
Dua puluh menit kemudian, Harsen terlihat kembali masuk ke dalam butik yang sebelumnya Ia singgahi untuk Vara. Tampak Vara yang sedang duduk di sofa dengan balutan gaun putih dengan sedikit belahan di bagian atas dadanya yang di hiasi dengan permata silau kecil melingkar di bagian gaunnya dan di paduhkan dengan pita putih pada pinggang belakangnya. Harsen sangat terkesiap melihat sang pujaan hatinya sudah berubah dengan tampilan yang berbeda.
Seperti keinginan Vara, saat Candle light dinner Ia ingin tampil cantik untuk kekasihnya Harsen agar keduanya bisa tampil serasi di saat pertama kalinya Harsen mengajaknya melakukan makan malam romantis. Dan Harsen sudah mempersiapkan semuanya dari jauh hari, karena Ia ingin sekalian merayakan hasil dari apa yang Vara capai untuk kelulusannya.
Kedua ekor mata Vara menoleh ke arah pintu masuk, ketika ia merasa sedang di perhatikan seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Harsen kekasihnya. Harsen tersenyum saat kedunya saling memandang. Vara sendiri langsung berdiri menghampiri Pria yang sangat Ia cintai.
"Kakak!" panggilnya dengan kesal.
Vara memukul dada Harsen sehingga Harsen tertawa dengan wajah Vara yang menjadi malu dan tegang. Ia pun menarik lemhut tangan yang hendak melanjutkan pukulannya.
"Kenapa? kok kesal, jelek tau." bisik Harsen dengan tersenyum.
"Kakak ngeselin tau!" ketusnya seakan cemberut
Tak lama Liza datang menghampiri keduanya.
"Tuan Harsen... Apa masih ada yang kurang?" tanya wanita itu dengan anggun.
"Tidak Liz... Terima kasih. Semuanya sangat pas sesuai keinginan." balas Harsen dengan senyum manisnya.
"Baiklah Tuan.... Senang bisa melayani anda dan calon Istri anda. Semoga kalian berbahgia." Liza memberikan penghormatan pada keduanya.
Harsen menarik tangan Vara dan menggenggam tangannya.
"Terima kasih Liz... kalau begitu Kami pamit. Semoga Kau juga semakin sukses." balas Harsen kemudian keduanya berjalan menuju pintu keluar.
Sesampainya di depan mobil, Harsen membukakan pintu bagian depan untuk Vara dan memasang seatbelt untuk Vara. Wajah keduanya sangat dekat, membuat Vara menegang saat seatbelt sudah terpasang Harsen bukan langsung membawa tubuhnya keluar. Ia menoleh ke arah Vara dan memberikan kecupan pada bibir Vara.
"Kau sangat cantik." kata Harsen kemudian Ia keluar dan menutup pintu.
Vara di buat semakin menegang, perasaannya campur aduk dengan perlakuan Harsen yang tidak biasanya. Suara pintu belakang terdengar terbuka, Harsen memgambil sesuatu dari arah belakang dan membawanya keluar. Lagi-lagi pintu di bagian bangku Vara di buka oleh Harsen, dan kemudian Harsen mengarahkan buket bunga mawar putih ke arah Vara.
Kedua bola mata Vara membulat melihat ke arah bunga lalu menatap ke Harsen. Ia bertambah kagetnya. Kenapa malam hari ini pangeran berkuda putihnya semakin aneh saja. Semuanya tidak pernah Vara pikirkan. Rasanya, Harsen benar-benar berubah. Perubahan Harsen bukan karena tidak berdasar, Ia mau Vara tidak berpikir bahwa Harsen adalah pria yang payah karena kaku.
"Apaa ini Kak?" tanya Vara gugup.
Harsen tersenyum, "Ini bunga sayang... untukmu."
Vara mengambil buket bunga itu dari tangan genggaman Harsen.
"Terima kasih Kak." balasnya masih gugup.
"Tidak perlu sungkan, itu untukmu." balas Harsen kemudian menutup pintu mobil. Lalu ia berlari kecil ke arah bangku kemudi.
"Kapan kakak membeli bunganya?" kata Vara saat Harsen sudah duduk di samping.
Sambilan melajukan mobilnya, Harsen tersenyum dan sekilas melirik Vara.
"Saat dua puluh menit yang lalu Kau di permark." balas Harsen singkat.
Vara masih memandangi buket bunga yang sudah Ia pangku di atas pahanya. Tampak guratan wajah kebahagiaan dengan seulas senyuman.
Hening....
Hening....
Karena keduanya sama-sama menjadi gugup. Tidak lama mobil terhenti di area restoran. Harsen membawa Vara turun setelah Ia membuka pintu mobil Vara dan berjalan bersama masuk ke dalam restoran yang sudah di sambut oleh doorman membantu mereka ke table yang sudah di persiapkan Harsen terlebih dulu.
Lagi-lagi Vara terkesiap saat keduanya sudah tiba di salah satu meja yang sudah di hiasi dengan hiasan lilin dan bunga mawar putih yang menambah suasana romantis. Apa lagi musik yang melantun merdu membawakan lagu A Thousand Years - Lagu Christina Perri dari seorang pianis yang sudah ada di restoran mewah itu menyempurnakan malam indah Vara yang di sajikan oleh Harsen. Suasana temaram restoran tak kalah romantisnya.
Semua makanan langsung tersaji saat keduanya sudah duduk saling berhadapan. Harsen tidak ingin membuang waktu, karena Vara sangatlah lelah dari tugasnya. Jadilah, semua sudah di persiapkan sedetail mungkin.
"Selamat makan sayang." ucap Harsen dengan menatap Vara yang terus-terusan terlihat sangat tegang.
Harsen yang sedang memotong olahan daging pesanan Vara di buat tersenyum.
"Terusss... kamu pikir Kakak hantu?"
"Ya enggak... soalnya Kakak sangat berbeda dari biasanya." bisik Vara lagi.
Harsen mengangkat piring yang sudah berisi potongan daging tadi dan menggantinya dengan punya Vara.
"Makanlah... Kau sedang tidak bermimpi. Kakak akan menjadi romantis seperti yang Vara minta. Jadi, ini sangat menyenangkan bukan? maaf Kakak enggak pernah berpikiran kalau romantis seperti ini sungguh menyenangkan. Jadi, jangan terus-terusan menatap kakak aneh. Berbahagialah, mulai sekarang kisah kita akan berbeda dari biasanya." ucap Harsen menggoda.
Vara tersenyum dan mengangkat sendok dan garpunya, karena sudah di potong oleh Harsen, Vara tinggal menyendokkan potongan daging itu kedalam mulutnya.
"Sangat enak bukan?" tanya Harsen ke Vara saat Ia sudah menguyah potongan daging pertamanya.
"Hemmm... enak banget Kak. Vara sangat suka, kak Harsen memang yang terbaik." ucap Vara tersenyum.
"Karena calon Istri Kakak lebih baik lagi." balas Harsen.
Keduanya tertawa bersama dengan menikmati momen indah yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Tidak sampai di situ saja, seusai makan dan makanan penutup datang, keduanya masih menikmati setiap sajian dari pihak restoran yang memberikan pelayanan untuk para tamu yang sedang memberikan pelayanan khusus untuk tamunya.
Tiba-tiba seorang pelayan datang ke meja Vara dan Harsen dengan membawa satu piring tertutup. Kemudian Ia meletakkannya dengan sangat hati-hati di depan Vara. Seusai itu, ia memberikan penghormatan dan berlalu dari meja mereka.
Kening Vara mengerut dan menatap Harsen yang malah tersenyum.
"Makanan apa lagi ini Kak?" tanya Vara.
"Buka saja." balas Harsen.
Dengan hati yang dag dig dug Duarrrrrr... Vara membuka penutup piring. Terlihat aneh bagi Vara, bukan makanan tapi kotak putih yang terbungkus dengan pita merah.
Vara melirik ke Harsen, Harsen menganggukan kepalanya dengan mata yang mengarahkan Vara untuk membuka kotaknya.
Vara dengan perlahan menarik pitanya, membuka penutup atas kotak. Dan beatapa terkesiapnya Vara, kilauan berlian dari cincin yang mengikat satu mata berlian berukuran sedang terlihat sangat indah.
"Kak." Vara melirik ke Harsen.
Harsen mengambil cincin dari kotak dan menarik lembut punggung tangan Vara. Kemudian ia menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Vara sambilan berkata, "Jika Kau siap nanti untuk menikah dengan Kakak, pakailah cincin ini, Kakak akan melamarmu. Jika belum siap, Vara boleh melepasnya dan menyimpannya." ucap Harsen dengan tatapan serius ke Vara.
"Kakak..."
"Jangan tegang... kakak bukan memaksamu. Kakak hanya memberikan ini di saat momen indah kita. Jadi, Vara tidak perlu menjawab apapun. Kapan pun Vara siap Kakak akan menunggumu, seperti Kakak menunggu VOTE dari pada pembaca kita. Jangan lupa ya like dan VOTE nya.. MCW turun drastis... hiks.