My Chosen Wife

My Chosen Wife
JAMES.



“Rava” ucap salah satu staff wanita yang terkesiap melihat kedatangan Rava.


 


Rava terhenti dan melirik ke asal suara yang samar-samar memanggilnya. Saling beradu pandang. Sekilas Rava tidak mengenali wanita tersebut, Ia pun kembali berjalan menuju ruangannya di ikuti oleh asisten pribadinya dan sekretarisnya.


 


Tanpa sepatah kata pun, Rava masuk ke dalam ruangannya dan duduk di bangku kerjaan barunya.


 


"Bagaimana? apa di sini kinerjanya tidak terbengkalai dengan tidak adanya posisi pemimpin?" tanya Rava ke pada asisten dan sekretarisnya.


 


"Sejauh ini tidak ada Pak Rava. Karena semua masih di handle langsung oleh Tuan Raka." balas Eliana dengan sopan.


 


"Ehemmm... begitu ya. Terus nama kamu siapa?" tanya Rava ke Pria di depannya.


 


"Saya Mario Pak... Asisten yang di tugaskan di sini oleh Tuan Raka." balasnya dengan sopan.


 


"Okey... baiklah..Berikan data-data dari seluruh pekerjaan yang akan saya mulai hari ini." perintah Rava.


 


Dengan cepat Eliana dan Mario keluar dari ruangan Rava untuk mengambil berkas yang harus di kerjakan Rava untuk pertama kalinya. Sedangkan Rava sejenak berpikir tentang wanita tadi yang memanggil namanya.


 


"Siapa wanita tadi? Kenapa Aku tidak mengingatnya sama sekali?" tanya Rava pada dirinya.


 


Diluar ruangan Rava sesudah Ia masuk ke dalam ruangannya.


 


"Lo kenal sama atasan kita yang baru Mo?" tanya si Galang.


 


"Iya.... Lo kenal ya Mo? kok lo hebat?" sambung si Leni.


 


"Tapi sayangnya.. Bos kita enggak kenal sama Lo. Buktinya dia diam-diam aja liatin Lo tanpa kata-kata langsung nyosor masuk ke ruangannya. Dih... sombong banget!" timpal Henry.


 


"Gue kenal tapi kan gak dekat. Mungkin aja sekarang lupa gak tau kan nanti." balas Momo salah satu staf bagian Divisi Humas.


 


Keempatnya berjalan menuju ruangan mereka, seluruh karyawan masih membicarakan tentang Rava sebagai pemimpin baru yang pindah dari perusahaan di New York. Betapa senangnya mereka, memiliki atasan tampan seperti Rava.


 


Waktu berlalu, siang pun datang. Waktu jam Istirahat tiba, Rava memilih untuk makan siang dengan Istrinya Renata. Dengan berjalan keluar ruangannya, Rava terhenti di depan meja sekretarisnya.


 


"Eli... saya akan makan sayang di luar. Jika ada yang mencari saya, tolong kamu kabari saya." perintah Rava hendak berjalan.


 


Eliana segerah berdiri dan memanggil Rava.


 


"Tunggu Pak Rava."


 


Rava menoleh ke belakang.


 


"Ada apa lagi?" tanya Rava datar.


 


"Nomor ponsel Pak Rava, saya belum terima." katanya dengan sopan.


 


"Ouuuu... berikan nomor ponsel kamu." buru-buru Rava mengambil ponselnya.


 


Dengan cepat Eliana memberikan nomor ponselnya dan Rava mengetikannya. Lalu tanpa berkata apapun dia berjalan cepat ke arah para staff yang juga menunggu lift membuat semuanya melirik ke Rava. Termasuk si Momo, Leni, Galang dan Henry. Tiba-tiba Mario datang mendahului Rava dan menekan tombol pembuka pintu lift khusus atasan.


 


Tidak menunggu lama, pintu lift atasan terbuka dengan cepat Rava masuk ke dalam di ikuti oleh Mara. Kedua ekor mata Rava menatap si Momo, begitu juga sebaliknya. Pintu hampir tutup, Rava menghentikan.


"Tunggu Mario." perintah Rava.


 


Dengan sigap Mario menekan kembali tombol pintu, dan langsung saja terbuka.


 


"Kalian semua.. masuklah." perintah Rava ke semua staffnya.


 


Semua mata saling memandang, merasa aneh. Karena biasanya atasan mana mau satu lift dengan bawahannya.


 


"Jangan liat-liatan, ayo masuk semuanya. Wajah kalian sudah pucat semuanya saya lihat." kata Rava dengan menatap satu persatu.


 


"Ayoo semuanyaaa... Pak Rava loh yang ngajak." kata Leni dengan menarik teman-temannya semua untuk masuk mengikuti peirintah Rava.


 


 


Rava memilih berpindah ke pinggir kanan lift, agar semua karyawannya bisa leluasa. Setelah semuanya masuk, mesin pengangkut sudah berjalan membawa mereka turun ke bawah. Seluruh yang di dalam lift berdiam, merasa tegang dan canggung. Meskipun atasan mereka tidak sedikit pun bersuara atau pun melirik kearah mereka.


 


Lani menyenggol lengan Momo, membuat Momo melirik ke Lani. Sedangkan Henry hanya melirik keduanya dengan menarik nafasnya kasar.


 


"Dasar ganjen lo!." bisik Galang.


 


"Sirik aja Lo, cemen!" balas Lani berbisik.


 


 


Sedangkan Momo hanya melirik ke Rava yang tidak melihat ke arah mereka sedikitpun.


 


Tingggggg.....


 


 


Suara pintu lift terbuka, sebelum Rava berjalan keluar. Rava melirik sekilas ke Mario dan berkata, "Mario... Bersantailah. Tidak usah mengikuti saya, saya akan makan siang dengan istri Saya." kata Rava lalu Ia melangkah keluar.


 


 


 


Sesudah Rava keluar, karyawan lainnya pun ikut keluar termasuk Mario. Tidak ada yang berani menyapa Mario, karena Ia termasuk asisten yang paling di percaya oleh Raka di perusahaannya.


 


"Sibuk banget sih Lo cup... Namanya punya mata, kalau mengagumi kan gak masalah." ketus si Lani.


 


"Dih... Lo pada kok berisik banget sih! Laki orang lo ributkan. Momo aja B.... Biasaaaaa aja. Sudah mau makan di mana kita?" tanya Henry saat keempatnya sudah di depan loby.


 


 


"Terserah lo pada... gua ngikut aja." balas Momo


 


"Ya sudah... tunggu di sini. Gua ambil mobil dulu.." balas Henry seraya berjalan menuju parkiran.


 


 


***


Rava sudah berada di jalanan dengan melajukan mobilnya menuju ke perusahaan Renata. Ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi sang istri. Tidak lama terdengar suara Renata di ujung sana.


 


"Iya Sayang?" tanya Renata di sana.


 


"Tunggu aku di depan loby ya sayang... 10 menitan lagi aku sampai." balas Rava.


 


"Okey my baby sugar.. hati-hati ya." Renata mengingatkan.


 


Sesudah sambungan ponselnya terputus, Rava sebisa mungkin untuk tiba tepat waktu. Jarak perusahaan Renata tidak terlalu jauh dari tempatnya.


Beberapa menit kemudian, Rava masuk ke dalam area perusahaan Renata. Berthenti tepat di depan loby perusahaan Renata. Renata barusan keluar bersama dengan Sasa.


Menurunkan kaca mobil sebelah kiri.


 


"Hallo Pak Rava, apa kabar?" sapa Sasa dengan melambaikan tangannya di sertai seulas senyuman.


 


"Gua baik Sa... Gak sah sok formal" Rava setengah berteriak ke arah Sasa dan Renata.


 


"Gua masuk dulu Sa." kata Renata seraya menarik pintu mobil. " Kalian berdua kan selama ini musuh dalam selimut! sama-sama main di belakang gua." sambung Renata seraya mendaratkan tubuhnya.


 


 


"Tapi kan akhirnya Kak Rava menyadari cintanya sama Lo, Ren." kata Sasa mendekati Renata dari luar.


 


"Iyaaaa... harusnya gua berterima kasih maksud Lo kan?"


 


 


"Nah... itu baru benar!" kata Sasa dengan tersenyum.


 


"Lo ikut kita gak?" tanya Rava.


 


"Gakk... Kak. Sasa gak mau ganggu momen pengantin baru. Lagi sayang-sayangnya ada orang ketiga kan kasihan." balas Sasa meledek.


 


 


"Bagusss... itu namanya Lo tau diri. Da aghh...lagian Lo kan bakalan di jemput juga sama calon laki Lo! Kalau gitu kami berangkat, byeeee Sasa." kata Renata melambaikan tangannya dan langsung menutup kacanya sebelum Sasa menjawab.


 


 


"Jahat banget kamu sama tangan kananku." kata Rava dengan melajukan mobilnya.


 


"Bukan tangan kanan kamu, mata-mata kamu yang benar." balas Renata.


 


 


Rava tersenyum ke arah Renata lalu tangan kirinya meyentuh kepala Renata dan membelainya dengan lembut.


 


"Jangan galak-galak sama Sasa. Sasa itu penyelamatku juga untuk mengetahui gerak-gerik kamu selama Aku tidak di Jakarta. Walaupun mata-mataku juga ada yang ku perintahkan."


 


 


"Iya deh." balas Renata pelan.


 


"Janji?"


 


"Iya janji...gak percayaan banget kamu."


 


"Bukan seperti itu sayang. Oh iya...Kamu mau makan di mana sayang?"


 


"Makan di mana ya?"


 


"Seafood House mau?" tanya Rava.


 


"Iya boleh." balas Renata dengan menganggukan kepalanya dan tersenyum.


 


 


 


Beberapa menit kemudian mereka tiba di tempat resto yang menyediakan berbagai jenis makanan laut. Saat tiba di depan pintu keduanya di sambut dengan pelayan resto, membawa mereka duduk di salah satu meja yang khusus berdua. Langsung saja mereka memesan makanan yang hendak mereka makan. Setelah pelayan pergi, kedua ekor mata Rava mengedar ke seluruh area. Ia merasa restoran yang sudah lama tidak ia datangi tidak banyak berubah. Membuatnya kagum, jika Ia berada di restoran yang Ia tau dari papanya Raka.


 


 


 


Saat memandang ke sisi kanan depan, tak sengaja Ia mendapatkan pandangan sosok yang Ia kenali.


 


"James???"


 


 


Bersambung.


.....


Jangan lupa tekan like dan VOTE nya yang sayang mom semua. Hari minggu mom up 1 bab aja ya. Daaan... bab kedepannya mom akan membahas soal James dan Defan, tapi yang lainnya masih ada kok. jadi jangan lupa terus dukung karya Mom ya All. Di jam 22:59:59 VOTE di tutup. Terima kasih...^^