
Jangan lupa tekan LIKE dan silahkan untuk bantu VOTE. Terima kasih ^^
***
Tiba dimana waktunya Rava menemani Renata ke ruangan CT Scan, seperti yang di sarani oleh Dokter, untuk mendapatkan hasil yang benar-benar akurat Dokter meminta untuk melakukan pengecekan bagian dalam tubuh Renata. Bersama dengan seorang perawat yang membawakan kursi roda untuk membawa Renata turun ke lantai bawah. Rava dengan segerah menarik tubuh Renata , menggendongnya turun dari ranjang dan mendudukkannya di kursi roda.
Renata menatapnya, saat ia setengah duduk dan memakaikan sandaL Rumah Sakit di kedua kaki Renata. Saat Rava berdiri, Rava memandang ke Renata yang juga sama memandangnya.
“Kenapa?” tanya Rava bingung.
“Apa kau tidak pergi bekerja?”
“Hemmm.. Masih bisa di gantikan oleh Sekrestarisku dan Harsen.” Rava mulai berdiri di belakang Renata dan mulai mendoronnya untuk berjalan ke lantai bawah, mengikuti Perawat yang membantu Renata.
“Aku lupa, kalau kau itu seorang Presdir, sama seperti Paman Raka.” ujarnya dengan senyuman kecil.
Rava tersenyum, “ Aku juga lupa, kalau kau itu juga seorang Presdir, yang harusnya sudah kembali bekerja, malahan terjebak di sini.”
“Benar… Aku juga tidak tahu bisa seperti ini.” balasnya dengan melihat ke sekeliling Rumah Sakit.
“Tidak usah di pikirkan, semoga saja hasilnya bagus, dan kau akan segerah pulang.” ucap Rava dengan santai.
“Apa kau senang, jika aku sudah pulang ke Jakarta?”
Di dalam lift khusus pasien, Rava ingin sekali mencium bibir Renata yang berasa omongannya seperti angin saja.
“Kau jangan memulai, untuk gencar melukai hatiku.” bisik Rava dari belakang.
Renata malahan tersenyum senang, meskipun tidak mendapat jawaban atas pertanyaanya secara langsung, tetapi Renata mengerti dengan maksud perkataan Rava barusan. Tak lama pintu lift terbuka, bersamaan dengan itu ketiganya keluar dari dalam lift, dan menuju ruangan CT Scan.
“Tuan.. biarkan saya yang membawa pasien ini masuk, anda tunggulah di luar,” ucap si perawat.
“Baiklah… kau yang tenang.” ucapnya ke Renata.
Renata menarik tangan Rava, “Apa itu tidak masalah, untukku masuk sendirian ke dalam sana?” raut wajah Renata berubah panik.
Rava setengah menunduk kearah wajah Renata, “Ada Dokter tampan tadi, kau tidak sendirian. Bukankah itu sangat menyenangkan bahkan membuatmu bahagia?”
“Aku sedang tidak bercanda, Rava. Aku tidak mengenal orang-orang di dalam,aku takut!” Renata menajamkan matanya.
Rava mengacak rambut Renata serta tertawa, “Hahahaha.. Sudah tidak perlu takut, aku dari sini melihatmu, kau ini penakut sekali.” lalu Rava melirik ke si perawat untuk membawanya, si Renata memanyunkan bibirnya.
Ponsel Rava tiba-tiba berdering, dengan cepat ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, tampak nomor sang Mama tampil dalam layarnya, Rava menggeser tombol hijau pada layarnya.
“Iya.Ma” sahut Rava dari ujung ponselnya.
“Kalian di mana, Nak?”
“Di ruangan CT Scan Ma, apa Mama dan yang lainnya di kamar Renata?”
“Iya sayang, kami tunggu di sini saja. Kau jaga Renata baik-baik.” ujar Eva.
“Baiklah , Ma”
Sambungan pun terputus, Rava melirik dari balik kaca, tampak Renata sudah di periksa oleh team medis khusus ruangan itu, dengan di dampingi oleh Dokter yang menangani Renata. Tampak saling bercengkrama, seoalah Rava menangkap mereka berbicara dengan hasil yang tampak di layar sang Medis. Rava tidak ingin mengambil pendapat sendiri, dia tidak ingin panik, yang ia tahu pasti hasilnya bagus.
Beberapa menit kemudian, dengan raut wajah yang semula tegang, saat Rava sudah tampak di depan pintu, wajah Renata berubah sangat berbinar. Keduanya pun berjalan kembali ke ruangan Renata tanpa di temani perawat tadi.
“Apa itu sangat menakutkan?” tanya Rava.
Renata mengangguk cepat, “Sangat… di sana sangat menegangkan untukku., semoga saja hasilnya baik.” ucap Renata dengan berharap penuh.
“Demi kebaikanmu, dan sekarang bukankah sangat lega?” tanya Rava lagi seraya membawa Renata masuk kedalam lift.
“Yah… begitulah. Ada dirimu yang aku kenal,” Renata masih dengan senyuman kecilnya.
“Okey.. kalau begitu, nanti kau makanlah bagianmu di kamar tadi, mungkin seluruh keluaarga sudah di kamarmu.”
“Benarkah?” Renata merasa girang.
“Huum.. Tadi mamaku menghubungiku,” ucap Rava dengan menatap sekeliling koridor Rumah Sakit.
Tak lama keduanya tiba di depan pintu kamar Renata, saat itu hanya ada Raka, Eva, Vara, Casandra dan juga Varel. Casandra yang melihat kedatangan putrinya dengan cepat menghampirinya dan memeluk erat tubuh Renata.
“Bagaimana hasilnya, Nak?” Casandra tidak sabaran, dengan menatap wajah Renata dengan penuh harap.
Varel mendekati mereka, dengan pelan Varel menepuk pundak Rava dan tersenyum, seraya menatap sang putri yang wajahnya sudah kembali seperti sedia kala. Senyuman yang selalu menghiasi bibir tipisnya.
“Belum keluar, Mi. Hasilnya menunggu, di antarkan oleh Dokter dan sekalian di jelaskan ke kita.” ungkap Renata dengan wajahnya yang berseri.
“Ayo ke sana, ada mereka. Semuanya sudah menunggumu,” kata Casandra.
Dengan di bantu Rava yang masih tetap setia mendorong kursi roda Renata, keduanya di sambut senang oleh keluarga Rava.
“Baik, Paman. Hari ini sudah sangat baikan,” jawabnya dengan tersenyum.
Raka menyunggingkan senyumanya, “Wah… berarti ada gunanya Rava di dekatmu.”
“Iya dong Pa, kak Rava kan sudah menyadari perasaannya.” Vara menimpali sang papa.
“Isss.. Vara kau tahu apa soal perasaan kakakmu ini,” celetuk Rava mendapatkan tawa dari semuanya.
“Oh iya, Renata belum makan. Karena tadi tidak di izinkan makan dan minum, jadinya semuanya tertunda,” kata Rava lagi..
“Sini kak, biar Vara yang suapin.” Vara berlari kecil kearah meja yang sudah terisi sarpan buat Renata.
“Tidak usah repor-repot Vara, kak Rena bisa sendiri kok,” Renata menolak dengan halus.
“Ayo aku buat kau rebahan,” kata Rava menarik tubuh Renata dari kursi roda berpindah ke atas ranjangnya.
Mami dan Papinya tersenyum, begitupun dengan Eva. Merasa sangat manis, bagi mereka.
“Sini kak, ayo akkk , buka mulutnya.” perintah si Vara yang bersemngat untuk membalas perbuatannya terhadap Renata.
“Kau pikir dia anak kecil, Vara.” celetuk Rava.
“”Dih Kakak, kok gitu sih.” jawab Vara dengan wajah sedihnya, kemudian mendapatkan sautan dari Renata yang memakan suapan pertama dari Renata.
“Ayo kita keluar, sepertinya Vara dan Rena ada sesuatu yang kepengen mereka obrolkan.”ajak Eva ke semua orang.
Tiba-tiba Harsen datang dengan wajah paniknya, “Ada apa Sen?” tanya Raka yang duluan melihat Harsen.
“Agh.. Maaf Paman, saya mau sampaikan sesuatu ke kak Rava.” ucapnya dengan mendekati Rava, lalu Harsen berbisik.
“Baiklah… kalau begitu tunggu aku, Sen.” ucap si Raka dengan berdiri mendekatkan dirinya ke Renata.
Renata menatap ke Rava, seperti tahu ada yang hendak di sampaikan Rava pada dirinya.
“Renata… tunggulah aku, sampai urusan pekerjaanku selesai. Apa Kau bersedia? Hanya tiga hari,” ucap Rava dengan memohon.
Renata menggangguk dengan cepat, “Pergilah.. jangan mengkhawatirkan diriku. Semuanya baik-baik saja,” Renata tersenyum kearah wajah Rava yang seakan enggan meninggalkan Renata.
“Baiklah… pokoknya kau harus menungguku pulang,” ucap Rava menekankan sekali lagi.
“Iyaaa… Pergilah dan berhati-hati.” balas Renata dengan wajah yang senang.
Rava menatap ke Vara dengan mengacak rambutnya, “Kau juga… jangan nakal, banyak yang menemanimu, kakak akan bertugas di luar kota. Apa kau paham?”
“Paham kakakku, berhati-hatilah. Vara percaya kakak ,pasti bisa.” balas Vara menyemangatinya. Rava tersenyum dan berpindah ke Eva.
“Ma… Rava izin tiga hari tugas di luar kota, ada urusan mendadak.” ujar Rava dengan mendekati sang Mama.
“Pergilah sayang, hati-hati di jalan. Berikan kabar jika kau sudah sampai di tujuanmu,” Eva memebelai kepalanya seakan memberikan doa kepada sang putra.
“Baik… Ma.” jawab Rava dengan memberikan kecupan di pipi mamanya.
Lalu Rava berpindah ke arah Varel dan Casandra dengan memberikan salam, untuk izin bertugas dan meninggalkan Renata. Raka kemudian merangkul pundak sang anak, di ikuti oleh Varel dan juga Harsen berjalan ke luar ruangan seakan penasaran dengan masalah perusahaan Rava.
“Apa yang salah, Nak?” tanya Raka dengan menatap serius, begitu juga Varel.
“Penggelapan dana Pa, kata Harsen perusahaan yang memberikan modal terbesar di perusahaan cabang Rava, melakukan penggelapan dana, dan orang tersebut,” ucapan Rava menggantung.
“Ada apa Rava?” Varel merasa penasaran di buatnya.
“Orangnya.. anak dari pemegang saham di perusahaan paman Varel. Kemarin Renata hampir menjadi umpan mereka. Rava harus membereskan semuanya, karena orang tua itu melakukan pemalsuan data. Paman Varel tidak usah khawatir, tunggulah kabar baik dariku dan Harsen.” ucap Rava meyakinkan.
“Baiklah Nak, Paman bergantung padamu.” ucap Varel merengkuh tubuh Rava.
“Hati-hati Nak, Papa percaya padamu.” Kata Raka dengan opitmis.
“Terima kasih Pa, Paman, kalau begitu Rava titip Renata ya. Rava dan Harsen berangkat,” Rava izin dengan wajahnya yang senang.
Ada arti tersendiri, raut wajah Varel menatap kepergian Rava. Merasa tidak enakan, apa lagi dengan Raka yang juga ikut mengantarkan anaknya. Masih menatap punggung Rava dan Harsen hingga bayangan mereka hilang dari koridor Rumah Sakit itu.
“Ayo.. Varel masuklah,” ajak Raka.
Keduanya pun masuk, dengan pandangan hangat Vara, sedang menyuapi Renata yang belum kelar sedari tadi. Bagaimana tidak, menyuapinya dengan berceloteh bersama, Vara masih menunggu momen yang pas untuk berbicara berdua dengan Renata.
Bersambung.
***********
Jangan lupa tekan LIKE dan silahkan untuk bantu VOTE. Terima kasih ^^