My Chosen Wife

My Chosen Wife
PERHITUNGAN.



Seusai Renata di suapin makan oleh Vara, Vara meminta waktu untuk berduaan dengan Renata, kedua orang tua menyanggupi. Suasana kamar itu tiba-tiba hening, perasaan Vara berubah menjadi gugup. Detak jantungnya tak beraturan, wajahnya pun berubah panik. Renata sendiri, tahu tujuan Vara meminta waktu kepadanya , karena Vara tidak kunjung membuka suara, hanya salah tingkah , akhirnya Renata mencoba duluan.


"Vara kenapa diam, sayang?" tanya Renata dengan senyum ke Vara.


Vara memainkan kuku jemarinya, seakan menahan rasa gusarnya, karena perasaannya memang sangat tegang dan juga malu.


"Kak Re—Na.... Vara Mau,"


"Mau apa? kok jadi gugup gini sih? Santai aja, Vara seperti biasa aja ke kakak. Kakak enggak akan marah sama kamu." Renata mencoba menyentuh tangan Vara.


"Enggak gitu juga kak, sebenarnya... Vara mau minta maaf ke kak Rena." Vara mulai merasa tenang, saat Rena menyentuh tangannya.


"Minta maaf kenapa?"


"Ya soal ini kak, karena kesalahan Vara, kak Rena jadi terbaring di Rumah Sakit." balasnya lirih.


"Sudah dong... Jangan di permasalahkan, karena kak Rena bersyukur atas kejadian ini, Vara tidak terluka. Kalau Vara terluka, Paman dan Bibi bakalan sedih, apa lagi Kak Rava kan? Kak Rava sangat sayang sama Vara. Dan di samping itu, kak Rena juga berterima kasih sama Vara karena Vara membuat kak Rava menyadari perasaannya. Vara enggak suka ya, kalau kak Rena jadi kakak ipar kamu?" Renata mencoba mempertanyakannya.


Vara terdiam, ia memutar kedua bola matanya seakan masih mencerna perkataan Renata barusan. Sesaat kemudian, "Bukan enggak suka kak, kak Rena usil, ngeselin, suka benar buat kak Rava dalam masalah, jahilin Vara juga. Itu yang bikin Vara gak bisa dekat atau terima kak Rena." jawabnya dengan menundukkan wajahnya.


"Kamu jujur banget, kak Rena suka sama Vara." tangan Renata terbuka, pertanda ia ingin meminta pelukan Vara, dengan cepat Vara menyambut pelukan Renata itu.


"Maafin Vara ya kak," ucapnya dalam pelukan Renata.


"Jangan meminta maaf, kamu enggak salah. Dan kamu enggak perlu khawatir lagi sayang, kakak udah nyerah dengan kak Rava," Vara dengan cepat melepaskan pelukan Renata dan menatap wajah Renata, "Kakak serius?" tanya Vara terkaget.


"Kenapa Ekspresi kamu begitu? Bahagia ya?" Renata tersenyum, dengan jari telunjuk menyentuh hidung Vara.


"Bukan Kak... Jangan, kakak enggak boleh nyerah. Kakak tahu, Kak Rava baru saja menyadari perasaannya ke Kak Rena, begitu juga dengan Vara, Kak. Masa iya kakak mau ninggalin kita," Vara menunduk sedih.


"Dih... Kok Vara jadi begitu.... Kenapa sih jadi kalian berdua yang berubah, kan kak Rena yang kecelakaan, kok jadi kalian yang yang terkena efeknya?" Renata memasang wajah bercanda.


Vara meneteskan air matanya, "Kak Rena, Vara enggak sedang bercanda. Kak Rava sangat mencintai kak Rena, juga menyayangi kak Rena, Kak Rena enggak tahu kan? Kak Rava enggak pernah meneteskan air matanya, sekalipun saat itu dia di campakkan oleh kak Vanessa, tapi saat kak Rena kecelakaan , kak Rava... , kak Rava menangis kak. Bahkan kak Rava mendonorkan darahnya untuk kak Rena. Dan sekarang kakak malah mau meninggalkan kak Rava."


Renata terdiam, sebelumnya tidak ada yang mengatakan itu semua kepada Renata, termasuk dengan Rava sendiri, "Ssssttt... Kok jadi nangis agh. Jangan nangis, kakak enggak mau melihat Vara menangis seperti ini. Entar di kirain mama sama papa, kak Renata sengaja membuat Vara menangis, sudah jangan menangis lagi," Renata menepuk pelan pundak Vara.


"Kak Renata harus janji, jangan tinggalkan kak Rava"


"Vara.... Kakak enggak bisa janji sayang, kakak enggak mau mengecewkan siapapun lagi."


"Tapi Kak—"


"Apa obrolannya sudah selesai?" tanya Eva yang datang tiba-tiba.


"Sudah, Bibi." Renata tersenyum, ke arah Eva yang berjalan masuk.


Buru-buru Vara mengusap air matanya, agar tidak kelihatan oleh sang mama.


"Kenapa Ma?" tanya Vara kemudian, dengan senyum palsunya.


"Mama sama Papa mau berbelanja, sebelum pulang ke Jakarta. Jika Renata baikkan dan bisa pulang hari ini, mama dan papa akan kembali duluan sayang. Kau mau di sini atau ikut dengan mama?"


"Wah... Buruan temani Bibi Jalan, Vara. Sebelum bibi kembali, Maafin Renata ya Bi, Enggak bisa nemani Bibi dan paman" Renata merasa sedih.


"Sudah... Enggak baik bersedih. Suatu saat nanti, kalau kita kembali ke sini, Renata sudah menjadi menantu Bibi, dan kita akan berbelanja bertiga. Menyenangkan bukan?" Eva merasa sangat bahagia dengan harapannya.


"Benar yang di bilang Mama, Kak. Vara tunggu itu Ma," Vara memeluk tubuh Eva.


Renata sendiri hanya tersenyum terpaksa, bingung untuk menjawab ucapan Vara.


"Ya... sudah kalau begitu ayo kita pamit sama Paman dan Bibimu." ajak Eva ke Vara.


"Renata... Sebentar bibi tinggal ya,"


"Iya Bi... Hati-hati." balas Renata.


"Kak Rena... Vara dan Mama jalan ya." seru Vara, mendapatkan lambaian tangan Renata.


***


Sesampainya di salah satu Mall, Eva yang di temani dengan anak dan suaminya, berjalan memasuki Mall terkenal di New York, dengan Vara sebagai pemandunya., Eva yang berinisiatif untuk membeli keperluan Eva dan keluarganya, setidaknya sebelum pulang ke Jakarta, Eva bisa membawa Vara berjalan-jalan sejenak bersamanya dan juga Rava. Beberapa jam kemudian dengan menenteng barang belanjaan, Eva berirdiri di salah satu toko perhiasan, Eva meminta Raka dan Vara membantunya , memilih buat Renata sebagai hadiah, begitu pun untuk Vara.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya, ada yang bisa saya bantu," sapa salah satu pegawai toko.


"Ou...Tidak usah, kita mau lihat-lihat dulu, kalau ada yang cocok, kita akan memanggil." Kata Raka dengan ramah dan menadapatkan jawaban.


"Yang ini cantik, Pa?" tanya Eva menunjuk salah satu perhiasan berupa kalung putih.


"Cantik, sayang." jawab Raka dengan tersenyum.


"Kau memang sangat baik, yang ini saja cocok buat Renata." Raka tersenyum.


"Vara mana... Coba tanya Vara dia mau yang mana sayang."


"Vara..." panggil Raka.


"Iya, Pa." balas Vara seraya berjalan mendekati sang papa dan mamanya.


"Vara mau yang mana sayang?" tanya Raka.


"Duh... Enggak usah Pa, Ma. Di rumah Jakarta saja sudah banyak dari Mama dan Papa. Apa lagi kak Rava juga , belum lagi dari Oma buyut. Sudahlah Ma, untuk kak Rena aja. Vara enggak cemburu kok," Vara tersenyum.


Eva pun tersenyum, "Baiklah Sayangnya Mama."


****


Beberapa jam kemudian , Rava dan Harsen tiba di salah satu kota yang jauh dari Kota inti New York itu. Tepatnya sudah malam, di mana tempat itu merepukan sebuah Hotel megah, tempat di mana Harsen mendapatkan informasi letak keberadaan orang yang menggangu perusahaan cabang Rava yang juga bekerja sama dengan Varel.


"Ada di Lantai 5 kak." ucap Harsen saat mengikuti Rava yang sudah meletup-letup menahan amarahnya.


"Langsung saja kita samperin, Sen. Kakak enggak mau berlama-lama di sini."


"Tapi Kak, Apa kakak yakin akan mendapatkan jawaban langsung?"


Keduanya sudah di dalam Lift, tidak perduli dengan hasil. Rava ingin tahu dengan jelas, siapa yang berani menggoyangkan perusahaannya, membuat repot saja pikirnya.


"Tidak masalah, kau tidak usah takut, Sen. Kakak yakin, dia sendiri yang akan bertekuk lutut."


Tiba di lantai 5 dengan cepat Rava keluar dan berjalan menyusuri koridor Hotel. Lalu mencari nomor kamar orang tersebut dengan mengikuti Harsen yang berhenti di depan salah satu pintu.


"Gedor pintunya!" perintah Rava.


Harsen mengikuti perintah Rava, ia menggedor pintu kamar itu dengan kecang. Sehingga tidak membutuhkan waktu lama, pintu itu terbuka dan betapa kaget kedua orang itu.


"Cih... Kau rupanya." kata Rava sinis dengan kedua tangan berada di saku celananya.


"Mau apa kalian!" Pria itu sigap ingin menutup pintu kamarnya. Dengan refleks Harsen menendang pintu kamarnya, hingga ia terjungkal kebelakang, segerah saja Rava masuk melewati Pria yang berbalut jubah handuk itu.


Semakin ke sini, Rava tercengang dengan wanita yang ada di atas ranjang kamar itu, dengan berbalut selimut putih, menutupi tubuhnya. Betapa kagetnya dia, dengan perlakuan pria di depannya.


"Ternyata kau tidak sebaik yang di katakan Renata," ucap Rava dengan datar. Lalu Rava memberikan perintah ke Harsen untuk membereskan wanita yang ada di atas ranjang. Sesuai perintah Rava, Harsen meminta wanita penghibur itu, untuk berpakaian ke kamar mandi dan segerah meninggalkan kamar itu.


Rava berjalan mendekati meja bundar kamar itu, kemudian duduk dengan tatapan tajam ke Albert. Ya itu Albert, si pria yang diam-diam ingin mendekati Renata demi keuntungan perusahaan papanya. Perusahaan yang pernah menjalin kerja sama dengan Varel, tetapi sempat bermasalah dalam pembagian hasil, sehingga membuat Varel mundur, merasa tidak puas dengan keputusan Varel, mereka ingin membalas perbuatan Varel melalui Renata.


Albert sendiri, mencari tahu tentang Rava, dan mendapatkan data diri Rava yang memiliki kantor cabang di Jakarta, dan Perusahaan sekarang di kelola oleh Rava, yang juga baru bekerja sama dengan papanya Albert, sebelum terjadinya perpecahan antara Papa Renata itu. Betapa marahnya Rava, saat dana yang di kucurkan ke antar perusahaan itu, tidak di gunakan sebagaimana mestinya, sampai membuat kerugian perusahaan.


"Bagaimana? kau mau menebusnya sendiri atau aku yang bereskan." Rava dengan tatapan penuh kebencian menatap ke Albert.


Albert yang sudah berdiri mendekat ke meja Rava.


"Hahaha... Kau akhirnya tahu siapa aku bukan? karena itu kau terus mengikuti Renata saat bersamaku? Kau harus tahu Rava, aku tidak suka jika ada yang mengganggu rencanaku. Kau mengacaukan segala usahaku, untuk membantu papaku."


Rava ikut tertawa , membuat Harsen merinding mendengarnya.


"Ku peringatkan KAU , jangan macam-macam dengan Renata! Sekali saja kau menyentuhnya, aku tidak akan melepaskanmu!"


"Santai! jangan mengancam, dia aja yang bodoh bisa tertipu!"


Rava refleks berdiri dan menarik jubah handuknya dengan menggertakan gigi, "Berani kau mengatainya! akan ku potong lidahmu!" bentak Rava.


"Heiii tenang bro! lepaskan tanganmu! Aku tidak akan menyentuh wanitamu. Santai saja, aku hanya ingin sedikit bermain-main denganmu. Karena banyak yang bilang, keluargamu pembisnis yang tidak bisa di goyangkan, tidak ada yang berani dengan Atmadja Group dan yang lainnya. Akun hanya tidak menyangkah itu benar adanya. Kau tenang saja, aku sudah cukup bermain-main denganmu. Jangan di masukkan ke dalam hati, semuanya akan kembali seperti semula, asal kau tutup mulutmu." ancamnya ke Rava.


Rava tertawa, "Hanya bermain-main kau bilang!"


Bruggggggg... Bogeman tepat di pipi Albert, seketika itu juga di terjatuh.


"Itu... Anggap saja aku bermain-main denganmu! Ku peringatkan padamu! Jangan gunakan orang lain, sebagai alatmu untuk mengelabuiku. Menggunakan orang lain sebagai pencapaian tujuanmu, memalsukan data dari orang suruhanmu! Bereskan semuanya seperti sedia kala, kalau tidak perusahaan papamu berada di tanganku." ucap Rava lalu berjalan keluar meninggalkan Albert di ikuti oleh Harsen.


**Bersambung.


..........


Maaf Jika kurang mengenakan di hati, ini saya usahakan ngetik , karena lagi gak bisa konsen, anak saya kurang sehat. Semoga bisa menghibur, terima kasih :)


.Tekan Like dan VOTE ya**.