
Sesampainya Rava di kamarnya, buru-buru dia membersihkan dirinya. Seusai mandi menuju ruangan pakaiannya, mengambil piyama dan mengenakannya. Dengan rasa yang berbunga-bunga, pertanda orang yang sedang kasamaran itu, Rava dengan cepat berjalan ke arah mejanya mengambil ponselnya. Lalu membawa tubuhnya untuk rebahan, membuka ponselnya dan memilih aplikasi pesan singkatnya, kemudian mencari nama Renata.
[Aku sudah sampai di rumah dengan selamat]~ Rava
Tidak butuh waktu lama, Renata membalas pesan Rava.
[Baguslah… kalau begitu cepat tidur.]~ Renata
[Tidak.. Aku masih ingin denganmu]~ Rava.
[Wah… kenapa kau sangat manja sekarang?]~ Renata.
[Karena Aku sudah menemukan wanita yang mengerti diriku, Aku sangat mencintaimu]~ Rava.
*[Wah… benar-benar sangat menyenangkan, Aku juga sangat mencintaimu calon suamiku ^^]~ Renata.
Rava di sana tersenyum, begitu pun dengan Renata.*
[Sudah sana tidurlah, besok siang akan aku jemput. Kita bermain sebentar di taman hiburan, apa kau mau?]~Rava.
[Aku Mau, baiklah Aku duluan, Kau juga harus cepat tidur, selamat malam kekasihku, jangan lupa memimpikan Aku, jangan berani memimpikan wanita lain, kalau Kau berani Aku akan mencekikmu]~Renata.
[Baiklah… Aku tidak berani, akan Aku katakan pada sang pemimpi, kalau kekasihku itu sangat cerewet, tapi dia cantik dan hatinya sangat baik. Ya sudah tidurlah, selamat malam Sayang]~ Rava.
Renata yang menerima pesan Rava tersenyum bahagia, sejenak Ia berpikir, Rava sangatlah hangat, di balik sifatnya yang dingin, ada sisi yang baik dalam dirinya. Meskipun terabaikan, perhatian Rava sejak dulu Renata dapatkan, tapi Renata tidak butuh perhatian tanpa cinta. Dan sekarang semuanya sudah lengkap,, cinta, kasih sayang dan perhatiannya sudah Renata miliki semuanya. Tinggal bagaimana mereka mempertahankan cinta hingga berbuah hasil yang baik untuk kedepannya.
Rava sendiri menatap langit-langit kamarnya dengan bertopang pada lengannya, Ia tersenyum dan mengingat masa lalu dengan Renata. selalu saja, Rava menghindar dari Renata, hanya saja Renata yang cerewet itu bisa menarik perhatiannya, membuat Rava tidak bisa tidak mendengarkan ocehannya. Rasanya lebih baik Rava melihat Renata cerewet, ketimbang harus melihatnya bersedih.
***
Keesokan paginya, Vara, Defan, Harsern sudah berkumpul di meja makan. Rava yang barusan menuruni anak tangga, mendapatkan tatapan dari ketiganya. Hanya saja, mata Defan dan Vara lebih tajam di bandingkan dengan Harsen.
“Kenapa dengan mata kalian?” Rava menarik salah satu bangkunya.
“Kami??? Siapa maksud kakak?” tanya Harsen.
“Lihat .. kedua orang yang di samping mu , Sen.” ucap Rava menunjuk ke Defan dan Vara.
Rava dan Harsen bersama-sama menoleh ke arah keduanya, hanya saja Defan dan Vara masih menatap tajam ke Rava.
“Hati-hati dengan mata kalian, jika seperti itu bisa saja bola mata kalian keluar dari posisinya.” ucap Harsen, tatapan keduanya berpindah pada Harsen, membuat Harsen salah tingkah dan menjadi merinding.
“Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa pakaian kalian seperti ini? Apa kalian tidak ada kelas?” tanya Rava aneh.
“Kakak.., karena kakak sedang jatuh cinta, makanya tidak tahu kalau kita berada di masa tenang? Ujian akan segerah di mulai kak. Sekarang biar Vara yang mengajukan pertanyaan, benar kakak sudah jadian dengan kak Renata?” tanya Vara bersemangat.
“Benar.. Apa kau tidak senang?” Rava mengambil makanannya.
Vara yang mendengar semakin bersemangat, “Tentu sangat senang Kak, akhirnya kalian bisa bersama.” Vara mulai mengunyah makanannya.
Defan yang masih melotot ke arah Rava yang sedang mengunyah makannyanya, menaikan kedua alisnya saat Rava menyadari pandangannya, “Apa!” ketus Rava.
“Kakak tidak main-mainkan dengan perkataan kakak barusan?” Defan menatap tajam dan serius.
“Kenapa! Apa urusanmu! Jangan urusi yang bukan urusanmu!” jawab Rava.
“Kakak, jika tidak mencintai Kak Rena jangan memberikan harapan palsu kepadanya, kasihan dia kak” Defan meringis sedih.
Plakkkkk… Vara mentoyor kepalanya.
“Kalau kakak ku enggak mencintai kak Rena, mana mungkin dia mendonorkan darahnya untuk kak Renata, mana mungkin dia menangis untuk Kak Rena, dan mana mungkin juga kak Rava bawa bunga segala, balon dan boneka, masa itu saja Kau tidak pahami. Kak Rava itu gengsinya tinggi,” celetuk Vara geram.
Rava yang mendengar ucapan Vara, seperti salah tingkah sendiri dngan menatap pada Harsen. Harsen yang mendapat pandangan Rava,cepat-cepat fokus hanya pada makanannya.
Defan meringis sakit menyentuh kepalanya, “Benar juga sih, kenapa Aku tidak menyadarinya,” ucap Defan.
“Sudah jangan aneh-aneh, habiskan makanan kalian. Kakak akan melamar kak Renata saat kalian sudah libur semester nanti, dan secepatnya menikah, kakak tidak ingin berlama-lama.” Ucap Rava tanpa menoleh ketiganya.
Ketiganya yang mendengar ucapan Rava melototkan matanya seakan tidak percaya, saling menatap satu sama lain, secara bergantian.
“Benarkah itu kak?” Vara memastikan.
“Benar.. kenapa sih Kakak harus mengulang ucapan kakak, Vara.” Rava menatap pada Vara.
“Kami masih tidak percaya Kak Rava, karena itu Vara mewakilkan kami, tidak menyangkah semuanya akan secepat ini,” Defan histeris.
Harsen hanya tersenyum, dia mah sudah sangat mengenal Rava, masalah kecil itu sama Rava. Kalau sudah tepat sasarannya , langsung di lahap tanpa ampun, “Kau pikir ini urusan Bisnis , Sen?” Rava tiba-tiba menghentikan hayalan dan senyuman Harsen.
“Iya Kak,” balas Harsen menegang.
“Jangan terlalu tegang Kak,” Defan memukul pundak Harsen.
“Sudahlah.. Ayo Sen, kita berangkat. Nanti siang Kakak akan membawa Renata ke taman bermain, jadi tugas hari ini harus selesai semuanya. Karena besok kak Renata sudah kembali ke Jakarta,” ucap Rava seraya beranjak dari kursinya.
Harsen dengan cepat ikut berdiri, “Adik-adik… kakak bekerja dulu. Kalian baik-baik selaam di rumah.” kata Harsen tanpa pikir panjang dan berlari mendahului Rava.
Defan dan Vara saling menatap dan tertawa, “Apa Kau sepemikiran denganku?” tanya Defan dengan mengedipkan matanya.
Vara menganggukan kepalanya dengan menggigit bibir bawahnya, “Aku juga sama denganmu. Bagaimana jika Kau memanggil Alice, ajak dia bersama kita.” Kata Vara bersemangat.
“Ide bagus, nanti akan aku ajak. “ kata Defan.
Vara kembali mengunyah makanannya, dengan rasa yang teramat bahagia. Tidak bisa di bayangkan, dia bakalan memiliki kakak ipar. Membuat Vara tersenyum sendiri dan menikmati sarapanya dengan rasa bahagia.
“Oh ya Vara, kasi tahu pada Bibi, mamanya Alice sudah menerima tempat yang di berikan bibi untuk membuka toko kuenya. Bibi sangat baik, memberikan mereka toko sekaligus tempat tinggal yang benar-benar besar. Tidak seperti rumah Alice sebelumnya. Tolong sampaikan salam pada Bibi Eva, Alice ingin berterima kasih langsung, tetapi belum bisa menghubungi bibi Eva saat ini.” ujar Defan.
“Baiklah.. Nanti akan aku sampaikan. Mama dan Papa memang sangat baik, tidak bisa melihat orang lain kesusahan. Aku belajar dari mereka tentang berbagi, menyayangi dan memberi apalagi cinta dari keluarga. Semuanya Aku dapatkan , kedua rang tuaku yang tidak pernah membenci, Apa lagi mama sangat pemaaf, walau sudah di sakiti. Tetapi masa lalu mereka, aku tidak ingin tahu, karena itu urusan mereka semua. Jadi aku mohon Fan, jika nanti Papa kamu tidak menyetujui Alice sebagai kekasihmu, ada baiknya kau katakan pada mama dan papaku, karena setahuku papa kamu juga mengenal bibi Anet, hanya saja papa dan mama tidak pernah mengatakan paman Frans membencinya. Tapi itu permintaanku padamu, bahagiakan Alice, karena dia gadis yang sangat baik. Apa kau mau?” Vara menatap sendu ke Defan.
“Kenapa Kau jadi serius begini, membuatku ingin menangis saja. Tanpa Kau minta pun Aku akan membahagiakan Alice , Vara. Karena dia cinta pertama yang aku dapat dalam hidupku, aku akan mengikuti jejak Kak Rava. Aku harus bisa sukses kedepannya, biar bisa mengikuti keturunan keluarga Atmadja. Pantas saja, papa memaksaku untuk pintar dalam mengelola bisnis dan perusahaan, ternyata begini rasanya.” Defan menarik nafasnya.
“Apa Kau menyesali pilihanmu?” vara penasaran.
“Ya.. mungkin saja, kenapa aku mengambil jurusan melukis, sangat bertolak belakang. Arghhh… Aku sangat bodoh!”
“Kau tidak perlu takut Defan, ada Papaku, papamu, kakakku, kekasihku, kakak iparku, paman Varel, yang bisa membantumu dalam menekuni dunia bisnis dan perusahaan. Kenapa kau bodoh sekali?” ucap Vara dengan menarik kasar nafasnya.
Kening Defan mengkerut,” Tu… Tunggu dulu, siapa yang kau sebut kekasihmu!” Defan menatap tajam pada Vara.
Vara memutar kedua bola matanya, lalu mencoba berpikir dan kembali menatap ke Defan, “Kau tidak tahu?”
Defan menggelengkan kepalanya, “Tidak.”
“Akan ku beritahu, tapi kau harus janji akan merahasiakannya.”
“Baiklah, katakan.” Defan penasaran.
“Aku mencintai Kak Harsen,” ucap Vara tanpa Ragu.
Defan terkaget, “Kau Seriussss!!! Terus kau sudah jadian dengan kak Harsen?”
“Aku serius, Tapi belum jadian. Kak Harsen tidak pekah, aku sudah banyak memberikan sinyal cinta, hanya saja dia tidak menyadarinya Defan. Hah entahlah.. “ Vara menudukkan kepalanya.
“Kalau begitu, mana mungkin itu bisa di sebut kekasih, kau ini bodoh sekali. Itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Lagian Kau ini, kenapa bisa mencintai kak Harsen yang posisinya adalah bawahan kak Rava. Kau gila apa! Mana mungkin kak Harsen berani memberikan hatinya pada dirimu, bukankah ada Paman Raka, kak Rava, apa mereka akan setuju. Argghhhh… kenapa kau jadi bodoh!”
Vara menatapnya sedih, “Kenapa Kau jadi memarahiku, kenapa rupanya kalau kak Harsen itu bawahan kak Rava. Dia juga Pria pekerja keras, memiliki asset dari orang tuanya, dia pilihan buyut kita, pilihan kak Rava, papa juga sangat menyanyanginya. Paman Leo dan Bibi Rere juga bukan orang yang biasa saja, kenapa Aku harus capek-capek mencari Pria di luaran sana. Bukankah Kak Harsen sudah sangat sempurna untuk di jadikan kekasih?” tutur Vara panjang lebar.
“Benar juga sih yang Kau katakan, sudahlah… Kau pikirkan sendiri cara mendapatkan cintanya kak Harsen, hanya saja yang aku tahu, kak Harsen perduli dengan pendidikan mu. Tamatkan saja dulu kuliahmu, baru Kau kejar kak Harsen.”
“Hemmm.. ide baik. Sudahlah tidak usah di bahas lagi, sekarang mari bersiap-siap. Kita ke toko Alice.” Vara beranjak dan berlari kecil ke arah tangga menuju kamarnya.
“Baiklah,” jawab Defan yang sama beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tangga.
Keduanya sangat bersemangat, jarang-jarang mereka bisa akur. Tapi masalah begini keduanya sepakat untuk akur sementara waktu. Ya hanya sementara waktu, enggak tahu kalau nanti bagaimana kelanjutannya. Yang terpenting hari ini judulnya mereka mau jalan-jalan dan bersenang-senang.
Bersambung.
*********
Tekan Like dan jangan lupa bantu VOTE ya semuanya ^^>