
Mendapatkan nilai terbaik dengan predikat cum laude yang di terima Vara sebagai prestasi yang telah dia gapai selama tiga tahun menyelesaikan pendidikan terakhirnya, mampu memberikan kebanggan tersendiri bagi Raka dan Eva. Tidak ada yang tidak membanggakan dari duo keturunan Atmadja yang di miliki oleh Raka.
Vara dan Rava sama-sama lulus dengan prestasi yang membanggakan. Tak henti-hentinya, kedua sudut bibir Vara terarik ke atas, di saat keluarga Atmadja melakukan foto bersama untuk mengabadikan momen baik dalam hidup Vara. Terlihat jelas dari Vara yang sudah berdiri berdampingan dengan Harsen, Raka dengan Eva, sedangkan Defan dengan Alice yang di ajaknya untuk melengkapi momen penting ini.
Seusai melakukan foto bersama, Raka terus menunjukkan wajah kebahagiaannya, merangkul pundak Vara sambilan tertawa, seakan menikmati suasana yang masih di penuhi oleh mahasiswa dan mahasiswi yang sudah sah mendapatkan gelar atas kerja keras mereka.
Tidak jauh dari posisi mereka berada, hanya beberapa jarak, tampak Ansel melihat momen keluarga besar Vara dengan keluarganya. Raka yang Ia kenal sebagai pembisnis hebat di masa mudanya hingga anak-anaknya dewasa, nama keluarga Atmadja masih menjadi sorotan di dunia bisnis, membuatnya langsung menyadari Raka memang benar papanya Vara pikir Ansel. Apa lagi dengan Harsen yang dia lihat sangat beruntung bisa memiliki Vara.
"Bukankah itu Tuan Raka?" tanya Papa Edward mengembalikan pandangan Ansel ke Papanya.
"Apa Papa mengenalnya?" tanya Ansel ke Papanya.
Papa Edward tertawa,"Pertanyaanmu konyol sekali Nak. Siapa yang tidak kenal dengan Raka dan keluarga besar mereka? Mereka pengusaha dan pembisnis yang sangat di segani oleh orang-orang di kalangan pengusaha manapun." Papa Edward kembali menatap keharmonisan keluarga Raka.
"Ansel mengenalnya kok Pa..." balas Ansel seadanya.
"Tidak bisakah Kau mendekati putrinya? setidaknya kalau Kau bisa menikahi putrinya kita akan semakin berkiprah dalam dunia bisnis, Nak." celetuk Papa Edward.
"Susah Pa... Pria yang di sebalah Tuan Raka adalah Calon menantu dari putrinya." balas Ansel frustasi.
"Belum jadi suaminya, kenapa Kau sudah putus asa." kata Papa Edward.
"Papa... Kakak... Ayo berfoto." ajak Zahra pada keduanya.
Sesudah selesai melakukan proses foto, Raka mengajak yang lainnya untuk berjalan menuju area parkiran, karena mereka ingin merayakan hari kebesaran Vara hanya dengan keluarga mereka. Belum sampai di parkiran, Raka tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan keluarga Ansel.
"Tuan Raka." tegur Papa Edward menghentikan langkah keluarga Atmadja.
Raka mencoba menatap wajah Edward dan berpindah pada kedua anaknya dan istrinya. Lalu Ia mencoba lagi mengingatnya.
"Tuan Edward?" Raka mencoba menebak.
Dengan cepat Papa Edward mengulurkan tangannya ke Raka.
"Benar Tuan, Saya Edward. Bukankah kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini, di hari besar putri kita?" tanya Edward dengan melirik ke Vara.
Vara memasang wajah tidak sukanya, ketika kedua manik mata Ansel menatap Vara dengan senyum tipis. Harsen sendiri juga merasa demikian, Ia merasa tidak suka, Ansel memandangi Vara terang-terangan di hadapan Harsen.
"Wah... Putri anda juga di sini? Sangat kebetulan sekali." Raka melirik ke Zahra yang tersenyum ramah.
Eva hanya tersenyum menyapa Istri dan anaknya Edward. Defan jangan di tanya, betapa tidak sukanya dia melihat Ansel yang curi-curi pandang ke Vara. Defan dari awal sudah curiga dengan gelagat aneh Ansel, dia tidak tau apa Vara itu milik siapa?
"Apa anda dan keluarga punya waktu Tuan Raka? Ada baiknya kita menggelar meja bersama, dan jika ada waktu bisa sekalian membicarakan kerja sama yang sempat saya ajukan ke Tuan Raka?" tanya Edward dengan santai.
"Wah... Benar juga, tapi kalau soal kerjaan, saya tidak bisa membicarakannya Tuan. Karena kedatangan saya ke sini untuk merayakan hari besar anak saya. Jadi, soal kerja sama minggu lalu yang anda ajukan, akan saya lihat di saat saya sudah kembali bekerja. Kalau untuk menggelar meja bersama—" Raka melirik ke arah keluarganya.
"Maaf Paman Raka, Defan tidak setuju, kita kembali ke rencana awal Paman." Defan langsung menimpali.
"Vara juga enggak Pa." ketus Vara melirik ke Raka.
"Vara, kenapa Kau seperti itu? Bukankah kita teman di satu kelas?" ini si Zahra berubah menjelma menjadi rubah betina.
"Percaya diri amat dia! Ngomong sembarangan saja, Kena rasukan setan kali dia ya?" gumam Vara dalam hatinya.
"Maaf Zahra, sepertinya kamu alah lihat orang. Bukankah selama ini, Kau terus menggangguku!" ketus Vara dengan kedua sudut matanya yang terpancar kebencian.
"Vara... kok gitu sih sama teman sendiri?" tegur Eva ke Vara.
"Tidak apa-apa Bi, Vara memang suka seperti itu." balas Zahra sok ramah.
"Pokoknya Vara gak mau Pa! Ayo kak Harsen, kita duluan." Vara menarik lengan Harsen untuk meninggalkan tempat itu. Kedua ekor mata Ansel tampak mengikuti tubuh Vara dan Harsen yang berjalan dengan mesra.
"Paman... Bibi, Defan dan Alice juga pamit duluan." Defan tersenyum dengan terpaksa dan mengajak Alice untuk berjalan meninggalkan mereka.
"Agh... Maaf Tuan Edward, sepertinya anak-anak marah kepada saya, karena janji saya membawa mereka makan hanya dengan keluarga saya saja. Dan saya tidak bisa mencampurkan pekerjaan saya jika saya sedang bersama mereka. Sekali lagi, saya minta maaf." Raka merasa tidak enakan dengan sikap anak-anak yang tidak biasanya. Mungkin saja Raka juga merasa janggal dengan situasi seperti tadi.
"Tidak perlu sungkan Tuan Raka, masih ada waktu luang untuk kita , saat di Jakarta nanti." kata Edward dengan seulas senyuman.
"Baiklah... Terima kasih Tuan." balas Raka.
Sesudah menolak dengan halus, Raka dan Eva bersama-sama meninggalkan keluarga Edward. Edward sendiri menangkap kebencian dari anak-anak Raka, membuatnya bertanya ke Zahra dan Ansel.
Defan dan Alice yang berjalan menuju arah parkiran mengobrol dengan sangat serius. Karena Alice memang sangat penasaran dengan apa yang barusan terjadi di depannya.
"Apa kalian mengenal satu sama lain?" tanya Alice ke Defan.
"Benar sayang, Ansel itu kakaknya si Zahra, teman satu kelas Vara, tapi orangnya resek. Tadi aja dia sok baik sama Vara. Apa kau lihat tadi wanita berbulu kucing tadi?"
"Berbulu kucing?" Alice mengerutkan keningnya.
"Iyaaa... si kucing garong bernama zahra tadi. Aisss.. kesal banget aku dengannya. Sok baik karena ada paman dan bibi. Apa lagi kakanya si Ansel, keduanya sama-sama singa." decak Defan.
"Gimana sih kamu Fan, Tadi katanya kucing sekarang singa. Mana yang kamu pilih?" Alice menatap Defan.
"Aku pilih kamu dong Sayang... Kekasih hati dan jiwanya abang tamvan." ujar Defan berbangga diri.
"Cis... Kau ini memang sangat lucu Sayang." gumam Alice.
"Tunggu..." Defan menghentikan langkah Alice.
"Apa?" tanya Alice bingung.
"Kau barusan panggil aku apa?" tanya Defan penasaran.
"Kau memang sangat lucu" Alice mencoba mengulang.
"Bukan... Bukan yang itu, yang paling akhir." balas Defan.
"Sayang." balas Alice menatap kedua mata Defan yang berbinar dengan kedua sudut bibir yang di tarik sempurna.
"Terima kasih kekasih hatiku, Akhirnya aku di panggil sayang oleh dirimu." Defan mengedip-ngedipkan kedua matanya.
Alice salah tingkah, kedua pipinya merona memerah karena tersipu malu.
"Kamu apaan sih?" Alice mencoba mencairkan suasana hatinya.
"Tidak usah malu, Aku senang kau bisa mengekspresikan rasa sayangmu ke Aku, Alice."
Alice hanya tersenyum menatap kedua manik mata Defan, Pria yang sangat dia hargai. Defan menjadi penyemangat setiap waktunya. Karena Defan suka sekali membuatnya ingin tertawa dengan tingkah kocak yang Defan berikan untuk Alice. Kadang Defan juga mampu menjadi penyemangatnya.
"Ayo... Jangan di pandangi terus wajahku, entar luntur loh ketampananku." ledek Defan.
"Pakai susuk Kamu ya?" ledek Alice gak mau kalah.
Defan menautkan kedua alisnya, "Ya enggaklah, gini tamvan dari lahir kok. Ya sudah ayo kita ke mobil, sebelum paman Raka dan Bibi kembali." ajak Defan ke Alice.
Keduanya berjalan menuju mobil Defan. Sedangkan suasana di mobil Harsen, tampak Vara sudah memasang wajah geram, marah dan kesalnya.
"Jangan di pikirkan Sayang, ini kan hari besar kamu. Masa karena mereka kamu jadi jelek!" ejek Harsen.
"Kakak! Vara lagi kesal banget sama si Zahra, kakak malahan ngatai Vara jelek!" Vara membuang pandangannya.
Harsen tertawa, Ia memajukan sedikit tubunya menarik hidung Vara sampai wajahanya sempurna menatap ke Harsen.
"Jangan di pikirkan, mereka mungkin mau menunjukkan ke kamu kalau paman dan papanya mereka mengenal paman Raka." Harsen mencoba menenangkan Vara.
"Benarkah kak? kenapa Vara merasakan ada sesuatu dari kedua kakak beradik yang aneh itu. Contohnya saja kakak liat sendiri tadi kan? SiZahra sok akrab banget sama Vara kak, gak biasanya gitu."
"Iya... Kakak juga merasakannya , Ya sudah... Vara tenang saja. Jangan gelisa, Kakak akan selalu di samping kamu. Jadi jangan takut, sekarang Vara gak boleh cemberut lagi karena mereka, tersenyumlah karena Kakak." Harsen memasang wajah menggemaskan.
Vara pun tersenyum karena Harsen.
"Gitu dong... baru cantik." puji Harsen.
"Tapi Kak... bagaimana soal kerja sama yang di katakan papanya Ansel?" tanya Vara penasaran.
"Dih kak Harsen gombal muluh nih." Vara salah tingkah mendapatkan senyuman manis Harsen, serasa menggoda iman saja pikir Vara.
"Apa kamu sudah memikirkan pertanyaan kakak waktu itu?" tanya Harsen tiba-tiba.
"Soal pernikahan ya Kak?" Vara mencoba menebak.
"Iya.. Apa kamu punya jawaban? soalnya kakak perhatikan hari ini kamu memakai cincin yang Kakak berikan untukmu." Harsen menarik punggung tangan Vara. Ia pun menyentuh jemarinya Vara dengan sangat lembut kedua matanya memperhatikan cincin yang melingkar di jari manis Vara.
Tiba-tiba Harsen mengangkat punggung tangan Vara dan mengecupnya dengan lembut.
"Semoga apa yang di harapkan di balik dari makna cincin ini terkabulkan, doa kakak ada di dalamnya," ujar Harsen sembari menatap dalam kedua manik mata Vara.
Vara lagi-lagi bersemu merah, pipinya terasa panas mendapatkan kecupan sederhana dari Harsen. Harsen memang sangat bisa membuat Vara terbuai dan terlena oleh kehangatan cintanya Harsen.
"Kak... " panggil Vara.
Harsen menoleh dengan masih tersenyum, "Hemmm." jawabnya menatap Vara.
"Waktu itu... Kakak bilang, kalau Vara siap, Vara boleh memakai cincin pemberian Kakak." Vara mengucapnya dengan perlahan dan menatap wajah Harsen.
"Iya benar... Kenapa? Apa Vara sudah siap?" Harsen merasa tegang dengan jawaban Vara.
Raut wajah Vara berhasil membuat Harsen takut. Karena sebenarnya yang Harsen takutkan adalah penolakan. Penolakan Vara untuk di ajak menikah. Setidakya Harsen sudah mencoba, di terima enggaknya Harsen pasrah. Walau juga berharapa lebih cepat lebih baik.
"Kalau Vara katakan Vara siap gimana?" tanya Vara menatap ke Harsen.
Harsen masih berdiam, lalu ia kembali menatap Vara.
"Jika Vara siap, Kakak akan lebih siap lagi untuk menerima dirimu menjadi pendamping hidup Kakak." Harsen menyentuh puncak kepala Vara.
"Vara benaran siap kak." Vara mempertegas lagi ucapanya.
"Kau serius?",tanya Harsen dengan kedua bola matanya yang sempurna.
"Serius Kak... inilah momen pentingnya. Karena itu, Vara memakai cincin dari kakak dan ingin bertanya ke papa dan mama. Apakah mereka mengizinkan kita menikah muda, setelah itu Vara akan tetap melanjutkan pekerjaan Vara di dunia fahsions kak. Bagaimana Kak?" tanya Vara tersenyum senang.
Tak lama suara ketukan kaca membuat Harsen dan Vara sama-sama melihat ke arah luar. Dengan perlahan Harsen menurunkan kaca mobil mereka.
"Kalian bisa berjalan duluan untuk memandu jalan?" tanya Raka.
"Kita mau ke mana Paman?" tanya Harsen.
"Ke resto yang dekat dengan Apartemen Vara dulu. Kita semua betemu di sana." ucap Raka sebelum beranjak dari depan mobil Harsen.
***
Setibanya di restoran, semuanya di layani dengan penuh hormat. Karena Raka yang memesan room vip untuk perayaan hari di mana Vara lulus dalam menyelesaikan pendidikan akhirnnya. Setidaknya hanya inilah yang bisa Raka berikan untuk putri kecilnya yang sudah tumbuh dewasa.
"Terusss bagaimana dengan Alice, bukankah kamu bakalan kuliah?" Raka menatap Alice anak mantan pacarnya untuk memulai obrolan mereka.
"Benar Paman, Alice akan segerah berkuliah, semua karena kebaikan Paman sekeluarga." kata Alice dengan sopan.
"Terusss Paman, kalau hari ini Vara lulus, dan bulan depan Alice sudah berkuliah, bukankah ada yang menggelar pernikahan di bulan selanjutnya?" Defan sengaja mengajukan pertanyaan yang tidak masuk akal.
Raka menatap Defan dengan tatapan bingung.
"Maksud kamu Defan?" tanya Eva.
"Bi... apa Bibi tidak melihat ada perbedaan di jari Vara?" bisik Defan.
"Apaan sih Lo Fan! Sirik banget Lo!" ketus Vara.
"Dih benaran kan? Kak Harsen memberikan cincin saat Vara usai sidang. Apakah itu bukan cincin untuk melamar?" Defan mencoba memperjelas.
"Kalau Vara dan Harsen sudah siap kenapa enggak? Semua keputusan ada di Vara dan Harsen." Raka menatapi Harsen dan Vara secara begantian.
"Papa?" Vara tercengang.
"Benaran... Vara kalu sudah siap untuk berumah tangga, Papa izinkan. Bukankah setelah menikah, jika Vara ingin berbisnis atau membuka usaha, masih bisa memiliki waktu setelah menikah." Raka menatap Vara yang sedikit bingung.
"Iya benar Pa... Mungkin yang di katakan Papa ada benarnya. Tapi... bagaimana pun Vara harus bisa mengembangkan bakat dari hasil belajar kamu, Nak." Eva menatap ke Vara dengan sendu.
"Iya Ma... mungkin Vara harus benar-benar memikirkannya." Vara mencoba tidak tergesa-gesa , Vara ingin menanggapi perkataan sang Mama.
"Paman....Bibi, izinkan Harsen dan Vara untuk membicarakan soal itu. Meskipun keinginan Harsen dan Vara adalah menikah muda, Harsen tidak akan egois. Harsen juga mau, Vara benar-benar memikirkannya." Harsen menimpalinya dengan tegas dan penuh hormat.
"Biklah Nak, Paman percaya dengan kamu. Kalian masih memiliki waktu yang banyak untuk memutuskannya." Raka kagum dengan keberanian Harsen.
Tak lama makanan pun terhidang di atas meja mereka, dengan perasaan bahagia Vara melahap menu yang di persiapkan Raka dan Eva untuk pesta perayaan hari besarnya. Mungkin saja Vara masih bimbang untuk memtuskan antara karir dan berumah tangga. Mungkin nanti di saat yang tepat, Vara akan memberikan jawaban pasti ke Harsen.
.
.
Nah sudah 2000 kata, tolong di bantu VOTE dan Like nya kakak semua. Jangan jadi silent reader ya? Dan jika ada salah kata, kukurangan atau kelebihan akan segerah saya perbaiki. VOTE kalian berarti buat saya.... Terima kasih 🤩🤩🥰