
Ayo tolong di bantu VOTE dan Like juga ya. Terima kasih. ^^
.
.
.
Beberapa bulan kemudian, usai jenny di wisuda akhirnya Jenny memutuskan untuk menetap di Jakarta bersama kedua orang tuanya, mencari dan melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan di Jakarta sambil menikmati waktu santainya.
Meskipun Jenny terlahir di keluarga yang cukup mampu, dia tidak di ajarkan untuk bergantung dengan orang lain, meskipun papanya terus memaksa, untuk menetap di perusahaan yang menjadi tempat pencarian nafkah sang papa dalam bidang perdagangan yang lumayan maju untuk dia kelola. Jenny menolaknya, karena dia memang ingin mandiri. Berusaha dengan kemampuan yang sudah dia miliki.
Berbeda dengan James, dia mengikuti jejak sang papa, bekerja di perusahaan Raka, dengan jalur murni, tanpa ada yang tau kalau James melamar di bagian manager bisnis. Ya, mungkin kepintaran Jmmy dan Anna memang menurun ke James, hingga di mendapakatkan nilai yang unggul.
Setelah bekerja di perusahaan Atmadja group, James sangat siap untuk melamar Jenny, kalau saja Jenny siap. Karena saat pembicaraan sebelumnya, Jenny masih belum siap, begitu pun juga dengan James, mereka tidak ingin cepat-cepat melangsungkan pernikahan, karena mereka masih ingin berkarir di umur mereka yang masih terbilang muda.
Akhirnya, semua berjalan masing-masing dengan sesuai pilihan mereka berdua. Di sinilah James dan Jenny, menjadi lebih dewasa, tidak egois karena mereka saling menyemangati dan menguatkan satu sama lain.
***
Kediaman Rava dan Renata.
Setelah kehamilan Renata menginjak usia tujuh bulanan, Rava hanya menggelar syukuran di rumahnya dengan keluarganya saja. Rava mengundang di hari weekend, agar semuanya bisa dapat hadir dan bersama-sama merasakan kebahagiaan Rava dan Renata. Kali ini tidak ada Defan, itu yang membuat Renata sebenarnya sedikit bersedih.
Karena memang, adanya Defan, waktu Renata terasa sangat singkat, meskipun hanya di rumah. Setelah melewati hari-hari yang terasa singkat itu, Renata kini sangat berbahagia, kehamilannya sudah terlihat besar, begitu pula tubuh Renata, meskipun dia berisi, kecantikan Renata semakin terpancar.
Renata dan Rava, memilih untuk merahasiakan jenis kelamin anak mereka. Karena dari USG hasilnya sangatlah memuaskan untuk Rava dan Renata, yang sebenarnya tidak mematok jenis kelamin sang anak.
“Kamu di kamar saja sayang, biar kami Mama-mama yang menyusun rangkaian acara nanti.” kata Eva ke Renata yang turut menyibukkan dirinya di ruangan dapur.
“Iya, nanti kelelahan, di kamar saja temani Rava. Rava saja masih tidur.” gumam Casandra.
“Astaga, Mama, Mami, makanan di sini semua sangat lezat, rasanya membuat Renata ingin tetap di sini.” kata Renata dengan mengambil beberapa makanan yang sudah masak.
“Tidak baik seperti itu nak. Nanti Kau juga akan makan semuanya. Toh kami di sini, memasak ini memang untuk Kau dan si cucu yang ada di kandunganmu, gak baik curi-curi makanan. Sudah sana, nanti kalau sudah mau acara baru turun, sekarang masih ada waktu tidurlah.” perintah Casandra.
“Baik deh, Mamiku, dan Mamaku. Renata ke atas dulu ya. Hemmm.. coba ada Defan ya, mungkin dia bisa membantu Mami dan Mama.” gumam Renata.
“Lah, semua Bibimu sebentar lagi akan datang.” lagi-lagi Casandra menjawab perkataan Renata.
“Ouww… Syukurlah.” balas Renata sambil berjalan meninggalkan Casandara dan juga Eva, yang tersenyum melihat Renata berjalan terasa sangat berat. Keduanya, saling memandang dan tersenyum.
“Jadi keingat ya Va, saat-saat hamil.” gumam Casandra.
“Benar San, banyak yang kita lewati. Hal yang belum pernah kita rasakan menjadi hal baru untuk kita.” kata Eva mengenang.
“Hem… dan sekarang, bakalan punya cucu. Tidak terasa, anak-anak juga akan menjadi orang tua.”
“Iya San. Semoga, umur kita panjang. Untuk menyaksikan, cucu-cucu kita semua.” balas Eva lagi.
Keduanya sama-sama tertawa , membicarakan masa muda mereka. Begitu pula dengan Raka dan Varel, memilih bermain game di ruangan khusus di mana Rava suka bermain game. Gila saja, bapak-bapak ini terbilang sangat modern. Gak ketinggalan jaman, meskipun sudah tua. Gak kayak Raka dulu, punya ponsel mahal, main Instagram pun bingung.
*
Renata mendadak usil, dia berjalan menuju ranjangnya, dan berangsur perlahan menaiki atas ranjang. Dengan cepat dia menempelkan wajahnya ke arah bagian ketek Rava. Refleks, si Rava yang masih tertidur itu, mengerjapkan kedua matanya karena geli.
“Sayang.. duh.. Aku masih sangat mengantuk.” ucap Rava dengan berat dan malas.
“Tidurlah, Aku hanya ingin bermanjaan di bagian itu.” pinta Renata dengan kedua mata yang memohon.
“Tapi aku belum mandi loh, “
“Justru karena belum mandi loh sayang, biarkan Aku di situ. Aku sangat nyaman bila di dekat bagian itu.” kata Renata lagi.
Rava yang masih menutup kedua matanya pun, membuka sekilas, menatap wajah sang Istri yang penuh harap memandang ke wajahnya.
“Baiklah-baiklah. Kemarikan wajahmu.” Rava mengangkat tangannya, dan Renata dengan bersemangat, menempelkan wajahnya ke arah lengan Rava sambil berbaring di sebelah Rava.
“Apa sudah bisa seperti ini?” tanya Rava seraya membuka matanya dan mengecup pipi Renata dengan hangat.
“Bisa, ini sudah lebih cukup. Mari kita tidur,” ajak Renata.
Keduanya pun mencoba untuk tertidur lagi, sebelum acara berlangsung, untuk jamuan makan siang sekaligus makan malam yang akan di gelar di rumah mereka. Sebagai bentuk syukuran yang baik,meminta doa dan berkat untuk Renata dan anak yang di dalam kandungannya. Tak terasa, sebentar lagi, Renata akan melahirkan sang bayi yang sudah di tunggu-tunggu banyak orang.
**
Jam menunjukkan pukal 13:00 waktu setempat. Ini dia , momen keluarga yang tidak pernah putus dari seluruh orang tua mereka,masih tetap terjaga hingga anak-anak mereka dewasa. Sekarang formasi mereka mulai bertambah, meskipun semua tidak bisa hadir, tetapi Raka sudah mengabarkan ke keluarga mereka yang di luar negeri. dan mereka hanya menitip doa bagi sang calon cucu dan sang menantu.
Kehadiran Varel, Casandra, Eva, Raka, James, Jenny, Jimmy, Anna, Rere dan Leo, Vara dan Harsen, menjadi pelengkap bagi Rava dan Renata, walaupun masih berasa kurang tidak adanya keluarga Frans.
Setelah acara di buka dengan doa bersama, kata penyemangat dan doa dari mereka di berikan terdengar sangat indah untuk Renata dan Rava yang mereka jadikan sebagai kekuatan untuk menyambut kelahiran bayi pertama mereka. Begitu pula dengan Vara dan Harsen yang diberikan penyemangat untuk mereka yang masih terus mencoba.
“Ayo, sekarang waktunya makan.” ujar Raka sebagai orang yang paling di anggap tua di tengah-tengah mereka.
Dengan cepat, semuanya bubar dan menuju ke meja makan, menikmati sajian makanan yang di masak dan di sajikan, oleh seluruh mama-mama mereka. Tidak ada dari mereka yang tidak bahagia, senyum dan tawa pun terlihat dan terdengar di ruangan makan.
“Maaf Pak Rava, ada tamu.” ucap Mba Cika ke Rava.
“Siapa Mba?” tanya Rava sekilas.
“Ini Pak.” tunjuk Mba Cika ke arah belakangnya.
Seluruhnya menoleh kearah tangan Mba Cika, tampak tamu yang tidak di undang itu berjalan menuju meja makan. Siapakah dia? Ayo tolong di bantu VOTE dan Like juga ya. Terima kasih. ^^