My Chosen Wife

My Chosen Wife
KEINGINAN FRANS.



Kediaman Raka Atmadja.


Suara mobil terhenti di halaman rumah keluarga besar Raka, terdengar oleh Eva, Vara dan juga Renata. Para wanita ini sudah bersiap menyambut keluarga kecil yang saling mengandalkan satu sama lain.


 


"Renata di sini saja sayang... Biar Mama saja yang menyambut mereka." kata Eva ke Renata yang masih membantu menata makanan di atas meja.


 


"Baik Ma.." Renata tersenyum pada Eva.


 


"Kalau Vara, panggilkan Kakakmu dan Kekasihmu sayang dan juga Papamu." ucap Eva ke Vara.


 


 


"Tapi Ma.. Papa?" tanyanya takut.


 


 


"Sayang... Papa akan berbicara padamu setelah Bibi Anet dan Alice pulang. Jangan takut... Sudah sana... panggil mereka." perintah Eva kemudian berlalu ke pintu depan.


 


 


Vara menoleh ke Renata, saling memandang. Renata tersenyum ke arah Vara, memberikan semangat untuk Vara.


 


 


"Ayo Sayang... Papa Raka tidak akan mamarahimu. Yakinlah pada Kakak... Semuanya akan baik-baik saja." decak Renata masih dengan tersenyum.


 


 


"Terima kasih Kak... Kalau begitu Vara panggilkan sekarang tiga pria itu." Vara berjalan menuju anak tangga, ketiga pria yang Ia maksud, berada di atas tepatnya di ruangan santai keluarga mereka. Karena Rava, Raka dan juga Harsen, sedang bermain sejenak menunggu kedatangan orang yang di tunggu.


 


 


Sesampainya di ruangan keluarga, Vara berdiri di depan pintu dengan menatap kaku satu persatu, apa lagi, ini adalah penampilan pertama yang Ia tunjukkan sebelum Vara bertemu oleh Raka, Rava dan Harsen sedari sore tadi. Dengan keberaniannya, Vara memanggil dengan suara lembutnya.


 


 


"Papa, Kak Rava dan Kak Harsen." Vara menjadi gugup sendiri.


 


 


Semuanya menoleh pada gadis yang datang menghampiri mereka. Tiga Pria itu, merupakan Pria--pria yang Vara cintai, Pria-pria yang mencintai Vara dengan sepenuh hati mereka.


 


 


Raka tersenyum kecil, meskipun banyak pertanyaan di pikirannya pada putri semata wayangnya yang di anggapnya masih kecil. Rava sendiri, sudah melebarkan senyumannya, melihat tatapan sendu dari adik kesayangannya, segera Ia berdiri mendekati Vara. Lain hal dengan Harsen, Ia terkesiap dengan penampilan Vara, sangat memukau untuk di pandangnya. Menawan dan anggun, pikiran Harsen menjadi tidak karuan, meskipuan polesan natural pada wajahnya, menjadi pelengkap kecantikan Vara malam itu.


 


 


"Ada apa Sayang? Kenapa malam ini Kau sangat cantik?" tanya Rava dengan menyentuh lembut lengan Vara.


 


 


"Kakak... Malu agh." bisik Vara.


 


 


"Kenapa malu? , anak Papa memang cantik. Kalau enggak cantik mana mungkin Harsen bisa kecantol sama kamu" sambung Raka yang datang mendekati Vara dan Rava.


 


 


"Papa...." gumam Vara pelan.


 


"Kenapa sayang? Kenapa kamu memandang Papa seperti itu?" tanya Raka dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


 


 


"Papa tidak marah dengan Vara?" tanya Vara berani.


 


 


Raka menarik tubuh Vara, merangkulnya dengan sangat mesra sambilan keduanya berjalan menuju arah tangga di ikuti Rava dan Harsen dari belakang.


 


 


"Papa marah karena tahu kamu bawa mobil?" Raka langsung saja ke inti topik.


 


 


Vara memainkan kukunya karena memang sangat gugup, Ia menunduk tanpa menjawab perkatan Raka yang masih merangkul pundak Vara.


 


 


"Sayang... Nanti kita bicarakan, tapi... jangan murung seperti itu. Papa tidak marah sama Vara, kenapa putri Papa yang cantik ini menjadi jelek jika murung seperti itu." ledek Raka.


 


 


"Papa..." balas Vara manja.


 


 


"Ayo jangan murung lagi... Itu Alice sudah datang, sapalah Nak, kita tinggal menunggu Paman Frans dan Bibi Delia, mereka juga akan bergabung di sini bersama kita" Raka memberikan semangat untuk Vara.


 


 


"Baiklah Pa..." balas Vara kemudian berjalan ke arah Alice yang sudah duduk di ruangan tamu depan.


 


 


Raka sebenarnya masih malas melihat Anet, rasa jijiknya dulu dengan tingkah Anet kadang masih terbayang di pikirannya. Tetapi demi Defan, Ia membuat dirinya santai. Rava bersama dengan Harsen ikut membaur ke ruangan tamu, menyapa Alice dan juga Anet.


 


 


"Tunggu sebentar lagi Mba, Delia dan Frans belum sampai mareka masih di dalam perjalanan ke sini." ucap Eva pada Anet, semuanya sudah duduk di masing-masing tempatnya.


 


 


"Tidak masalah Eva, Aku dan Alice juga hanya bisa di sini, kalian undang makan malam saja sudah sangat cukup buat Mba." ucap Anet dengan pelan.


 


 


"Sebenarnya... Makan malam ini ada tujuannya gak sih Ma?" Vara menatap ke Mamanya, Rava yang duduk di samping Renata ikut menatapi Mamanya. Harsen yang di samping Vara, sedari tadi hanya mencuri pandang pada keanggunan Vara.


 


 


"Agh... Entahlah sayang... Mama juga enggak tahu, Papanya Defan meminta untuk menjamu Alice dan Mamanya. Pamanmu dan Bibimu, Besok sudah terbang kembali ke Irlandia, karena di sini tidak ada hal penting lagi untuknya membolos dari kerjaannya." ujar Eva.


 


 


Defan terkejut, "Benarkah Bi? kenapa Mama dan Papa tidak mengabarkannya ke Defan ya?" gumam Defan dengan berpikir.


 


"Mungkin mau surprise" jawab Raka asal, membuat Rava tersenyum sendiri.


 


 


"Mana mungkin Paman... Kan Defan enggak sedang berulang tahun Paman?" Defan berseru masih dengan tidak percaya.


 


 


"Mungkin saja, papa dan mamamu tidak mau Kau memikirkannya" Rava menimpali.


 


 


"Begitukah? apa aku ini benaran anak mereka? apa jangan-jangan aku anak yang terbuang?" katanya masih menatap bingung.


 


 


 


Renata tersenyum apa lagi Eva, Raka sendiri menatap si Defan dengan menarik nafasnya.


 


 


"Kau bukan anak yang terbuang, lebih tepatnya Kau cuma anak-anak an!" ujar Raka kesal.


 


 


 


"Apaan Defan?Jangan bersedih segala, Kau itu anak laki-laki, jadilah kuat, jangan cengeng. Kau paham Defan? itu pacarmu yang duduk di depanmu, siapa tahu saja Kau lupa, paman hanya mengingatkanmu." pinta Raka dengan melotot kesal.


 


 


"Selamat malam semuanya." Frans dan Delia datang dengan di tuntun Kiki ke ruangan tamu.


 


 


"Si pengacau datang." gumam Raka pelan.


Frans bukan lagi sibuk melihat Raka dan asal memeluknya, kini matanya mengarah pada Vara.


 


 


"Yeee.. Vara, enggak kangen sama Paman?" Frans mendekati Vara yang membuka kedua tangannya lebar dan memberikan pelukan sapaan pada Frans.


 


"Selamat datang Paman." ucap Vara dengan membalas pelulannya.


 


"Sudah... lepaskan anakku" mata tajam Raka menyoroti Frans yang memberikan pelukan lembut.


 


 


Dengan cepat Frans melepaskan pelukannya dan menatap Raka, "Astaga bang Raka, segitunya. Ini kan keponakanku yang paling cantik" kata Frans membesarkan suaranya.


 


 


"Kau lihat kekasihnya di sana? Dia saja sedari tadi hanya melihat anakku, sedangkan Kau sebagai pamannya malahan memeluk anakku, dasarrrr kau ini!." ketus Raka.


 


 


"Ya ampunnn Papa... Hanya seperti itu sudah membuat kalian terus bertengkar, Ingatlah adikmu Frans, pernah menjaga Rava dan Vara. Kenapa kau malahan sensitif" Eva mengingatkan masa dulu saat Frans muda.


 


"Benar itu Mba... kenapa bang Raka teramat pencemburu.? Agh .. sudalah... aku sangat takut dengannya..." ucap Frans dengan berbisik ke Eva.


 


 


 


 


Semuanya menjadi menggelengkan kepalanya. Sedangkan Defan menjadi kesal oleh papanya. Bukan anaknya sendiri yang di peluk melainkan anak orang lain pikirnya. Delia sendiri memberikan pelukan pada Defan setelah dari Eva dan Vara, berpindah ke Renata, Anet dan juga Alice.


 


 


Anet dan Alice memberikan salam dan pelukan pada Delia dan Frans. Langsung saja, Eva membawa mereka tanpa basa basi menuju meja makan.


 


 


"Ayo semuanya... silahkan di santap." ucap Eva dengan penuh semangat.


 


Mendengar Eva mempersilahkan, semuanya mengambil makan malam dengan tawa, candaan bahkan keributan dari Frans dan Raka yang sangat sulit untuk akur, membuat mereka yang melihatnya merasa gusar.


 


 


"Seusai Makan... Ada baiknya kita menjamu mereka dengan anggur kesukaan keluarga kita" ucap Frans tiba-tiba.


 


"Baiklah Frans... Kau membawanya?" Raka bertanya dengan mengunyah makanannya.


 


"Ada di mobil Bang... Nanti Defan yang akan mengambilnya." Frans melirik ke putranya.


 


 


Defan hanya menarik nafasnya saat sang Papa menatapnya.


 


"Jawablah iya ke Papamu." bisik Harsen.


 


"Agh... Iya Pa." jawab Defan malas.


 


"Sayang...Kau harus semangat... Jangan pasang wajah kesalmu sebelum Papamu merubah pikiran." bisik Delia pada Defan.


 


 


Defan menatap sang Mama, "Emangnya ada apa Ma?" bisik Defan.


 


 


"Nanti Kau akan tahu apa tujuan Papamu sayang." balas Delia lagi.


 


 


Akhirnya makan malam telah usai, seperti perkataan Frans, mereka membuka sebotol anggur untuk menjamu tamu penting mereka. Frans tidak main-main, Ia membawa anggur termahal untuk mengutarakan maksud dan tujuannya mengundang Anet dan Alice makan malam bersama keluarga besar Atmadja.


 


 


Hanya Eva, Raka, Rava, Renata, Defan, Frans, Delia dan Anet yang masuk di ruangan keluarga. Karena ini memang pembicaraan serius dari Frans. Raka meminta Vara untuk tidak bergabung karena adanya aksi Paman gilanya meminta untuk membukakan sebotol anggur untuk mereka terkecuali Alice dan Defan. Raka enggak mau, pikiran Vara tercemari oleh Anggur, karena itu bisa merusak anaknya pikirnya. Jadilah... Raka meminta Harsen menemani sang anak.


 


 


 


"Silahkan di minum" Frans yang sudah selesai menuangkan anggur pada gelas yang lainnya.


 


Mereka meneguknya dengan satu tegukan, Alice dan Defan hanya menatap dalam diam. Perasaan tegang menyelimuti keduanya, seperti hendak di sidang saja pikir mereka.


 


"Mba Anet." Frans membuka suaranya.


 


Anet meletakkan gelasnya di atas meja, dengan anggun dia menatap pada Frans, "Ada apa Frans?"


 


 


"Bagaimana menurut Mba anakku? apa dia cocok menjadi menantumu? Apa dia cocok dengan kriteria yang Mba inginkan sebagai menantu Mba satu-satunya?" tanya Frans dengan seksama.


 


 


"Agh... soal itu... Mba hanya mengikuti kemaun Putrinya Mba , Frans. Kalau Alice merasa cocok, Mba tidak akan melarang." jawab Anet santai.


 


 


"Agh... Kalau begitu pertanyaan ini akan Frans tanyakan ke Alice ya?" Frans menoleh ke Alice.


 


 


Rava dan Renata hanya diam ikut menyimak. Raka dan Eva juga, hanya mengikuti kemauan Frans yang meminta menjadi sakit untuknya.


 


 


"Bagaimana Alice? apa Paman bisa menanyakan pertanyaan tadi padamu Nak?" Frans duduk dengan santai seraya memandang Alice.


 


 


Alice gugup, Ia menoleh ke Defan dan kembali menatap Frans.


 


"Agh... It—Itu Paman... Bag—i Alice, Defan... Pria yang sangat baik, Agh... Alice yakin dengan Defan, Paman." balas Alice masih gugup.


 


"Baiklah... Kalau begituuuuu.... Bisakah Alice tidak usah melanjutkan kuliahnya? Usai Defan di wisuda, Aku dan Delia mau, mereka berdua langsung MENIKAH." tutur Defan.


 


 


 


Bersambung.


.....


Maaf... saya hari ini hanya bisa 1 bab, karena kondisi. Mohon di maklumi...Terima kasih 🥰