My Chosen Wife

My Chosen Wife
MENCURI CINTA DAN PERHATIAN.



Siang menjelang sore, ketiga kakak beradik itu sudah sampai di mana mereka akan menikmati makan siang mereka yang terlambat. Harsen memilih untuk makan siang di salah satu restoran yang sering di kunjungi keluarga Atmadja. Di sinilah mereka sekarang duduk, dengan di temani pemandangan orang yang berlalu lalang dari dinding kaca sebagai pembatas.


"Pesanlah.. apa yang ingin kalian makan." Harsen yang duduk di samping Vara memberikan buku menu pada Vara.


 


"Kakak makan apa?" tanya Vara balik.


 


"Apa saja yang Kamu makan, pesankan itu juga buat Kakak." balas Harsen sambilan tersenyum.


 


"Awuuuuwww.... romantis sekali sich." Defan meledek dengan kedua tangan di letaknya di pipi sambilan mengedipkan kedua matanya.


 


 


Vara hanya tersenyum sambilan melihat menu makanan. Rasanya gini amat ya, punya pacar seromantis Harsen.


 


 


"Jangan lupa Vara... atur kencan specialku dengan Alice." ucap Defan di depan Harsen.


 


"Kenapa tidak Kamu sendiri yang atur Fan? Kenapa harus Vara? kan kamu yang pacaran dengan Alice." protes Harsen.


 


 


"Dih Kak Harsen... Ngalah-ngalain kak Rava nih berisiknya. Defan dan Vara itu sudah bertuk—"


"Defan." Vara menajamkan kedua matanya.


 


Harsen merasa curiga pada keduanya, bergantian memandang Vara dan Defan.


 


"Maaf... Aku lupa." ucap Defan tertawa seraya menggaruk kepalanya seakan gatal.


 


 


"Apa yang kalian sembunyikan dari Kakak?" tanya Harsen pada keduanya.


 


 


"Kak.... tunggu dulu, itu pelayan sudah datang. Mari kita pesan makanan, solanya Vara sudah sangat lapar." balas Vara mengalihkan pembicaraan.


 


 


"Baiklah... " balas Harsen percaya.


 


Ketiganya memberikan pesanan makanan dan juga minuman pada pelayan restoran yang sangat ramah melayani mereka dan mencatat seluruh pesanan yang akan di santap mereka. Seperti biasa, menu makanan dari Defanlah yang selalu membuat Harsen bingung dan tercengang. Empat menu sekaligus dengan dua gelas minuman yang berbedah. Bukan hanya Harsen yang suka bingung, seluruh keluarga Atmadja bingung melihat nafsu makan Defan yang besar tapi dianya tidak tumbuh ke samping. Mungkin saja peliharaan di perut Defan asupannya terpenuhi dari makanan yang Defan makan.


 


 


"Awas saja Kamu tidak menghabiskan semua pesanan kamu." kata Harsen ke Defan dengan suara datarnya.


 


 


"Tenang saja Kak... Lambung kiri dan Lambung kanan Defan cukup besar menampung semuanya. Yaaaa....Kalau tidak kan ada Vara" kata Defan menatap Vara.


 


 


Vara yang namanya di bawa-bawa oleh Defan, membulatkan matanya dengan sempurna. Merasa tidak terima dengan ucapan Defan.


 


"Lo aja...Gua gak akan mau!" ketus si Vara.


 


 


"Ya sudah... Kak Harsen dong." Defan menaikkan kedua alisnya dengan bersamaan.


 


"No...No... No... Jangan racuni calon suami Aku. Kalau tidak habis, Kau bungkus saja bawa ke rumah." protesnya Vara membuat Harsen tersenyum dan memandangi wajah Vara.


 


 


"Terserah Kau saja, cerewet!" balas Defan.


 


Tidak lama suara wanita dan pria datang dari arah pintu masuk. Membuat obrolan dari anak keluarga Atmadja menuju pada kedua orang yang barusan masuk. Defan yang duduknya membelakangi pintu masuk mengikuti pandangan Harsen dan juga Vara.


 


 


"Lah itu kan si pria resek. Dan yang sebelahnya satu kelas Vara yang bar-bar dan sok cantik itu kan?"


 


 


 


"Kau benar Fan." jawab Vara.


 


Vara membuang pandangannya saat Ansel dan Zahra berjalan menuju ke arah meja mereka. Hingga saling pandang terjadi saat Zahra dan Ansel tiba di meja mereka yang berbedah satu meja saja. Ansel malahan terhenti sebelum duduk di bangku meja mereka. Ia menoleh ke Harsen, dan berniat untuk menyapanya.


 


"Ketemu lagi Sen... Apakah benar kita di takdirkan untuk terus bertemu?" Ansel bertanya dengan menyentuh pundak Harsen dengan tersenyum, seraya melirik ke Vara.


 


 


Mata Zahra melirik dari mejanya ke arah keluarga Atmadja itu. Ia sudah tau cerita dari sang Kakak, tentang Harsen bahkan Vara. Membuat hati Zahra merasa tidak terima, karena kakaknya menyukai Vara dan yang paling tidak Ia terima, Vara sudah memiliki kekasih. Membuat Zahra memutar otak dengan setiap curhatan kakaknya.


 


 


"Maaf... Saya dan Kakak–mu ini adalah seorang sahabat. Maaf juga... karena pertemuan awal kita, kau jadi membenciku. Tapi tidak masalah, sudah biasa di kalangan anak muda seperti kita. Jadi tolong jangan di masukan ke dalam hati, karena kita akan sering ketemu mulai sekarang. Ada baiknya kita berteman , karena kita sama-sama berasal dari Jakarta. Baiklah.. Silhakan di lanjut, saya akan kembali ke meja saya." ucap Ansel berjalan ke samping kanan di mana meja mereka berada.


 


Defan melirik sekilas dan beradu pandang ke Zahra. Saling memandang, sampai membuat Defan memalingkan wajahnya duluan. Ia merasa takut dengan pandangan Zahra, takut kena pelet pikirnya.


 


"Kenapa mereka bisa bersama?" bisik Defan ke Vara.


 


"Hemmm... Itu adiknya." balas Vara acuh kemudian ia menoleh ke Harsen.


 


"Kak." panggil Vara.


 


Harsen langsung tersenyum dan menatap Vara, "Iya... ada apa?" tanyanya dengan lembut, sedangkan Ansel mencuri pandang pada Vara dan Harsen.


 


 


"Kakak enggak apa-apa kan?" tanya Vara pada Harsen.


 


Harsen mengacak rambut Vara dengan manjanya, "Tidak apa-apa. Emangnya apa yang perlu Kau khawatirkan?"


 


 


 


"Hemmmmm... siapa tau saja Kakak risih dengan adanya mereka di sini." balas Vara dengan memandang teduh pada kedua mata Vara.


 


 


Harsen merubah posisinya menghadap ke Vara, kemudian menopang kepalanya di atas meja dengan tangannya dan menatap Vara sambilan tersenyum.


 


"Ada atau tidak adanya mereka yang terpenting ada Vara di samping Kakak. Bukan Defan yang ikut menemani kita." ledek Harsen.


 


 


Vara tersenyum manis, Defan protes.


 


"Kakak!" panggilnya sedih.


 


"Jangan merengek, itu pesanan kita sudah datang. Singkirkan ponselmu." ucap Harsen seraya menyingkirkan barang di atas meja mereka.


 


Sedangkan meja Zahra dan Ansel sedang di layanani oleh pelayan restoran. Meja keluarga Atmadja yang sudah penuh berisi makanan yang di pesan oleh mereka semua sudah tertata rapi, membuat hasrat Defan menjadi fotografer dak-dakan meronta dengan terang-terangan.


 


"Sebentar.... jangan ada yang makan dulu. Biar Defan publikasi di sosmed." kata Defan pada mereka yang di depanya yang sudah menyentuh garpu maupun sendok mereka.


 


 


"Buruaaaaan! Gua laparrrr..." ucap si Vara.


 


Dengan cepat Defan mengambil ponselnya dan mengambil foto dari menu makanan yang sangat apik menurutnya.


 


"Okeyyy... silahkan di nikmati dan selamat makan." ucap Defan dengan tersenyum merekah.


 


 


"Iya.. selamat makan, habiskan seluruh makananmu." Harsen kembali mengingatkan Defan.


 


 


"Baiklah Kakakku sayang." jawab Defan dengan menyuapkan sendokan pertama ke mulutnya. Lalu mengambil ponselnya lagi dan mempostingnya ke Instagramnya, dia tag Renata dan Rava. Karena Defan enggak mau kalah dengan postingan dari Renata yang mengunggah seluruh perjalanan bulan madu mereka.


 


 


Tiba-tiba pandangan Vara melirik ke meja Zahra dan Ansel. Beradu pandang dengan Ansel yang saat itu kedapatan melirik Vara. Ansel langsung tersenyum ke Vara, seketika itu juga Vara membuang pandangannya.


 


 


"Akan Aku mencoba merebut cinta dan perhatianmu." gumam Ansel di dalam hatinya.


 


 


 


.


.


.


.


Yeeess saya usahakan 2 bab hari ini, walaupun saya kurang enakan, Demi kesayanganku, Terkhususnya pembaca setianya mom... lihat kalian yang semangat mendukung mom dalam bentuk VOTE jadinya mom tambah untuk hari ini. Jangan sungkan untuk mendukung mom dalam bentuk VOTE dan juga LIKE... buat kalian yang tidak keberatan, yang merasa terbebani apalagi buat yang merasa saya Menekan pembaca saya tidak pernah memaksa kalian. Saya hanya berharap sama pembaca setia saya. Terima kasih semua yang menyemangati saya.... 🥰🙏