My Chosen Wife

My Chosen Wife
CANDA TAWA KEL.ATMADJA



“Byurrrrrrrrrrrrrrrrr,” suara kedua tubuh mereka yang di campakkan.


Rava dan Renata seketika itu juga kelelep dan membuat posisi mereka kembali berdiri di depan mereka yang menertawai.


"Agh..." kata Rava dengan mengusap air yang ada di wajahnya sambilan melirik ke Renata dan langsung memegang tubuh Renata.


 


 


"Astaga... Kenapa kita jadi seperti ini? Kan Rena engggak bawa baju ganti." ucap Renata sedih.


 


 


"Enggak masalah Kak... Itu Vara sudah bawakan kok." ucap Defan dengan senangnya.


 


 


Tiba-tiba dari arah belakang, "BYURRRRRRRRRR..."


 


Jimmy menolak Defan dan Harsen bersamaan, membuat keduanya ikut bergabung dengan Rava dan Renata.


 


"Astaga... Pamaaaaannnnn!" jerit Vara.


 


"Kenapa? kamu mau menyusul kekasihmu?" tanya Jimmy.


 


"Berani Kamu menolak putriku, Jim... Jangan salahkan saya kalau saya pec—"


 


 


BYUUUUUURRRRR......


 


Raka belum selesai berbicara, Eva malahan menolak suaminya


"Sayangggggg." ucap Raka dengan mengusap air pada wajahnya.


 


Eva tertawa bersamaan dengan Jimmy tertawa sampai terbahak-bahak, membuat Anet ikut berpikiran jorok.


 


 


BYURRRRRRRRRR......


 


Tubuh Jimmy pun akhirnya ikut merasakan sensasi berjebur ke dalam kolam berenang. Vara, Anna, Alice, Leo, Rere, Casandra dan juga Varel , masih saling memandang, berasa takut kena giliran di tolak dari belakang.


 


"Kenapa semuanya pada begini?" tanya James pada dirinya.


 


Di dalam kolam, Defan, Rava, Raka dan Harsen demo ke Jimmy membuat Jimmy mencoba menghindar dari mereka dengan berenang gaya batu.


 


"Noona...buruan sini James bantu" James mengulurkan tangannya, selagi yang lainnya lagi sibuk membalas ke Jimmy.


 


 


Renata dengan cepat mengulurkan tangannya dan langsung di tarik ke atas oleh James.


 


"Terima kasih James." ucap Renata saat sudah di atas.


 


"Jamess... Berikan handuk pada Noonamu." teriak Rava.


 


James yang mendengar langsung mencari handuk yang sudah di persiapkan sebelumnya.


 


"Pakai ini Noona." James memberikan jubah handuk ke Renata.


 


 


"Terima kasih adikku..." balas Renata dan mengenakannya.


 


 


"Kak Harsen... kemari.. sini... biar Vara bantu." Vara mengulurkan tangannya ke Harsen dan menunduk sedikit tubuhnya, dari arah belakang Mamanya Eva mendekat dengan sentuhan sedikit saja, Ia membuat Vara jatuh tepat di depan Harsen yang semula sudah melihat Eva mendekati Vara.


 


 


BYURRRRRRRRR....


Tidak jatuh sepenuhnya ke air, Harsen menangkap tubuh Vara yang jatu tepat di depannya dan dengan sigap Harsen memeluk tubuhnya.


 


"Mamaaaaaaaa" jerit Raka dan Rava bersamaan.


 


 


Eva tertawa ngakak, "Hahaha... biarin... biar seluruh keluarga Atmadja bersamaan di dalam. Jangan ada yang berani menolakku," ancam Eva pada semuanya, kemudian Eva berlari dari area kolam berenang.


 


 


 


Raka tertawa kecil dengan ulah Istrinya menggelengkan kepala melihat Eva berlari meninggalkan mereka. Dengan cepat Raka keluar dari kolam berenang, di ikuti oleh Jimmy dan yang lainnya.


 


 


Harsen sendiri masih memeluk Vara dan berjalan menepi, hingga tiba di tepi kolam berenang, Harsen mengangkat tubuh Vara membuatnya terduduk di atas lantai kolam.


 


Keduanya bersama-sama tertawa kecil dengan mesra.


 


"Ayo.. sini Vara tolong kak." ucap Vara dengan mengulurkan tangannya.


 


Harsen tertawa, "Tidak usah... Naiklah.. Kakak bisa sendiri" ucapnya dengan melompat ke sebelah Vara.


 


 


"Semuanyaaaa... sebelum memulai acara makan-makan, kalian bersihkan diri kalian dulu di kamar masing-masing" ucap Raka kemudian berjalan menghampiri Eva yang membawakannya handuk.


Varel buru-buru menarik lengan Casandra, mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah, sebelum kena giliran tolakan maut dari keluarganya. Raka yang melihat Eva langsung saja memeluknya, membalaskan perlakuan Eva pada dirinya.


"Kamu usil bangetttt ya." kata Raka masih memeluk Eva.


 


Eva menggeliat sambilan tertawa, "Lepaskan Aku,"


 


"Biarin aja.. biar sama-sama basah!" kata Raka langsung menggendong tubuh Istrinya berjalan ke dalam rumah.


 


 


Di sisi lain, Defan langsung di berikan Alice handuk dan keduanya saling tertawa.


 


"Seperti senjata makan tuan ini namanya." ucap Defan ke Alice.


 


"Karena itu... Kamu suka banget sih... usil sama semuanya." balas Alice.


 


"Iya... syukur kamu enggak terlibat sayangku." ucap Defan centil.


 


"Hahah... Kalau saja aku kena, urusannya bahaya. Aku enggak bisa berenang" ungkap Alice.


 


"Benarkah? apa mau Aku ajarin berenang sayang?"


 


"Tidak usah... Kan Aku punya kamu " balas Alice dengan manjanya.


 


"Auuuuhhh... Kok Abang rasanya kelepek-kelepak Adinda gemesin deh." balas Defan lagi.


 


 


"Hemmmmmmmmm..." Jimmy berdehem, "Sana masuk....Mesra amat sih." kata Jimmy mendekat.


 


"Ya elah... dari tadi Om Jimmy ganggui aja... suka banget sih buat Defan dalam masalah." Defan menatap kesal.


 


"Lahh.... situ kan yang punya ide... karena itu... harus merasakan juga apa yang kamu rencanakan."


 


 


"Iyaa... Kan Om yang minta pendapattt.. Aisss.. bisa gila deh kalau seharian sama Om, Ayo sayang... kita masuk." ajak Defan dengan menarik tangan Alice.


 


 


 


 


"Harsen... Bawa Vara kedalam... kalian harus berganti pakaian. Ini bisa membuat kalian Flue, " ucap Rere mendekati Harsen dan Vara yang masih duduk di tepi kolam.


 


 


"Baik Ma..." balas Harsen sambilan berdiri.


 


 


"Ini handuknya... Pakailah...berikan Vara juga." Rere membawa dua handuk dan memberikannya ke Harsen.


"Terima kasih Bibi" seru Vara dengan tersenyum.


 


"Sama-sama sayang.. " balas Rere kemudian berbalik, dan mendapati Leo di depannya.


 


 


"Ada apa O?" Rere mengkerutkan keningnya saat Leo menatapnya dan tersenyum.


 


"Bolehkah Aku menolak dirimu ke dalam kolam?" Leo bertanya dengan polosnya.


 


 


"Astagaaaa O.... Kamu mau main-main denganku?" Rere menarik kedua lengan bajunya bersiap menantang Leo.


 


 


Leo menjadi panik Ia pun mengangkat kedua tangannya dan menggerakannya ke Rere.


 


"Tidak sayang... Mana mungkin aku berani bermain-main denganmu. Sudah... ayo kita ikuti yang lainnya." kata Leo menyentuh lengannya dan membawanya ke arah pintu masuk.


 


 


 


***


Sore sudah berganti Malam, sebelumnya kelaurga itu memberikan waktu untuk tubuh beristirahat sejenak. Seusai semuanya bersiap, pekerja di rumah itu menyelesaikan semua hidangan yang sudah di minta Eva untuk menjamu keluarga besar, merayakan hari spesial dari anak menantunya. Banyak makanan sudah terhidang dengan apik di atas meja. Akhirnya seluruh keluarga sudah berkumpul di ruangan makan. Ada suara canda, tawa, obrolan yang menggema menjadi satu yang terdengar di ruangan tersebut.


 


 


"Ayo semuanya... Kita ambil tempat kita masing-masing. Di sini, kita berkumpul untuk merayakan hari spesial anakku Renata, bertambahnya usianya 1 tahun. Karena itulah kita di sini, sekalian untuk menjamu kalian bersama dengan anakku Vara, Harsen, Defan yang akan kembali ke New York beberapa hari lagi. Jadi.... Ada baiknya kita memberikan doa serta berkat ke pada anak-anak kita. Begitu juga dengan Rava dan Rena yang akan berbulan madu. Dan terkhusus, Rumah baru mereka, biarlah... kita titipkan doa bagi mereka yang akan memulai kehidupan mereka di sini. Akhir kata saya sampaikan... silahkan di nikmati." Raka berdiri di tengah-tengah keluarganya dengan sikap seorang Presdir yang sedang memimpin rapatnya.


 


 


Semuanya bertepuk tangan mendengar ucapan Raka dan berjalan mengambil masing-masing tempat. Renata masih bingung, karena dia tidak tahu soal rumah yang di katakan Raka barusan.


 


 


"Kenapa dengangmu sayang?" Rava mengetehaui raut wajah Renata berubah.


 


"Ouuu... tidak... Aku hanya bingung dengan ucapan Papa barusan." bisik Rena ke Rava.


 


 


"Ouuu... Akan di jelaskan nanti sayang, makanlah dulu." Rava menunjuk ke arah piring.


 


 


Dengan cepat Renata mengambil piring Rava dan mengisinya. Banyak suara yang tertawa bersamaan dengan canda dan obrolan di sela-sela meraka.


 


 


***


Seusai acara makan malam, Raka mengajak yang lainnya untuk bersantai di ruangan keluarga.


 


 


"Anggurrr... siapa yang mau?" Raka mengangkat sebotol anggur ke arah mereka.


 


 


"Paman... Defan boleh enggak?" tanya Defan meminta.


 


 


"Jangaaaan... Kau akan ketagihan, nanti saat kau sudah beranjak dewasa masuk dalam dunia pekerjaan!" ketus Rava.


 


 


"Yaaah...Benar yang di katakan oleh Rava. Jadi... buat anak yang tumbuh kesamping, kalian ambil saja minuman kaleng di meja itu" tunjuk Raka ke arah meja.


 


 


"Tumbuh kesamping?" James berpikir dan bertanya pada dirinya.


 


"Baiklah Paman... " Defan bersedih.


 


 


Raka menuangkan Anggur ke beberapa gelas suami dan istri yang ingin ikut menikmati anggur, sedangkan para anak di berikan minuman kaleng untuk menutup pesta kecil ala keluar Atmadja.


 


 


"Okeyyyy semuanya... sebelum memberikan ucapan dan doa buat anakku Renata, kita sambut dan buka dengan mengangkat minuman kita ke atas dan kita Cheers bareng," perintah Raka dengan semangatnya mengangkat gelas yang sudah berisi anggur.


 


 


Semuanya mengangkat minuman mereka ke atas dan sambilan berkata, "Cheers"


 


Cekreeeeeeekkkkk.....


 


Bu Aisah... asisten rumah tangga mengambil foto mereka sekeluarga dengan permintaan Raka sebelumnya. Tampak kebahagiaan terpancar dari raut wajah mereka, senyum yang melingkar sempurna dari sudut bibir masing-masing keluarga.


 


 


 


"Okey... sekarang berikan doa kalian untuk Renata, di mulai dari siapa dulu?" tanya Raka pada semuanya.


 


 


"Dari suaminya dulu tentunya," jawab Anna dengan tersenyum.


 


 


"Wah... benar... dari Rava dulu" Eva menimpali.


 


"Baiklah...Rava dulu Nak... Apa yang ingin kamu sampaikan ke Istrimu" balas Raka.


 


 


Rava yang duduk di samping Renata pun bersiap, Ia meletakkan gelas yang berisi anggur itu di samping meja yang ada di sebelah sofa di mana Ia mendudukkan dirinya.Semuanya menatap serius pada pasangan itu.


 


"Hemmmm... Terima kasih untuk semua keluarga yang hadir, di sini saya selaku suami sah–nya Renata," katanya dengan mengubah posisisinya menghadap ke Renata dan menyentuh punggung tangannya, "Aku suami kamu yang tampan ini mengucapkan, selamat ulang tahun buat Istriku tercinta. Doaku... semoga... Kau di berkahi dan di limpahkan kebahagiaan yang tidak pernah berkurang dalam hidupmu selama Kau memutuskan untuk hidup bersamaku. Dan semoga... apa yang menjadi keinginan kita dapat cepat di genapi. Daaaan... Maaf.. aku hanya bisa membuat acara ulang tahun yang biasa saja, karena Aku gak bisa mikir membuat acara atau momen romantis untukmu. Karena di sini juga, tempat di mana Kau, Aku dan anak-anak kita akan merangkai cerita hidup dari lembaran baru rumah tangga kita. Rumah ini Aku hadiahkan untukmu Istriku." Rava tersenyum dan berucap dengan serius dan di selingkan tingkah manjanya.


 


 


Renata kembali berkaca-kaca, Ia menahannya agar tidak menangis.


 


"Terima kasih untuk semuanya suamiku," ucap Renata dengan gemetar hingga air matanya pun jatuh karena sangkin harunya, dengan cepat ia menghapus air matanya saat tatapan dan senyuman Rava masih tampak di depan matanya. Rava langsung memeluk tubuh Istrinya dengan hangat.


 


 


"Auuuuuwww.... Mesranya" ucap Jimmy dengan bersandar di bahu Anna.


"Hemmmm... Giliran Defan dong" kata Defan enggak mau kalah.


 


"Sabarrr dong... tunggu antrian" balas Jimmy.


 


 


Kedua mata itu saling memandang kesal, akan saya lanjutkan di bab berikutnya ya...Jangan lupa dukung karya saya dalam bentuk VOTE ya kak... Agar bisa naik ranking, Like nya juga boleh, tetapi Like dan Vote berbeda ya kakak... Karena Like tidak bisa masuk dalam hitung Vote.. Saya berharap dukungan dari kakak pembaca setia saya...❤😘 Terima kasih ya.. yang selalu memberikan saya dukungan... 🙏