
Masih dalam acara akhir yaitu pesta berdansa, tiba-tiba Anet dan Alice datang dengan nafas yang ngos-ngosan. Defan yang melihat kedatangan Anet dan Alice dengan cepat melepaskan pelukannya dari James, teman berdansanya.
"Bibi, Alice? kenapa kalian tidak mengabarkan kedatangan kalian? kan Defan bisa jemput di bandara?" tanya Defan.
"Nak Defan, nanti saja ya tanya-tanyanya. Bibi sudah sangat telat, mau memberikan selamat untuk nak Rena dan Rava.
Alice hanya tersenyum ke Defan, rasa rindunya akhirnya terobati dengan perjumpaan mereka.
"Mba Anet," seru Eva dengan cepat mendekati ketiganya.
"Eva... Maafkan saya dan Alice, harusnya kemarin malam sudah tiba di Jakarta. Karena kendala delay saat transit, jadinya pagi tadi, itu juga buru-buru." kata Anet.
Eva tersenyum dan menarik tubuh Anet untuk memeluknya, "Tidak masalah Mba, Maaf enggak memberikan pelayanan yang baik, karena Mba Anet tidak mau di jemput, saya juga enggak bisa memaksakan keinginan saya." ucap Eva.
"Tidak Eva... Kamu sudah sangat baik pada ku dan Alice. Selamat atas pernikahan anak kamu, sekarang tinggal menunggu menimang cucu." kata Anet melepas pelukannya.
Eva tersenyum, "Terima kasih Mba, ayo Mba kita ke sana, sama keluarga lainnya." ajak Eva.
"Oiya Alice... Maaf, tante hampir lupa. Kamu cantik banget sayang, sama seperti Mama kamu." ucap Eva menyentuh lengan Alice.
"Agh Tante bisa saja, Terima kasih tan." ucap Alice tersipu malu.
"Benaran sangat cantik, Ayo Defan ajak Alice menemui yang lainnya." perintah Eva.
"Baiklah Bibiku yang sangat cantik." jawab Defan senang.
"Ayo Alice." kata Defan dengan menggenggam tangan Alice.
Alice tersenyum dan membalas genggaman tangan Defan, lalu mengikuti Anet dan Eva dari belakang mereka. Sesampainya di tengah-tengah keluarga yang sudah duduk di tempat mereka masing-masing, Frans langsung menatap ke Anet yang sangat dekat dengan Eva, lalu berpindah ke Defan dan Alice yang berjalan ke arah meja anak muda, ada Vara, Harsen dan yang lainnya.
Sama dengan Raka, Raka juga menatap ke Eva dan Anet yang berjalan ke arah meja mereka. Dengan semangatnya Eva membawa Anet menghampiri keluarganya.
"Mba Anet." ucap Rere kaget, sama dengan Leo, Leo menjadi menatap ke Raka dan berpindah ke Eva.
"Halo Re," kata Anet.
Rere berdiri dan memberikan pelukan pada Anet, kakak kelasnya dulu, yang juga mantan pacar dari kakak angkatnya Raka. Meskipun Rere sangat tidak menyukai Anet yang dulu, tetapi sekarang berbeda karena Eva.
"Apa kabar Mba?" tanya Rere dengan melonggarkan pelukannya.
"Baik Re. Kamu bagaimana?" tanya Anet kembali.
"Ya beginilah Mba.. Ini Leo suami saya, Ini kak Raka, ini Frans, Ini Delia Istrinya Frans, Varel , Casandra, Jimmy dan Anna. Mereka ini adalah keluarga terdekatku Mba." ucap Rere.
"Mba Re... Jangan bercanda kenapa? Kita kan sudah mengenal Anet siapa , jadi kenapa menyebut nama kami satu persatu Mba." protes Jimmy.
"Agh... siapa tahu kan, Mba Anet lupa dengan wajah kalian." celetuk Rere.
"Sudah... Duduklah Anet, pelayan akan melayani kamu." sambung Raka.
"Terima kasih Raka." balas Anet dengan menatap sekilas ke Raka.
"Ayo Mba... Duduk di samping Delia." ajak Eva, jadilah si Jimmy berpindah ke samping Raka.
"Pestanya sudah hampir berakhir, tapi makanan di sini masih banyak , jadi tetap di nikmati untuk menu makanannya ya Mba." ucap Eva dengan tersenyum ramah.
"Terima kasih Eva." balas Anet senang.
Frans yang di samping kanan Raka pun berbisik.
"Bang... Enggak salahkan dengan keadaan ini?" tanya Frans.
"Anggap saja kesalahan yang tidak bisa di hindari. Begitu juga dengan Kau , Frans. Anakmu berjodoh dengan anaknya. Jadi... Kau tidak boleh mempersulit anakmu, karena semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan anakmu dan keluargamu." balas Raka dengan berbisik.
Frans kembali mendekat ke telinga Raka.
"Hanya saja, dulu dia hampir mencelakai Mbaku dan keponakanku Rava, Bang. Apa abang tidak mengingatnya?"
"Tidak akan pernah ku lupakan, tetapi itu masa lalu Frans. Semuanya sudah berlalu, kita juga sudah memiliki generasi baru." ujar si Raka.
Kali ini Jimmy yang berbisik dari sebelah kiri.
"Pak Raka.... Apa ini namanya orang lama datang kembali?" ucap Jimmy.
Raka menoleh ke Jimmy dengan mata meolotot.
"Apaan maksud kamu Jim?" Raka mengernyitkan keningnya.
"Yang sana diam aja! Ngikut-ngikut aja! Ini urusan Pria!" ketus Frans menimpali.
Jimmy melotot ke Frans, "Gua juga Pria orang-orangan salju!."
"Oh iya... gua hampir lupa." ucap Frans.
"Sudah... awas kalian berdua kalau ribut di sini. Ini masih acara." ancam Raka.
Jimmy dan Frans kembali mundur dan duduk dengan posisi siap. Sedangakan para Ibu dengan santainya berbincang, menerima kedatangan Anet. Walupun sebenarnya Casandra sangat membenci Anet, karena dia Eva hampir melahirkan sebelum waktunya. Hanya saja, Ia tidak punya hak membenci Anet, sementara Eva besannya sangat memperlakukan Anet dengan tulus.
"Wah... jadi Harsen itu anaknya Leo dan Rere ya? Selama ini, Aku pikir anaknya Eva." ucap Anet kaget saat mendengar pembicaraan Rere.
"Wah...Banyak anak dong kalau sampai 3." sambung Eva dengan tertawa.
"Iya Mba... Harsen anakku satu-satunya." sambung Rere lagi.
"Kalau sampai 3, hanya Mba Eva dan Kak Raka dong, yang anaknya paling banyak." Anna ikut membuka suaranya.
"Bukankah memang sangat cocok?" sambung Casandra.
Eva hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Leo dan Varel yang hanya berdiam, tiba-tiba membuka suaranya.
"Pak Varel... Situasi macam apa ini namanya?" bisik Leo.
"Entalah Pak Leo, saya tidak mengerti. Karena itu saya hanya diam, karena saya takut salah bicara." balas Varel.
"Kalau begitu... anggap saja kita sedang menonton Drama Korea, Pak Varel." ucap Leo dengan semangat.
Varel batuk tiba-tiba mendengar ucapan Leo, membuat pandangan satu meja itu menatap ke Varel.
"Ada apa Pi?" tanya Casandra khawatir.
"Agh enggak apa-apa, Mi. Silahkan di lanjut." ucap Varel malu.
"Sebelum kondangan , Udah sikat tenggorokan belum bang Varel?" celetuk Frans.
"Astaga... Bagaimana lagi sikat tenggorokan?" tanya Varel.
"Coba kita tanya ahlinya... Bang Raka." kata Frans menunjuk ke Raka.
Langsung si Raka menarik jari si Frans dengan geram.
"Adooooo doo...Bang!" ucap Frans meringis.
Raka melepasnya dengan kasar, lalu menatap Frans. Varel, Leo, Jimmy tertawa senang.
"Bang Raka kok kejam banget sih sama Bule sepertiku!" kata Frans sedih, "Kenapa kalian menertawaiku." katanya pada Jimmy lebih tepatnya.
"Lucu....Kau itu lucu, kau Bule kesasar yang di tinggal sama Pakle." ucap Jimmy dengan sombongnya.
"Pakle??? Paklik kali Jim." sambung Varel.
"Terserahlah Rel.. Yang penting gua senang melihat dia tertindas!." ucap Jimmy dengan tertawa.
Raka menoleh ke Jimmy dengan tatapan tajam dengan seketika itu juga Jimmy terdiam dan menutup mulutnya.
"Bisa gila aku berada di dekat kalian berdua." ucap Raka menutup matanya.
"Ya ampun Jim.... " Raka menarik nafasnya.
***
Di sudut lain, meja di mana anak - anak berkumpul. Vara yang melihat kedatangan Alice menjadi histeris sendiri, langsung saja Vara berdiiri memberikan pelukannya pada Alice.
"Alice, selamat datang di kota kelahiranmu." ucap Vara dengan mesra memeluknya erat.
Renata ikut tersenyum, sedangkan Rava masih sibuk dengan Harsen, tidak menghiraukan para wanita.
"Maafkan Aku telat Vara." balas Alice sedih.
"Astaga... Tidak masalah, ayo ucapkan selamat pada kakakku dan kakak iparku yang cantik." ajak Vara dengan menarik tangan Alice. Defan yang melihat perilaku Vara masih sama ke Alice menjadi tersenyum.
Renata langsung berdiri menyambut Alice yang mendekat padanya, membuka kedua tangannya untuk memberikan pelukan pada Alice.
"Kak Renata benar-benar sangat cantik kak.. selamat ya Kak, Alice sangat senang, akhirnya bisa melihat kak Renata di hari spesial kakak." ucap Alice membalas pelukan Renata dengan erat.
"Terima kasih sayang... Kamu sama cantiknya pakai gaun putih. Defan sangat beruntung memiliki gadis sepertimu, semoga saja kalian berjodoh sayang." ucap Renata lagi.
"Amin kak....Terima kasih doa kakak. Semoga kakak dan kak Rava juga cepat di berikan momongan." kata Alice menatap wajah Renata.
"Wah... Di aminkan ini." balas Renata. Kemudian Renata menyentuh pundak Rava, "Sayang... ini ada Alice."
Rava menoleh dan sigap berdiri, "Agh... Maaf, sangkin seriusnya. Enggak tahu kedatangan kamu Alice. Selamat datang di kota Jakarta. Buatlah dirimu senyaman-nyamannya di sini." ucap Rava dengan tersenyum.
Alice mengulurkan tangannya ke Rava, Rava yang melihat tangannya pun membalas uluran tangan Alice.
"Selamat atas pernikahan Kakak dan Kak Renata, semoga kalian cepat di karuniai seorang anak." ucap Alice dengan tulus.
"Kembar dong... Jangan seorang doang. Harus yang banyakkk." timpal Vara bersemangat.
Rava tertawa, "Terima kasih Alice. Untuk anak yang banyak, biarlah Vara dan Harsen yang membuatnya nanti , saat kalian sudah menikah." ucap Rava lalu melepas tangan Alice.
Mata Harsen menjadi berkedip tidak karuan mendengarkan ucapan si Rava. Vara sendiri sudah senyum-senyum enggak jelas.
"Defan... panggilkan pelayan untuk menghidangkn makanan untuk Alice." perintah Renata.
"Baik Kakak." ucap Defan langsung berlari ke arah tempat di mana para pelayan lokasi yang bertugas berjaga.
"Noona... Itu siapa?" tanya James dengan pelan ke Renata yang duduk di depannya.
"Pacarnya Defan, cantik kan? Noona akan kenali ke kamu." ucap Renata.
Renata kembali berdiri memotong pembicaraan Vara dan Alice, "Alice....satu lagi anggota boy band keluarga dekat kami, ada James yang belum kenalan dengan kamu." Renata menunjuk ke James yang sudah memasang wajah tampan kek bapaknya.
James berdiri dan mengulurkan tangannya, "Salam kenal Alice, Nama saya James , anak tunggal dari pasangan Nyonya Anna dan Tuan Jimmy, jadi panggil saja saya Ames," kata James percaya diri.
"AMESSSS???" tanya semuanya dengan kaget.
"Kenapa jadi Ames? Seperti bau Amis saja." celetuk Vara.
"Bukaaaan Vara! Amessss." protes James.
"Iya... kenapa jadi Ames ? Kan nama kamu James loh." kata Rava menimpali.
"Lah... Biar samaan dengan Alice Kak, Alice dan Ames." sambung James dengan gagahnya.
"Alice dan Defan! kenapa kau jadi mengganti dengan sembarangan?" Protes Defan yang sudah kembali ke meja mereka.
"Egh...Bercanda doang kok, jangan marah." ucap James dengan cepat dan duduk.
"Hati-hati dengan James, Fan. Kau tahu? dia di kampusnya adalah playboy cap kapak." ujar Rava.
"Sayang... Kau tidak boleh menfitnah sepupu terbaikku." Renata protes.
"Hah... Maaf... Kalau nyonya besar sudah buka suara, aku tidak bisa ikut campur." jawab Rava.
"Alice.... tapi kenali, dia itu namanya James, anaknya paman Jimmy dan Bibi Anna, yang merupakan sepupu kandung kakak." kata Renata.
"Iya Kak..." Alice menjawab Renata kemudian menoleh ke James, "Halo James... salam kenal." kata Alice dengan ramah.
"Sama-sama Alice... Semoga kau betah dengan Defan. Kalau enggak betah, Aku siap menggantikanya." ledek James.
Defan yang mendengarnya, menarik Alice dan mebawanya duduk di dekatnya.
"Jangan di tanggapi Alice, ada kurang-kurangnya." bisik Defan.
Alice tersenyum, "Tapi dia lucu, sama seperti kamu. Kalian mirip Defan." balas Alice.
"Apaan yang mirip, masih tampanan Aku dong." kata Defan.
"Iya... kekasihku memang tampan dan juga baik hati." bisik Alice.
Defan tersenyum, membuat Vara yang menatapi keduanya sedari tadi merasa iri. Kemudian Ia menoleh ke Harsen yang duduk di sampingnya dengan memainkan ponselnya memriksa berkas yang Ia terima dari pekerjaan Rava di New York.
"Kakak." bisik Vara.
Harsen langsung menoleh ke Vara dan menyimpan ponselnya, agar tidak mengganggu Vara yang hendak mengobrol dengannya.
"Ada apa Vara?" tanya Harsen.
Tiba-tiba Vara cemberut.
"Loh... kenapa jadi cemberut?" bisik Harsen dengan senyum manisnya.
"Bisakah... Panggilan untuk Vara di rubah gitu kak. Kenapa kakak enggak ada romantis-romantisnya sih kak?" tanya Vara.
Harsen tersenyum, "Emangnya mau di panggil apaan? Sayang? Cintaku? Baby? Honey? Apa lagi ya?" tanya Harsen dengan berpikir sejenak menengadah ke atas.
"KAKAK!!!." teriak Vara, membuat satu meja menatap ke Vara.
"Iya." malahan Rava yang menjawab.
Harsen tersenyum dengan menatap ke sembarangan arah. Vara menjadi salah tingkah, saat kakaknya sendiri yang menjawab teriakannya.
"Egh...Anu... Bukan Kak Rava. Tapi...." ucapanya pelan.
"Kak Harsen ya? Kenapa dengan kalian berdua?" tanya Rava.
"Vara memintaku memanggi—." ucapan Harsen terpotong karena Vara membekap mulutnya.
"Enggak Kak...Vara hanya ingin meminta Kak Harsen untuk mengantarkan Vara pulang. Vara sangat lelah Kak." alasan Vara.
"Loh... Kamu lelah sayang? Kan yang menikah Kak Renata dan Kak Rava." sambung Renata.
"Iiya Kak... Entahlah Kak... tubuh ini sepertinya tidak mau kompromi." balas Vara salah tingkah.
"Sudah.. Lepaskan! Kasihan Harsen," perintah Rava, "Tunggulah sebentar lagi, acara sudah selesai. Di sini tinggal keluarga kita saja." ucap Rava.
"Ba—Baik Kak." ucapnya dengan melirik tajam ke Harsen.
"Kak Harsen terlalu jujur!." bisik Vara dengan penekanan.
Harsen menggaruk-garuk kepalanya. Kenapa dia malahan jujur banget. Itulah si Harsen kekakuannya membuatnya aneh sendiri.
"Defan....siap Alice menyantap makanannya. Ajaklah Dia menemui Papa dan Mamamu." perintah Rava.
"Baiklah Kak." jawab Defan santai.
"Oiya Kak Rava, kalian akan berbulan madu ke mana?" tanya Vara tiba-tiba.
"Hemmm ke mana Ya?" tanya Rava sejenak berpikir, "Entahlah... tanyakan pada kakak iparmu." jawab Rava menyantap cake penutup.
"Hemmm... keknya ke Korea enak nih. Siapa tahu aja, bisa jumpa dengan Oppa Lee Min Ho, Oppa Hyun Bin, Oppa..."
"Kau yakin?" tanya Rava aneh.
"Vara setuju kak... Boleh ya ikut kak?" tanya Vara penuh harap.
"Tidak boleh... Kamu kan sudah mau menyusun skripsi Vara. Saat kalian kembali ke Now York, Kakak dan Kak Renata akan berbulan madu." ucap Rava.
"Kakak... Kok gitu sih?" Vara cemberut dan sedih.
"Lah... Kalau Kakak membawamu, itu namanya bukan bulan madu. Tapi beruang madu..." ledek Rava.
"Kak Ravaaaaaa!!!!!." teriak Vara.
.
Di lanjutkan? enggak TAMAT, karena saya memang mau melihat respon kalian, kalian bosan enggak, atau risih enggak kalau pemeran terdahulu di campur, karena memang kan acara keluarga, wajar saya membawa semuanya. Saat kedepannya nanti bakalan berkurang, terkadang membaca komentar yang mungkin, enggak membaca dari Novel Sebelumnya, membuat saya bingung. Kenapa ya... orang yang berpendidikan belum tentu menyampaikan komentarnya dengan baik. Jika saya salah... tolong dong sampaikan komentar kalian dengan kata-kata yang baik , karena itu saya enggak mau baca komentar terkecuali bab sebelumnya, karena saya mau melihat respon kalian. Dan ada saya temukan, komentar dari sesama perempuan yang mengatakan saya itu Memalukan! tapi enggak apa-apa... saya yakin apa yang kita tanam atau kita tabur di hari ini, kemudian hari kita akan menerima sendiri hasilnya. Terima kasih Semuanya ❤🙏. Tolong dong bantu VOTE berikan kado pernikahan kalian buat Rava dan Renata dalam bentuk VOTE dan LIKE Kalian. Dan karena ini sudah 2.159 kata, jadi gantung ya... 😁