My Chosen Wife

My Chosen Wife
MENUJU MP.



Raka dan keluarganya tiba di kediaman mereka, terkecuali Frans dan keluarganya yang mengantarkan Alice beserta Anet. Begitupun dengan Rere dan Leo, mereka memilih langsung kembali ke rumah mereka, karena Harsen memang tinggal dengan Rava, takut, jika Rava membutuhkan sesuatu , jadilah Leo meminta Harsen untuk tidak meninggalkan keluarga Atmadja.


 


Rasa lelah pun menghampiri seluruhnya, dengan berjalan lelah masuk ke dalam rumah. Kiki yang tahu seluruh keluarga sangat lelah buru-buru ke dapur.


 


 


"Ki... Sudah.. Tidurlah. Kamu juga sudah lelah, biarkan semuanya beristirahat." ucap Eva yang juga sudah berjalan masuk.


 


 


"Ayo sayang ke kamar." ajak Raka dengan membantu Eva berjalan bersamanya.


 


 


"Tunggu, Rava, Renata dan kalian juga... Tidurlah, jangan ada yang di bawah lagi. Semuanya beristirahatlah. Kalian sedari pagi tadi, sudah sangat lelah bukan?"


 


 


"Iya Ma... Ini cuma meregangkan kaki sebentar." ucap Vara membuka sepatu Heelsnya dan meluruskan kakinya. Harsen hanya menatap ke Vara yang meringis sakit dan memijat pelan kakinya. Karena ramai, Ia tidak ingin terlalu mencolok di depan yang lainnya.


 


 


 


"Iya Ma... Rava juga, sebentar saja untuk melonggarkan otot yang kakuh." kata Rava dengan mendudukan tubuhnya, Renata pun duduk di sampingnya dengan memijat bagian pundak Rava.


 


 


"Jangan Istriku, Kau juga sudah sangat lelah. Duduklah sejenak, habis itu kita akan bertempur." kata Rava mengingatkan.


 


 


 


"Hemmmmm.... Di sini masih ada yang belum Nikah! Tolonglah ya..." celetuk Vara.


 


 


Raka dan Eva di buat senyum-senyum sendiri.


 


 


"Baiklah....Mama dan Papa duluan ke atas ya sayang, Harsen." ucap Eva pamit.


 


 


"Iya.. Ma, Mau bertempur juga." bisik Raka pada Eva. Eva yang mendengarnya langsung mencubit lengan tangan Raka.


 


"Awwww... Nikmatnya." kata Raka.


 


 


"Kamu... Kalau di dengar sama anak-anak gimana?" bisik Eva dengan menarik tangan Raka sambilan berjalan menuju anak tangga.


 


 


"Enggak masalah... Sudah pada dewasa dong. Bakalan mengerti, tidak usah takut sayang." kata Raka menarik pinggang Eva dan mengedipkan kedua matanya.


 


 


"Dasarrrr suami aneh, yang barusan menikah itu anakmu sayang. Bukan kita lagi, kamu kok ada aneh-anehnya y?"


 


 


"Loh...Kok baru tahu? Emangnya, Selama ini ke mana aja Istriku? Bukankah ini semua Karena bergaul dengan teman-temanmu yang somplak itu, aku jadi begini. Siapa tuh terutama si Jimmy sama Casandra. Kakak dan Ipar aneh, jadilah aku ketularan punya Besan aneh." kata Raka.


 


 


"Kecilkan suara kamu sayang, jangan besar-besar, gak enak di dengar oleh Renata." celetuk Eva takut.


 


 


"Kita sudah di atas loh sayang, mana mungkin ada yang mendengar." jawab Raka singkat.


 


 


"Bukankah rumah ini mendengung ke bawah ya?" tanya Eva.


 


 


 


Saat sudah tiba di atas langsung saja Raka mengangkat tubuh Eva dan membawanya masuk ke kamar.


 


 


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan, Aku juga siap bertempur." ucap Raka dengan menggebu-gebu.


***


"Sudalah Kak... bawa kak Renata ke kamar. Kak Renata juga sudah mengantuk. Sebelum ketiduran, ada baiknya kan?" sindir Vara.


 


 


"Vara." kata Renata malu.


 


 


"Tapi... Yang dikatakan oleh Vara ada benarnya sayang. Ayolah... kita ke kamar." ajak Rava seraya berdiri.


 


 


Wajah Renata berubah merah, Harsen sendiri dalam hatinya pengen menyentil bibir Vara yang kelewat menyindir.


 


 


"Ayolah...Tidak usah malu kak... Jangan lupa berdoa sebelumnya. Supaya langsung dapat Momongan, Kan Vara langsung punya keponakan gitu, kembar ya." ledek Vara menjadi-jadi.


 


 


"Dih Vara... Tega amat sih sama Kakak." ucap Renata menutup wajahnya dengan beranjak meninggalkan ruangan tamu duluan.


 


 


Rava melemparkan bantal ke wajah Vara.


 


 


"Hah... Dasar adik aneh! Kau itu kebanyakan gabung sama Defan atauuuu sama Harsen? Sudahlah... selamat malam, kakak mau terbang dulu." kata Rava mengejar Renata yang hampir di depan tangga.


 


"Aku?" tanya Harsen pada dirinya, merasa aneh namanya di bawa-bawa oleh Rava.


 


Rava menggendong tubuh Renata dan mulai melangkah pada anak tangga. Harsen dan Vara, sama-sama melihat adegan film India kesukaan Defan.


 


 


 


 


"Agh... kak Rava so sweet banget sih, Jadi kepengen," kata Vara dengan tertawa enggak jelas.


 


 


Harsen langsung menoleh ke arahnya dan mendekati Vara, lalu menyentil kening Vara.


 


"Aduh Kak... Sakit tahu!" katanya kesal dengan menyentuh keningnya.


 


 


 


"Biar pikirannya balik Normal. Kamu itu kok kakak perhatikan sedari tadi, pikirannya entah ke mana-mana." celetuk Harsen dengan menatap serius.


 


 


Vara yang mendapatkan tatapan serius Harsen dengan cepat berdiri , dia pun merajuk hendak meninggalkan Harsen, tangan Harsen sigap menariknya dan membuat Vara jatuh di atas pangkuannya, dengan cepat Harsen memeluknya.


 


 


"Lepaskan Aku, Kak." ucap Vara meronta.


 


 


"Sssttt... biarkan sebentar saja kakak memeluk kamu." kata Harsen dengan menenggelamkan wajahnya di belakang tubuh Vara.


 


Vara pun terdiam dia tersenyum sejenak.


 


"Sudah....Nanti di liatin oleh yang lainnya." ucap Vara.


 


"Lima menit lagi." kata Harsen masih memeluk Vara.


 


"Kakak, Tadi kakak protes kalau Vara ngeres." ucap Vara dengan cemberut.


 


 


"Bukankah Vara bilang kakak enggak romantis? Sabarlah... Jika sudah cukup umurmu, akan Kakak buktikan, seberapa romantisnya kekasihmu ini." ujar Harsen menahan tawa.


 


 


Vara mengubah posisinya dengan menatap wajah Harsen.


 


"Enggak cukup umur gimana maksudnya kakak? Vara suda berumur 23 Tahun untuk tahun ini Kak. Bukankah sangat matang?" tanya Vara masih duduk di pangkuan Harsen.


 


 


Harsen tiba-tiba tertawa, "Hah... Matang Ya... seperti makanan saja. Sudah... Ayolah kita juga kembali ke kamar masing-masing" ajak Harsen.


 


 


Dengan cepat Vara memberikan kecupan pada bibir Harsen dengan memejamkan matanya. Harsen yang mendapatkan kecupan Vara tersenyum dengan menatap mata Vara yang terpejam dan kakuh. Harsen membalas lembut, kecupan dari kekasihnya yang di anggapnya masih kecil dan tidak cukup umur itu.


 


 


Vara melepas kecupannya dan menatap kesal pada Harsen.


 


"Jangan mengataiku belum cukup umur dan jangan coba-coba memancing ikan di laut. Jika dia sudah naik ke atas dia akan menggelepar sendiri." kata Vara lalu beranjak dengan kesal.


 


Harsen sejenak berpikir, "Apa hubungannya dengan Ikan di laut yang menggelepar? Kau memang wanita yang berbeda." gumam Harsen dengan tawa geli ,lalu berlari mengejar Vara dan menarik tangannya.


 


 


"Apaan lagi sih Kak! Tidak bisa melihat keadaan? wajah ku sudah memalukan." ketus Vara menepis tangan Harsen.


 


 


Harsen langsung berpindah kedepan Vara dan setengah duduk di hadapannya.


 


"Mau Apa?"


 


"Main kuda-kudaan! ya menggendong kamulah, sudah sini naik." kata Harsen menarik tangan Vara.


 


 


Mau tidak mau Vara pun mengikutinya, dengan perlahan Harsen membawa tubuh Vara dalam gendongan belakang menaiki anak tangga. Vara tersenyum dengan menyandarkan kepalanya di atas bahu Harsen.


 


"Vara enggak boleh marah-marah, kalau lihat Vara marah-marah rasanya kakak sangat sedih. Kamu itu sangat jelek kalau marah, apa lagi menangis. Sangat cantik, saat Vara tersenyum, manisnya buat orang hampir diabetes." ujar Harsen dengan lembutnya.


 


"Ada yang ngegombal dong apa melawak ya?" tanya Vara.


 


Harsen hanya tersenyum, saat keduanya tiba di atas, Harsen langsung membawa Vara menuju kamarnya, tampak dari kejahuan Raka dan Eva berada di depan pintu kamar Rava.


 


"Papa... Mama." seru Vara, dengan perlahan turun dari gendongan Harsen.


 


 


"Ssssttt....Jangan kencang-kencang sayang, siniii" kata Eva.


 


Harsen menatap kaget pada kedua orang tua atasannya dan calon mertuanya itu. Sampai-sampai Ia berhalusinasi, jika sempat Ia menikah dengan Vara, bakalan bernasib sama pada Rava apa tidak?Punya orang tua kepo sendiri.


 


"Mama sama Papa...Ngapain berada di sini?" tanya Vara berbisik-bisik.


 


"Mama sama Papa cuma mau memastikan, mereka berdua itu menunda anak atau enggak, dan di dalam sana, kamar mereka kan sudah Vara, Defan dan Harsen yang hias sama hadiah dari kita semua. Jadi... Mama sama Papa pastikan untuk memantau mereka saja, barusan saja kok." ucap Eva.


 


 


"Loh... siapa? kan kamu yang ajak aku sayang... Kenapa aku yang di bawa-bawa sih," sambung Raka, tetapi kupingnya kembali di tempelnya di depan pintu kamar Rava dan Renata yang bertuliskan.


 


"LAGI MALAM PERTAMA JANGAN DI BANTING!!!"


TERTANDA DEFAN.


Menghiasi pintu depan kamar Rava dan Renata.


 


 


Bersambung.


......


Maaf... Besok ya MP nya mereka 🤣. Ini juga telat karena sibuk di dunia nyata. Tolong kasi jempol dan Votenya ya...🥰😘🙏