
"Apa sudah selesai ngupingnya?" tanya Harsen dengan menatapi keduanya.
Jimmy dan Defan sama-sama kaget melihat Harsen dan Vara sudah di belakang mereka. Wajah Vara tampak kesal dengan mulut yang di kembungkan.
"Agh....Kak... Bukan Defan... Tadi Om Jimmy duluan yang ngeten Kakak dan Vara. Defan cuma ngikut berdiri di belakang Om Jimmy, Sumpah di sambar geledek... enggak nguping kak." balas Defan ketakutan.
"Yeee... Sama aja kok. Ini anak juga sama ngeten, benaran di sambar geledek entar Lu." kata Jimmy kesal.
"Biarin... enggak ada geledek juga, kan gak hujan." keluh Defan sok sedih.
"Sudah-sudah jangan bertengkar... Paman sama Defan sama-sama kepo." kata Vara menatap aneh.
"Bukan.... Gua bukan Kpop." balas Defan cepat.
"KEPOOOO!!!! K-E-P-O. Kepoooo anak bule." ucap Jimmy dengan penekanan.
"Seterah Om lah... pusing kupingku dengar suara om." kata Defan.
"Varaaaa.... Harsen, Defan, ajak papa kalian turun. Kak Rava sudah pulang." teriak Eva dari bawah.
"Iya Ma..." balas Vara kuat.
"Nah.. Kak Rava memang penyelamatku. Aku duluan turun, byeeee..." kata Defan cepat-cepat turun menghindari tatapan Harsen dan Vara.
Tinggallah si Jimmy yang di tatap dengan salah tingkah.
"Maaf Vara, Harsen, Paman turun dulu." ucap Jimmy dengan setengah berlari.
Vara dan Harsen sama-sama tertawa melihat tingkah keduanya.
"Sudahlah... Ayo kita panggilkan Papa dan Paman." ajak Harsen dengan menyentuh kepala Vara dengan lembut .
"Ayo Kak." balas Vara dengan senyuman.
Defan yang sudah di bawah, melihat Rava sedang berbincang dengan Anna dan Rere di dekat dapur dengan berdiri menghadap para wanita hebat itu, langsung saja di peluk Defan dengan semangatnya.
"Kak Rava." kata Defan dengan mesranya.
Kagetlah Rava dan yang lainnya ikut tersenyum melihat manjanya Defan.
"Apaan sih Kau ini Defan? Buat kakak kaget saja, syukur enggak kesedak, lagi nyemil juga. Sudah lepaskan tanganmu." perintah Rava.
"Kakkkk... Lama banget sih pulangnya, kan Defan rindu." katanya dengan menggoyang-goyangkan tubuh Rava.
"EH....Anak orang-orangan salju! Lepaskan keponakan gua! Lo emang mirip banget deh sama bapak lu!." cetus Jimmy dari belakang.
Casandra yang sedang duduk seusai selesai menghidangkan makanan, ikut menimpali ucapan Jimmy.
"Jim... Kalau dia enggak mirip bapaknya, bisa di pertanyakan dong... cairan siapa dia?" celetuk Casandra.
Defan meringis sedih, sedangkan Renata yang awalnya hanya senyum-senyum ikut buka suara.
"Mami....Enggak baik agh. Defan anak baik kok," bela Renata.
"Kak Renaaaa." ucap Defan meringis, melepas pelukannya dari Rava dan hendak berjalan mendekati Renata.
"Egh...Mau ke mana? Sini saja , jangan ganggu wanitaku." Rava menarik baju Defan.
"Apaan sih kak... cuma mau meluk kak Rena doang." jawab Defan.
"Enak aja lo peluk-peluk keponakan gua, Jangan!." ketus Jimmy.
"Ada apa ini?" ucap Raka dari arah belakang.
"Sayang... Sudah bawa anak-anak ke meja makan. Biar kita semua makan malam, mereka juga sudah kelelahan." perintah Eva ke Raka.
"Baiklah... Ayo Rava, Defan, Renata kita ke meja makan, yang lainnya sudah di sana." ajak Raka.
"Iya pa." balas Rava dan di ikuti yang lainnya, beranjak untuk melangkah ke ruangan makan.
Jimmy protes ke Raka, "Terus saya Pak Raka? Enggak di ajak gitu?"
Raka terhenti dan menatap Jimmy dengan kening mengkerut.
"Jimm... Jangan mulai dah." jawab Raka.
"Lah... Mulai apaan Pak? Kan tadi kita udah main game, ini kan yang saya tanya kenapa saya enggak di ajak juga, kenapa cuma Renata, Harsen dan Defan?"
"Aataga Jimmmmm... Naik darah rendah saya kamu buat. Kan yang di suruh Eva, Anak-anak. Bukan Bapak-bapak. Kamu kan sudah buat anak, jadi tahu diri, uda tua. Sudah mau balik ke showroom, jadi jangan suka ngawur." kata Raka kesal.
Raka buru-buru berjalan meninggalkan Jimmy, karena males melawan Jimmy karena suka kalah berdebat dengan si Jimmy.
"Sudah mau balik ke showroom? Maksudnya apaan ya? Pak Rak—" ucapnya terpotong melihat kepergian Raka.
***
"Ayo semuanya di makan." ucap Eva mempersilahkan.
Jadilah semua para istri dan para kekasih bertugas memberikan pelayanan untuk para pria dan lelaki. Sedangkan Defan menatapi semuanya yang sangat harmonis itu.
"Ini punya kamu." kata Anna ke Defan dengan memberikan nasi yang sudah berisi lauk.
"Makanlah sayang.... Jangan bersedih. Kita semua keluarga, jangan enggan untuk mengatakan apapun yang kamu mau." kata Anna dengan ramah.
"Duh... Aunty berbedah benar dengan om Jimmy." ucap Defan di selah kesedihan.
"Jangan memujiku." sambung Jimmy dengan mengunyah makanannya.
"Sudah Defan... Makanlah Nak. Makan yang banyak, biar bapakk mu di sana bangga dengan Pamanmu, mengurusmu dengan baik." celetuk Raka.
"Astaga Pak Raka cari nama." gumam Jimmy pelan.
"Iya Paman... Tenang saja, Defan akan menikmati semua makanan yang terhidang di meja ini." ucap Defan bersemangat.
Leo dan Varel cuma senyam-senyum, tidak berani mengurusi keluarga Atmadja itu. Sedangkan yang lainnya menikmati makanan mereka dengan hening, malas mengikuti kegilaan yang lainnya.
***
Seusai makan malam, sejenak para keluarga itu duduk di ruangan keluarga. Raka kembali membuka percakapan tentang pernikahan Raka dan Renata.
"Selamat malam, seluruh keluarga tersayang. Hemmm.... Saya di sini akan mengumumkan, tentang keputusan pernikahan Rava dan Renata, akan kita gelar di mini Cafe yang sudah di booking oleh Rava sejak bulan lalu. Konsepnya bertemakan mini Garden, tolong para kaum mama, di bantu untuk persiapannya. Jadi kita semua memiliki peran masing-masing dalam pembentukan acara yang akan di gelar sederhana tapi mewah." kata Raka.
"Baik Pak Raka, saya akan bertugas menjadi penari latar." kata Jimmy cepat.
"Astaga.. buat apa ada penari latar, Paman?" tanya Rava kaget.
"Iya ni Paman... Masa iya penari latar?" sambung Renata sedih.
"Jim... Bagusan kamu jadi figuran aja, atau patung gitu menambah pemanis dekorasi di acara nanti." Leo tiba-tiba menimpali.
Semuanya tertawa mendengar suara Leo yang jarang ikut nimbrung, jiwa Leo dan Harsen hampir mirip, suka nimbrung tiba-tiba. Rasanya membuat yang lainnya geli mendengar suara langkah dari keluarga Leo.
"Dih Pak Leo... Sekali ngomong dalam." kata Jimmy.
"Apanya yang dalam Jim?" tanya Varel.
"Sakitnya Rel... Sakit uluh hati gua." Jimmy meringis.
"Dih... Sudah.. Kalau kalian berkumpul susah serius. Kasihan anak-anak sudah lelah. Jadi keputusan sesuai Rava dan Renata, satu minggu dari sekarang pernikahan akan di langsungkan, WO juga sudah membantu sesuai permintaan Rava dan Renata, jadi semuanya kita yang di sini cuma membantu memantau seluruh rangkaian acara. " ucap Eva dengan tegas.
"Siap Calon besan." sambung Casandra.
"Wokey Bibi cantik." ucap si Defan.
"Asiaaapppp.... " Jimmy ikut menyambung.
"Okey... Berarti semuanya sudah sangat jelas ya. Mulai dari hari ini ,Renata di pingit sampai hari pernikahaan mempertemukan Renata dan Rava." ucap Varel bersemangat.
"Lah Paman kok gitu sih? Satu hari saja tidak di dekatnya rasanya seperti mau pingsan Paman." protes Rava.
"Masih seperti kan, Nak?" tanya Eva meledek.
"Mama... Papa. Agh belain anaknya dong." rengek Rava.
Raka salah tingkah melihat rengekan Rava, "Eh....Hah... masa cuma 7 hari loh Nak. Sabarlah sedikit saja." kata Raka.
"Tidak usah takut, kita akan bertemu diam-diam." bisik Renata dengan mata berbinar.
Rava yang mendengarnya sejenak berdiam mencerna kata-kata Renata barusan.
"Awas saja ya Renata, Paman akan menjadi pengawalmu di depan rumah kamu!." ancam Jimmy.
"Samaaaa.... Kak Rava, berada dalam pengawasan Defan." kata Defan dengan menajamkan pandangannya.
Rava menatap kesal ke Jimmy dan berpindah ke Defan.
"Dan Aku juga." Harsen menimpali.
"Dan Aku juga pastinya." kata Vara dengan melipatkan tangan ke atas dadanya.
Semakin kesalla si Rava di buat ketiga adiknya yang sepakat membuatnya tersiksa.
"Baiklah... kalau sudah begini, apa boleh baut." kata Rava sedih.
Tertawalah semuanya...Rava di tindas secara bersamaan. Seusai pembicaraan, seluruhnya pamit untuk pulang, termasuklah Renata, yang dengan beraninya Rava memeluk tubuh wanita kesayangannya di depan para keluarga.
"Sampai jumpa di hari pernikahan kita sayang. Sehat-sehat selama aku tidak di sisimu, aku sangat mencintaimu." kata Rava dengan memeluk erat tubuh Renata.
"Iya sayang... Kamu juga. Sampai jumpa di pernikahan kita, aku juga sangat mencintaimu." balas Renata.
"HEmmmmmm... Ayo sayang kita pulang." kata Varel yang sudah berada di dalam mobil.
Dengan berat hati Rava melepas pelukannya dari tubuh Renata. Dengan perlahan juga, Renata berjalan ke arah mobil dan melambaikan tangannya. Terjadilah kesedihan di dalam diri Rava, menatap kepergian sang kekasih. Eva memeluk tubuh anaknya dan memberikan kekuatan.
"Hanya sebentar sayang." ucap Eva.
Rava memeluk sang Mama yang tahu isi hatinya dan perasaanya saat itu.
Bersambung.
......
Jika ada typo akan segerah di perbaiki, jangan lupa tekan like dan Vote ya. Tunggu bab selanjutnya pernikahan Rava dan Renata :).