My Chosen Wife

My Chosen Wife
AKU SIAP.



"Pertanyaannya kok aneh sih Kak?" Vara menoleh ke Harsen yang gak kala kagetnya dari Vara.


"Aneh bagaimana? Kan pertanyaannya sesuai dengan yang ada di depan kakak." Rava seakan bingung dengan raut wajah kedua adiknya.


"Kak, kita kalau sudah siap menikah, pasti bakalan kasi tau kok kak." Harsen memberikan jawabannya.


"Ouuu gitu, jangan sampai keponakan kalian lahir. Kasihan entar dia gak punya teman, karena Bibinya Vara belum di nikahi juga." ledek Rava.


"Dih Kakak, aneh. Ya da deh, Vara mau pulang. Pusing lama-lama, kalau di tanyai terus soal kapan menikah." sindir Vara ke Rava.


Rava mengerutkan keningnya, memperhatikan Vara dan juga Harsen yang sudah sama-sama berdiri. Adiknya yang cerewet itu berhasil membuat Rava bingung.


"Kalian gak nunggu Defan bangun? Makan malam bersama?" Rava ikut beranjak dan mengikuti keduanya dari arah belakang.


"Tidak usah Kak, Defan kalau bangun ngeselin. Makan malam, Vara dan kak Harsen sudah janjian mau makan malam bersama, Kak. Mama dan Papa juga udah tau, kalau Vara akan pulang malam." balas Vara.


"Kalian dua mobil tadi ke sini?"


"Enggak Kak, Vara naik taxi ke sini. Tadi pagi di antar sama Kak Harsen ke butik." sambil berjalan ke arah keluar pintu.


"Baiklah kalau begitu, Harsen hati-hati bawa Vara ya? kalau nakal, jewer kupingnya." Rava menyandarkan salah satu tangannya ke daun pintu.


Harsen tertawa, "Jangan dong Kak, kasihan kalau di jewer."


Rava tertawa, "Iya deh... pasti di belain kan? namanya juga kekasih." ujar Rava.


"Da agh... Vara dan Kak Harsen jalan ya kak. Kakak jangan lupa jaga baik-baik kak Renata. Bukan di tahan seperti ini." balas Vara.


"Bukan di tahan Adikku sayang. Kakak kamu itu perlu beristirahat. Karena keponakan kamu di dalam sana, masih lemah sayang." Rava mencoba memberikan pengertiannya.


"Baiklah Kakaku sayang, Vara gak akan pernah menang debat sama Kakak. Ya sudah, Byeeeee..." Vara berjalan dengan anggunnya sambil melambaikan tangan ke Rava.


Rava tertawa dan membalas lambaian tangan ke Vara.


"Kak, pamit dulu ya." kata Harsen.


Rava memukul pelan pundak Harsen.


"Iyaaa... Hati-hati, dan jangan pulang terlalu malam Sen." ucap Rava mengingatkan.


"Baik Kak." Harsen mengangguk dan tersenyum.


"Jangan membicarakan Aku!" jerit Vara dari arah carport.


Rava dan Harsen sama-sama tertawa.


"Kau lihat kekasihmu? Sangat cerewet!" Rava menunjuk ke Vara.


"Iya Kak, tapi gemesin." sambung Harsen dengan tawanya.


Rava menyipitkan kedua sudut matanya menatap ke Harsen. Harsen yang semulanya tertawa dan menggelengkan kepalanya, memudarkan tawanya mendapatkan tatapan dari Rava.


"Hahaha... Kau ini, jangan di masukan ke hati. Nikmati makan malam kalian." Rava tersenyum.


"Baik Kak, Terima kasih, kita jalan dulu." Harsen pamit dan bergerak membawa kakinya untuk melangkah menyusul sang pujaan hati.


Sesudah kepergian Vara dan Harsen, Rava berbalik hendak masuk ke dalam rumahnya. Saat pintu sudah tertutup, Rava memutar tubuhnya hingga dia melompat karena kaget mendapati Defan berada di belakangnya. Jadilah, Rava menyentuh dadanya dan menarik nafasnya.


"Astaga Defaaaaannnnn!" teriak Rava.


"Kakak, kenapa gak membangunkan Defan sih?" Defan menggruk kepalanya.


"Kalau datang itu pakai suara! jangan kayak makhluk tak kasat mata, Defaaaaaan!."


"Kan Defan uda panggil Kakak." balas Defan dengan malas.


"Panggil dari mana! Hongkong" ketus Rava seraya berjalan.


"Kakak, Defan kan panggilnya pakai suara hati. Bukannya hatimu dan hatiku, Hati-hati?" Defan berucap dengan mengikuti Rava dari belakangnya dengan bermalas-malasan.


"Apa sih Fan? kamu tinggal di sini, karena mama meminta kamu untuk menjaga Renata kan?"


"Benarrrr... bibi Eva meminta Defan secara pribadi untuk menemani kak Renata, Kak. Bukan Kak Rava, terus papa dan mama Defan mengizinkan. Bagaimana dengan Defan di sini?"


"Duduklah dulu, dan pelankan suaramu." balas Rava menarik bangku santai yang berada di ruangan tamu.


"Terus, mau ngapain kita Kak?"


"Mau bergosip! Entahlah, Kakak juga gak tau, kamu di sini gunanya untuk apa?" Rava menatap ke Defan.


Defan melototkan matanya.


"Defan bisa memasak, bahkan memandikan Kak Rava juga bisa. Jangan sungkan Kak, anggap saja di rumah sendiri."


"Seharusnya Kakak yang berkata seperti itu." balas Rava dengan mencebikkan bibirnya, "Kau memang bisa menjaga Renata?"


Defan menyandarkan tubunya dan menarik nafasnya sejenak.


"Kakak meragukan sekali! Defan bisa Kak, apa yang tidak bisa Defan lakukan kalau ada Kak Rava."


"Astaga, sama saja. Serius Defan, jika kau bisa menjaga Renata di sini, Kakak bisa kembali bekerja. Tolong di jawab serius, kalau tidak serius, Kakak suruh kau tidur di luar!" ancam Rava dengan kedua mata yang menyala.


"Dua riussssss Kak, bisa loh. Kak Renata itu Kakak kesayangan Defan. Kak Rava itu, Kakak kesayangan Defan yang kedua. Jadi, tanpa Kakak minta pun, Kak Renata akan Defan temani sampai lahiran. Masalahnya, hanya bisa tiga bulan saja. Selama itu, Defan akan di sisi kak Renata menggantikan Kak Rava." kedua mata Defan di buat membulat dengan kedua alis yang naik turunkan bersamaan, lalu tersenyum dengan manja.


"Enak aja! kalau untuk menggantikan posisi Kakak, gak akan setujuuuuu. Renata itu Istrinya Kakak, bukan Istri kamu." protes Rava tidak terima.


"Lah... Kak Renata itu, Kakaknya Defan! Siapa juga yang bilang istrinya Defan. Punya kuping jangan swasta Kak. Malu dong, percuma jabatan tinggi, pendidikan tinggi, kupingnyaaaaa.."


Rava beranjak berdiri dan melototkan matanya dan berkacak pinggang menatap Defan.


"Sudah pintar sekarang ya!"


"Iya dong, siapa dulu gurunya? Kak Ravaaa."


"Jawab lagi, sudah ayooo ikuti kakak. Biar kakak tunjukkan kamar kamu." Rava berjalan menuju anak tangga, Defan dengan bersemangat mengikuti Rava dari arah belakang.


Tidak jauh dari kamar anak, yang di desain Rava sebelum tau Renata mengandung. Rava membawa Defan di kamar yang tidak jauh dari kamar mereka, hanya berbatasan dengan kamar anak mereka. Dengan perasaan yang bahagia, Defan yang pertama kali masuk ke dalam kamar rumah Rava, berlari kecil menuju ranjangnya.


Melompat-lompat dengan kegirangan. Rava yang melihat aksi konyol Defan di buat menggelengkan kepalanya. Pikirnya, si Defan ini kapan dewasanya. Kenapa sangat menjengkelkan melihat aksinya yang selalu mirip dengan anak kecil.


"Kau sudah selesai anak ingusan!" ketus si Rava.


"Sudah kak, duh... senang banget rasanya. Dapat kamar baru di rumah Kakakku tercinta." Defan merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan tubuh yang terlentang, dan kedua kaki dan tangan yang menikmati kelembutan dan kehangatan dari kain yang membalut ranjangnya. Defan benar-benar menikmati suasana kamar baru yang terbilang cukup mewah untuk dirinya.


"Terusss, mana kopermu???" tanya Rava dengan melipat kedua tangannya.


Defan yang memejamkan matanya, tiba-tiba mengerjap dan membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Aktivitasnya terhenti, dengan cepat ia mendudukkan dirinya di atas ranjang sambil menoleh ke Rava.


"Lupaaaaa Kak." rengeknya ke Rava.


"Lupa bagaimana?" tanya Rava dengan kening berkerut.


Defan menunduk.


"Di rumah bibi Eva, karena sangkin senangnya di jemput kak Harsen, Defan melupakannya Kak." gumamnya bersedih.


"Ouuu.. ya sudah... mandilah, nanti Kakak pinjamkan baju Renata." tukas Rava dengan berjalan menahan tawa keluar dari kamar Defan.


"Kak Ravaaaaaa!" jerit Defan dan beranjak turun dari ranjangnya.


"Jangan berteriak di rumahku! Kau bisa saja membangunkan Kakakmu!" Rava menoleh ke belakang dengan melototkan matanya.


Defan mencebikkan bibirnya dan menunduk.


"Habisnya Kakak sih, segitunya. Masa iya Defan pakai bajunya kak Renata. Defan kan jadi seksi Kak,"


"Siappp Pak Bos." balas Defan dengan bersemangat.


***


Suasana di dalam mobil Harsen.


"Kak." panggil Vara.


Harsen menoleh ke Vara yang menatapnya dengan kedua manik matanya yang sendu.


"Iya... Kenapa sayang?" tanya Harsen.


"Kenapa sih? Semua orang pada nanya kapan menikah?"


Harsen tersenyum. Vara mendengus sedih.


"Kenapa? Ya mungkin saja, orang melihat Vara sudah cukup umur."


"Masa iya segitunya? Vara kan sudah janji ke Kakak, untuk membangun bisnis Vara dulu." balas Vara melemah.


"Iya... Tidak usah di pikirkan. Kakak sudah katakan, kapan Vara siap, Kakak akan melamar Vara." balas Harsen dengan senyuman dan menyentuh kepala Vara.


"Kalau sekarang mau gak kak?" Vara mencoba melihat reaksi Harsen.


"Kamu yakin?" tanya Harsen dengan kedua matanya yang berbinar.


"Sepertinya yakin Kak." balasan Vara membuat Harsen geli.


"Kalau masih sepertinya, berarti kamu masih kurang yakin. Jangan terburu-buru, nikmati saja profesi baru kamu. Kakak setia menunggu Vara hingga benar-benar siap."


"Duh My Prince, kamu memang pria terbaik yang di kirim sang pencipta ke Vara." kedua mata Vara terlihat mengagumi.


Harsen refleks tertawa melihat tingkah si Vara.


"Sang pencipta tau, Vara itu memang di ciptakan dari tulang rusuknya Kakak." Harsen gak kalah memuja sang kekasih.


"Awwwww... kok rasanya kayak terbang sih kak?"


"Pegangan yang kuat, kalau jatuh entar sakit." ujar Harsen denganbmenatap manik mata Vara yang bahagia.


"Dih Kakak... jadi serius ini Kak, Vara siap kok jadi Istri Kakak, benaran deh." Vara membentuk kedua jarinya,meyakinkan Harsen.


"Benar nih? Gak sepertinya lagi nih?"


Vara mengangguk dan tersenyum.


"Benar Sayang, Vara siap jadi seorang Istri dan Ibu dari anak-anaknya Kakak." senyum mempesona Vara membuat Harsen sekilas memandangi Vara dan jalanan.


Ucapan Vara barusan membuat salah satu sudut hatinya Harsen terpesona akan ucapannya. Bukankah itu sangat adem mendengarnya? Bagi Harsen, Iya. Hatinya di selimuti bunga-bunga yang barusan bermekaran.


"Baiklah, besok Kakak akan menjumpai paman Raka. Kakak coba membicarakan soal ini ke paman dan kak Rava. Kalau mereka izin, kita akan segera menikah." balas Harsen.


"Janji?" Vara mengarahkan jari kelingkingnya ke Harsen dengan tersenyum dan kedua mata berbinar.


Harsen menoleh sekilas ke Vara dengan tawanya. Mengangkat kelingking tangan kirinya dan mengarahkannya ke Vara. Harsen menautkan kelingkingnya.


"Janji, calon Ibu dari anak-anakku." balas Harsen, dan menautkan jarinya di sela-sela jari Vara dan membentuk genggaman yang sangat mesra.


Terpampang senyuman di wajah Vara, bahagianya dia bisa memiliki Harsen sebagai pendamping hidupnya. Apa lagi, Harsen memang pria yang lembut, memperlakukannya dengan sangat baik seperti Kakak dan Papanya.


"Terima kasih ya Kak." balas Vara dengan menggenggam erat punggung tangan Harsen. Sangat hangat, memiliki daya tarik tersendiri bagi Vara.


Dulunya aja Harsen kaku, tapi mampu membuat cintanya Vara tetap utuh dan bertahan di dalam hati Vara. Dan sekarang adalah buah yang manis yang Vara kecap. Harsen semakin mendamba dalam dirinya.


"Untuk?" tanya Harsen.


"Untuk semuanya, Vara sungguh bersyukur karena Kakak." balas Vara.


"Jangan seperti itu, harusnya Kakak yang bersyukur, karena Vara mau sama Kakak yang tidak memiliki jabatan tinggi."


"Kakak... Jangan ngomong gitu. Kakak itu pilihan buyut Lusi. Berarti, buyut Lusi yakin, keluarga dari Kak Harsen, memang di persiapkan untuk keluarga Atmadja."


Vara menarik tubuhnya, ke arah Harsen. Kemudian mengecup pipi Harsen dengan sangat lembut dan mesra. Harsen menegang, kedua matanya yang focus pada kemudi perlahan menatap ke Vara yang menatapnya dengan mata yang berbinar dan tersenyum.


"Kamu suka tiba-tiba ya?"


"Iya. Dari pada Kakak, malahan pakai nanya. Kan malu kak."


"Hahaha... Kamu memang sangat menggemaskan."


"Sama... Kakak juga." balas Vara tidak mau kalah.


Keduanya sesama tertawa dengan perasaan yang bahagia. Harsen benar-benar di buat senang malam itu. Vara akhirnya memantapkan dirinya untuk hidup berdampingan dengan dirinya. Mungkin saja, ini alasan Harsen tidak ingin memaksa. Karena hasil dari keinginan hati sendiri, memang layak di nikmati dengan rasa yang nyaman.


*


Kediaman Rava Atamadja.


Di dalam kamar Rava dan Renata, keduanya sudah bersiap dari mandinya. Benar saja, semenjak Renata mengandung, Rava tidak membiarkan Istrinya itu untuk mandi sendiri. Kalau tidak mandi bersama, Rava akan memandikan Renata dengan kedua tangannya.


"Sekarang pakai baju, habis ini aku akan menyisir rambut kamu." Rava membantu Renata untuk mengenakan dress piyamanya.


"Sayang, kenapa ini pun kamu yang mengurusnya. Aku masih bisa sendiri loh." balas Renata mencoba menolak.


"Selagi masih ada Aku, Aku tetap akan memperlakukan kamu seperti ini sayang. Biarkan Aku merasakan kesakitan kamu. Saat senang dan susahmu, Aku juga mau turut ikut merasakannya. Jadi jangan pernah menolak seluruh yang aku lakukan pada dirimu."


Renata tersenyum dan menyentuh kedua pipi Rava yang sibuk memakaikan dressnya.


"Sangat baik, Aku sangat beruntung punya kamu loh."


"Iya.. Aku juga. Aku juga sangat beruntung untuk dirimu. Semesta memberikanku wanita terbaik untuk mendampingiku, meskipun dia cerwet." ucap Rava selesai mengancing pakaian Renata.


Renata mencebikkan bibirnya dengan menatap manja ke Rava.


"Ujung-ujungnya gak enak." balas Renata.


"Jangan ngambek, tapi aku suka kok cerewetnya kamu, menggemaskan." bisik Rava.


"Ayo sini, aku sisir rambut kamu." Rava menarik lembut punggung tangan Renata, dan mendudukkan tubunya di depan cermin meja rias Renata. Rava mengambil sisir, mulai merapikan rambut panjang sang Istri yang tergerai.


"Apa mau di ikat?" tanya Rava.


"Boleh, apa kau bisa?" tanya Renata.


"Urusan gampang, Aku pernah mengikat rambut ku sendiri."


Kini tangan Rava dengan lihainya mengikut rambut Renata yang sudah rapi habis di sisirnya. Kedua tangannya, sibuk dengan gelang rambut Renata. Renata tersenyum melihat pantulan wajah Rava yang serius dengan ikatannya.


"Okey... Sudah selesai. Apa ini kelihatan bagus?" tanya Rava ke arah pantulan cermin.


"Sangat bagus, Terima kasih suamiku." Renata beranjak berdiri dan memutar tubuhnya dengan menatap wajah Rava. Rava di buat berhasrat ingin menenggelamkan bibirnya ke bibir tipis Renata yang tersenyum ke arahnya.


Rava menarik pinggang Renata dengan pelan, meremas pinggang Renata dengan sentuhan lembut. Nafas Rava terasa di kulit wajah Renata, hingga sedikit lagi, mereka menyatu.


"Kak Ravaaaaaaaa."


Bersambung.


***


Sudah 2000 kata lebih, mohon bantu dukung dalam bentuk LIKE dan VOTE nya. Hari ini 2 ban kan, semoga terhibur... Terima kasih 🥰