My Chosen Wife

My Chosen Wife
PERNIKAHAN SEDERHANA.



“SAH.” itu kata yang di tunggu-tunggu oleh Vara dan Harsen menjadi penutup lembara cerita masa muda keduanya. Pernikahan mereka yang hanya di gelar sederhana di salah satu hotel dan tertutup dari publik, akhirnya selesai. Seluruh keluarga saling mengucap syukur, atas jalannya acara yang sangat apik dan teratur. Tidak ada drama dari manapun, termasuk Defan. Defan di jaga ketat oleh Rava dan Raka. Karena bagi mereka berdua,pernikahan Vara harus benar-benar berjalan dengan baik.


 


 


Tanpa adanya gangguan dari Defan yang sangat usil. Rava mengingat akan pernikahannya dan malam pertamanya. Jadi, Rava tidak berniat, apa yang dia alami dan rasakan dengan Renata tidak terulang ke Harsen dan  Vara.


 


 


“Selamat ya Ra. Duh, yang entar malam belah duren.” sindir Rani ke Vara.


“Kok kek lirik lagu ya Ran?” Vara mengalihkan.


 


 


“Gue entar lagi nyusul lo. Doakan gue ya Ra. Biar gue bisa nyusul kayak lo dan Kak Harsen.” ucap Jenny dengan kedua mata yang penuh harap.


 


 


“Iya, gue doakan lo berdua nyusul gue. Kalian dua kan sudah punya gebetan itu sana” tunjuk Vara ke arah James, Roni pacarnya Rani, dan sekumpulan pria yang teramat di sayang oleh Vara. “Jadi, kalian kan tinggal meminta saja ke mereka. Kalau kalian pengen menikah.” kata Vara dengan tersenyum senang.


 


 


“Dih, gue gak mau cepat-cepat. Lo pikir menikah itu gampang apa! menikah itu butuh komitmen yang pas Jenny. Menyatukan dua pendapat yang berbeda menajdi satu tujuan. Kalau Vara dan Kak Harsen, mereka sedari kecil sudah bersama-sama, sampai jadi abang ketemu besar lagi. Jadi, yang namanya segala duka dan senang, mereka sudah melewatinya bersama. Nah loh dengan si James?? Sama-sama mengutamakan pendidikan tinggi, gue dan Vara sudah selesai, kalian berdua masih lanjut, jadi nikmati saja apa yang sekarang kalian sedang jalani dan rencanakan, Jika sang pemilik kehidupan sudah berkehendak, kalian bakalan bersanding juga di pelaminan. Apa kau paham Jenny? “tanya Rani seperti Mamak-mamak yang mengomeli ke anaknya.


 


 


Jenny manyun. Vara tertawa.


 


 


“Iya sih, gue setuju deh dengan lo Ran.” kata Jenny sebenarnya bersedih.


 


 


“Iya harus setubuh, kalau tidak gak akan bisa belah duren lo”


 


 


“Astaga Rani! Setujuuuu.. otak lo ngeres amat sih!” ketus Vara.


 


 


“Iya nih, lo yang mau malam pertama, pecah perawan gitu, kok gue yang gugup ya?” bisik Rani.


 


 


“Ih gila lo memang ya Ran. Kayaknya lo minta di gampar deh. Biar otak lo itu gak mereng dari porosnya!” Vara menatap kesal.


 


 


Rani terkekeh, Jenny menutup kedua kupingnya.


 


 


“Lo pada memang munarok deh!” kata Rani masih dengan terkekeh.


 


 


“Senang amat sih?” Harsen tiba-tiba datang.


 


 


“Iya nih , bahas pecah perarawan!” ceplos si Rani bangga.


 


 


“Astaga Rani, itu Kak Harsen. Lo sembarangan aja sih ngomongnya!” bisik Jenny dan menyikut lengan Rani.


 


 


Rani menoleh ke sumber suara yang datang tiba-tiba di antara ketiganya. Mata Rani melotot, dan di ikuti mata Harsen yang juga  melotot, karena kaget aja sih dengar ucapan Rani. Dari kemarin, dia dan Vara sama sekali tidak membahas soal itu.


 


 


“Egh, Maaf Tuan Harsen. Hamba tidak bermaksud mengucapkannya. Iya nih, sepertinya  mulut hamba harus di jahit kayaknya, lubangnya ke mana-mana.” kata Rani mengusap-ngusap mulutnya dan takut menatap wajah Harsen.


 


 


Vara sendiri membuat wajahnya kesal ke Rani dengan mencebikkan mulutnya dan  matanya yang melotot.


 


 


“Tidak apa-apa, silahkan di lanjut lagi pembicaraan kalian, Kakak hanya memberikan ini ke Vara.” Harsen mengarahkan air mineral ke Vara.


 


 


“Terima kasih, suamiku.” katanya dengan centil.


 


 


Harsen tersenyum dan merona, dih Vara bisa aja tuh ya.


 


 


“Baiklah, Kakak tinggal lagi. Silahkan di lanjut saja pembicaraan penting kalian.” kata Harsen kemudian berlalu meninggalkan ketiganya.


 


 


“Duh, benaran sangat tampan gitu sih suami lo Vara.” kata Rani mengagumi.


“Jangan sembarangan memuji. Entar rasa yang dulu penah ada, bersemi kembai,” sindir Vara dan meneguk minumannya.


 


 


“Segitunya amat sih lo sama gue. Gue cuma mengagumi ketampanan ciptaan Tuhan yang paling seksi. Gitu aja lo cemburu.” sindir Rani dengan menyipitkan kedua matanya.


 


 


“Terserah lo Ran, jangan buat pikiran pengantin baru bercabang-cabang soal masa lalu. Ayoi kita foto-foto, sebelum gue balik ke Jerman.” ajak Jenny pada Vara dan Rani.


 


 


Keduanya pun berjalan menuju salah satu tempat dekor yang di hiasi bermacam-macam, berwarna-warni bunga yang sudah di dekor sangat indah. Ketiganya mengambil foto dengan kamera depan ponsel Jenny, mengembangkan masing-masing senyuman termanis dari bibir mereka.


 


 


Dari kejauhan, Raka menatap sang putri yang sudah tumbuh dewasa, kini air matanya benar-benar lolos.


 


 


“Kenapa kau menangis saya?” tanya Eva yang datang mendekati Raka yang mengasingkan diri dari keluarganya.


 


 


Raka  menggelengkan kepalanya.


 


 


“Tidak apa-apa sayang, Aku hanya bahagia saja. Kini, tugasku sebagai seorang Papa untuk anak – anakku sudah selesai. Kini mereka sudah menemukan orang yang pas, untuk bersama-sama saling melindungi, dan membutuhkan. Dan kini, Vara tersenyum sangat bahagia. Sesuai harapanku. Akhirnya semuanya selesai, dan yang paling membuatku sebenarnya berat, melepaskan Vara untuk keluar dari rumah kita. Meskipun itu harus, agar dia bisa mandiri merawat dan melayani suaminya dengan baik. Ini sangat berbeda, saat dia berkuliah di luar negeri, ini benar-benar sangat berat.” kata Raka dengan sunggukan dan mengusap buliran air matanya.


 


 


Eva mendekati sang suami, menarik tubuh Raka dengan sangat lembut. Eva mengusap-usap lembut pundak Raka.


 


 


“Aku tau, Kamu menangis karena bahagia kan? Tapi, Aku juga tau, satu hal yang sangat berat untukmu. Jika kamu  merindukan Vara, kan kita bisa mendatangi rumahnya dan menginap di rumahnya. Jadi, jangan di tangisi Sayang. Aku yakin, ini hanya perasaan sementara. Saat kita berdua melepas Rava seperti waktu dulu. Jadi, Aku berharap, kau bisa memikiran ulang untuk membuang air mata kamu. Sayang, jangan membuat matamu membesar seperti panda, hari ini harinya bahagia putri kita, dan Kau terlihat sangat tampan, sangat memukau. Ketampanan itu akan luntur, jika Kau terus menangis.” bujuk Eva dengan tersenyum sendiri.


 


 


Raka mengangkat wajahnya, dan buru-buru mengusap air matanya.


“Apa benar aku terlihat sangat tampan?” tanyanya dengan senyum yang di paksakan. Benar saja yang di katakan Eva. Kenapa dia harus menangis? bukankah selebihnya, Raka masih bisa bertemu dengan sang putri.


 


 


Kediaman Vara dan Harsen tidak terlalu jauh dari kediaman Raka dan Eva, Leo dan Rere. Lebih tepatnya, satu komplek dengan perumahan Rava dan Renata. Harsen membeli rumah yang memang sengaja dekat dengan Rava. Karena Harsen tidak ingin membuat Vara kesepian, bila nantinya dia akan bertugas di perusahaan barunya. Dan kini, Rava sudah memiliki asisten baru untuk menggantikan Harsen.


 


 


Harsen akan menjabat sebagai CEO di perusahaan yang di bangun Leo dan di bantu oleh Raka. Perusahaan yang di wariskan dari orang tuanya Leo. Dan hanya bisa di pimpin oleh Harsen jika dia sudah menikah.


 


 


 


 


Bersambung.


***


Baca sampai habis please.


Ini detik-detik My Chosen Wife benar-benar TAMAT. Saya gak bisa melanjutkannya lagi, jadi kalian yang cuma berkomentar bilang Up, lanjut, yang hanya cuma like, bahkan yang menjadi Silent Reader. Saya mau minta tolong, ,berikan VOTE kalian, untuk bantu My Chosen Wife bisa masuk ke 10  besar, di detik terkahirnya. Mau ya? heheh.. egh jangan ada yang  komentar lagi saya bilang PAKSA pembaca saya. Ini saya berharap ke kalian pembaca yang memfavoritkan My Chosen Wife 17.000 lebih pembaca, jika kalian berkenan. Tolong di bantu ya, Terima kasih ^^


Yang bawah ini, anggap saja pengantinnya 🤣.