
“Selamat sore semuanya” sapa seseorang dari pintu masuk, “Maaf Pak, Bu, Abang dan Kakak, sumbangannya dong,” katanya dengan tangan terbuka.
Seluruhnya menoleh ke arah belakang membuat mereka terpaku akan kehadirannya yang kumal dan kusut, tidak satupun yang bisa percaya kedatangan manusia langkah ini ke Jakarta membuat hati panas dingin dan kepala cenat cenut. Setelah tersadar, seluruhnya sama-sama menyerukan namanya dengan satu suara , “DEFAAAAAAAAAAAAAN!!!”
Defan seketika itu juga kaget dengan suara satu yang menggelegar di indera pendengarannya. Defan menyentuh dadanya dan sejenak ia menarik nafasnya, duluan James yang memeluk tubuh Defan.
“Bro.. apa kabar Bro… Duh Gila, akhirnya lo balik bro, gua kangen main game bareng sama lo!” James mengangkat tubuh Defan dan mengayun-ayunkan tubuhnya.
“Gue tau lo kangen sama gue James, tapi gak gini juga kali. Turunkan gue donggg….” rengek Defan.
“Ogh oya.. Gue lupa lo itu udah gedek ya,” cetus James dengan menurunkan tubuh Defan.
Setelah di turuni James, Defan berlari menghampiri Eva duluan dan memeluknya.
“Bi… Selamat ya, uda buka butik, keren lagi,” kata Defan masih memeluk Eva.
Raka menarik kera baju Defan agar melepas pelukannya dari Eva.
“Bukan Bibi mu, Tapi Vara” Raka mengucapkannya dengan perlahan dengan bibir di rapatkan.
“Egh salah ya, tapi Paman.. Defan mau sapa Bibi dulu,” Defan hendak memeluk Eva lagi yang sudah tersenyum.
Sebelum sampai di pelukan Eva, Raka kembali menarik tubuh Defan.
“Salam!” ketusnya.
Mau tidak mau Defan hanya memberikan salimnya ke Eva.
“Kenapa Defan datang gak bilang-bilang Nak?” tanya Eva.
“Sengaja Bi, mau curprices,” katanya dengan manja,“Paman sini, peluk Defan,” kata Defan ke Raka.
“Gak usah, sudah pernah,” kata Raka acuh.
“Dih… Segitunya sama ponakan sendiri,” Defan mencebikkan bibirnya.
Raka tertawa dan menarik tubuh Defan, “Kau ini sungguh cepat sekali ngambekan. Seperti papamu yang gak tau entah kek mana lagi hidupnya,” Raka menepuk pundak Defan dengan lembut.
“Kenapa kau bisa datang Fan?” Vara menaikkan kedua alisnya.
Sambil melepas pelukannya dari Raka, Defan hendak memeluk tubuh Vara.
“Jangan, Vara gak suka di peluk sama kamu , Fan.” Harsen mencegah.
“Dih.. kenapa sih semuanya asal di peluk pada gak boleh? kalian semua gak kangen ya sama Aku?” rengek si Defan.
“Sama gue aja yuk,” jawab Rani dengan mengedip-ngedipakan kedua matanya dan berlaku manja.
“Dih siapa lo!” ketus si Defan dengan mata sangar.
“Gue Rani, nama panjang gue Maharani,” Rani mengulurkan tangannya ke Defan.
Defan yang bingung refleks mengulurkan tangannya, “Awwwwwwwwwwwwwwww..” jerit Defan saat Rani meremas tangannya.
“Kenapa Fan?” tanya Harsen.
“Ini tangan apa besi? gila sakit banget,” Defan mencoba melepaskan tangan Rani.
“Pemanas apaan? Emang lo kira gua olahraga apa!” matanya menatap dingin ke Rani.
“Dih gitu aja lo marah! Cerewet mamat lo jadi laki-laki! Jomlo seumur hidup baru tau rasa lo!” umpat Rani.
“Astaga, lo siapa sih! lo gak tau pacar gua Sandra Dewi? lo aja lewat sama kecantikannya.”
“Egh bambank! Jangan jadi pebinor! dia udah punya laki yang lebih tampan dari wajah lo itu! lo apalah, dari ujung rambutnya saja lo gak sebanding!” ketus si Rani.
Defan menarik nafasnya, pengen di gamparnya tapi itu cewek, mau di buat ke mana harga dirinya.
“Sudah Fan, ayo sini sama Paman. kau terlihat sangat kurus, ayo kita makan dulu.” ajak Jimmy dengan merangkul tubuh Defan masuk ke dalam.
“Terima kasih Paman, Paman memang yang terbaik,” balas Defan ke Jimmy.
“Sekarang yang Paman kandungnya dia siapa ya?” gumam Raka.
Seluruhnya kembali ke dalam setelah semua pengunjung butik keluar, Vara langsung meminta pekerjanya untuk menutup lebih awal, di karenakan adanya makan malam khusus keluarga yang di minta Vara pada Eva. Di sinilah mereka menutup acara peresmian butik Vara yang di lengkapi dengan nyanyian merdu dari Jimmy, Defan dan yang lainnya. Suara tawa dan canda mereka masih terdengar.
***
Kediaman keluarga Rava Atmadja.
Setelah tiba di kediaman mereka, tampak Mba Titin yang mendekati Rava yang menggendong tubuh Renata di dalam pelukannya.
“Apa anda butuh sesuatu Pak? “tanya Mba Titin melihat wajah Renata yang memucat.
“Mba, siapkan makan malam bubur ayam, dan teh hangat. Jika selesai, tolong antarkan ke kamar saja, karena Renata sedang tidak enakan. Tolong ya Mba Tin,” pinta Rava,
“Baik Pak,” balas Mba titin kemudian berlalu.
Rava sekilas melirik ke Renata yang memejamkan kedua matanya. Wajahnya terlihat memucat, membuat perasaan Rava tidak karuan. Bagaimana tidak? Renata dulunya pernah mengalami sakit lambung yang mengharuskannya berbaring di Rumah sakit. Tapi ini lain, Renata bisa menahannya meskipun perasaan di bagian perutnya terasa mual. Berkali-kali, Rava membujuknya untuk ke Rumah sakit, Renata menolak. Tidak mengindahkan sama sekali keinginan sang suami.
Setibanya di tempat paling ternyaman bagi orang-orang yang meneduhkan lelahnya, dengan perlahan dan sangat lembut perlakuan Rava untuk Renata. Ia membaringkan sang Istri di atas ranjang.
“Katakan di mana yang gak enakan?” Rava duduk di samping Renata.
Terpampang senyuman di wajahnya sambil menggeleng, “Tidak ada, sudah enakan, tidak seperti di awal tadi.” balas Renata.
“Kau membuatku sangat khawatir Rena, bukankah sebelumnya tidak seperti ini? Jangan menahannya sendiri, jika sakit katakan padaku sakit. Jika benar ini karena cairan yang sudah di proses di rahimmu, Aku tidak mau kau merasakannya sendiri. Bukankah kita berdua yang mendesah bersama? Jadi, apapun yang membuatmu tidak enakan, beri tau padaku. Aku ingin merasakan persakitan yang kau rasakan. Apa kau mengerti, heh?” Rava memandang sendu ke wajah Renata yang memucat.
Sudut mulutnya muncul, “Tidak apa-apa sayang, jangan mengkhawatirkan Aku,” katanya dengan lembut.
“Mana mungkin Aku tidak mengkahawatirkan dirimu, sekecil apapun yang bersangkutan dengan Istriku, aku akan memperhitungkannya sayang.” kedua sudut matanya berkerut.
“Jangan seperti ini, Aku hanya butuh Istirahat saja,” balas Renata dengan menutup matanya, karena tatapan kekhawatiran Rava membuatnya menjadi pikiran.
“Baiklah, Kau boleh istirahat. Aku akan bersih-bersih sejenak. Usai itu Aku akan menggantikan pakaianmu. Tidurlah…”
“Hemmmmm…” Renata menjawab berdehem tanpa membuka kedua matanya.
Setelah menatapi sebentar wajah Renata, akhirnya Rava beranjak berdiri dan berlalu ke kamar mandi. Setelah usai dari ritual mandinya, Rava mengambil pakaian sang Istri, kemudian kembali ke ranjang menatap wajah Renata. Kembali lagi menarik nafasnya, “Perasaanku sangat takut sekali melihatmu terbaring lemah seperti ini. Aku trauma, melihatmu tidak bergerak. Trauma saat kedua matamu terpejam dengan wajah yang memucat. Tolong jangan sakit lagi, Aku bakalan merasa kesepian dikala dirimu seperti ini,” gumam Rava dalam hatinya, sambil melepas pakaian Renata untuk menggantikannya dengan sangat hati-hati.
.
.
.
Jangan lupa berikan VOTE dan Likenya ya, dan jangan lupa follow IG saya di @putritritrii_ untuk mendapatkan info-info tentang Novel saya.Saay berharap dari pembaca saya, jangan hanya menuntut saya untuk lanjut dan up, tapi kalian tidak mau kerja sama dengan saya dalam bentuk VOTE. Buat yang uda dukung saya selalu, saya ucapkan Terima kasih banyak, semoga kalian di lindungi oleh sang pemilik kehidupan ^^