
Seusai seluruh adiknya keluar dari kamar, Rava menoleh ke arah paketan yang ada di atas meja, lalu berjalan ke arah meja, tempat di mana Ia meletakkan paketan dari Renata.
“Apa yang dia kirimkan?” tanya Rava seraya duduk dan mencoba membuka paketan.
Menarik sisi ke sisi, hingga semua plastik yang membungkus kotak itu terlepas. Rava mencoba membuka penutup kotak atas itu, lalu tampak secarik kertas yang berisi tulisan Renata di atasnya, Rava mengambil dan membaca isi nya.
“Saat Kau menerima ini, mungkin aku sudah tidak berada di satu tempat denganmu, tidak berada di satu pandangan yang sama denganmu, perbedaan waktu, suhu, udara, bahkan waktu. Tetapi, yakinlah, masih ada tempat yang sama kita tempati, yaitu CINTA, KASIH, dan PERASAAN. Ketiganya berada di hatiku dan hatimu yang menjadikan kita satu. Hah… karena itu, aku mengirimkan semua Vitamin dari beberepa merek terbaik di Negara ini. Kau harus menjaga dirimu dengan baik, salama kita tidak saling menatap dan tidak saling memijak di tempat yang sama. Ketika Kau kembali di sampingku, Aku mau Kau tetap dalam keadaan baik. Jangan lupa di minum 1x sehari. Jika lebih jangan salahkan Aku, akhir kata, Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. ^^
Rava refleks tertawa, “Hah… Dasar wanita aneh! Kau pikir aku anak-anak, dasar calon Istri somplak, temannya Defan, pantas Kau sangat akrab dengan si Defan, ternyata kalian memiliki kemiripan sifat,” ucap Rava dengan mengambil Vitamin yang di kirimkan Renata untuknya, lalu Rava membaca keterangan dan kegunaan Vitamin itu.
“Vitamin untuk kesuburan Pria,” ucap Rava dengan memegang vitamin itu, dengan refleks Rava mencampakknya ke atas ranjang seraya berdiri dan berkacak pinggang, merasa tidak terima dengan yang di berikan Renata, Rava berasa gelisah, memutar tubuhnya, lalu menyentuh wajahnya, menarik nafasnya kasar, lalu berputar ke arah ranjang tempat vitamin yang di lemparkannya tadi.
“Cih.. Apa-apaan dia! Apa dia meragukan kesuburanku! Argggghh… Aku tidak percaya padamu Renata!” umpat Rava dengan menunjuk-nunjuk vitamin itu dengan mengoceh gak jelas, Rava membayangkan Vitamin itu wajahnya Renata.
“Awas saja kau… akan aku buat perhitungan pada dirimu! buat aku pusing saja.” ucap Rava lalu berjalan ke arah kamar mandi.
***
Di ruangan makan, Harsen, Defan dan Vara sudah berkumpul, saling sibuk dengan kesibukan masing-masing, Vara memegang ponselnya, Harsen memakan makanan ringan yang sudah di hidangkan. Defan yang berada di tengah-tengah antara Vara dan Harsen menatapi keduanya secara bergantian. Ketiganya menunggu Rava turun untuk makan malam bersama.
“Gimana dengan kalian? Apa masih belum ada kelanjutannya?” tanya Defan.
Vara langsung menoleh ke Defan. “Jangan di tanyakan, jangan di bahas, aku sudah BOSAN!” ketus Vara lalu membuang kasar pandangannya, merasa risi dengan adanya pertanyaan yang enggak ada ujungnya.
Harsen sendiri hanya menatap pada piring di depannya, tidak menjawab, hanya mendengarkan ucapan keduanya. Walau ia mendengar kekesalan dari Vara, dia hanya santai. Karena kriteria Harsen turun dari sang Papa yang santai itu.
“Kak Sen… Kok diam aja?” tanya Defan dengan menyentuh bahunya.
Harsen yang sedang mengunyah itu menoleh dengan pandangan santai, “Hemmm” balasnya.
“Astaga… Aku sungguh pusing berada di tengah-tengah lautan dan ombak yang sedang menderu-deru.” celetuk Defan sambil menarik nafasnya.
“Sudah jangan Kau pusingkan, mulai besok aku sudah ujian akhir, setelah aku menyelesaikan studi akhir dan mempersiapkan penelitian, skripsi dan semuanya berakhir, Aku akan mengejar mimpiku, mungkin Aku tidak akan berada di Negara ini, siapa tahu saja aku akan mendapatkan pria lain yang lebih baik dari orang yang menggantungku!” sindir Vara dengan kesal.
Harsen menoleh ke Vara, menatapi Vara yang sudah membuang pandangannya, hanya diam , tidak memberikan respon tentang yang di katakan Vara barusan. Defan di buat makin pusing dengan pasangan enggak jelas itu. Tak lama Rava turun dan berjalan ke arah meja makan dan mengambil kursi yang biasa Rava gunakan.
“Kakak.” panggil Defan dengan mulut yang sudah ingin mengadukan keduanya.
“Apa!” jawab Rava.
“Ka-“ ucapannya terpotong, “Awwwwwwwwwwwww.” jerit Defan.
Ternyata kaki kiri dan kanan nya di pijak oleh Harsen dan Vara yang sama-sama purak-purak tersenyum ke arah Rava.
Vara dengan cepat berdiri dengan mengambil piring untuk Rava, “Heh.. Kak ayo kita makan,” ucap Vara menyendokan nasi ke atas piring. Tak lama Harsen pun ikut berdiri, dengan sigap membantu Vara mengisi lauk untuk Rava ke atas piring yang di pegang oleh Vara. Keduanya sangat kompak tersenyum, lalu Vara memberikan piring yang sudah berisi penuh ke arah Rava.
Rava di buat heran dengan keduanya, merasa ada yang tidak beres. Rava mengambil piringnya dari tangan Vara, lalu ia menatap ke Defan yang masih meringis kesakitan, kembali lagi melirik pada Vara dan Harsen yang masih tersenyum itu. Rava meletakkan piringnya, kemudian dia melipat kedua tangannya.
“Ada apa dengan kalian dua?” tanya Rava yang curiga.
“Hah tidak apa-apa Kak,” balas Vara cepat.
“Harsennnnn!!! buruan jelaskan” ketus Rava.
Harsen sekilas memejamkan matanya dan berkata, “Tidak ada kak, hanya masalah pendidikan, Vara katanya akan mengejar mimpinya di luar negara ini.” balas Harsen jujur.
Rava menatap ke Vara, “Benarkah itu Vara?”
Vara menunduk takut, “I-Iya Kak,” jawabnya.
“Tidak boleh! Kalau Vara ingin berbisnis, ikut kakak di Jakarta. Kakak tidak mau Vara sendirian di negara manapun. Kakak harap Vara dapat mengerti maksud kakak, kecuali ada Harsen yang menjaga kamu, kakak bersedia melepaskan kamu. Kalau begitu semuanya makan, sebelum mood kakak berubah,” ucap Rava dengan menyendokan makanannya ke mulutnya.
Sengaja aku ingin menghindar dari pria kaku itu, mana mungkin aku harus di samping dia terus-terusan, bagaimana aku bisa melupakan pria langkah itu, Arggghhhh… kak Rava tidak mengerti sih perasaanku.
“Kenapa cuma di pandangi Vara? Makanlah sayang,” perintah Rava dengan lembut.
“Iya kak,” balasnya sedih.
“Kenapa kau itu apa-apa selalu mengadu ke Kak Rava , Bambang! membuatku kesal saja! Mulai besok, di antara kalian berdua, jangan ada yang mendekati aku! apa lagi berbicara denganku! Aku ingin focus dengan pendidikan aku, arrrgggggggggggh… kalian membuatku frustasi saja!” kata Vara seraya beranjak dari kursinya menuju ke atas.
Defan menoleh langsung ke Harsen, “Mungkin Vara sedang PMS kak.” ucap Defan sedih.
Harsen hanya menatap ke Defan, lalu Ia buru-buru mengejar Vara. Sesampainya di ujung tangga, Harsen dari belakang menarik tangan Vara dan membawanya langsung ke kamarnya dengan membungkam mulut Vara agar tidak berteriak karena kaget.
Di kamar Harsen, lalu Ia melepes tangannya, membuat wajah Vara kesal.
“Apaan sih kak Harsen!” bentaknya kesal.
Vara hendak berjalan untuk keluar dari kamar Harsen dengan wajah yang menatapnya kesal, dengan cepat Harsen menariknya dan memeluk tubuh Vara. Vara meronta-ronta, membuat Harsen semakin memeluknya erat. Karena kekuatan Harsen lebih besar, akhirnya Vara mengalah dan merasakan hangatnya pelukan Harsen yang sudah lama tidak ia rasakan, karena mereka sudah beranjak dewasa, terkecuali saat Vara meminta Harsen untuk menggendongnya.
“Sebenarnya kakak mau apa sih! jangan begini Kak, jangan merasa kasihan, jangan merasa bersalah jika tidak bisa membalas perasaan Vara yang hanya kakak anggap sebagai adik, kakak. Vara tidak mau mencintai secara sepihak dan egois, Vara tidak mau seperti kak Renata yang berjuang hingga mendapatkan balasan dari Kak Rava yang nyatanya juga mencintainya yang terhambat karena gengsinya kak Rava. Jadi cukuppppp… Vara sudah bosan. Vara mau mencari Pria yang mencintai Vara.” ucap Vara jujur, meskipun Ia sedih dengan perkataannya sendiri.
Harsen melonggarkan pelukannya, lalu Ia menatap wajah Vara, mengusap air mata vara yang hendak melewati pelupuk matanya. Harsen mendekatkan wajahnya dan memberikan ciuman pada bibir Vara.
Cupppppp….
Sekilas, lalu Ia melepasnya dan kembali menatap Vara, “Apakah ciuman itu sudah bisa sebagai bukti?”
Vara terskesiap, “Bukti? Bukti apaan? kenapa kakak mengambil ciuaman pertamaku!” ucapnya dengan menagis dan memukul dada empuk Harsen.
Harsen tertawa seraya menahan pukulan Vara dan mencoba mengusap lagi air matanya, “Kenapa kau itu bodoh sekali soal sinyal cinta? Itu bukti bahwa kakak mencintai Vara. Kau sangat pintar dengan studimu, pintar mendesain, bahkan menjahit seluruh kain yang mau Kau ubah sesuai dengan pikiranmu, tetapi dengan bahasa tubuh kau tidak tahu sama sekali?”
“Argghhhh… Aku tidak tahu. Mana ku tahu Kakak juga mencintai Vara. Kenapa baru sekarang kakak kasi tahu ke Vara? Kak Harsen jahat! sangat jahat!” ucapnya dengan menangis dan memukul dada Harsen lagi.
Harsen tertawa kecil, lalu menarik tangan Vara untuk menghentikannya, kemudian menggengam tangan Vara dan kembali memeluk tubuhnya,mencium puncak kepala Vara.
“Maafkan Kakak, kakak tidak punya keberanian selama ini untuk mencintai vara, tetapi kau harus tahu, dari pertama kakak melihatmu di masa kita sudah mengerti satu sama lain, kakak sudah menetukan pendamping hidup kakak, meskipun kakak tahu seharusnya kakak tidak boleh meminta lebih untuk memiliki Vara. Tapi kakak berjanji, Kakak harus bisa menjamin kebahagiaan Vara, siapapun nantinya yang mendampingi Vara dalam kehidupan Vara.” ucapnya dengan penuh keberanian.
“Tidak… Hanya kak Harsen yang boleh mendampingi Vara. Pria lain… Vara tidak bisa menjamin kak, jika kakak mau Vara bahagia, kakak harus bisa bersama Vara melewati kehidupan Vara hingga kita menua.”
Harsen tertawa,”Kau anak kecil, tahu apa soal menua?”
Vara menatap ke Harsen dengan mata sendunya, “Tahu dong! Kalau menua itu artinya rambutnya memutih, ubanan dan hanya kematian yang bisa memisahkan. Masa seperti itu kak Harsen tidak tahu?”
Harsen kembali tertawa, merasa gemas melihat wajah Vara itu, “Iya iya.. Kau memang lebih tahu! Apa yang aku tahu? Sudah.. jangan menangis lagi, dan jangan mengancamku dengan sindirianmu yang menyakitkan perasaanku! Kau harus bisa menyelesaikan pendidikanmu dengan baik, soal hubungan kita, biar la berjalan dengan sendirinya. Kakak mau Vara bisa menggapai apa yang Vara impikan selama ini.” kata Harsen dengan tatapan mesra.
Buru-buru Vara menghapus air matanya, “Jadi ini benaran kan? Kakak sudah menyatakan perasaan Kakak pada Vara, tentunya kakak sudah menjadi kekasih Vara. Jadi kakak enggak boleh mengingkari janji kakak.” kata Vara dengan mata nya yang mengancam.
Harsen menarik wajahnya Vara dan kembali mengecup bibirnya Vara, lalu Ia tersenyum, Iya bawel. Kau sangat bawel, ciuman itu bukti aku memberikan janjiku pada sang putri. sudah sana keluar, sebelum yang lainnya curiga, ayoooo.” ajak Harsen dengan mengulurkan tangannya.
Vara tersenyum senang, Harsen sangat handal pikirnya, dua kali sudah dia berani memberikan kecupan pada bibirnya. Keduanya pun berjalan ke arah pintu dan bersamaan keluar, Harsen dan Vara mengendap-endap , melirik ke kiri dan kekanan, tampak aman, Harsen membawa Vara menuju kamarnya. Sesampainya di depan pintu kamar Vara, Harsen membelai lembut kepala Vara, “Selamat malam my princess.” katanya dengan tersenyum.
Vara tersenyum lalu dengan berani dia berjinjit dan mengecup bibir Harsen, “Selamat malam juga my prince.” balasnya, kemudian Vara segerah berlari masuk ke dalam kamarnya. Harsen menatap pintu kamar Vara dan tersenyum sendiri dengan menyentuh bibirnya.
Enggak tahu dia di ujung belakang sana, Rava yang mau keluar dari kamarnya terhenti dengan melihat momen langkah tadi, perasaan Rava menjadi gatal. Ia kembali masuk ke kamaranya. Berdiri,lalu berkacak pinggang, seperti tidak percaya dengan apa yang Ia lihat barusan.
“Hah… Aku tidak menyangkah, Harsen langsung dapat bonus dari Vara. Apaa-apaan mereka, memperlihatkan pemandangan tadi di depan Pria kesepian sepertiku, Sial!!!” katanya dengan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang, mengurungkan niatannya untuk mengambil air ke bawah dengan perasaan yang masih kesal
Bersambung.
****
Maaf jika masih bertle-tele, saya mau biar semuanya jelas, semoga bisa menghibur dan jangan lupa dong, tekan Like dan VOTE nya, mom berharap yang baca enggak jadi silent reader, yuk yang belum masuk Grup Chat mam, segerah masuk ya. Mam tunggu ^^