My Chosen Wife

My Chosen Wife
KISAH LAMA KEMBALI.



Senyuman Raka dan Eva memudar seketika, begitu juga dengan Mama Alice berubah tegang dengan tatapan Eva dan juga Raka. Dengan buru-buru, Mama Alice bersiap untuk melarikan diri. Defan yang di sampingnya, ikut berlari mengejar Mama Alice.


 


 


"Mama." seru Alice yang hendak mengejar Mamanya.


 


 


Eva menarik tangan Alice, "Kamu di sini saja. Vara bawa Alice masuk." Perintah Eva dengan tegas.


 


 


Eva berlari ke arah Mama Alice, sedangkan Vara dengan cepat membawa Alice masuk. Rava penasaran, Ia mendekati sang Papa.


 


 


"Pa... Ada apa? Kenapa mama Alice takut melihat Mama dan Papa?" tanya Rava penasaran.


 


 


"Mama nya Alice... Mantan kekasih Papa, Nak." gumam Raka pelan.


 


 


Rava dan juga Harsen sangat kaget. Ini gila namanya, kenapa bisa kebetulan seperti ini pikir Rava dan juga Harsen.


 


 


"Mba Anet." panggil Eva dengan berlari mengejar Anet.


 


 


Bagaimana mungkin dia punya muka di depan orang dari masa lalunya, Anet merasa malu, penampilannya yang dulu, sangat berbeda dengan yang sekarang. Berbeda dengan Eva, walaupun sudah memasuki umur yang tidak muda lagi, masih berdandan cantik dengan kulit yang masih terawat. Sedangkan Anet, tidak memiliki apapun untuk di banggakan lagi.


 


 


“Bibi.. Tunggu.”  Defan menarik tangan Anet.


“Defan.. lepaskan Bibi.” ucap Anet merasa gelisah.


 


 


“Mba Anet,” Eva menyentuh pundak Anet dengan nafas memburu karena berlari.


 


 


“Tolong.. jangan seperti ini. Anggap saja kita tidak mengenal satu sama lain,” ucap Anet lirih dan hendak berjalan lagi.


 


 


Eva sigap mencengkaram tangan Anet, “Mba! Tolong jangan begini, kasihan anak-anak. Pandang Alice anak kamu, jangan masukan masa lalu kita pada mereka yang tidak tahu apapun!” Eva berbicara dengan tegas.


 


 


Anet menoleh ke Eva dengan tatapan tajam, “Kau bisa berkata seperti itu, Eva! Kau tidak merasakan apa yang aku rasakan! Karena membelamu, semua keluarga Atmadja membenciku, bahkan menghukumku dan keluargaku! Apa kau pantas berbicara seperti itu padaku?” Anet berucap dengan berurai air mata.


 


 


“Mba Anet, Lihat Defan. Apa Mba tidak melihat raut wajahnya yang bingung, tolong jangan menangis. Biar kita perbaiki semuanya, Mba. Aku tahu posisi Mba bagaimana, dan harusnya Mba lebih paham bagaimana Nenek Lusi dan Raka. Tidak ada yang bisa menyentuh keluarga mereka, sekalipun itu orang yang berpengaruh. Harusnya Mba tidak sepenuhnya menyalahkan mereka, Mari kita perbaiki Mba.” Eva memohon demi Defan.


 


 


Wajah Defan menatap sedih, tidak tahu apa yang terjadi dari kehidpan masa muda orang-orang di sekitarnya.


 


 


“Bi.. jangan menangis. Defan sangat sedih, ayolah Bi. Walaupun Defan tidak tahu yang terjadi dengan kalian di masa lalu, mari kita perbaiki bersama-sama Bi. Defan janji, Defan akan membahagiakan Alice dan juga Bibi. Biarlah semua cerita dan kenangan dulu, menutupi luka yang pernah ada dengan lembaran baru, Bi.” pinta Defan dengan menyentuh tangan Anet.


 


 


Eva dia menyentuh pundak Anet memberikan kekuatan kepadanya yang sedang menangis pilu .


“Baiklah, demi Alice. Aku akan mencoba , Va.”


 


 


Dengan cepat Eva memeluk tubuh Anet, “Terima kasih, Mba. Tolong jangan bersedih, ada anak-anak yang akan menguatkan kita.” Eva melepas pelukannya dan menarik lembut tangan Anet dan mengajaknya berjalan kembali ke rumah Rava.


 


 


Sedangkan di dalam rumah Rava, tepatnya di ruangan tamu,  Vara menenangkan Alice yang menangis. Karena melihat mamanya yang pergi tanpa tahu latar belakang masalah mereka. Karena Anet memang tidak pernah bercerita secara detail tentang masa mudanya. Karena Anet sendiri malu, dengan perlakuannya terhadap Raka dan juga Eva.


 


 


“Sudah dong.. jangan menangis lagi. Aku kan sedih , Alice.” Vara memanyunkan bibirnya, dengan raut wajah sedih.


 


 


“Iya… Vara. Maafi aku ya. Hanya saja, aku bingung, kenapa mama langsung berlari saat melihat keluargamu.”


 


 


“Sudah.. itu urusan orang dewasa, kita tunggu saja ya penjelasan mereka.”


 


 


“Baiklah…” jawab Alice lirih.


 


 


Vara mengusap lembut bahu Alice, memberikan rasa tenang dan nyamannya dari seorang teman yang di anggap Vara adalah sahabatnya. Sedangkan di ruangan keluarga, Raka, Rava dan Harsen, masih berkompromi.


 


 


“Bagaimana Paman? Apa ini harus di tindak lanjuti?” tanya  Harsen dengan wajah serius.


“Dih.. kau ini Sen, Kau pikir ini seperti masalah pekerjaan di perusahaanku? Harusnya yang benar itu, kau tanyakan pada Papa begini, Bagaimana Paman? Apakah siap bertemu dengan mantan?” Rava bukan bertanya dengan serius, malahan meledek Papanya.


 


 


Sontak Raka menengadah ke wajah Rava yang purak-purak serius itu.


“Kau ini, Nak. Jangan mengada-ngada. Kalau Papa hanya mengikuti kemaun Mama kamu, masalah nya kalau Mama kamu cemburu, habislah Papamu.” Raka menutup wajahnya.


 


 


Rava tertawa, “Bukankah.. Papa yang cemburuan? Kalau mama cemburu sepertinya masih bisa menahan emosinya, berbeda dari Papa. Langsung marah-marah enggak jelas.” sindir Rava.


 


 


 


“Kenapa anakku yang satu ini, mengerti sekali sifat Papanya,” Raka mengacak rambut Rava.


 


“Tapi Pa, ini benaran bagaimana? Kasihan Defan dong, kalau saja tidak di setujui oleh mantan Papa itu?” Rava kembali memasang wajah serius.


 


“Yah au bagaimana? Putus cinta dong,” celetuk Raka dengan santainya.


 


“Kasihan Defan,” sambung Harsen


 


“Kalau dia putus cinta, barengan dong kami.” Rava cengengesan.


 


“Kenapa kakak sangat senang?” Harsen mengernyitkan keningnya.


 


“Biar sama-sama aja, kenapa dia tidak sopan. Kakaknya saja belum punya pacar, malahan dia duluan mendahuluiku.” Jawab Rava dengan melipat tangan di dadanya.


 


“Itu karena kau sendiri, Nak. Terlalu lama menerima perjodohan itu. Papa yang di jodohkan buyutmu, tidak terlalu lama bagi Papa menerima semuanya. Kau lihat hasil perjodohan Mama dan Papamu? Semuanya baik bukan?? Apa lagi, Mama kamu memang cinta sejatinya Papa,” ucap Raka dengan bangga.


 


Rava pun bersedih mendengar perkataan Papanya yang memang benar adanya. Kenapa juga dia harus lama-lama dan bermain dengan perasaan hanya untuk membandingkan cinta di luaran sana, hingga dia di campakkan oleh orang yang sempat mengisi hatinya, dan sadar betapa besar cinta dan pentingnya Renata untuk dirinya.


 


“Sayang…” panggil Eva ke Raka dengan Anet dan Defan yang menghampiri ketiga lelaki itu.


 


Seluruhnya menatap kedatangan Anet, Eva dan Defan. Anet merasa takut untuk menampakkan diri depan  Raka, ia bersembunyi di balik tubuh Eva. Wajah Raka berubah seketika, menatap pada Eva. Dengan cepat Eva memberikan kode ke Raka agar tidak memasang wajah garangnya. Mau tidak mau,  Raka yang mengerti dan paham akan keputusan Eva itu menerima dengan lapang dada. Raka berdiri dan  menarik nafasnya dengan kasar dengan rasa yang berat hati dia mendekati mereka.


 


“Anet… tolong bersikaplah biasa. Jangan seperti ini, tidak enak di lihat anaka-anak yang tidak tahu menahu.”


 


 


“Baiklah,” jawab Anet dengan pelan.


 


 


“Sudah semuanya.. ayolah kita makan malam, ajak Vara dan juga  Alice,” ucap Eva dengan menggenggam tangan Anet, berjalan ke ruangan makan.


 


 


Tidak ada yang berani melanggar perintah Eva, semuanya menurutinya. Raka dan Rava mengikuti Eva juga Anet menuju ruangan makan. Harsen berjalan menuju ruangan tamu dan memanggil Vara untuk mengajak Alice ke ruangan makan.


 


 


Semuanya berkumpul, dan memulai untuk makan dengan sangat hening tetapi penuh kasih. Tampak Eva yang melayani Raka dengan sangat lembut, kedua anaknya yang berpendidikan, memiliki sopan dan santun, perhatian pada Raka dan juga Eva. Begitupan terhadap Harsen, mereka  juga seperti keluarga yang satu bapak dan anak. Dari pandangan Anet, Harsen di pikirnya anak dari Raka dan Eva, karena Eva maupun Raka tidak tampak membedakan Harsen. Begitu juga sebaliknya, Vara, Rava maupun Harsen saling perhatian tidak ada kecanggungan di antara mereka. Sedangkan dengann Defan, dia sudah mendengar cerita tentangnya dari Alice.


 


 


Alice sendiri sangat senang melihat keharmonisan keluarga yang penuh kehangatan itu. Tidak ada rasa iri dari dirinya, karena Alice pernah merasakan seperti pemandangan di depannya sebelum kematian sang Papa. Eva, Defan dan Vara yang memberikan perhatian full untuk Alice dan Mamanya. Raka dan Rava, tidak jauh berbeda, kebanyakan diam dan dingin. Harsen sendiri, tidak mau ambil pusing, karena memang dia tidak berkaitan dengan Alice atau Anet.


 


 


Seusai Makan, Eva dan Raka mengajak Anet ke ruangan kerja Rava. Banyak yang Eva ingin tahu dengan kisah Anet maupun dengan Alice. Anet menyanggupi, kalau Raka ngikut kemauan sang Istri, yang dengan sangat yakin, Eva sudah memikirkan matang-matang semuanya.


 


 


“Mba Anet, bagaimana kabar kamu selama ini?” tanya Eva dengan lembut.


 


 


Raka duduk di pojok menatapi kedua wanita masa lalu dan masa depannya itu. Dengan kedua tangan terlipat di dada, ia menatapi dengan serius.


 


 


“Ya berat.. Aku tidak bisa melanjutkan usahaku, begitupun dengan keluargaku, kami bangkrut karena kebijakan dari-“ ucapan Anet menggantung.


 


 


“Tidak usah di lanjut, Mba. Terus Papa nya Alice, Mba? Kenapa tidak ikut dengan kalian?”


 


 


“Papa Alice sudah tiada, Va” ucapnya lirih


 


“Asataga.. Maaf Mba, saya tidak bermaksud.”


 


 


“Tidak apa-apa, Va. Ketemuan sama Papa Alice saat aku benar-benar terpuruk. Papa Alice yang membantu Aku dan keluarga di masa keterpurukan kami. Dengan bantuan papa Alice, kami sekeluarga bisa kembali ke Jakarta. Namun aku baru tahu, setelah beberapa tahun di Jakarta, Nyonya Lusi meninggal dan menarik kebijakannya untukku dan juga sepupuku.” Jelas Anet dengan detail.


 


 


Raka yang di sana tidak terkejut, karena dia memang sudah tahu. Sang Nenek membebesakan keluarga Anet dan sepupunya dengan catatan hukum yang sudah di  di rencenakan Lusi. Entahlah… Raka hanya mengikuti perintah sang Nenek. Karena Lusi ingin meninggalkan semuanya dengan damai.


 


 


Bersambung.


*******


Jangan lupa tekan Like dan VOTE ya, Terima kasih. Tolong bantu VOTE juga ya, minggu lalu posisinya di ranking 9, sekarang 15. Huaaaa… sedihnya.