
Rava berjalan duluan dengan di ikuti Renata yang berada di belakangnya. Saat barusan keluar dari pintu, tampak Leo dan juga Rere yang barusan tiba berpapasan dengan Rava juga Renata.
"Hah... Hallo Paman Leo." sapa Rava dengan cepat memeluk tubuh Leo yang tersenyum melihat Rava di depannya.
"Selamat ya Nak. Akhirnya... Rava dan juga Renata bisa bersama hingga ke pelaminan." ucap Leo dengan menepuk pelan punggung Rava.
"Terima Kasih Paman." kata Rava menjawab.
Sedangkan Renata, dia dengan cepat memeluk Rere juga menyapa Rere dengan bersemangat.
"Bibi Rere." ucap Renata dengan manja sambilan memeluk Rere.
"Akhirnya... Cinta Renata terbalas juga sayang. Bibi yakin... Renata berjodoh dengan Rava ." kata Rere masih dengan memeluk hangat tubuh Renata.
"Iya Bi.... Ternyata tidak salah alamat ya Bi?" tanya Renata ke Rere.
“Benar… Cinta akan berlabu dengan tuannya,” sambung Rere.
Rere tersenyum, "Bibi bisa aja. Terima kasih Bi," ucap Renata dengan ramahnya.
"Sama-sama sayang." balas Renata dengan menyentuh rambut Renata.
"Bagaiman yang lainnya? Apa semuanya sehat-sehat?" tanya Leo ke Rava.
"Semuanya sangat sehat Paman, masuklah Paman, Bibi. Rava dan Renata mau mengurus pernikahan. Harsen sudah menunggu di dalam bersama yang lainnya.” kata Rava dengan sopan.
“Baiklah Nak,” jawab Leo.
“Paman, Bibi, Kita berangkat dulu ya.” kata Renata izin mewakili Rava.
“Baik sayang… Kalian berdua hati-hati ya, jangan ngebut-ngebut.” kata Rere.
“Baik Bi… “ balas keduanya.
Rava menarik tangan Renata dengan lembut, berjalan bersama menuju parkiran. Sedangkan Leo dan Rere langsung saja masuk ke dalam rumah Raka untuk membicarakan soal hubungan Harsen dan Vara, yang membuat kedua orang tua Harsen tidak enak hati.
Sesampainya di mobil, langsung saja Rava melajukan mobilnya menuju Bridal tempat di mana Eva mendesain gaun pengantinnya dengan permintaan sang Nenek dari suaminya. Kali ini Renata mengikuti apapun yang di mau oleh Rava, karena pilihan Rava tentunya sangat baik, pikir Renata.
***
Kediaman Raka Atmadja.
Leo dan Rere di antarkan oleh Kiki langsung ke ruangan keluarga. Dengan bersemangat Eva dan Raka yang melihat kedatangan keduanya di sambut baik oleh Raka dan Eva, wajah Rere di buat merasa sungkan melihat anaknya Harsen yang duduk diam di samping Vara.
“Selamat datang Mba.” sapa Eva dengan memeluk tubuh Rere dan memberikan ciuman di kedua pipinya.
“Duh.. Maaf kami terlambat nih,” kata Rere dengan membalas pelukan dan ciuman Eva.
“Halo Pak.” kata Leo ingin memeluk Raka.
“Tidak usah di peluk-peluk segala, O. Kita kan tiap hari ketemu di perusahaan,” cetus Raka dengan menatap Leo.
Leo menggaruk kepalanya, “Benar juga ya Pak,. Maaf saya suka lupa,” balas Leo dengan malu.
“Sudah duduklah dulu,” kata Eva mempersilahkan.
“Hallo Bi,” sapa Vara seraya berjalan mendekati Rere dengan tangan terbuka.
“Hallo Vara,” jawab Rere dengan membalas pelukan dan mencium Vara.
“Wah… ini namanya Calon mantu dan Calon mertua ini,” celetuk si Defan dengan tertawa kecil.
“Sssttt… Defan.” Raka menatap ke Defan.
“Heh iya Paman,” balas Defan takut.
Vara kemudian berpindah menyapa Leo dan memberikan salam. Seusai itu Harsen mendekati kedua orang tuanya dan memberikan salam serta pelukan kerinduan yang mendalam, hanya saja Harsen tidak pernah menampakkan soal itu. Seusai semuanya saling sapa, terjadilah keheningan di antara semuanya. Kenapa begitu? Leo dan Rere di buat kaget dengan hubungan anaknya dengan anak atasannya, jadilah keduanya merasa tidak enakan dan juga merasa malu.
Raka membuka suaranya, “Hemmmm… Kenapa kalian semua jadi diam? apa kita sedang main tebak-tebakan?” tanya si Raka.
“Tebak-tebakan?” gumam Defan seraya berpikir.
Leo salah tingkah, “Hah… Iya ini Pak Raka, gimana ya? kok Saya dan Rere merasa bersalah dengan Pak Raka dan nyonya Eva.” sambung si Leo gugup.
“Apa kalian melakukan kesalahan?” tanya Eva.
“Bukankah.. Harsen yang melakukan kesalahan?” tanya Rere.
Harsen melototkan matanya, “Kok Harsen sih Ma?” jawab Harsen dengan lembut.
“Terus siapa? Defan?” sambung Vara.
“Astagaaa…. kenapa aku lagi sih yang di salahkan. Aku salah apa sih sama kalian? Kak Ravaaaa,” Defan merengek.
“Sudahlah… Begitu saja Kau menangis. Kau itu sama seperti Papamu, membuat Paman gila kalau ada dia.” kata Raka dengan menunjuk ke Defan.
“Benar Paman… Papaku memang gila! Kalau dia enggak gila, mungkin Defan waras ya Paman?”
Vara melirik tajam ke Defan, “Kau ini anak macam apa sih! Papamu di katai, Kau malahan ikut mengatainya! Dasar Aneh, Paman Frans itu sangat baik dan humoris, seharusnya kau bersyukur dengan adanya Papamu yang bisa menghiburmu, bukan kau katai seperti itu!” Vara memasang wajah marah.
“Kenapa Kau malahan seperti anaknya, Kenapa kau yang marah.” balas Defan, “Lihat Bi Re, calon mantu Bibi ini sangatlah cerewet. Apa Bibi tidak takut, Kak Harsen terus di marahi olehnya?” adu Defan ke Rere.
Kali ini Eva tidak tinggal diam, “Defan… Enggak baik begitu ya. Vara itu anak yang baik, kalau saja salah wajar dia marah ke kamu. Kamu sama Paman mu sama aja! Papamu Frans itu sangat baik, hanya saja Pamanmu ini sangat dingin ke Papamu, karena itu dia manja untuk mendapatkan perhatian Pamanmu ini.” jelas si Eva.
“Kok jadi Aku sih yang di salahkan?” Raka menunjuk dirinya.
“Kan kamu yang bilang seperti itu tadinya, sudahlah… kenapa jadi bertengkar sih? malu sama calon besan,” celetuk Eva.
Leo, Rere dan Harsen, di buat bingung dengan keluarga itu. Jadilah keluarga kecil itu menyimak setiap pembicaraan mereka.
“Ya sudahlah.. Aku yang salah. Baiklah… kenapa? apa yang mau di bicarakan?” tanya Raka.
“Siapa yang bilang kelewatan? Pakai Google maps kan?” jawab si Raka.
Semuanya menoleh ke Raka, masih sempat-sempatnya si Raka itu bercanda.
“Apaan sih kamu sayang, kamu mau minta di getok ya? kok jadi enggak nyambung begitu? Ini serius loh.” bisik Eva ke Raka.
“Oh ya,,, maaf semuanya, kalau ini serius. Siapa yang kelewatan tadi? Harsen ya? coba Harsen, kamu mundur dulu, supaya enggak kelewatan.” kata Raka ke Harsen.
Vara menepuk keningnya, kenapa Papanya jadi letoy begitu pikirnya.
“Papa,” panggil Eva.
“Ouuu salah lagi dong ya?” jawabnya kaku.
“Iya sayang.. benaran dong… kenapa kamu jadinya aneh sih?” jawab Eva menatap Raka.
Raka terdiam, Vara menatapi wajah Papanya yang mulai memerah. Defan, Eva, Harsen, Leo dan Rere, jadi ikut tegang dengan diamnya Raka. Kegugupan Raka tampak pada kedua matanya yang ikut memerah, tak lama… kedua mata itu berkaca-kaca. Raka menarik nafasnya sejenak,kemudian menatap serius pada keluarga kecil itu.
“Hemmmm… Saya pribadi, jujur di sini tidak ada yang kelewatan. Leo dan juga Rere, Saya tidak melarang sedikitpun putri saya untuk berhubungan dengan putra kalian Harsen. Karena apa? Saya yakin, Harsen memang Pria yang tepat buat Vara, yang di percaya oleh Nenek saya Lusi, anak saya Rava, bahkan putri saya Vara bisa jatuh cinta untuk pertama kalinya. Artinya, saya kalah saing. Putri saya, mampu mencari pengganti saya, menggantikan saya untuk menjaganya, memanjakannya, mencintainya, bahkan untuk membahagiaakannya. Saya yakin, Harsen mampu memberikan itu semua ke Vara nantinya, saat mereka bersama. Jadi… Buat apa saya menghalangi cinta dari putri saya ke Harsen, yang dari lahirnya saya sudah mengenal Harsen kan? Kalau saja, saya tidak mengizinkan keduanya, Vara mencari pria di luaran sana, bisa saja ada kemungkinan saya menjadi seorang Papa yang gagal menjaga putri kecilnya. Sama hal nya dengan Rava dan Renata, Saya sudah tahu benar latar belakang keluarga Renata, bahkan dari Renata lahir juga, saya mengenal calon menantu saya. Jadi tidak ada yang salah dari ini semua, walaupun kata netizen keluarga kita tidak akan berganti-ganti, itu-itu aja, Saya rela di bully, karena saya mau yang terbaik untuk keluarga saya.” ujar Raka dengan air mata yang melewati pelupuk matanya saat menatap Vara yang sudah mengusap air matanya sendiri.
Vara yang melihat Raka menangis, beranjak dari duduknya dan mendekati Raka serta memeluknya.
“Kenapa Papa menangis? Vara tidak pernah melihat Papa sampai menangis, Maafi Vara Pa. Sampai kapanpun, cinta dan sayang Vara ke Papa, tidak akan pernah berubah Pa. Karena Papa cinta pertamanya Vara, yang selalu memberikan Vara kekuatan, mengajarkan Vara untuk hidup mandiri , banyak hal yang Vara dapat dari Papa dan juga Mama. Kalian orang terhebat dalam hidup Vara, jadi Vara mohon, jangan menangis, karena Vara tidak akan pernah meninggalkan Papa,” ujarnya dengan terisak sedih dalam pelukan Raka.
Raka memeluk erat tubuh putri kecilnya, memberikan ciuman di puncak kepalanya, Rasanya Raka tidak pernah percaya, dulunya Vara masing di timang, sekarang sudah gadis dan sudah pintar pacaran, sesuatu hal yang tidak bisa dia pungkiri, jika anaknya sudah menikah, tanggung jawab Raka sudah lepas dari Vara yang akan beralih ke Harsen. Karena itulah Raka menjadi gugup dan mengeluarkan air matanya.
“Vara anak baik, kedepannya harus bisa jadi Istri yang baik kayak Mama, kamu.” ucap Raka masih dengan sisa air matanya.
Vara menganggukan kepalanya, “Iya Pa.” balas Vara.
“Sudah… jangan menangis lagi, malu di lihat sama kekasihmu dan calon mertuamu,” kata Raka mengusap air mata di pipi Vara.
Eva sendiri memberikan sentuhan pada tubuh Raka dan Vara, seakan memberikan kekuatan pada keduanya. Karena memang benar, anak paling kecil itu rata-rata sangat manja ke orang tuanya. Begitu dengan Vara, Vara sangat manja ke Raka ketimbang Eva, Sedangkan Rava sangat manja ke Eva.
“Defan merasa sedang nonton film India ini, kenapa kalian membuat air mataku juga jatuh.” Defan terisak melihat adegan bapak dan anak itu.
“Apaan si Defan… ganggu aja kamu!” ketus Raka.
“Paman sih, pakai nangis-nangis segala. Enggak malu apa di lihati cicak di atas” tunjuk Defan ke atas dengan meringis.
Semuanya menatap ke langit-langit ruangan keluarga, lalu menatap geram ke Defan. Lagi mesra-mesranya malahan di ledekin, Raka kan malu. Vara kembali duduk di samping Harsen, Harsen memberikan tisu dan menepuk lembut tubuh Vara.
“Terima kasih Pak Raka, saya enggak menyangkah, Pak Raka dan juga nyonya Eva mau menerima anak kami.” Leo menatap gugup.
“Lain kali jangan panggil saya Pak lagi, O.” kata Raka mengusap sisa air matanya.
“Jadi panggil apa Pak?” tanya Leo dengan polosnya.
“Hemmmm.. kalau anak kita sudah jadi, panggil besan saja. Saya kan malu jadi bapak kamu mulu.” cetus si Raka.
Seluruhnya tertawa mendengarkan si Raka, bisa-bisanya ya omongannya ngawur sedari tadi.
“Kenapa kalian semua tertawa, kan benar yang saya katakan, Leo dan Rere bakalan menajdi besan dengan saya, masa iya mereka panggil saya bapak? kalau di perusahaan enggak masalah, ini di rumah, astaga… saya malu lah” ujar Raka dengan semangat.
“Baiklah besan,” jawab Leo.
“Belum O, kan masih calon,” balas Raka.
“Astaga.. Saya salah lagi. Maaf Pak,” ucap Leo menggaruk kepalanya.
“Terserah kamu sajalah O, saya jadi pusing.” balas Raka.
“Sudahlah… coba Harsen, Bibi belum mendengar suara kamu. Bagaiaman pendapat kamu?” tanya Eva pada Harsen,
Langsung saja Harsen memasang posisi siap dan menatap serius pada Raka dan Eva.
“Terima kasih Harsen ucapkan pada Bibi Eva, Paman Raka, sudah memberikan Harsen izin untuk memiliki Vara dalam satu hubungan sepasang kekasih. Selamanya Harsen akan mencintai Vara, menjaganya, sebisanya memberikan kebahagiaan untuk Vara, meskipun tidak sama seperti yang di berikan Paman dan Bibi ke Vara. Tetapi, Harsen janjikan pada Paman dan Bibi, Harsen akan membuat Vara sama seperti diri Harsen sendiri.” kata Harsen dengan tatapan seriusnya.
“Paman yakin Harsen, jangan gugup seperti itu, Paman percaya sama kamu.” kata Raka.
Harsen tersenyum dan membuang nafasnya karena merasa gugup sampai menahan nafasnya.
“Iya Harsen.. Santai saja. Bibi dan Paman dari awal sudah tahu, kalau Vara suka sama kamu. Karena Vara suka curhat.” Eva menimpali.
“Aghhh Mama,” kata Vara meringis.
“Lah sudah ya… kan sudah terbalaskan semuanya. Semoga kalian baik-baik dalam membina hubungan sampai pada waktunya ke pelaminan.” kata Eva dengan semangatnya dia menatap ke Vara.
“Kalau begitu.. Untuk Pak Raka dan Eva, saya dan keluarga mengucapkan terima kasih untuk semua yang kalian berikan sampai mengizinkan Harsen menjalin hubungan dengan Vara?” Kata Rere sungkan.
“Tidak masalah Mba, Aku pastikan, Vara nantinya akan bertanggung jawab untuk suaminya kelak. Vara itu pintar masak loh,” kata Eva membanggakan Vara.
“Siapa bilang Bi? Di sana Vara bilang enggak bisa masak, malahan Kak Rava yang masak.” buru-buru Defan menjawab.
“Lah.. barusan tadi Bibi yang bilang. Vara memang bisa masak, kalau sama Rava jangan harap bisa di izinkan masak. Rava enggak pernah mau adiknya sibuk di dapur, terkecuali di suru cuci piring,” balas Eva ke Defan.
“Benar juga ya Bi, pantasan saja waktu itu, Kak Rava kasi tugas ke kita berdua untuk mencuci piring. Dan Vara cuma membantui ka Rava, ada benarnya juga. kalau begitu.. Vara kau masaklah untukku, biar aku merasakan masakanmu,” celetuk Defan dengan santai.
Plaakkkkk…
Raka melemparkan bantal sofa ke Defan.
“Aduh Paman,” kata Defan menyentuh kepalanya.
“Biarin.. mulutmu licin,” ucap Raka.
Jadilah semuanya tertawa di buat si Defan yang mirip seperti si Frans kedua. Kalau bergabung, membuat Raka dan yang lainnya spot jantung di buat anak dan bapak itu.
***
Jangan lupa bantu Vote dan like ya, oh ya Terima kasih buat yang mendoakan saya, meskipun masih belum pulih, tapi saya tetap berikan untuk kalian, biar kalian enggak pelit sama VOTE, terima kasih semuanya ^^