
Kembali pagi menampakkan diri, menyapa setiap makhluk hidup di muka bumi dengan di temani sang surya yang memantulkan sinar dan cahayanya menghangatkan udara yang berhembus dengan malu-malu. Sama hal nya dengan penghuni di kediaman Raka, pagi itu Eva duluan bangun bersaman dengan KiKi asisten rumah tangganya. Keduanya langsung saja mempersiapkan sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarga.
Berbeda dengan suasana di atas, di kamar Vara, Renata duluan bangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya dengan pandangan pertama yang di lihatnya adalah si Vara. Masih tidur dengan nyenyaknya, Renata tersenyum sekilas, lalu Ia mendudukkan tubuhnya dan mengucek kedua matanya.
Di regangkannya seluruh sendi dan ototnya, dengan sesekali ia menguap. Ketika di rasanya sudah merasa raganya terkumpul menjadi satu dengan kesadarannya, Ia turun dari ranjang dan segera untuk mandi. Seusai mandi, Ia memilih keluar kamar dan menuruni anak tangga dan berjalan ke dapur. Tampak Eva sudah hampir menyelesaikan tugasnya.
"Selamat pagi Bi." sapa Renata ke Eva.
"Selamat pagi sayang, kenapa bangunmu sangat cepat sekali? Apa kau tidak bisa tertidur tadi malam?" tanya Eva.
"Bukan Bi... sangat nyaman tidur bersama Vara. Maafkan Renata, Bi. Bangun kesiangan, tidak sempat membantu Bibi di dapur." katanya dengan sungkan.
"Haisss... Tidak masalah , Nak. Di sini ada Kiki, harusnya kamu tidak perlu sungkan sayang," kata Eva mendekati Renata.
Eva menarik tangan Renata dan mendudukkannya di bangku, meja kecil yang terdapat di dapur.
"Duduklah Sayang.... biar Bibi dan Kiki saja." ucap Eva ramah.
"Tapi Bi—" balas Renata.
"Tidak apa-apa sayang, kalau enggak kamu ke kamar Rava. Bangunkan Rava dan juga Vara, Harsen dan Defan. Agar semuanya bersiap, kalau Bibi sudah siap memasak." perintah Eva.
"Baiklah Bi," ucap Renata bersemangat.
Langsung saja Renata berjalan menuju tangga dan menapakinya hingga ke atas dan langsung menuju kamar Rava. Renata berjalan masuk perlahan, saat Ia membuka pintu kamar, melihat Rava yang terbaring di atas ranjangnya. Renata mendekat dan duduk di pinggiran ranjang, menatapi wajah Rava yang tertidur dengan nyenyak.
"Tidak terasa....Sebentar lagi dia yang akan menjadi suamiku." gumam Renata dalam hatinya.
Renata menyentuh rambut Rava, tersenyum dengan perasaannya yang menggambarkan cintanya yang begitu mendalam untuk Rava. Tiba-tiba kedua mata itu mengerjap, sontak Renata menarik tangannya dan mengubah posisi duduknya menjadi kedepan.
Rava yang sadar dengan keberadaan Renata, langsung saja merangkul pinggangnya dengan kedua tangannya, dan meletakkan kepalanya di atas paha Renata dengan manjanya kembali menutup matanya.
"Apa semalu itukah, sampai tidak ingin menatap wajahku?" sindir Rava.
Renata tersenyum dengan kembali membelai lembut kepala Rava.
"Ia... bisa jadi seperti itu." balas Renata.
"Kau akan menjadi Istriku sebentar lagi. Kenapa harus malu?" tanya Rava semakin erat memeluk Renata.
"Entahlah... Aku hanya masih malu mengungkapkan perasaan bahagiaku.Rasanya membuat jantungku berdebar kencang." balas Renata.
Rava tersenyum mendengarkan perkataan Renata, lalu Ia beranjak dan mendudukkan tubuhnya du samping Renata, "Apapun yang ingin Kau apresiasikan terhadapku, tunjukkan. Aku sangat menyukainya, jika itu darimu." kata Rava dengan menatap mesra pada Renata.
Renata membalas senyumannya, "Benarkah? Hemm... baiklah. Kalau begitu, sekarang mandilah. Bibi Eva sudah memasak untuk sarapan kita." kata Renata dengan berdiri dan hendak berjalan.
Rava sigap menarik tangan Renata, membuat Renata kembali duduk di sampingnya dengan kaget menoleh ke Rava.
"Kenapa buru-buru sekali, belum juga ada ciuman selamat pagi. Cium dulu, baru aku izinkan keluar." kata Rava dengan mata menggodanya.
"Cis... Kau ini." kata Renata lalu mendekatkan wajahnya memberikan ciuman pada bibirnya.
Rava tersenyum, dengan cepat ia membalas kecupan bibir Renata. Seusai di rasa cukup, Rava melepas kecupannya dan menatap Renata yang sudah tersipu malu.
"Hayoooo ya." kata Defan di depan pintu.
Sontak Renata berdiri dan menoleh cepat ke Defan.
"Kan... Kedapatan lagi kan? Wah... Wah..." kata Defan dengan melenggang santai , berjalan masuk menghampiri keduanya.
"Hahaha.... Apaan sih Defan, kak Rena kan cuma mau membangunkan abangmu. Kenapa Kau jadi berpikiran yang aneh-aneh?" sambung Renata dengan salah tingkah.
"Hemmm... Kek ada bau-bau mencurigakan di kamar ini. Kek amis-amis gitu," celetuk Defan.
Semakin salah tingkahlah si Renata, lalu ia memilih untuk keluar dari pada mendapat ledekan dari Defan.
"Sudahlah... Kakak membangunkan Vara. Kalian ngobrollah." kata Renata dengan cepat berjalan menuju pintu.
Defan sendiri menjadi senyum-senyum gak jelas menatap kepergian Renata, lalu Ia menoleh ke Rava.
"Buseeeettt... Seram banget matanya." kata Defan menatap takut ke Rava.
"Kau.... Selalu saja mengganggu momenku. Keluar sana! kakak mau mandi." kata Rava dengan beranjak dari ranjangnya.
"Hemmm... Baiklah pria berjiwa dingin!." ketus Defan.
Rava terhenti dengan menoleh cepat ke Defan, "Apa kau bilang!"
"Dasarrr... Anak ingusan. Selalu saja datang di momen baikku!." ucap Rava , kemudian berlalu ke kamar mandi.
****
Seusai makan, Rava dan Renata memiliki tujuan, untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Di mulai dari gaun pengantin untuk Renata. Sebelum keduanya berangkat, mereka masih berbincang di ruangan keluarga dengan yang lainnya.
"Ma... Pa... Rava dan Renat mau ke bridal tempat pilihan Mama dan Papa dulu." kata Rava, saat semua keluarga berkumpul di ruangan keluarga.
"Serius Kak?" tanya Vara bersemangat.
"Hemmm... Karena bridal tempat gaun pengantinnya mama dan papa adalah andalan keluarga Atmadja. Jadi... Rava mau mengikuti jejak keluarga kita." balas Rava.
"Terus... Apa konsep pernikahan kalian, Nak? apa kalian sudah memutuskan menikah di mana?" tanya Eva ke Rava.
Rava tersadar, benar saja, kan mereka belum membicarakannya. Renata sendiri sudah memasang wajah tidak enakan. Rava menoleh ke Renata, dan merasa bingung dengan ekspresi wajahnya Renata.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang hendak kau katakan?" tanya Rava ke Renata yang duduk di sampingnya.
"Hah... Iya. Bibi... Paman... Rava, boleh tidak , pernikahan kita di gelar hanya keluarga dekat saja yang datang. Renata ingin, pesta pernikahan kita di gelar secara sederhana saja. Biar lebih kekeluargaan aja sih." kata Renata perlahan dengan sungkan.
Semuanya terdiam saling memandang satu sama lain, Rava sendiri bingung, bagaimana pesta yang sederhana. Karena Rava dan Renata adalah pemilik perusahaan terkenal di kalangan pengusaha ternama. Bagaimana defenisi pesta sederhana menurut Renata. Rava menjadi serba salah di buat oleh Renata.
Raka tiba-tiba membuka suaranya, "Hemmm... Ini seperti ucapan Bibimu , Rena. Kalian memang wanita yang baik, tapi apa mungkin, jika kita menggelar pesta kalian cuma keluar inti saja? Teman-teman, para rekan bisnis, bukankah mereka juga harusnya turut datang di pernikahan kalian?" tanya Raka dengan serius, menatap Rava dan Renata.
"Maaf Pa... Mungkin Kak Renata enggak mau sibuk. Karena bakalan ramai, kalau di satukan dua perusahaan, belum lagi kerabat dari papa, mama, bibi Casandra, paman Varel, Paman Jimmy dan Bibi Anna. Bayangkan... Betapa lelahnya anak dan calon menantu papa. Kalau pesta di gelar dengan meriah dan mewah. Vara sih yakin... Kalian mampu, hanya saja pikirkan kak Renata dan Kak Rava." kata Vara dengan seriusnya.
"Benar juga sih yang di katakan Vara, Pa." balas Rava.
"Iya... Mama sih setuju yang di katakan Vara. Belum lagi siap acara usai, suami minta haknya. Agh... Mama setubuhlah dengan Renata. Mama di pihak Renata." Eva bersemangat mengeluarkan pendapatnya.
Sementara yang lainnya menatap pada Eva dengan mulut terngangah.
"Setuju...Bibiku tersayang, bukan setubuh." protes Defan.
"Iya... yang itu maksud Bibi." balas Eva dengan senangnya.
"Kenapa Mamaku malahan ikut somplak?" gumam Rava dalam hatinya.
"Rava bagaimana?" tanya Raka.
"Sen gimana?" tanya Rava ke Harsen.
Kagetlah Harsen dengan pertanyaan Rava yang menuju padanya. Dengan wajah kagetnya, perlahan Ia membawa tubuhnya untuk duduk dengan siap dan menatap ke Rava.
"Kok Harsen sih Kak? Bukankah kakak yang akan menikah dengan kak Renata?" tanyanya dengan menggaruk kepalanya.
"Oh iya... Aku lupa, Maaf." kata Rava.
Semua menjadi tertawa di buat oleh Rava, lalu Rava menoleh ke Renata.
"Bagaimana sayang? Apa memang seperti itu keputusanmu? Di mana-mana, wanita memimpikan pernikahan yang mewah dan megah, berbedah dengan dirimu."
"Hemmm... Iya.. Aku mau pernikahan yang sederhana. Aku sudah mengatakan pada papi dan mami. Mereka tidak keberatan dan malahan langsung menyetujuinya." balas Renata dengan tersenyum.
"Baiklah... Rava. Kalau kedua orang tua Renata sudah menyetujuinya. Kita tidak bisa mengikuti keinginan kita secara sepihak. Papa menyetujui permintaan Renata, karena memang harusnya itu pilihan kalian berdua. Bagaimana baiknya, kalian sendiri yang memutuskannya, tapi Papa dan juga Mama hanya bisa memberikan masukan ke kalian." kata Raka dengan tegas.
"Baiklah Pa.... Rava setuju dengan permintaan Rava. Tetapi untuk tempat di gelarnya pesta, nanti Rava dan Renata tentukan." balas Rava.
"Baiklah anakku... Papa percaya pada kalian berdua." balas Raka.
"Mama juga sama." Eva menimpali.
"Dih.. ngikut-ngikut. Gak kreatif kamu," kata Raka pada Eva.
"Enggak ada yang larang suamiku." balas Eva dengan mata melotot dan tersenyum palsu ke Raka.
Jadilah Raka takut dengan ekpresi wajah Eva yang sudah menggemaskan itu pikirnya. Lebih baik dia diam, ketimbang kena tatapan tajam Eva.
"Baiklah Ma... Pa.... Kami berangkat dulu, untuk membuatkan gaun pengantin Renata." kata Rava dengan berdiri dari duduknya, "Ayo sayang." Rava mengulurkan tangannya ke Renata.
"Baiklah.... Kalian berdua hati-hati. Mama tunggu di rumah ya," balas Eva.
"Iya... Hati-hati. Pelan-pelan aja Rava, jangan ngebut." sambung Raka.
"Iya Pa... Ma." balasnya lagi.
Renata pun izin pada semuanya, Vara sebenarya ingin sekali ikut untuk menemani Renata memilih gaun pengantinnya. Tetapi tertunda, karena mendengar Leo dan Rere mau ke rumah mereka. Jadilah Ia bersedih menatap Rava dan Renata yang sudah berlalu keluar.
Bersambung.
......
Maaf saya kurang sehat, jika ada kata-kata yang kurang atau lebih, mohon di maklumi, tetapi akan segerah saya perbaiki, tolong dong tekan like dan bantu VOTE. Karena like aja tidak bisa menaikkan ranking. Jika kalian suka dengan karya saya, tolong bantu Vote untuk terus naik ranking, karena uda turun lagi...😭. Terima kasih semuanya🙏