My Chosen Wife

My Chosen Wife
Dunia itu sempit.



Sebelum masuk ke tempat check ini, mata Vara di suguhkan dengan pemandangan orang yang Ia kenal. Begitupun dengan Defan dan Harsen, ketiganya sama-sama memandangi salah satu pengunjung Bandara yang mengenakan kaos putih, celana pendek dengan memakai sandal yang di pakai untuk jalan-jalan dengan tangan kanan memegang cup coffe Starcbuck sambilan berjalan di depan ketiganya.


 


 


Pria yang merasakan pandangan kaget dari ketiga orang yang hampir berada di depannya, ikut terhenti, kedua matanya duluan jatuh memandang pada Vara. Harsen menatap tajam, Ia tidak peduli dengan tatapan Harsen, yang Ia peduli adalah wanita yang di depannya, yang sempat membuatnya ingin mencoba mengejar Vara sebelum Ia tahu Vara adalah milik Harsen.


 


 


Dia tersenyum ke Vara, “Apa kabar? kita ketemu lagi, apakah benar dunia ini memang sempit?” tanya Ansel ke Vara.


 


 


“agh… ini nih orang yang mau mematahkan lidahku, tanganku dan kaki ku kan kak?” Defan bertanya ke Harsen.


 


 


Mata Ansel berpindah ke arah Defan dan Harsen Ia malahan tersenyum, dan kembali menatap ke Vara. Vara takut Harsen bisa menjadi gila, akhirnya dia memilih menarik tangan Harsen dan membawanya kembali berjalan. Mata Harsen masih menatap tajam ke Ansel, Ia masih menyimpan benci pada orang yang menghina keluarganya.


 


 


“Ayo Kak kita berangkat, jangan pedulikan pria gila itu,” kata Vara membuat pandangan Harsen menatap ke Vara.


 


 


Harsen dan Defan sama-sama mengikuti Vara, tetapi Ansel membalikan tubuhnya melihat kepergian Vara dan yang lainnya. Ansel malahan tersenyum, ia merasa kalah dari Harsen bisa mendapatkan wanita secantik dan seimut Vara pikirnya.


 


 


Tiba di dalam pesawat, Harsen dan Vara duduk bersampingan, Defan duduk bersebrangan dari posisi bangku Harsen dan Vara. Tak lama, seseorang yang berada duduk di samping Defan datang menghampiri Defan, betapa kagetnya mereka yang duduk di samping Defan adalah si Ansel.


 


 


“Astaga… Kau ini seperti perangko saja,” ketus Defan saat Ansel duduk di samping Defan.


 


 


Ansel menarik nafasnya, “Kesialan macam apa Aku duduk bersama Pria gila!” kata Ansel enggak mau kalah.


 


 


Vara dan Harsen masih melihat ke arah Ansel, lalu Ansel menoleh pada keduanya.


 


 


“Maaf… Bukan kemauan saya, saya juga enggak tau bakalan terbang bersama kalian ke New York, maaf Tuan dan Nona,” Ansel mengangkat tangannya mengarah ke Vara dan Harsen.


 


 


“Terserah kau saja!” ketus Vara dengan menyandarkan tubuhnya pada kursinya.


 


 


Ansel masih beradu pandang pada Harsen, lalu Ansel membuang pandangannya karena tidak ingin ribut-ribut. Ansel seorang pengusaha muda yang menggantikan kekuasaan orang tuanya, mungkin saja Ia memiliki keperluan untuk  terbang kembali ke New York.


“Sudalah Kak.. jangan di pandang-pandangi mulu, entar kalau jatuh cinta gimana?” tanya Vara dengan menyentuh lengan Harsen.


 


 


Harsen melirik ke Vara, “Apa kau barusan bercanda?”


 


 


“Tidak… Vara seriusa Kak,” ledek si Vara sok serius.


 


 


“Sayang,” panggi Harsen manja.


 


 


Vara merinding ketika Harsen selalu memanggilnya dengan kata Sayang. Ia pun menoleh cepat ke Harsen.


 


 


“Iya loh.. Kalau saja Kakak memandangi nya terus, Apa tidak jatuh cinta?”


“Kenapa bisa seperti itu?”


“Habisnya dia tampan sih,” ledek Vara dengan tersenyum.


 


 


Harsen membuat wajahnya cemberut dan mengacak rambut Vara, bersamaan itu Vara tertawa kecil,menjadi pandangan Ansel yang melihat keduanya sedang bercandaan.


 


 


“Kakakmu ini tidak akan mungkin jatuh cinta pada orang lain, jika pacarnya yang di depan mata ini sangat imut,” kata Harsen masih menyunggingkan senyuman.


 


 


“Wah… Si kaku sudah bisa bucin sepertinya,” ledek Vara lagi.


“Agh… ternyata jadi bucinya kamu menyenangkan ya,” balas Harsen .


 


 


“Hemmmmm… Tolonglah ya.. sementang Defan di dampingi dengan Pria asing ini, kalian berdua di situ bisa-bisanya mesra-mesraan,” sindir Defan dengan cepat mendapatkan Ansel dan keduanya.


 


 


 


 


“Iya sih… Semoga Pria ini tidak menggigit,” sindir Defan lalu Ia menarik selimutnya dan membuang pandangannya.


 


 


Vara dan Harsen menahan tawa  mereka,sedangkan Ansel di buat melirik ke arah Defan, Ia tidak bisa berkata-kata karena memang tiga banding satu itu tidak mungkin kan? bisa-bisa Ansel di keroyok, jadilah Ansel memilih berdiam dan hanya memperhatikan kedua kubu di sampingnya.


 


 


 


 


***


Keesokan harinya, dimana mereka sudah melakukan penerbangan selama hampir 22 jam lamanya. Tibalah di mana tempat Vara dan Defan  mengecap pendidikannya, pukul 07:00 waktu setempat. Ansel mengikuti Vara, Harsen dan Defan dari belakang mereka,sesekali ia melihat perlakukan special yang di berikan oleh Harsen untuk gadis manja itu. Tampak tubuh Vara yang memang lelah, karena itu Harsen merangkul pinggang Vara dan berjalan dengan menarik kopernya Vara.


Dari depan Defan, Vara dan Harsen, tampak seseorang yang melambaikan tangan ke arah mereka.


“Apa dia yang menjemput kita Kak?” tanya Vara ke Harsen.


“Bukan sayang… Kakak memarkirkan mobil di Bandara, jadi kita naik mobil sendiri,” balas Harsen dengan semangatnya.


 


 


“Ou.. Terus dia melambaikan tangan pada siapa ya?” tanya Vara.


 


 


Defan menoleh kebelakang saat Ansel yang membalas lambaian tangan dari orang di depannya.


“Itu si Pria asing itu,”  jawab Defan.


 


 


Barusan Defan membalas pertanyaan Vara, Ansel berjalan hingga tepat di samping mereka.


 


 


“Apa kalian butuh tumpangan Harsen?” tanyanya tiba-tiba.


 


 


Ketiganya berhenti sambilan menatap ke Ansel.


 


 


“Hah.. Tidak usah, pergilah,” kata Harsen datar.


 


 


“Ayolah Sen.. Jangan memperlakukan Aku seperti orang yang tidak kau kenal. Dulu kita bersahabat bukan? Tolong maafkan Aku di masa lalu, jadilah teman meskipun tidak dekat,” kata Ansel membujuk.


 


 


“Tidak perlu.. Aku bisa sendiri. Pergilah,” kata Harsen dengan biasa.


 


 


“Baiklah.. kalau begitu Aku duluan,” kata Ansel sekilas melirik Vara dan tersenyum.


Ansel berjalan dengan kerennya menuju orang yang  menjemputnya, yang bisa mereka tebak adalah pekerjanya Ansel di New York.


 


 


“Wuh… Enggak tau malu tuh orang!” ketus Defan dengan kaki yang menendang.


“Sudah.. Ayo kita jalan, biar bisa sampai di rumah dan beristirahat,” ajak Harsen pada keduanya.


 


 


Dengan masih merangkul pinggang Vara berjalan di keramaian pengunjung Bandara, mereka bertiga berjalan menuju area parkiran yang memang di persiapkan Harsen sebelumnya. Harsen type Pria yang tidak ingin menyusahkan orang lain, termasuk orang asing bagi dirinya. Entahlah, perasaan Harsen masih tidak terima akan kemunculan Ansel yang tiba-tiba, karena Harsen tidak ingin mengulang masa kuliah dulu, karena wanita yang di sukai Ansel menyukai Harsen, karena itulah yang membuat pecah dan renggangnya persahabatan mereka.


 


 


“Tidurlah…” kata Harsen saat mereka sudah duduk di dalam mobil.


“Kalau Kakak lelah, bangunkan Defan Kak. Biar kita bergantian,” ujar Defan sambilan menutup matanya di bangku penumpang.


 


 


“Iya… Tidurlah adik-adik, mari kita come back to home,” Harsen menyemangati keduanya.


 


 


Vara di buat tersenyum dengan tingkah dakdakan dari pria kakunya, bukan kaku lagi ini namanya, perubahan Harsen membuat Vara geleng-geleng kepala. Mungkin saja Harsen selama ini menghormati Rava, karena itu dia tidak bisa mengekspresikan cintanya ke Vara. Karena itu, mari berikan dukungan pada Harsen dan Vara dalam bentuk VOTE dan Like kalian, Terima kasih semua pembaca setiaku ^^


 


 


Bersambung.


…………….