
Di kamar Rava dan Renata
Rava yang barusan saja membersihkan dirinya, keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah ruangan tidur mereka, tampak Renata yang sudah tertidur sangat nyenyak. Rava yang melihatnya pun tersenyum dan mendekati ranjangnya, membenarkan posisi tidur Renata dan membenarkan posisi tangan Renata, lalu ia balut tubuhnya dengan selimut. Rava tersenyum melihat wajahRenata, sejenak Ia terduduk di samping Renata, kemudian tangannya membelai lembut wajah Renata seraya tersenyum, menyingkapi beberapa helaian rambut Renata yang menutupi wajahnya.
Rava kembali tersenyum, banyak kesalahan yang Ia berikan pada Istrinya di masa lalu. Telat mengetahui cinta yang sesungguhnya dari dirinya sendiri. Wanita yang sempat Ia sia-siakan di masa muda nya. Sejenak ia teringat akan masa-masa kecil mereka, di mana Renata mulai menyukainya, sebelum tahu kedua orang tua mereka menjodohkan mereka dari keduanya belum ada.
^
Renata yang sebelumnya berseragam putih merah bersiap pindah ke sekolah yang sama dengan Rava saat Ia menukar seragamnya menjadi Putih Biru. Sedari kecil, Rava sangat dingin kalau melihat Renata, Karena baginya Renata itu pengganggu, apa saja mainan yang di miliki Rava saat kecil di rebut olehnya, hingga makanan yang ada di genggaman Rava di rebut di saat-saat mereka bertemu, bagi Renata, Rava sosok teman kecil yang cuma bisa menatapnya tajam bahkan dingin, tidak mampu untuk melawannya, begitulah pikiran Renata, sehingga Ia acap kali senang melihat Rava yang hanya berdiam.
Renata dari kecil sudah sangat membuat Rava risi dengan ulahnya yang tukang jahil itu. Seiring berjalannya waktu ,mereka sudah bersama-sama beranjak remaja, daya tarik Renata ke Rava berubah lebih ingin dekat dengan Rava. Berbeda hal dengan Rava, saat Rava melihat Renata berada di sekolah yang sama dengannya Ia pun menarik nafasnya sejenak, melihatnya dari kejahuan, tahu Renata sebagai anak baru di sekolahnya,hanya berbeda satu peringkat dengan Rava, membuatnya merasa terbebani.
Jam Istirahat tiba, Renata mencari kelas yang di tempati Rava, sebelum ketemu dengan kelas Rava, tangan Renata di tarik oleh Rava dan membawanya paksa ke Taman belakang sekolah mereka.
"Kenapa Kau di sini!" Rava menatapnya tajam.
Renata tersenyum, "Kau ini bodoh atau apa sih? Ya mau Sekolah, emangnya mau ngapain lagi?"
Rava menatapnya tajam, "Iyaaa... Kenapa sekolah di sini? Kenapa mesti satu sekolah denganku?"
Renata tersenyum, "Karena Aku ingin dekat denganmu" jawabnya santai.
Rava menarik nafasnya, "Rena... Kau dan Aku masih anak-anak. Jangan berkata sembarangan, Kau harus belajar dengan baik dan giat. Seharusnya di otakmu terisi dengan kata-kata itu! Dasar gadis bodoh!" umpat Rava ke Renata lalu Ia meninggalkan Renata sendiri.
Renata menatap kepergian Rava, Ia merasa sedih walaupun setidaknya yang di ucapkan Rava memang benar adanya. Tetapi, bukan itu tujuan Renata, Ia hanya ingin memulai berteman dengan Rava. Tidak ingin selalu bertengkar jika keduanya bertemu. Tapi apa boleh baut, Rava masih menolak.
"Ini awal permulaan kita" gumam Renata pelan lalu Ia berjalan kembali menuju kelasnya.
Di ujung lain, Rava memperhatikan Renata, dia juga tidak bisa meninggalkan Renata sendiri di taman belakang Sekolah. Meskipin Rava suka ketus ke Renata, entah kenapa Ia tidak bisa menjauhi gadis usil itu.
"Kau dulu memang sangat imut... Aku tidak paham dengan kegigihanmu, bahkan Aku merasa malu dengan diriku sendiri. Kau mampu mengyatakan perasaanmu, tapi berbeda dengan diriku, Aku tidak sedikitpun jujur tentang ketertarikanku pada dirimu" tutur Rava dengan mengenang masa kecil mereka.
^
Beberapa tahun kemudian, Rava yang di sukai oleh teman sekelasnya mendapatkan surprise di hari pentas seni di sekolah mereka. Kabarnya, teman sekelas Rava ingin menyatakan perasaannya pada Rava, si Pria dingin. Julukan Rava di Sekolah mereka, karen tidak ada wanita yang berani mendekat apa lagi berteman dengan Rava saat itu terkecuali Renata, adik kelas mereka. Membuat Anaya yang menyukai Rava dalam diam, nekat menyatakan cintanya di hari pentas seni.
Renata sendiri, sering sekali di antar pulang oleh Rava, meskipun keduanya tidak akur, tetapi kewajiban Rava akan janjinya dengan sang Mama, membuatnya mau tidak mau harus membawa Renata bersamanya. Itu juga hal yang tidak memberatkannya, meskipun mulutnya menolak, hatinya merasa tenang, karena Renata pulang dengan aman bersamanya.
Kabar burung yang sampai di telinga Renata saat itu, membuat Renata marah. Pikirnya, tidak ada yang boleh merebut hatinya Rava terkecuali dirinya, walaupun Anya sekalipun, siswi tercantik di kelas Rava, juga enggak akan di biarkan Renata.
"Renaaaaaaaa!" jerit Sasa, teman sebangku Renata dan juga sahabatnya, hingga menjadi Sekretaris Renata di perusahannya. Sasa berlari ke dalam kelas mereka menghampiri Renata dengan panik.
Renata yang sedang mengemas barang-barangnya ke dalam tas dan ingin melihat pentas seni di sekolah mereka terkaget mendengarkan suara Sasa, "Ada apa sih Sa? kok kek melihat hantu gitu?" tanya Renata dengan kening mengkerut.
"Na... itu... Kak Rava yang lo cinta." ucapnya dengan terengah-engah.
"Sssttt.. jangan keras-keras, entar anak yang lain mendengar suaramu!" bisik Renata ke Sasa.
"Agh... Maafkan Aku Na, Aku hanya panik." bisik Sasa lagi.
"Terus..Ada apa dengan Rava?" tanya Renata pelan.
"Itu... sih Anaya sudah berdiri di depan para siswa di kelas mereka, mau menyatakan perasaannya, enggak jadi di pentas seni. Buran loh susul sana, sebelum Kak Rava benaran jadian sama dia." ujar Sasa dengan cepat.
Wajah Renata berubah marah, Ia pun menarik tasnya dan berjalan menuju kelas Rava. Emosinya meletup-letup hingga ke ubun-ubunya. Dengan di temani Sasa, Renata berjalab dengan sangat cepat hingga keduanya tiba di depan kelas Rava.
Suara teman sekelas mereka ikut menjadi penyemangat dan team hore bagi Anaya. Berbeda dengan Rava, saat itu hanya berteman dengan Excel, sahabat dekatnya, hanya menatapi raut wajah Rava yang sangat acuh dan tenang. Mata Rava menangkap Renata yang sudah berdiri sedari tadi dengan tatapan wajah marahnya.
Rava berpindah ke Anaya dan berkata, "Apa Kau yakin ingin menjadi kekasihku?"
Anaya tersenyum, "Yakin sekali, kenapa denganmu? Apa kau tidak yakin Rava? Apa ada sesuatu yang membuatmu merasa tidak enakan?" Anaya berjalan mendekati Rava dan menyentuh tangan Rava.
Rava tersenyum dan menggerakkan tangannya dengan menununjuk Renata yang berada di luar ruangannya. Seluruhnya menatap ke arah Renata, terkenal di sekolah mereka, siswi yang bisa dekat dengan Rava tanpa ada hubungan apapun dengan mereka.
"Kau yakin bisa melewati dia?" Rava berbisik ke Anaya.
Renata yang melihat kedekatakan Rava dengan Anaya, memutuskan lari dari kenyataan di depannya. Dengan amarahnya, Renata bukan mendekati Anaya, Ia berlari meninggalkan tempat di mana melihat Rava yang sangat dekat dengan Anaya.
Rava yang melihat Renata berlari, dengan cepat Ia menolak Anaya dan mengejar Renata. Karena Rava sedari tadi menunggu Renata untuk pulang bersama. Dengan perasaan yang tidak enak, Rava terus berlari mencari keberadaan Renata, sampai saat di mana Ia mendapatkan Renata yang hampir keluar dari pintu gerbang Sekolah mereka, dengan cepat Ia berlari hingga mendaptkan tangan Renata.
Renata menoleh ke arah Rava dengan kasar Ia melepaskan tangan Rava.
"Mau apa!" katanya sambil berjalan.
"Pulang bareng denganku!"
"Tidak! Pulang saja sana sendiri, oh tidak sama Anaya saja! Kenapa kau malahan mengejarku!"
"Kau ini aneh! Apa Kau cemburu Anaya mengungkapkan perasaanya padaku?" ketus Rava sambil menarik tangan Renata hingga menghentikan langkah kakinya.
"Cemburu??? apa Kau senang, banyak sisiwi menyukaimu? Kau mau pamer denganku? Kau terlalu sombong Rava! Jika Kau tidak menyukaiku, jangan berikan perhatianmu untukku!" bentak Renata dengan air mata yang mengalir di sudut matanya.
"Kenapa denganmu? Kenapa Kau malahan menangis?" tanya Rava panik melihat Renata menangis.
"Sudalah... Pulang saja sana sendiri! Kalau Kau menyukai Anaya, pacaran saja dengannya! jangan sok-sok keren di depanku. Perhatian denganku, tetapi Kau tidak pernah berperilaku baik denganku! Kau ini sbenarnya terbuat dari apaan sih Rava!" ketus Renata dengan sedih.
Rava merasa di pojokkan oleh Renata, Ia menarik nafasnya dan menatap ke Renata, "Sudah pernah Aku katakan! Aku membencimu, jika Kau terus menempel padaku! Kau itu resek, Kau selalu bisa mengambil perhatian Papa dan Mamaku, jangan berharap banyak dari diriku! Sudah berkali-kali Aku katakan, Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada dirimu! Kau paham Renata! Aku hanya menganggapmu anak dari sahabat Mamaku, Kau saja yang terlalu memasukkan ke hati setiap perhatianku padamu, Kau ku anggap adik yang tidak sedarah! Jangan menangis, Ayo pulang bersamaku!" kata Rava dengan ketus dan menarik paksa tangan Renata.
Hati Rava sangat panas melihat Renata menangis hanya karena Anaya. Merasa terpojokan oleh sikap Renata pada dirinya. Entahlah... Rava itu tidak bisa memikirkan hal lain jika seorang adik menangis karena hal yang tidak wajar, membuatnya emosi sendiri.
^
Masih menatap Renata dalam sendu, "Kata-kataku sangat membuatmu sakit, Maafkan Aku untuk masa lalu. Sekarang, Aku akan membahagiakanmu, hingga maut memisahkan kita berdua." Rava mencium kening Renata.
Naik ke atas ranjang, Rava merebahkan tubuhnya tepat di samping Renata. Tangannya merangkul pinggang Renata, seraya kembali mencium kening Renata. Ingatan yang dulu, membawanya merasa terluka, seakan merasakan sakit hatinya Renata menanggung cinta yang tidak terbalas oleh Rava.
"Selamat malam Istriku."
Bersambung.
......
Maaf... saya akan menyelipkan kisah Renata dan Rava di sela-sela perjalanan rumah tangga mereka. Jangan lupa selalu berikan VOTE kalian buat mereka, seperti saya setiap hari Update buat pembaca setia saya. Terima Kasih...❤🥰