih dari orang tau, selain dirinya sendiri.


 


 


Setelah keduanya selesai makan, anak bapak yang  kelihatan seperti abang beradik itu sudah tiba di parkiran dan segera masuk ke dalam mobil Rava. Rava melajukan mobilnya menuju tempat yang di katakan papanya. Tidak butuh waktu lama,. 20 menit kemudian, keduanya tiba di salah satu kedai kopi yang memberikan kenyamanan. Sengaja Raka membuat janji temu di jampagi, karena di jam segitu pikirnya otak bekerja lebih baik.


 


 


“Selamat datang Tuan Raka.” seru salah satu dari kedua pria yang sudah duduk di salah satu meja dengan menatap kedatangan Raka dan Rava bersamaan.


 


Kedua ekor mata Rava mencoba menatap pada kedua pria yang sepertinya sudah sangat bernafsu untuk membicakan bisnis dengan papanya.


 


 


Karena sudah dua ribu lebih kata, tolong di bantu dalam bentuk VOTE dan LIKE ya, kalau masih mau di lanjut bab lanjutan, berikan komentar kalian ^^ . Jika banyak yang komentar dan VOTE saya semangat loh, di usahakan entar 2 bab :D , ngarep ini hahaha… Terima kasih semua nya yang selalu dukung saya dalam bentuk VOTE, Like dan komentar kalian ^^ Jangan lupa dukung karya Author Ingrid Nadya ya. Semestaku Semestamu. itu judulnya ^^