
MAAF LAMA, DRAFTNYA KE HAPUS 😠JADINYA NGETIK DARI AWAL LAGI. SEDIHNYA AKU TUH, JANGAN LUPA DI BANTING VOTE YA. EH DI BANTU VOTE, KALAU VOTENYA KENCANG MOM KAN SENANG.
.
.
.
Setelah mendapatkan lokasi dan tempat yang di mana Vara dan Renata berada, Harsen yang di kamarnya, bergegas langsung keluar dari kamarnya. Berhubung waktu masih di jam tiga pagi waktu setempat, tidak berpikir panjang, Harsen memilih untuk segera menyelamati Vara dan Renata.
 
Setelah di luar kamar dan ingin melewati pintu kamar para keluarganya, Harsen berjalan mengendap-ngendap dan tidak menimbulkan suara langkahan kakinya. Karena memang, masih sangat sepi dan keluarga memutuskan untuk bersabar menanti pihak keamanan memberikan informasinya.
 
Setelah sampai di lobby hotel, dengan langkahan seribu Harsen berjalan dengan tatapan fokus ke depan. Di samping sana, ada Defan yang sempat melihat Harsen berjalan dengan tergesa-gesa, sehingga membuat Defan penasaran dan berjalan cepat mengikuti Harsen.
 
Defan sendiri, barusan mengantarkan Rava menuju area parkiran. Rava yang tidak merasa tenang, memilih untuk terjun langsung bersama team keamanan untuk mencari Istri dan Adiknya.
 
Defan mengernyitkan keningnya, saat Harsen tampak masuk ke salah satu mobil pribadi yang biasanya di sewa oleh penghuni Hotel. Di rasa Defan sudah tidak kelihatan, Defan berjalan menuju tempat staf Hotel yang memberikan layanan di saat kejepit seperti situasi sekarang. Defan kewalahan, untuk meyakini staf hotel untuk memberikan izin atas sewa mobil pribadi yang akan di gunakannya.
 
"Saya akan bayar mahal Pak. Masa saya gak bisa, Kakak tadi bisa? Saya juga bakalan tinggali KTP saya kok buat di tahan." kata Defan dengan kedua mata yang membulat.
 
"Iya Dik, Tuan tadi kan memang akan di gunakan untuk hal pribadi. Nah, kalau Adik kan untuk balapan. Mobil sewa kita rata-rata mobil pribadi Dik. Bukan mobil balap atuh Dik." balas staf hotel.
 
"Ya kan saya juga untuk hal pribadi Pak. Maksud saya itu Pak, saya mau melakukan hal pribadi yang sangat mendesak. Di karenakan itu, saya mau mengejar cintanya kakak tadi, jadi tolong dong Pak. Sebelum saya di duakan dan di campakkan." balas Defan dengan tergesa-gesa.
 
Si Bapak staf Hotel mengernyitkan dahinya dan mengangguk paham.
 
"Ouuuuu gitu."
 
"Oooo bulat Pak. Buruannnnn Pak!" Defan berjalan duluan ke area parkiran untuk memilih mobil mana yang hendak di bawa untuk mengikuti Harsen.
 
"Saya mau yang ini Pak, berikan kuncinya ke saya." tunjuk Defan dengan mobil berwarna hitam, biar gak ketahuan pikirnya.
 
Setelah mendapatkan kunci mobil, bergegas Defan masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin dan melaju kencang keluar dari area hotel. Di setiap jalanan masih sangat sepi. Membuat Defan ngebut untuk mendapati mobil Harsen.
 
"Ok Google, cari Kak Harsen." ujar Defan ke ponselnya.
 
"Egh...gue salah. Harusnya gue telepon kak Rava. Ini sangat mencurigakan bagi gue. Kenapa Kak Harsen gak bilang-bilang mau keluar." ujar Defan dengan tangan menyentuh-nyentuh layar ponselnya membuka menu buku kontaknya.
 
Setelah melakukan panggilan, tak lama suara Rava terdengar.
 
"Ada apa Fan?"~ Rava.
 
"Kak, Kak Harsen tadi terlihat buru-buru keluar dari Hotel. Defan menjadi curiga Kak, apakah ada hubungannya dengan si Ansel?" ~ Defan.
 
"Kau sekarang di mana Fan?"~ Rava.
 
"Di jalan Kak, sedang mencoba mengikuti Kak Harsen. Mobilnya tampak masih jauh Kak, semoga saja Defan bisa mengikuti Kak Harsen sampai di tempat di mana dia terhenti. Di sini sangat seram Kak, gelap, mana sendirian lagi, kek ada yang manggil-mangggil di belakang Defan." ~ Defan.
 
"Kau pasti bisa Defan, Kakak bergantung padamu Fan. Tolong ikuti Harsen terus sampai dapat ke mana arah tujuan Harsen. Jika Kau merasa takut, putarlah lagu India kesukaanmu. Biar rasa ketakutanmu hilang. Tolong Kakak Defan, kalau saja memang ada yang mencurigakan, kirimkan lokasimu ke Kakak. Apa kau paham?" ~ Rava.
 
"Benar juga yang Kakak katakan. Baiklah, Defan akan memutar lagu India kesukaan Defan. Kakak juga di sana berhati-hati, kita harus mendapatkan Kak Renata dan Vara." ~ Defan.
 
"Iya.. Tapi Kau yang harus berhati-hati Defan, Kau itu sendirian. Kakak di sini bersama team ke amanan. Kakak tunggu kabar baik darimu." ~ Rava.
 
"Ok Kak, Defan tutup ya Kak."~ Defan.
 
Setelah memutuskan percakapan, Defan langsung memutar lagu india kesukaannya dari ponselnya. Dengan kecepatan di atas rata-rata, Defan mencoba mendapatkan jejak mobil Harsen yang sudah tidak kelihatan. Sambil bernyanyi dan sedikit, jogetan membuat Defan bersemangat untuk memasuki Medan perang pikirnya.
*
Beberapa jam kemudian, Mobil yang di kemudikan Harsen terhenti sesuai titik lokasi yang Vara kirimkan untuknya. Mematikan mesin mobilnya, terjadilah kegelapan di sekeliling tempat yang terlihat sebagai rumah yang tidak di tempati penghuninya.
 
"Sungguh sangat keterlaluan Kau, Ansel! Bagaimana bisa, Vara dan kak Rena melewati malam seperti ini. Di tempat yang jauh dari keramaian. Sungguh keji Kau Ansel!"
 
Harsen cepat-cepat melepas tali sabuk pengamannya. Turun dari mobil dan berjalan dengan pelan, menapaki kakinya dengan suasana tempat yang gelap. Harsen memasang kuda-kuda, kali aja pikirnya ada orang lain selain Ansel.
 
Harsen terhenti dan mengedari tatapannya di setiap sudut tempat yang tidak jelas dari pandangannya. Merasa bingung, bagaian mana yang harus duluan Harsen jalani.
 
"Wow... Selamat datang Tuan Harsen. Kau cepat juga sampai ke sini. Sisa 32 menit lagi dari waktu yang gua berikan buat lo. Gimana? Sudah siap?" tanya Ansel dari dalam rumah yang berdiri di balik pintu.
 
"Gak usah basa-basi lo! Lepaskan Istri gua dan Kakak gua, Sel. Lo benar-benar gak punya hati!"
 
"Wuh... sabar dong. Nafsu amat sih lo!. Baiklah, lo mungkin uda gak sabar ya dengan permainan yang lo dan gua akan mainkan."
 
"Banyak bacot lo! di mana Istri gua dan kakak gua!" teriak Harsen.
 
"Astaga... benaran gak sabaran banget. Baiklah, ikuti arahan gue. Maju tiga langkah dari posisi lo, lalu ke kiri empat langkah. Selamat bersenang-senang, silahkan di mulai." suara Ansel di selingi tawanya yang membuat tangan Ansel terkepal dan geram.
 
Harsen tanpa berpikir panjang, meskipun Harsen sudah tau rencana buruk Ansel dari perkataannya barusan, Ia tetap memegang teguh janjinya ke Vara.
 
"Kakak akan menyelamatkan kalian. Apapun tantangan di depan sana, Kakak akan melewatinya. Asal Vara dan Kak Rena, dalam keadaan baik-baik saja." gumam Harsen di dalam hatinya.
 
Sampai di depan pintu, sesuai dengan yang di perintahkan Ansel, Harsen menyentuh handle pintu itu dengan mantap. Tidak ada guratan ketakutan yang tampak di raut wajahnya. Akan di lewatinya, meskipun di depan sana musuh mengintai.
 
Cekllleeeeekkkk....
 
Suara daun pintu yang terbuka perlahan di depan kedua mata Harsen. Tampak Vara yang sedang terisak sedih, menyentuh lengan Renata yang sudah terbujur lemah hampir tidak sadarkan diri, membuat jantung dan perasaan Harsen seketika ingin membunuh Ansel.
 
"Vara." satu kata yang pertama keluar dari bibir tipis Ansel.
 
"Jangan masuk Kak!" teriak Vara.
Bruggggggggg......
 
Satu pukulan dari arah samping pintu mengenai badan Harsen, hingga membuat Harsen berjongkok di atas lantai.
 
"Jangan sakiti dia! Jangan sakiti diaaaaa!" teriak Vara beringas.
 
"Hemmm... awal permulaan. Apakah ini cocok di sebut pemanasan?"
 
Ansel datang dari pintu samping. Berjalan membawa bangku dan duduk di bagian tengah, seperti Ansel berlutut ke arahnya.
 
"Aku mohon Sel! jangan melukai Kak Harsen! Kau jangan menyakitinya!" teriak Vara ke Harsen.
 
"Jangan MEMOHON padanya!" teriak Harsen.
 
Vara menoleh ke Harsen dengan isak tangis dan nafas yang tersengal-sengal.
 
"Jangan memohan padanya." ucap Harsen dengan pelan sambil berdiri.
 
"Gua suka dengan keberanian Lo, Sen. Wajar sih banyak orang yang suka sama lo ya? gua benci lihat lo yang sok baik, sok care, sok kalem. Apa lagi, semua yang gua sukai, sukanya sama lo! Yaitu, karena lo sok kalem jadi cowok! gua jijik lihat lo kayak gitu Sen!"
 
"Gak usah banyak bicara! Lepaskan Istri dan Kakak gua!"
 
"Wuhhh... Sabar dong! nafsu amat sih lo!"
 
Harsen tertawa seakan ada yang lucu.
 
"Gua uda ingati sama Lo, Sel. Jangan main-main dengan keluarga Atmadja! lo gak takut mati apa! Lo menculik orang-orang penting dalam keluarga mereka." Harsen mencoba tenang.
 
"Hahaha.. gua gak takut Sen! Lo lihat, mana keluarga Atmadja yang lo bilang itu! Gak ada yang datang Sen. Lo jangan mengancam gue! Mereka itu tidak sebanding dengan kekuatan gue! Lo aja yang terlalu melebih-lebihkan! Hemmm... baiklah, mari kita mulai permainan kita. Kita liat, apakah keluarga Atmadja yang lo bilang datang menyelamati lo! Mulai sekarang." suara Ansel dengan tangan terangkat memberikan kode ke arah orang-orang suruhannya.
 
Sebanyak enam pria bertubuh gempal dengan membawa broti kayu di masing-masing tangan mereka dan menatap ke Harsen dengan sangar.
 
Harsen lagi-lagi tertawa kecil ke arah Ansel yang sudah duduk di bangkunya.
 
"Nampak sekali lo kebanyakan nonton sinetron. Wajar sih, lo itu memang pria pecundang." umpat Harsen.
 
"Jangan banyak bicara! Lakukan pekerjaan kalian!" teriak Ansel.
 
Dengan cepat seluruh pekerja Ansel mulai menghentakan broti kayu ke tubuh Harsen. Harsen tidak tinggal diam, dengan cepat dia menghindar dan melawan. Sedangkan Vara dia, melihat kegilaan dalam hidupnya. Tidak pernah sekalipun di dalam pikiranya melihat Suaminya beradu nyawa di depannya. Tubuhnya gemaran, dengan tangan terikat Vara meratapi sesuatu yang tidak bisa dia pahami.
 
Harsen terus berusah melawan orang-orang yang mencelakainya. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini, sekalipun memeliki kekuasaan terbesar sekalipun, Harsen tidak bisa menghindari yang namanya jalan hidup.
Brugggggg.....
 
"Kak Harsennnnnn!" jerit Vara.
 
Kaki Harsen di pukul salah satu dari enam pria itu dari arah belakang yang tidak dapat di lihat Harsen sebelumnya.
 
"Agh.." Harsen kembali terduduk di atas lantai dengan kaki satunya yang menumpuh tubuhnya. Keenam pria tadi terhenti setelah mendapatkan kode dari Ansel.
 
"Kak Harsen... Kak Harsen." suara tangisan ketakutan Vara masih terdengar di kedua indera pendengaran Harsen.
 
"Bagaimana? Apa Kau masih kuat Sen?"
 
Harsen mengepalkan kedua punggung tangannya dan mencoba untuk berdiri.
 
"Kak... udah Kak. Jangan di lawan, Vara mohon jangan menyakiti dirimu Kak. Vara masih butuh Kakak." Vara memohon.
 
"Dramastis banget sih. Kalau Harsen gak ada kan ada gua." Ansel menatap Vara dan tersenyum licik.
 
"Sampai dunia kiamat pun gua gak akan mau sama lo! Pria busuk!"
 
"Waw...Waw...Waw... Kalian pasangan yang sangat kuat. Lihat suami lo, masih sanggup untuk bermain-main sama gua, uda berdiri aja." Ansel memberikan perintah lagi untuk memberikan pelajaran ke Harsen.
Bruggggggg.....
Bruggggggg....
 
"Jangan! Jangannnnn... Ansel. Lo pria brengsek yang gua temui di dunia ini!" Vara menggeliat takut, saat Harsen kembali di pukuli hingga babak belur.
 
"Ok berhenti semuanya! Lo semua, gantung dia di atas itu!" perintah Ansel lagi, dan dengan cepat keenam pria itu menyeret tubuh Harsen yang sudah bersimbah darah. Kedua mata sendu Harsen, menatap kedua mata Vara dari posisinya.
 
"Hahh....lo mau apain suami gua Ansel! biadab lo!."
 
"Sabar...ini dia titik permaianannya. Gua menunggu-nunggu hari ini Vara. Bagaimana? apa kau menyukainya?"
 
"Lo! Semoga apa yang lo lakuan hari ini ke gua! lo dapatkan semua ganjaran yang setimpal dengan yang lo lakukan! Gua yakin, keluarga gua sedang dalam perjalanan ke sini Sel. Sebelum lo menyesal lebih dalam lagi, lebih baik lo sudai semuanya Ansel!!!." teriak Vara menjadi-jadi.
 
"Okey....kita tunggu ucapan lo. Terkabul apa tidak, gua mau melihat itu!" dia tertawa dengan senang.
 
 
"Gilaaaaaaa!"
 
 
Kedua mata Vara terus memandangi Harsen yang akan di gantung dengan tangan yang di ikat ke atas dan dengan darah segar yang menetes ke atas lantai, hati Vara seperti di iris-iris. Semua rasa sakit Harsen seperti menular pada tubuhnya. Sangat sakit, melihatnya saja Vara serasa gila. Karena dari itu, Votenya yang kencang ya anak-anak ^^.