My Chosen Wife

My Chosen Wife
BAHAGIANYA RENATA.



Tidur dengan nyaman di kamar yang baru beberapa kali di singgahi. Di sinilah sepasang pengantin baru itu kembali memadu kasih, sehabis perjalanan bulan madu mereka usai, tiba di rumah langsung menidurkan diri. Ya beberapa hari yang lalu, Renata dan Rava mengakhiri masa bulan madu mereka, untuk kembali ke rutinitas biasanya.Rasanya sangatlah lelah, hanya saja memiliki bekas dan kenangan yang tersimpan di dalam hati dan kenangan terindah yang telah mereka ciptakan.


 


Pagi kembali menyapa, Renata terbangun dari tidurnya yang sangaaaaaat panjang. Mungkin itu bukanlah pagi awal, pagi yang akan menjemput siang. Ia mengucek kedua matanya yang seakan sangatlah berat, apa lagi terasa ada yang sangat berat di bagian dadanya.


 


Setelah kedua matanya memandang dengan jelas, ia melihat Rava yang tertidur sangat lelap di sampingnya. Pantas saja dadanya sangat berat, kepala Rava bersandar di atas dadanya Renata. Membuat Renata tersenyum dan langsung mengusap lembut kepalanya Rava dan mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepalanya.


 


"Manja banget sih kamu sayang?" ucap Renata dengan suara khas bangun tidur.


 


"Aku sangat nyaman di sini sayang." balas Rava tiba-tiba dan semakin memeluk erat tubuh Renata.


 


"Kau sudah bangun?" Renata terkesiap.


 


Rava menganggukan kepalanya masih dengan memeluk tubuh Renata dengan kepala di atas dada Renata.


 


"Sudah dari tadi, hanya saja Aku masih menikmati harum tubuhmu." ucap Rava.


 


"Jangan genitttt...."


 


"Biarin... ini kan milikku." balas Rava seraya mengecup tubuh Renata.


 


Renata menggeliat geli dan menarik kepala Rava.


 


"Kau ini selalu begini igggghhh... Sudah puas belum?"


 


"Belummm... Aku masih mau begini."


 


"Aku mau masak sayang... Ini sudah mau siang. Apa kau tidak lapar?" tanya Renata ke Rava.


 


"Tidak... Aku sudah kenyang."


 


"Kenyang apaan? Apa Kau sudah makan tadi?" Renata penasaran.


 


Rava menengadah ke arah wajah Renata, "Aku sudah kenyang mimik susu sayang."


Plaaaaakkkkkkkkkkk.....


 


"Awwwwww." jerit Rava menyentuh kepalanya yang di sundul Renata.


 


"Habisnya kamu sih! genit banget.... buruan pindah. Aku mau masak untuk makan kita. Kan kamu belum manggil asisten rumah tangga." balas Renata manja.


 


"Biar Aku yang masak... Kau mandilah." kata Rava bangkit dari tidurnya.


 


"Serius Kamu yang masak?" tanya Renata lagi.


 


"Iyaaaa... Aku yang masak. Mandilah sana, atau mau menungguku?" Rava menggoda.


 


"Tidaaaaak.... Sudah cukup kan. Dari bulan madu sampai kemarin, kan sudah." Renata protes.


 


Rava tersenyum, "Kau ini menuntut sekali sayang... bukankah itu yang wajib di berikan Istri pada suaminya?" Rava mendekati Renata yang masih duduk di ranjangnya.


 


"Iyaaa..... Kamu benar sayang. Tapi kan capek juga tiap hari." balas Renata sedih.


 


Rava duduk di sampingnya dan menyentuh kepala Renata dengan lembut.


 


"Sayangku... itu kan ritual honyemoon jadi kan memang wajib. Jangan takut... santai saja Nyonya Rava Atmadja. Kita kan berencana langsung punya anak. Jadi... harus semangattttt terus dong." Rava dengan sangat lembut menyentuh kepalanya dengan tersenyum genit.


 


 


"Terserah kau saja... asal Kau senang." Renata menatap suaminya aneh.


 


Rava mengecup bibir Renata lalu beranjak berdiri, "Itu Vitamin di pagi hari, sudah sana mandilah. Kau sudah memberikanku Vitamin kesuburan yang aku minum tiap hari, sekarang kan ini efeknya. Aku akan menunggumu di bawah permaisuriku." berucap sambilan berjalan menuju pintu keluar.


 


 


 


"Efek Honeymoon memang sangat baik untuk pengantin baru. Tapi... membekas di setiap kulitku." Renata menarik kain satin piyama yang menutupi tubuhnya.


 


 


"Sesuatu banget ternyata..." Ia berucap dengan menarik selimut yang menutup kakinya. Lalu Ia merapikan tempat tidur mereka yang sudah seperti kapal pecah.


 


 


Seusai merapikan tempat tidur, Renata berjalan ke arah meja riasnya dan menatap dirinya sendiri dan kemudian Ia tersenyum. Mengambil ikat rambut dan mengikat rambutnya, tampak tanda merah di setiap lehernya.


 


"Suamiku sangat buas, sebuas harimau." Renata berucap dan tertawa, kemudian Ia berlalu ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.


 


 


 


Terdengar jelas suara langkahan kaki Renata yang turun dari atas. Karena rumah mereka masihlah sepi, sehingga suara kaki yang menuruni anak tangga dengan senangnya menghampiri Rava yang sedang menata masakannya di atas meja.


 


 


"Hemmmmmm... Harum banget masakan koki tampanku." ledek Renata mendekati Rava.


 


 


Rava yang mengenak apron menutupi pakaiannya tersenyum ke Renata dengan setengah membungkuk ke arah Renata.


 


 


"Selamat Pagi menjelang siang Nyonya Rava, Istri tercintanya Tuan Rava. Sarapan anda sudah terhidang semua di atas meja, tugas saya sudah selesai. Semoga anda menyukai masakan saya Nyonya. Oh iya... saya lupa memperkenal satu persatu makanan yang saya masak. Berhubung karena saya kejar-kejarang dengan waktu, saya hanya bisa memasak makanan yang cepat saji. Hemmmm.... sini Nyonya" ucap Rava menarik lembut lengan Renata untuk mengikutinya, kemudian mengarahkan tangannya untuk menunjuk makanan.


"Di mulai dari menu pertama, Ini ada udang goreng saos tomat kesukaannya Nyonya Renata. Nah yang Di sani ada telur setengah masuk andalah keluarga Atmadja. Yang di sampingnya ada tumisan brokoli kesukaan Nyonya Renata dan Tuan Rava. Kalau yang ini pastilah Nyonya enggak asing lagi kan? NASI... ini namanya Nasi Nyonya. Siapa tau kan Nyonya Renata lupa." ledek Rava lalu ia tersenyum ke Renata.


 


 


Renata yang sedari tadi tersenyum melihat perlakuan suaminya yang seperti pelayan itu kini menatapnya. Tiba-tiba air matanya mengalir, membuat senyuman Rava sebelumnya memudar.


 


"Loh...Kenapa kamu menangis?" Rava menyentuh wajah Renata yang duluan mengusap air matanya lalu tersenyum.


 


"Aku hanya terbawa suasana saja Sayang. Kau memang sangat baik, tidak menuntutku untuk melakukan semua ini" balas Renata.


 


Rava mengusap sisa air mata Renata, menarik pinggangnya dan memeluknya.


"Kita akan melakukan semuanya bersama-sama sayang. Kan berumah tangga harus saling membantu sesama pasangannya. Jadi, selagi Aku bisa... Aku akan membantumu. Hanya saja, kedepannya Aku akan membawa asisten rumah tangga di rumah ini. Jadi...Kau tidak perlu repot-repot melakukan urusan rumah sendiri. Sudah jangan menangis, Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk kita. Ayo sekarang duduklah... Habis makan, kita akan mengunjungi orang tua kita." Rava melonggarkan pelukannya dan menarik salah satu bangku meja makan itu untuk Renata.


 


 


 


Renata tersenyum, Ia pun mendaratkan tubuhnya di bangku yang Rava tarik untuknya.


 


"Selamat makan Sayang... semoga Kau menyukai masakan suamimu." celetuk Rava yang sudah duduk di depan Renata.


 


 


 


Renata mengangguk dengan senyuman, mengambil Garpu dan Sendok. Lalu mengambil menu yang sudah terhidang ke atas piring dan mulailah keduanya makan dengan tenang. Rava melirik ke Renata sambilan mengunyah makanannya, melihat ekspresi wajah Renata.


 


 


"Hemmmmm... Sangat enak. Kamu memang sangat ahli dalam memasak." ujar Renata ke Rava.


 


 


"Kau juga... Karena kita punya Mama yang hebat" balas Rava dengan kedua mata berbinar.


 


 


Semakin semangatlah Renata menyantap masakan Rava. Karena Rava lama merantau di Negara orang, Ia pun jadi ahli masak dengan panduan sang mama Eva.


.


.


.


.


Jangan lupa tekan LIKE dan VOTE nya Sayangkuuuuh🥰