
Malam panas sudah di lewati Renata dan Rava, yang menyatu dengan kenikmatan, aungan maupun embekan yang di sarankan oleh keluarga mereka yang sudah lebih dulu paham akan itu. Malam pertama berkesan, terekam dalam bayangan dan ingatan Rava pagi itu, terbangun dengan masih memeluk Renata yang tertidur nyenyak di sampingnya.
Rava memandangi setiap sudut wajah dari wanita yang barusan di persuntingnya sebagai Istrinya. Kedua sudut bibirnya melingkar sempurna seraya menyentuh lembut kulit pipi Renata.
"Teman hidup dan Teman Tidur. Pagi ini, aku merasakan hidupku hampir sempurna." gumam Rava masih memandangi Renata.
Tak lama Renata bergerak, Rava terus memandangi wajah sang Istri yang mulai mengerjapkan kedua matanya. Renata melentangkan kedua tangannya untuk meregangkan otot tangannya, wajah Rava pun menjadi sasaran tangan Renata.
"Awwwww." Rava bersuara.
Renata terhenti dan langsung menoleh ke arah Rava, dengan cepat Ia beranjak dan menyentuh pipi Rava.
"Apa Kau baik-baik saja?" tanya Renata panik.
"Sangat baik, terima kasih untuk sapaan di pagi pertama kita, Sangat nikmat rasanya." sindir Rava.
Renata menunduk, "Maaf... Aku tidak sengaja. Aku pikir, Aku di kamarku. Aku lupa, kalau Aku sudah menikah dan ada dirimu di sampingku." ucap Renata tanpa berani menatap Rava.
Rava yang melihat Renata merasa bersalah pun menarik tubuh Renata dan menindihnya.
"Apakah harus kita ulangi tadi malam? selagi Kau masih seperti ini?" kata Rava dengan mata menggoda.
"Lagi? Kenapa Kau nafsu sekali? barusan tadi malam, malahan sakitnya juga belum hilang. Lihatlah noda darah ada di mana-mana. Aku tidak mau," kata Renata menolak dan ingin beranjak.
Dengan cepat Rava menahannya dan semakin menindih tubuh Renata, "Sayang....Bukankah Kau tidak mengingat yang Kau berikan untukku?"
Renata memutar kedua bola matanya dan mencoba mengingat apa yang di maksud Rava.
"Apaan maksud kamu?" tanya Renata.
Rava menarik nafasnya, "Hah.. Ini efek dari Vitamin yang kau berikan waktu itu untukku. Jadi... Inilah efeknya. Kau harus menerimanya bukan?"
Renata tertawa, "Kau memang sangat pintar. Pintar mencari-cari alasan." celetuk Renata.
Rava tersenyum dan langsung saja mencium tengkuk leher Renata dan menghujaminya dengan ciuman nakal dari Rava. Rava berniat untuk mengulang malam panas mereka, niatannya yang sudah meletup-letup dan hampir terlaksanakan itu pun terhenti saat gangguan pun datang.
"Kak Ravaaaa." teriak Defan dari luar dengan menggedor pintu.
Rava tidak perduli, Ia melanjutkan aksinya. Renata merasa panik sendiri, karena takut ketahuan oleh Defan.
"Sayang... Ada Defan di luar." ucap Renata.
"Tidak masalah....Biarkan saja." ucap Rava, semakin menggebu-gebu.
Renata yang masih merasakan perihnya pun tetap mengikuti hasrat dan nafsu sang suami. Lagi-lagi terdengar suara Defan.
"Kak Ravaaa... Oh Kak Ravaaaa." jerit Defan lagi.
"Astaga... Itu Defan masih ada di depan pintu sayang. Apa Kau tidak takut ketahuan?" tanya Renata.
Rava tidak berhenti dengan aktivitasnya, "Kenapa harus malu? kita kan pengantin baru dan Aku tidak mau kalah dari Defan. Dia terus menggangguku dari tadi malam, jadi....jangan dengarkan dia. Dia akan pergi sendiri jika kita tidak bersuara." kata Rava lagi.
"Baiklah... Kau ternyata Pria yang bernafsu tinggi." ujar Renata.
"Ini berkat Vitamin yang Kau berikan untukku." ucap Rava lagi.
*Situasi di depan pintu.
"Apa Aku sudah gila? Agghhh... baiklah... Kalian berdua masih ingin berduaan di dalam sehingga mengabaikan suara emasku. Baiklah...Baiklaaaaahhhhh!" teriak Defan ke arah pintu.
Defan memilih untuk turun dan menghampiri keluarga yang sudah berkumpul di meja makan. Dengan wajah murung , Defan tiba di depan keluarga besar.
"Mana Rava dan Renata, Fan?" tanya Eva seraya meletakkan makanan yang ada di bawanya.
"Entahlah... Bi. Suara Emas Defan terbuang sia-sia. Berkali-kali Defan teriak, berkali-kali juga Defan menggedor pintu kamar, tidak juga ada jawaban bahkan pintu juga tidak terbuka." tutur Defan.
"Lah... Kan masih manis-manisnya merasakan yang namanya pengantin baru. Sudahlah... Biarkan saja mereka dulu. Biar kita duluan saja, memulai sarapan pagi kita." ucap Raka dengan tersenyum kecil.
"Benar yang di katakan Pak Raka, siapa tahu kan...karena banyaknya gangguan di kamar mereka, membuat mereka tidak puas. Mungkin saja kan ronde kedua, kek sedang bermain tinju itu loh." sambung Jimmy.
"Kelihatan banget berpengalaman." Frans menimpali dengan tatapan sinis ke Jimmy.
"Bukankah Kau seperti itu juga?" balas Delia tiba-tiba.
Jimmy di buat tertawa, "Hahaha... Kau itu tidak tahu malu Ferguso!!!" kata Jimmy dengan puas.
"Hemmmm....Kenapa mesti malu. Itu hal lumrah, buat pasangan yang barusan bersatu dalam pernikahan dan kata gaulnya NORMAL. You paham Normal?" tanyanya ke Jimmy.
"Itu bukan Normal tapi NAFSU!!!." jelas Jimmy.
"STOPPPP!!!" teriak Vara.
Seluruhnya menatap ke Vara, Raka sendiri kaget dengan suara melingking anaknya yang menggelegar di ruangan makan.
"Kenapa Vara?" tanya Frans kaget.
Vara salah tingkah menatap ke semua mata yang tertuju pada dirinya, dengan menyentuh kepalanya sejenak, Ia kemudian berkata, "Hah... Paman-pamanku tersayang, tolong jangan bahas itu lagi, di sini ada Vara, Defan, James dan Kak Harsen. Kita kan belum menikah, dan belum pantas untuk mendengarkan pembicaraan kalian," ucap Vara perlahan, lalu matanya berpindah ke Raka, "Maafin Vara , Papa." Vara sedikit menganggukan kepalanya.
"Tidak masalah sayang... Papa mengerti maksud kamu..Baiklah semuanya, silahkan di santap sarapan pagi kalian, buat Rava dan Renata , biarlah mereka menyusul kita." ucap Raka memulai acara makan.
Dengan cepat para Istri membantu para suami mengambil makanan mereka. Saling berbincang dengan hangat dan dengan penuh kemesraan. Vara menyentuh dadanya dan menarik nafasnya.
"Syukurlah... Kalau sudah berkumpul seperti ini, anak-anak seperti ku , kudu sabar dengan apa yang mereka perbincangkan." ucap Vara yang juga tidak sengaja menatap ke Harsen.
Harsen tersenyum dan menberikan kode untuk makan. Vara pun membalas senyuman Harsen, lalu mengambil sendok dan garpu untuk menyantap makanannya. Suara perbincangan dari keluarga terdengar sangat jelas, saat Rava dan Renata barusan keluar dari pintu kamar mereka.
"Sepertinya ada suara Mamiku." kata Renata.
"Ayo kita turun saja, bair kita periksa langsung." ucap Rava menarik tanggan Renata.
Rava yang sangat bersemangat pagi itu, membawa Renata turun ke bawah, Renata yang sudah sangat cantik dengan wajah berseri, rambut setengah kering sampai di bawah dengan menyapa seluruhnya. Betapa senangnya Renata dengan cepat memeluk Casandra dan juga Varel.
"Selamat pagi semua, Mama, Papa, Mami mertua, Papi mertua, semua penghuni di sini, Selamat pagi." sapa Rava pada mereka, di ikuti oleh Renata yang juga menyapa keluarga besar mereka itu.
Jimmy yang menatapi Renata berkata, "Benar dugaanku." gumam Jimmy dengan melihat rambut Renata setengah kering.
Bersambung.
....
Tekan LIke dan jangan lupa untuk VOTE. Terima Kasih 🙏 Jika ada Typo akan segerah di perbaiki.