My Chosen Wife

My Chosen Wife
JAMES & JENNY.



Perjalanan cinta sang Tuan Muda James.


"Di sini aku menanti, menunggu dengan penuh arti. Tidak ada yang ku rasakan sia-sia, asal kau juga sama dengan perasaanku di sini. Bersama-sama kita menunggu waktu, untuk cepat berlalu. Agar nantinya, Kau dan Aku di pertemukan dalam satu kepastian penantian cinta kita. Oh Jenny ku, hampiri diriku yang sedang di landa sepi. Abang akan datang dek buat kasi kau kejutan."


James mencoba berpuisi di dalam kamar mandi, dengan berpenghayatan tinggi, kedua tangan menggenggam botol shampo, James pun berpuisi dengan duduk di atas closet.


Setelah beberapa bulan mereka berpisah, untuk menyelesaikan sisa study mereka masing-masing, hari ini James akan terbang untuk menghadiri wisuda Jenny nantinya.


Benar saja, Jenny duluan akan mengakhiri kuliahnya di Jerman. Dan James sendiri, sudah meminta izin ke Jimmy dan Anna, hasilnya memang baik. Anna dan Jimmy langsung mengizinkan sang anak untuk terbang sendiri menjemput pujaan hatinya pulang.


"Jameeessss!" suara Jimmy terdengar


mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi kamar James.


"Iyaaaa Pa."


"Buruannnn... sudah hampir satu jam kamu di dalam sana. Kenapa tidak keluar juga, apa kau tidak takut telat di penerbangan mu?" Jimmy berkata dengan sedikit kesal.


"Sebentar lagi Pa... ini masih mules, masih ngegantung. Sabar ya Papaku yang imut-imut kayak marmut." ucap James suaranya terdengar putus-putus menahan mules.


"Hadehhh... Kau ini memang ada-ada saja. Papa tunggu di bawah." kata Jimmy lalu berjalan keluar dari kamar James.


***


Sebelum mengantarkan James ke bandara, karena memang ini weekend, keluarga Jimmy menyempatkan untuk sarapan pagi. Karena penerbangan James di jadwalkan siang hari.


"Kalau sudah tiba di sana, kabari Mama atau Papa ya." kata Anna ke James sambil mengunyah makanannya.


"Baiklah Mama ku sayang." balas James dengan manja.


"Kau kapan akan di wisuda?" tanya Jimmy dengan serius.


"Dua minggu dari sekarang Pa. Hari Rabu, keluarga Jenny dan Jenny, juga akan pulang ke Jakarta Pa. Jadi, Rabu nanti ya James juga pulang."


"Okey... selesai wisuda, kau bisa memilih jalanmu sendiri. Mau menikah langsung, mau terjun ke dunia bisnis, mau bekerja di perusahaan lainnya pun terserah dirimu. Papa tidak akan melarangmu, asal itu pilihan yang baik James." kata Jimmy tegas.


"Tidak usah khawatirkan James, Pa. Pokoknya, Papa sama Mama sehat-sehat selalu. Itu saja, sisanya biar James sendiri yang jalani." kata James dengan serius.


"Baiklah, Mama percaya sama Kamu." kata Anna dengan senyuman.


Ketiganya pun sarapan dengan tenang. Selesai dari sarapan pagi, Jimmy langsung mengajak Anna, James beserta koper kesayangan James yang berwarna pink. Dengan tulisan di atas koper, "Pinky Boy."


Dengan kecepatan sedang, Jimmy melajukan mobilnya menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Di dalam mobil, James menimbang-nimbang, bagaimana nantinya dia tiba di Bandara sana. Karena pertama kalinya dia ke Jerman. Kalau menghubungi Jenny, bukannya sangat aneh? James kan aingin memberikan kejutan untuk sang pacar.


Entahlah, biarlah itu urusan belakangan pikir James. Yang terpenting, bagi James, tiba dulu dengan selamat, urusan di sana, bisa di pikirkan nanti.


***


Keesokan harinya, Armada besi yang di tumpangi James mendarat dengan sempurna di Bandar Udara Berlin Schönefeld. Kini James berpikir, bagaimana caranya bisa langsung menuju Apartemen Jenny.


James pun berjalan sendiri menuju konter imigrasi. Meskipun sendiri, James tidaklah takut. Setelah mendapatkan cap di paspornya, James segera berjalan menuju pintu kedatangan luar negeri.


"Apa yang harus Aku lakukan di sini?" tanya James sendiri pada dirinya.


James terus berjalan mengikuti papan yang bertulisakan petunjuk untuk keluar. Kedua manik matanya, menelusuri setiap orang-orang yang berlalu lalang.


James mengambil ponselnya dari saku celananya.


"Setidaknya, Aku harus mengabadikan momen pertama tiba di sini."


Memilih menu kamera, James membuat kamera depan dari benda pipih yang sedang di genggamnya.


"Cissss." katanya ke kamera.


"Jameeeeesss." suara seseorang terdengar sangat jelas di kedua indera pendengarannya.


Dengan cepat James mencari-cari sumber suara. Masih tidak di temukan oleh kedua manik mata yang terlihat kebingungan.


"Apa mungkin, ada yang mengenal ku di sini? Apa aku sedang berhalusinasi?"


"Jameessss..." lagi-lagi suara sebelumnya memanggil.


"Astagaaaa! siapa sih itu?" James memutar-mutar tubuhnya sambil mencari lagi.


"Duarrrrrrr!"


Refleks James membalikan tubuhnya karena kaget mendapatkan tepukan di pundaknya.


"Jenny!!!" James kaget. Kedua matanya membulat penuh dan merasa bingung. Kenapa pula Jenny yang memberikan kejutan untuk dirinya, gagal ini pikir James.


"Kok kamu di sini?" tanya James dengan wajah bengong.


"Harusnya sih Aku yang tanya sama Kamu ya. Kenapa kamu di sini?" tanya Jenny senyum-senyum.


Jenny tersenyum.


"Ya sudah, Aku ke sini buat jemput kamu." balas Jenny sambil senyum.


"Loh... kamu tau dari mana Aku bakalan tiba di sini?"


"Paman Jimmy. Ayooo... Papa sama Mama sudah nunggui di mobil." Jenny menarik lengan James.


James yang masih belum sadar 100% pun mengikuti ajakan Jenny. Dia berjalan dengan di gandeng Jenny menuju pintu keluar bandara.


***


"Selamat datang James." sapa Papa Endrico, papanya Jenny.


"Terima kasih Om, maaf sudah merepotkan." balas James dengan sungkan.


"Tidak Nak, justru kami senang, Kamu bisa hadir di wisudanya Jenny. Jenny hampir putus asa, karena katanya kamu tidak memberikan jawaban ke Jenny." kata Mama Vio.


"James sengaja Tante, biar kejutan gitu. Tapi, papa malahan ngabari ke Jenny, tentang kedatangan James."


"Karena paman Jimmy takut kamu kesasar. Mama dan Papa juga baru tiba di sini semalam." balas Jenny senang.


"Iya...kalau tau kan kita bisa sama. Ya sudah kita bawa James untuk sarapan pagi. Pasti sarapan di pesawat tidak cukup penuh mengisi lambung kamu James." ucap Pap Endrico sambil melajukan mobil keluar dari area bandara.


"Kok tau sih Om. Lambung kiri aja tadi yang terisi, lambung kanan James masih kosong Om." celetuk James senang.


Papa Endrico refleks tertawa geli.


"Iya nih, ka


rena semalam kita juga begitu." balas Papa Endrico.


Semuanya pun tertawa dengan senang, saling berbincang dan saling melepas rindu bersama. Seluruhnya menikmati momen baik di hari itu. Hingga waktu berlalu sangat cepat.


***


Hari Wisuda.


Pertama kalinya bagi James, melihat seluruh mahasiswa dan mahasiswi di Universitas Jerman, di mana Jenny mengambil jurusan sebagai desain komunikasi visual. Dan ini adalah Final buat Jenny, menerima gelar dan kembali ke Jakarta untuk bekerja di sana.


Jangan di tanya alasannya kenapa? semuanya karena James. Jenny, memilih berkarir di Jakarta, jika pun dia nantinya akan menikah dengan James, setidaknya bagi Jenny, dia dan James tidak akan berjauhan lagi. Apa lagi, Vara dan Rani sama-sama memilih menetap di Jakarta.


Usai acara wisuda, saling foto bersama. Memberikan kado terindah buat orang-orang yang di sayangi, menjadi momen kecil yang menyempurnakan hasil dari kerja keras mereka.


Tampak James juga membawakan sebuket bunga mawar merah, dengan senang dan senyum yang mengembang, James memberikannya ke Jenny.


"Ini sangatlah sempurna, Terima kasih James." ucap Jenny saat keduanya bersama mengambil foto diri.


"Ayo ke sini...senyum." seru papa Endrico yang mengambil foto diri putri tunggalnya bersama calon menantunya.


"Belum sempurna tanpa ini." James memberikan kotak kecil ke arah Jenny.


Jenny terkesiap, kedua manik matanya membelut dengan tangan kanan menutupi mulutnya yang terngangah akibat kaget.


"Apakah ini lamaran?" tanya Mama Vio di depan mereka.


"Hemmm ini anggap saja, sebagai keseriusan James untuk Jenny, Tan, Om."


Pengennya sih niatan hati James melamar Jenny di depan seluruh teman-teman kampus dan dosennya. Lagi ramai kan semakin seru, tapi James mengurungkan niatannya, karena memang, Anna dan Jimmy tidak ada. James tidak merasa baik, kalau kedua orang tuanya tidak menyaksikan langsung, aksi gilanya.


"Baiklah, kalian akan menikah saat di Jakart nanti." sambung Papa Endrico.


James yang sedang mengenakan cincin yang dia berikan ke Jenny, terkesiap. Begitu pula dengan Jenny, keduanya sama-sama melihat ke arah sang Papa.


"Papa jangan becanda agh." ujar Jenny ke papanya.


"Papa serius! Kalian akan Papa nikahkah, setelah tiba di Jakarta, kita akan membicarakan ini dengan keluarga James, Nak." ucap sang Papa meyakinkan.


'Kenapa jadi Papa Jenny yang bernafsu ya?'


Semakin di buat bingung dengan ucapan sang Papa, tapi hati Jenny sadar, itu berita baik untuknya. Karena Papanya sendiri yang meminta bukan? jadi, kenapa harus ragu?


"Mungkin saja, Papa memiliki tujuan yang baik. Aku harusnya bahagia, bisa menikah dengan James." suara batin Jenny pun mendukungnya.


James? dia masih tidak percaya dengan ucapan papa Endrico yang tidak terduga oleh James. Bukankah James masih berstatus pelajar, belum berganti menjadi Presdir. Entahlah, mungkin belum sekarang, gak tau kalau kedepannya.


.


.


🍁 💐Terima kasih yang sudah mau mampir Baca ,Like, Komen dan VOTE. Tapi Izinkan saya meminta terus bantuan kalian untuk VOTE karya saya ini, hanya sampai hari minggu. Tiga hari lagi dari sekarang, jika masih ada yang tidak mengerti cara VOTE nantinya akan saya update cara VOTE lagi ya. Hehehe.. jangan bosan-bosan dong... Terima kasih semuanya.🍁💐