
Keesokan harinya, Eva yang sudah bersiap untuk mengantarkan kepulangan Frans dan Delia, mempersiapkan sarapan pagi buat kedua orang yang di sayanginya dan juga anggota keluarga lainnya. Pagi itu Eva sudah merepotkan dirinya bersamaan dengan Kiky, mempersiapkan makanan untuk di meja makan maupun untuk bekal Frans dan Delia selama di penerbangan.
"Ini Bu Eva... sudah matang rotinya." kata Kiky menyerahkan roti yang di open.
"Baiklah Ky , tolong kamu packing yang rapi, karena mau di bawa Frans selama di penerbangan." perintah Eva masih dengan mengaduk masakannya.
"Morning Mbaku tercinta" sapa Frans dari arah belakang, mengagetkan
"Hah....Kamu sudah bangun?" Eva mendekati Frans yang masih muka bantal duduk di kursi dapur.
"Iya sudah bangun dong Mba... ini kan Frans yang berbicara Mba, bukan hantunya Frans," jawabnya setengah sedih.
"Hah...Benar juga... salah nanya dong." ujar Eva duduk di dekat Frans.
"Enggak sih Mba... cuma salah kata." Frans tersenyum ke arah Eva.
"Kenapa kamu sudah bangun secepat ini? Masih ada waktu 5 jam lagi loh Frans."
"Entahlah Mba.... Frans tiba-tiba ingin melihat Mba saja. Rasanya Frans akan kembali merindukan kalian dari jauh, apakah Frans harus menetap saja di Jakarta Mba?" Frans menatap serius menunggu jawaban Eva.
"Buat apaaaaa! Kau di sana sudah memiliki usaha yang maju. Apa kau ingin menyaingi abangmu di sini?" Raka tiba-tiba datang dari arah belakang menuju dapur.
Eva dan Frans sama-sama melihat kedatangan Raka, Eva langsung berdiri mendekati sang suami.
"Kenapa kamu juga sudah bangun jam segini sayang?" tanya Eva menatap wajah Raka yang masih juga muka bantal.
Raka tersenyum, "Aku haus sayang..."
"Duduklah dulu," kata Eva dengan menarik tangan Raka duduk di tempat Eva sebelumnya, lalu mengambil air minum untuknya.
Raka menatap ke Frans, "Bagaimana? Apa tanggapanmu soal perkataan abang barusan?" tanyanya ke Frans.
Frans mengedip-ngedipkan matanya dan menggaruk kepalanya, "Mana mungkin Frans mau menyaingi orang yang paling Frans sayangi. Abang jangan Fitnah kenapa, rasanya hati dan jantung Frans seperti mau keluar dari tempatnya." ujar Frans.
"Ini Sayang... Minumlah" Eva meletakkan satu gelas air mineral di depan Raka, "Dan ini untukmu, minum dahulu." kata Eva memberikannya ke Frans.
"Terima kasih sayang." balas Raka dengan meneguk air minumnya.
"Terima kasih Mba" timpal Frans.
"Ya sudah... kalian bicaralah, Mba membuat bekal untuk Delia dan kamu selama di penerbangan Frans, kalian juga harus sarapan pagi dulu baru kita akan berangkat ke Bandara." kata Eva dengan melanjutkan acara memasaknya.
"Terima kasih Mba ku tersayang" Frans memberikan senyumannya ke Eva.
Raka melototkan matanya saat Frans tersenyum ke Eva, Frans yang tersadar di tatap Raka langsung saja memudarkan senyumannya.
"Terus... kenapa kau tiba-tiba mau menetap di Jakarta?" tanya Raka lagi.
"Kesepian Bang... Kalau di sini kan ramai. Frans hanya bersama Delia, meskipun banyak kerabat dan teman serta tetangga, berbeda dengan di sini, di sini ada bang Raka yang galaknya kelewatan dari guk guk di depan rumah, ada si Marimar, ada si kunti, ada mba Eva, bang Leo dan Mba Rere. Bukankah di sini lebih menyenangkan?" tanya Frans dengan kedua mata sendu.
Raka mencoba berpikir sejenak, kedua bola matanya berputar bersamaan, lalu ia menoleh ke Frans. "Coba Kau ulangi soal galaknya kelewatan dari guk guk di depan rumah. Bisa kah Kau ulangi sekali lagi Frans?"
Eva dan Kiki yang mendengar kedunya menjadi tersenyum dan menggelengkan kepala mereka berdua.
"Agh... Salah ngomong bang. Frans gak bermaksud, jadi lari ceritanya nih" gumam Frans dengan pelan.
"Hah.... Kau ini, terus... Kau ingin pindah ke Jakarta? Apa Kau serius?"
Frans mengangguk cepat, "Dua rius malahan bang... Frans ingin menghabiskan masa tua bersama keluarga terdekat bang. Malahan Rava akan tinggal di Jakarta bukan? Defan akan mengikuti Rava bang, yakinlah." Frans berkata dengan panik.
"Baiklah... kita akan bicarakan semuanya nanti. Kau urus dululah segala urusan perusahaan di sana, jika memungkinkan, Kau uruslah perusahaan Nenek yang di Jakarta, atau perusahaan Papa yang ada di Jakarta. Bukankah semuanya bisa berjalan dengan baik, jika kita menjadi pemantau saja." kata Raka masih menatap kedua mata Frans.
Frans merasa semangat, "Baiklah Bang... Kalau begitu Frans siap-siap dulu." balas Frans dengan beranjak berdiri lalu Ia memeluk tubuh Raka dari belakang dengan sangat erat.
Raka memukul tangan Frans yang melingkar di perutnya, "Lepaskan! ada maumu saja memberikan pujian yang berlebihan. Lepaskaaaaaaaan!" ketusnya ke Frans.
"Hahaha... Baiklah Bang... Frans ke kamar dulu." ucapnya girang dan berjalan menuju ke atas.
Kiki sendiri menahan tawanya sedari tadi lalu ia berkata, "Bu...dari dulu pak Frans gak pernah berubah ya." katanya ke Eva.
Raka menoleh ke Kiky, "Begitulah sepupu aneh Ki, cukup bersabar saja. Umur boleh bertambah, tabiat susah di rubah." celetuk Raka.
"Sayang... Sana mandilah. Bangunkan anak-anak juga, kita akan sarapan bareng sebelum mengantarkan Frans." imbuh Eva.
"Baiklah Istriku, Aku ke atas." katanya sambilan beranjak berdiri dan berljalan.
***
Seusai sarapan pagi, seluruhnya bersiap mengantarkan Frans dan Delia. Tampak Defan yang tidak sedih sedikitpun, saat membantu Delia mengambil koper dari kamar mereka.
"Mama baik-baik di sana, Defan akan selalu merindukan Mama." kata Defan sebelum keluar kamarnya.
"Iya sayang....Kamu juga baik-baik di manapun kamu berada. Capai semua yang menjadi keinginan kamu, Mama mendukung kamu sayang." balas Delia dengan lembut.
"Terima kasih Mama ku sayang." Defan memeluk tubuh Delia.
"Apa kau tidak mau mengatakan sesuatu pada Papamu?" Frans datang dari kamar mandi.
"Agh... Apa Papa juga berharap pelukan Defan?" tanya Defan dengan acuhnya.
"Papa mana yang enggak mau di peluk sama anaknya sendiri. Pertanyaanmu membuat perut Papa mulas Fan." kata Frans dengan berjalan mendekatinya.
Defan pun memeluk tubuh sang Papa. "Jaga Mama ya Pa. Jangan pelit-pelit kalau mengirimkan jajan bulanan untuk Defan. Terima kasih sudah mau mendukung Defan selama ini. Jangan lupa juga .. selalu mendoakan anakmu yang tampannya gak kelewatan, tepat dan pas." ujarnya dengan menepuk bahu Frans pelan.
"Kalau kau kelewatan coba lihat Mapsmu lagi, biar gak jalan-jalan. Kau ini ada-ada saja, apapun yang Kau lakukan sekarang akan Papa dukung. Di sini terlalu banyak orang yang membelamu, walaupun semua yang mereka katakan ada benarnya. Hah...Jadilah baik dan membanggakan Fan, jangan takut soal uang jajanmu, semuanya aman di tangan Mama Kamu. Ya sudalah... kita berangkat, sebelum ketinggalan" ujar Frans yang membalas pelukan sang anak.
Ketiganya pun tersneyum bersama dan berjalan turun menuju pintu keluar, tampak Rava, Renata, Vara, Harsen, Raka dan Eva yang sudah menunggu di mobil mereka masing-masing.
"Masuklah ke Mobilku" kata Raka pada Frans.
"Baiklah Bang" balas Frans langsung menggenggam Delia membawanya masuk ke mobil.
"Fan... sama kakak saja. Masih muat di sini," ujar Rava menunjuk kursi penumpang.
"Agh... Aku akan menjadi orang ketiga di antara kedua pasangan di mobil ini." gumam Defan dengan menatap Vara.
"Masuklah!!!! Jangan membuang waktu!" ketus Vara.
"Yayaya... Aku satu mobil dengan si nenek lampir" kata Defan dengan memilih duduk di samping Harsen.
"Let's Goooo pir..." ucap Defan.
Plakkkkkkk....
Kedua mobil pun melaju meninggalkan area kediaman Raka menuju bandara. Seperti biasanya, kedua mobil itu tidak ada yang bisa diam, membuat kuping menjadi mendengung.
Raka selalu saja berbeda pendapat dengan Frans. Membuat ketenangan di mobil menjadi rusak karena kegaduan antara Raka dan Frans. Di mobil Rava, Vara dan Rava beradu pendapat dengan Defan. Terjadilah keributan dan perperangan sebelum Negara Api menyerang.
Bersambung.
......
Jika ada salah kata dan kelebihan huruf akan di perbaiki segerah. Terima kasih 😍