My Chosen Wife

My Chosen Wife
KEMBALI BERKUMPUL.



Dalam perjalanan menuju toko perhiasan , ini juga sudah di persiapkan Rava dengan sendirinya. Menempah cincin yang menurut Rava, sesuatu yang harus terbaik yang wajib Ia berikan untuk Renata.


 


 


"Emangnya kamu tahu lingkar jariku?" tanya Renata.


 


 


Rava yang sedang menyetir mobilnya menoleh sekilas ke Renata dan memberikan senyum manisnya, "Tahu dong... Waktu kau tertidur, Aku mengukurnya, semoga saja pas." jawab Rava.


 


 


"Ya... Ya.. Ya. Semoga saja, kalau tidak pas, berarti aku bukan jodohmu." celetuk Renata.


 


 


"Astaga... Ngomong apaan sih?"


 


 


"Enggak ngomong apa-apa, cuma kumur-kumur aja." balas Renata tanpa menoleh ke Rava.


 


 


"Yang kau kira ini di toilet?"


 


 


"Mungking saja, bisa jadi." balasnya acuh.


 


 


"Susah ya ngomong sama Ratu." ucap Rava.


 


 


Renata cuma tersenyum dengan menatapi jalan. Tiba-tiba, Rava teringat akan sesuatu yang sedari kemarin lupa Ia tanyakan ke Renata.


 


 


"Hemmmm... Non, nanya dong." ucap si Rava.


 


 


Renata menatap ke Rava, "Nanya apa Tuan?" tanya Renata kembali.


 


"Hemmm... Itu. Soal kesuburan, Apa kau meragukan kesuburanku?" tanya Rava dengan langsung menatap ke Renata.


 


 


Wajah Renata berubah panik, kedua bola matanya berputar bersamaan seakan mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan Rava barusan.


 


 


"Hemmm... Tidak. Tidak seperti itu yang aku maksud, ya kan kita cuma memelihara dari sekarang. Sebelum kita menikah, bukankah itu bermanfaat?"


 


 


"Apa Kau juga meminum yang seperti itu?" tanya Rava penasaran.


 


 


"Tidak. Cukup dirimu saja," balas Renata acuh.


 


 


"Astaga... Apa kau membuat Aku sebagai bahan percobaanmu?" tanya Rava lagi.


 


 


"Bukannnn... itu kan bermanfaat baik untuk kesuburan Pria matang sepertimu. Kau ini harusnya bersyukur, aku kan hanya memperhatikan kesehatanmu sayang, bukan meragukanmu, atau pun menjadikanmu bahan percobaan, emangnya aku sedang melakukan penelitian?" Renata menoleh ke Rava.


 


 


"Yalah... Aku selalu kalah kalau berdebat denganmu." kata Rava mengalah.


 


 


Renata hanya menahan tawanya sambilan membuang pandangannya ke arah lain. Membuat Rava hanya melirik sekilas ke arahnya dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya.


***


Kediamaan Raka Atmadja.


 


Masih berkumpul di ruangan keluarga, sambilan bercerita dan bercanda. Tak pelak, Defan menjadi sasaran empuk untuk di buat candaan. Tak lama Kiki datang mengantarkan Renata, Varel, Jimmy dan Anna yang mendengar kepulangan keponakan mereka.


 


 


Eva dan Raka menyambut keempatnya, apalagi Casandra dan Varel merupakan calon Besan yang sebentar lagi sah menjadi keluarga di keluarga Atmadja.


 


 


"Hello San." ucap Eva memeluk seraya cipika cipiki dengan Renata, di ikuti oleh Rere, Anna secara bergantian.


 


Raka menyambut Varel dengan memeluknya, di ikuti oleh Jimmy yang memeluk tubuh Raka dan Varel. Jadilah anak-anak tertawa dengan tingkah si Jimmy.


 


 


"Halo semuanya." sapa si Jimmy.


 


 


"Hallo Paman." balas Vara di sambung Harsen.


 


 


"Marimar, Ferguso? Yang mana kata Papa Waktu itu?" gumaman Defan terdengar pada Jimmy.


 


 


"Heyy anak Marimar, Kau ternyata ikut juga ke Jakarta." kata Jimmy dengan menyentuh pundak Defan dengan memijat-mijat setengah lembut.


 


 


Defan yang merasakan pijatan maut itu mulai meronta dan menoleh ke Jimmy, "Lepaskan tanganmu Om, Aku wajib ikut ke manapun kak Rava pergi. Jadi pertanyaan Om adalah pertanyaan yang di luar akal sehatku." cetus Defan dengan meronta-ronta.


 


 


"Ouwww gitu... Terus Orang-orangan salju mana? kagak ikut dia?"


 


 


Defan memajukan bibirnya, "Siapa yang Om kata?"


 


 


Jimmy tertawa kecil, "Siapa lagi. Papamu dong, mana dia, kenapa aku merindukan dirinya." ucap Jimmy.


 


 


"Jangan menindas anaknya Jim, Kau akan berhadapan denganku!." ketus Raka dengan tatapan tajam.


 


 


Keduanya menatap ke Raka, Defan tertawa kemenangan, Jimmy sendiri hanya mampu tertawa palsu.


 


 


"Hanya menyapa orang-orangan salju Pak, enggak lebih kok." balas Jimmy.


 


 


"Apaan orang-orangan salju? namaku Defan, Om. Defan!!!." ucap Defan dengan penekanan.


 


 


"Iyalah... Seterahmu."


 


 


"Terserah om... Terserah. Hadeh....Bisa gila punya paman seperti ini." gumamnya kecil, "Oh ya Om.. James mana?" tanya Defan semangat.


 


 


"Kenapa? Kau mau apa mencari anakku?" tanya Jimmy.


 


 


"Yaaa kan... Defan pengen main aja. Apa itu tidak boleh?" tanya Defan sedih.


 


 


"Ya enggak gitu juga... James masih kuliah , belum libur seperti kalian." kata Jimmy dengan beranjak, duduk ke arah Harsen dan Vara


.


 


 


Jadilah si Jimmy berada di tengah-tengah anak-anak yang minta di hibur olehnya.


 


 


"Paman Jimmy, ayo bernyanyi." kata Vara yang suka meledekin Jimmy.


 


"Iy Om...Nyanyi dong. Kata Paman Raka, Om pintar mengaung." celetek Defan.


 


 


"Kau jangan membawa nama Pamanmu, Defan. Merusak reputasi Pamanmu saja." Raka menimpali dengan menatap tajam ke Defan.


 


 


"Eh salah ni bibir... maaf paman." balasnya sedih.


 


 


Raka kembali melanjutkan pembicaraannya, sedangkan Jimmy masih menatapi satu persatu dari Defan, Harsen dan Vara.


 


 


"Kalau begitu... Ada baiknya yang baru jadian bernyanyi. Apa kalian mau?" tanya Jimmy.


 


 


Harsen dan Vara saling menatap, tanpa berbicara. Jimmy yang melihat keduanya saling menatap, tertawa sendiri.


 


 


"Duh... Romantis banget sih? Kan Paman jadi ngiri." ucap Jimmy ngawur.


 


 


"Pamannn!." teriak Defan.


 


 


Jimmy setengah loncat sangkin kagetnya, "Apaan sih! Berani banget bentak orang tua, enggak punya sopan kamu ya?"


 


 


"Nah... Itu Om ngaku orang tua. Defan cuma mau mengingatkan, Om sudah tuaaaaaa! Sudah Expired date, jadi tahu diri dong om sama yang baru jadian."


 


 


Jimmy menarik nafasnya dan menatap Defan dengan lemas, "Bapak sama anak sama saja, buat gua ngeselin kalau di dekat kalian."


 


 


"Sudahlah Paman... jangan cari alasan. Buruan dong paman nyanyikan lagu yang santai, untuk Vara." pinta Vara dengan manja.


 


 


Jimmy tersenyum, "Kau yakin? ingin mendengarkan paman bernyanyi?" tanya Jimmy meyakinkan.


 


 


"Jangannnnnn!!!" teriak Raka.


 


Harsen, Defan, Vara melirik ke Raka.


 


 


"Kenapa papa?" tanya Vara.


 


 


"Sebaiknya jangan nak, Perutmu akan mules jika mendengarkan suara pamanmu itu." Raka melirik sekilas ke Jimmy.


 


 


"Agh Pak Raka....Segitunya dengan saya." balas Jimmy.


 


 


"Sudahlah Om... dari pada dengarkan Om bernyanyi, ada baiknya aku tidur dari pada perutku mules seperti yang di katakan paman Raka barusan." ucap Defan berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan tamu.


 


 


"Benar juga... Maaf Paman Jimmy, Paman Raka, Paman Varel, Bibi Anna, Bibi Eva, Mama,Papa, Harsen izin mau kembali ke kamar." Harsen izin dengan sopannya.


 


 


"Baiklah Nak, " ucap mereka semuanya.


 


 


"Kenapa kalian jadi pergi? Kamu Vara?" tanya Jimmy.


 


 


"Vara juga mau pamit dong Paman, bobok cantik dulu." balas Vara seraya beranjak dan meninggalkan Jimmy.


 


 


"Apessss dah..." balas Jimmy sedih.


****


Athena Jewelry.


 


 


Akhirnya Rava dan Renata tiba di salah satu Mall terbesar di Jakarta, Langsung saja Ia membawa Renata ke tempat dia menempah cincin yang memiliki arti untuknya.


 


 


"Selamat siang Tuan Rava." ucap seorang Ibu paruh baya, pemilik toko perhiasan.


 


 


"Halo Nyonya Athena, Apakah pesanan saya sudah selesai?" tanya Rava.


 


 


"Sudah Tuan, Sesuai dengan yang anda minta." ucap si pemilik dengan memerintahkan staffnya untuk mengambil pesanan Rava.


 


 


Tak lama Cincin itu di sugukan sang pemilik toko dan membukanya di depan keduanya. Mata Renata takjub melihat kilaun cahaya permata berlian. Langsung saja, Rava mengambil dan menarik lembut tangan Renata, dan memasang cincin tersebut ke jari manis Renata.


 


"Wow... sangat pas." ucap Renata kaget.


 


 


"Sudah ku bilang, Kau itu jodohku. Ini sangat cocok untukmu, semoga sama dengan arti dari cincin ini sayang. Satu permata yang besar ini, menandakan hanya aku , satu untuk selamanya. Dan permata kecil yang banyak di setiap bagian lingkaran cincin ini artinya, banyaknya kebahagiaan yang akan aku ciptakan untukmu dan anak-anak kita kelak." ucap Rava dengan penuh keyakinan dan suara yang lembut.


 


 


Renata merasa meleleh mendengar perkataan Rava.


 


 


"Terima kasih untuk semuanya." balas Renata dengan tersenyum senang.


 


 


"Baiklah... Kita lepas dulu, kita simpan sampai hari itu tiba, aku memakaikannya di depan orang-orang yang menjadi saksi kita." balas Rava dengan menarik cincinnya.


 


 


Renata hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum senang. Pemilik toko membungkus dengan baik, dan Rava melakukan pembayaran dengan memberikan black card nya ke si pemilik toko. Mata Renata tiba-tiba kaget, saat Ia melirik seorang Pria yang barusan masuk ke toko perhiasaan yang sama dengan mereka. Sontak Renata bersembunyi di balik tubuh Rava. Rava di buat kaget, saat Renata berada di belakang tubuhnya.


 


 


"Ada apa?" tanya Rava.


 


 


"Ssssttt... Lihatlah itu." tunjuk Renata ke Rava. Rava mengikuti arah tangan Renata , tercenganglah si Rava melihat pria tersebut.


 


 


Bersambung.


.......


Tekan like dan jangan lupa Vote ya pembaca yang baik, jika ada salah kata dan kelebihan akan saya perbaiki segera, oh ya penenutuan ranking di jam 22:59:59 mohon tetap dukung dalam Vote ya.. terima kasih banyak 🥰❤🙏🙏🙏**