My Chosen Wife

My Chosen Wife
HARSEN DAN MASA LALUNYA.



"Ada apa ini!." kata Pria lain.


 


 


Seluruhnya menoleh ke belakang, mendengar suara baritonnya ya khas membuat Vara dan Defan seketika itu juga mengenalinya. Defan yang melihat Harsen mendekati mereka kaget, dengan buru-buru Defan mendekat ke Harsen dan menarik tangan Harsen, mata Harsen menatapi seluruh pria tersebut dengan mata tajam.


 


 


Sesampainya di depan Ansel dan teman-temannya, Defan merengek manja khas papanya Frans, "Kak Harsen.... lihatlah mereka ini, mereka ini mau mengeroyok ku Kak. Terlebih lagi yang di depan ini kak, katanya dia mau mematahkan tanganku, katanya juga dia mau mematahkan kaki juga lidahku, Kak." Defan mengadu serta menunjuki Ansel dan teman-temannya.


 


 


Harsen tertawa dengan pandangan jijik, "Seperti itu katanya?" tanya Harsen dengan suara tegas.


 


 


Vara melihat aura wajah Harsen yang tidak seperti biasanya. Ada amarah yang tampak di raut wajah tampan Harsen.


 


 


"Iya Kak." balas Defan masih dengan wajahnya yang sedih, seakan membesar-besarkan situasi dan keadaan.


 


 


Ketiga teman Ansel saling mendekat dan berbisik. Sedangkan Ansel menatap Defan dan berpindah ke Harsen. Vara sendiri masih tetap berdiri di posisi yang tidak jauh dari Ansel. Harsen menepis tangan Defan dengan lembut, lalu Ia berjalan melewati Defan menuju Vara, menarik tangan Vara dengan selembut-lembutnya, menatap Vara yang mungkin saja bagi Harsen , Vara merasa takut ataupun kaget.


 


 


Harsen memposisikan tubuh Vara di sampingnya dan menggenggam erat tangan Vara. Ansel menatap tangan yang saling tergenggam, lalu mata tajamnya menatap Harsen.


 


 


"Lama sudah tidak melihatmu!" ucap Marco.


 


 


"Hah.... Iya. Lama sudah tidak melihatmu, Sen." sambung Baron.


 


 


Vara dan Defan sama-sama terpelongok kaget. Ternyata seluruhya saling mengenal.


 


 


"Kakak." gumam Vara dengan menatap ke Harsen.


 


 


Harsen yang mendengarkan suara Vara menoleh ke arahnya dan tersenyum serta berkata, "Tidak perlu khawatir, ada kakak di sampingmu." bisik Harsen.


 


 


Vara tersenyum menatapi wajah Harsen yang mengarah teduh pada Vara. Kemudian Harsen kembali menatap pada Ansel, yang sedari jauh tadi Harsen memperhatikan Ansel menatap Vara penuh arti.


 


 


Harsen menatap tajam pada Ansel, "Kau tidak tahu sedang berhadapan pada siapa?" tanyanya dengan penekanan.


 


 


Ansel menatap Harsen tak kalah tajamnya dan berpindah ke arah Defan, "Siapa yang Kau maksud? Kau? Pria ingusan yang di samping mu, atau wanita yang di sampingmu?" tanyanya dengan datar.


 


 


Harsen melepas tangan Vara dan berjalan mendekati Ansel, kemudian Harsen menatap penuh kebencian pada Ansel tepat ke arah wajahnya. Menyentuh dada Ansel dan memukul pelan serta tertawa kecil, "Kau jangan sampai salah lagi memandang orang yang baru pertama kali kau lihat! Seperti masa itu, Kau menghina Aku dan Keluargaku. Biar ku beritahukan kepadamu, orang yang Kau bilang pria ingusan yang mau kau patahkan tangan, kaki dan lidahnya, apa Kau tahu siapa dia di dunia bisnis dari era dulu dan saat ini? Kau akan terkejut, Ansel! Terlalu suka meremehkan orang, karena Kau pikir perusahaan orang tuamu yang kau kelola saat ini lebih besar dari yang lainnya? Kau salah besar Ansel!" cetus Harsen dengan tegasnya, lalu Harsen mundur dan menatap ke Defan dan menunjuk Defan.


 


 


"Biar ku beri tahu padamu!, Pria ini adalah cucu dari Keluarga Atmadja begitupun dengan wanita itu, Papanya pria yang kau katakan ingusan ini, pemilik saham terbesar serta aset di beberapa perusahaan di Irlandia dan di negara lainnya! Pemilik perusahaan terbesar pengganti Nyonya Lusi, Nenek dari sang Papa. Biar ku beritahu lagi, Pria yang masih berkuliah ini, juga sudah memiliki aset kekayaan sendiri, sebelum dia di wisuda dari kampus ini. Jadi jangan coba-coba bermain dengan Pria ingusan ini! Agh... Satu lagi, wanita ini." kata Harsen mendekati Vara dan menarik lembut tangan Vara, "Jangan coba-coba, Kau mendekatinya. Apa lagi untuk berbicara dengannya, ataupun Kau memiliki tujuan pada dirinya! Kau akan berhadapan langsung denganku sebelum Kau berhadapan dengan keluarga Atmadja!" ujar Harsen dengan berapi-api.


 


 


Vara menjadi tegang, begitupun dengan Defan. Keduanya tidak pernah melihat Harsen sebegitu marahnya. Entah apa yang terjadi pada kelima Pria di hadapan mereka.


 


 


"Defan.... Ayo jalan!" perintah Harsen.


 


 


Defan yang mendengar perintah Harsen sigap hendak bergerak, "Ahh... baik Kak." katanya dengan berjalan cepat.


 


 


Harsen menggenggam erat tangan Vara dan membawanya berjalan ke arah parkiran.Tidak ada yang berani buka suara satupun di antara Ansel dan teman-temannya, setelah mendengar ujaran Harsen tentang Defan dan Vara. Siapa yang tidak tahu keluarga Atmadja di kalangan pembisnis, apalagi mereka juga tahu, Harsen juga bagian dari keluarga Atmajda.


 


 


Tangan Ansel terkepal menahan amarahnya, melihat Harsen membawa Vara. Kata-kata Harsen tentang Vara, membuatnya mengerti maksud ucapan Harsen. Bahwasannya Vara miliknya yang tidak bisa di sentuh oleh siapapun.


 


 


"Sudahlah Bro.... Ayo kita balik ke Hotel." ajak Marco.


 


 


"Sial! Kenapa semua wanita yang ku mau menyukai si Harsen! hanya saja berbedah, saat dulu Rossi sangat mencintai Harsen, tetapi Harsen sama sekali tidak pernah membalas cintanya!Dan Sekarang, Wanita yang barusan membuat hatiku tergerak, sudah di milikinya. Apa lagi, wanita tadi anak dari kalangan orang hebat, sungguh sangat beruntung si Harsen!" kata Ansel dengan kesal.


 


 


 


 


"Iya bro... Sudahlah. Ayo kita jalan." kata Marco dengan menarik lengan Ansel. Ansel berjalan dengan menepis tangan Marco, kemudian berjalan dengan penuh kebencian mengingat Harsen.


 


 


****


 


 


Suasana di dalam mobil Harsen, Harsen mengemudikan mobilnya dengan diam. Vara yang penuh penasaran dan tanda tanya itu merasa gusar, panas sendiri, tidak mendapatkan penjelasan dari Harsen. Vara tiba-tiba memancarkan tatapan yang menggambarkan api d kedua bola matanya, membuat Harsen terkaget dan menoleh cepat ke Vara.


 


 


"Apaaa!." kata Harsen dengan menoleh sekilas ke Vara sangkin kagetnya dengan tatapan Vara yang mengundang aura mistis.


 


 


"Siapa semua pria tadi? Apa hubungan Kakak dengan mereka?" tanya Vara dengan penuh penegasan dan dengan nada datar.


 


 


"Kenapa rupanya? Bukankah itu bukan masalah?" tanya Harsen.


 


 


"Hah... Iya enggak masalah sih. Cuma yang bernama Ansel itu sangat tampan, seperti typeku." Vara sengaja menggoda Harsen.


 


 


Benar saja, tubuh Harsen dengan wajahnya bersaman bergerak menatap dan mengarah ke Vara dengan mata yang di tajamkannya, "Jangan berani-berani bermain dengan mereka, terutama ANSEL! Kau harus tahu, Kakak SANGAT membenci pria-pria tadi. Kalau saja Kau berani menentang yang Kakak katakan! Jangan harap Kau bisa mendapatkan cinta dari Kakak lagi!" ancam Harsen.


 


 


Vara kembali menajamkan pandangannya dengan kepala yang di buat mengangguk seraya berkata, "Ouuuu gitu! Jadi kakak, sekarang sudah berani ya, mengancam CUCUNYA dari Buyut Lusi!." kata Vara dengan penekanan.


 


 


"Agh... Maaf, kalau itu Kakak enggak berani, hemmmmm...." jawab Harsen takut, kalau sudah keluar kata kekuasaan, sekalipun itu dari orang yang di cintainya, Harsen kembali ingat dengan posisinya.


 


 


Vara tersenyum kemenangan, "Gitu dong... Kak Harsen ternyata cemburuan juga." celetuknya dengan centil, "Apa lagi tadi... waktu megang tangan Vara dan berbisik bilangnya begini, jangan khawatir, ada kakak di sini, aduhhhhh... Vara meleleh Kak. Kakak enggak lihat kan wajah Ansel, nyeremin. Langsung berubah kesal gitu , kak." kata Vara penuh semangat.


 


 


Harsen tersenyum mendengarnya, "Iya... Karena itu Vara harus berhati-hati. Dia sangat licik, Kakak sangat takut saat dia mendekati Vara. Kali aja Vara matanya eror." cetus Harsen.


 


 


"Yeeee... Kakak cemburu kan? Enggak usah takut kakakku sayang. Cinta dan ketulusan hati Vara, hanya buat kak Harsen seorang, yang lainnya cuma numpang!." kata Vara lalu Ia tertawa.


 


 


Harsen yang melihat Vara mengucapkan kalimat yang barusan di ucapkan Vara tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja sebenarnya tingkah si Vara itu.


 


 


"Kan... Lihatlah, itu... ituuu... kak Harsen tersenyum. Duh... Vara kan meleleh lihatnya kak." ucap Vara


menyentuh kedua pipinya dengan tangannya seraya mengedip-ngedipkan kedua matanya menatap ke Harsen.


 


 


"Hahahah... Kau sangat menggemaskan." kata yang merasa geli, lalu Harsen menyentuh pipi Vara dengan lembut.


 


 


Vara semakin tersenyum melihat senyum Harsen padanya, yang menurutnya paling bisa membuat Vara ikut tersenyum. Masih tersisa senyuman di masing-masing bibir mereka.


 


 


"Oh ya Vara... Jangan terlalu lama di rumah Alice. Nanti kak Rava bisa marah, karena kau sedang dalam masa ujian." kata Harsen mengingatkan.


 


 


"Baiklah.... Sayangku." jawab Vara tanpa malu dan tersenyum manja.


 


 


Harsen menoleh cepat ke arahnya, dan berasa seperti Vara menjadi orang lain. Kenapa dia sangat bersemangat dan menggemaskan. Membuat diriku ingin melahap bibirnya saja.


 


 


 


 


Bersambung.


......


*Iklan sedikit.


Yeeeee.... akhirnya rankingnya naik, terima kasih semua pembacaku. Aku jadi semangat dan bisa kasi dua bab aku penuhi buat kalian yang memberikan partisipasinya untuk karyaku. Yuk dong yang belum vote, bantu vote, yang belum like, gambar jempolnya jangan di angguri, di tekan dong. Hanya di tekan kan gak bayar, tolong jangan jadi pembaca pelit yang cuma bisa kasi seperti itu saja susah... Tolong kita kerja samanya ya sayangnya Akiuuuu... Muaaaccchhhh.... 😘🤭 nyampekan bibirku? 😂🤣


.


Cara Vote sudah saya update ya. Dan jangan lupa berikan bintang 5 seperti gambar di bawah ini 🙏



Cara Vote.