
INTRO : Klik Jempol/Like nya ya.
***
Beberapa Hari Kemudian.
Hari itu adalah pagi, pagi yang hampa menurut Rava, meskipun persiapan pernikahannya sudah 100% selesai dengan sesuai harapannya dan harapan Renata. Tetapi baginya, untuk tidak berjumpa dengan Renata di Negara yang sama, udara yang sama, waktu yang sama, bahkan di hari yang sama, menurutnya adalah sesuatu yang susah untuk di tahan oleh Rava. Berbeda saat Ia jauh, perbedaan tempat, suasana dan waktu mampu membuatnya bertahan.
Tetapi, Pagi yang sudah menjelang siang itu, Rava memilih ke bawah, menghampiri Eva yang sedang membuatkan cemilan untuk anak dan suaminya. Hanya Rava yang berada di rumah, Defan, Vara dan Harsen, seusai makan pagi, sudah izin untuk berjalan-jalan ke rumah teman-teman mereka, itu sih alasan mereka pada Rava dan Eva. Ada Harsen yang menemani kedua adiknya untuk keluyuran di pagi hari.
“Ma… Lagi apa?” panggil Rava,seraya mengambil Apel dan menggitnya lalu duduk di kursi yang ada di dapur.
“Mama buatkan cake kesukaan kalian semua, Kenapa turun?” tanya Eva mendekati sang anak.
“Bosan Ma di kamar mulu, sudah biasa bekerja, tiba-tiba hanya di rumah dan enggak boleh keluar rumah. Rasanya kan seperti kek **** tiba-tiba Ma.” kata Rava seraya mengunyah Apelnya.
Eva mendekati sang anak dan duduk di depannya.
“Hemmm.. sabar dong sayang, Sisa dua hari saja, lusa kamu sudah melepas masa lajang kamu, bagaimana perasaan kamu?” tanya Eva dengan menopang dagu.
Rava tersenyum melihat ekspresi Eva, “Mama penasaran ya?”
“Ya dong… Gimana? Kalau mama dulu sangat takut, takutnya sih karena dulu mama cuma punya Paman Jimmy, Paman Varel dan Bibi Casandra. Kalau kamu kan, semuanya lengkap, tidak ada yang kurang kan?” tanya Eva.
“Iya sih Ma, Hanya paman Frans dan bibi Delia yang enggak tahu bisa apa enggak? karena paman teramat sibuk mengurusi kerjaannya. Tapi kalau bagi Rava sih, soal perasaan sekarang belum gugup Ma, masih biasa aja bagi Rava. Hanya saja merasa bosan, enggak bisa jumpa dengan Renata.” ungkap Rava.
“Wah.. kau ini sama saja dengan papamu, enggak sabaran banget. Sabarlah sayang, lusa kan sudah jumpa dan malamnya sudah tidur bareng, kamu ini sungguh tak sabaran. Bagaimana dengan Mama? Apa kau juga bakalan seperti itu?” Eva menatap anaknya dengan purak-purak cemburu.
“Mama.. ya pastilah. Mama itu sampai kapanpun tetap wanita yang aku cintai sampai seumur hidupku, begitu juga dengan Vara. Mama, Vara dan Renata, tiga wanita yang tidak akan pernah Rava abaikan, jadi Mama enggak boleh cemburu,” kata Rava dengan mata yang menatap Eva dengan mesra.
Eva tertawa, “Kau ini, apapun ceritanya, jika sudah menikah dan hidup bersama, poin pentingya kamu boleh mencintai mama dan adikmu, tetapi Istrimu adalah hal utama sebagai tanggung jawabmu, Kau harus mengingat itu sayang. Soal kejujuran, Kau juga harus menjaga perasaan istrimu kelak, jangan ada yang kau tutupi dari istrimu, soal keuangan, walaupun Rava dan Renata memiliki keuangan yang sama-sama besar, Mama harap Rava mengingat tanggung jawab kamu sebagai suami yang harus menafkahi istri dan anakmu. Terussss… Soal komunikasi, meskipun kamu dan Renata bakalan sama-sama bekerja, ada baiknya komunikasi tetap di jalankan dengan baik, sebagaimana kalian berpacaran, seperti itulah saat menikah nanti kalian buat, agar hubungan kalian berdua tidak ada kata bosan, tidak ada kata tidak saling memahami, harus ada yang mengalah jika salah satu di antara kalian sedang marah, jadi Rava di sini kudu harus mengerti istrimu, apa lagi kamu tahu kan? Renata anak tunggal sayang, dia memiliki cinta yang besar dari kedua orang tuanya dan yang lainnya, mama minta jangan pernah sekalipun kamu membuatnya tersakiti. Ya semoga saja, Renata kebal menghadapi sifat cemburuanmu sama seperti papa mu itu.” ujar Eva dengan panjang lebar.
“Mama… Terima kasih banyak atas nasihatnya selama ini Ma. Benar kata papa, Mama memang wanita yang memiliki hati dan sifat yang baik, soal cemburu itu alami Ma, tetapi lihat saja kedepannya.” kata Rava berbangga diri.
“Kamu berkata seperti itu, Karena yang ngomong juga mama kamu sendiri sayang, sudahlah… poin penting dalam berumah tangga sudah mama sampaikan ke kamu, pilhan ada di tangan kamu sayang. Jadilah pemimpin rumah tangga yang bijak dalam menyikapi apapun. Mama enggak sangkah bisa mengantarkan kamu ke pintu gerbang kehidupan barumu.” ucap Eva menyentuh tangan Rava.
“Rava juga Ma, semua yang pernah Rava impikan, akhirnya akan menjadi kenyataan,” kata Rava membalas genggaman tangan Eva.
“Terima kasih anakku, masa muda yang baik telah kau berikan untuk Mama, Papa dan juga Vara, Mama iklas melepas kamu sayang. Sudahlah… Nanti mama jadi menangis, kamu naiklah ke atas sayang, sebentar lagi kiki kembali, tadi mama suru dia belanja.” Eva berdiri menuju ke open pemanggang kue dengan mengusap air matanya yang hampir terjatuh, tidak ingin Rava melihatnya.
Rava sendiri hanya tersenyum, tahu dengan sifat sang mama yang mudah terpengaruh perasaannya jika menyangkut keluarganya.
“Kalau begitu Rava ke atas ya Ma,” kata Rava dengan beranjak dari duduknya.
“Iya sayang,” balas Eva.
Rava membawa kakinya melangkah keluar dari area dapur, melewati ruang tamu, tiba-tiba suara keributan terdengar dari pintu masuk, Rava terhenti sejenak dan menoleh ke arah pintu. Karena penasaran, akhirnya Rava berjalan ke arah pintu, tampaklah si Vara, Harsen dan Defan yang membawa barang di tangan mereka masing-masing. Rava terehenti menatapi ketiganya, enggak lama, muncul sosok Lee Min Ho dengan kaca mata hitamnya berjalan masuk dengan gaya sok muda. Mulut Rava terengangah karena tercengang, “Astaga, Pamann Franssss.” teriak Rava dan berlari ke arah Frans.
Masih bergaya sok kece, si Frans tiba-iba di peluk Rava dengan erat, jadilah Frans gagal tebar-tebar pesona yang hendak di persiapkannya untuk Raka.
“Paman Fransssss…” jerit Rava dan memeluknya dengan erat.
“Rava… Lah Paman barusan mau bergaya. Kau sudah main peluk-peluk saja,” kata Frans dengan menepuk bahu Rava dengan pelan.
“Kakak aneh,” gumam Defan.
“Apaan yang aneh! Ketimbang kamu ya Defan, Lihat Papamu bukannya di peluk, hanya di lihatin, kamu pikir hati Papa enggak sakit apa? Berbedah dengan Rava, dasar kamu anak yang tertukar.” celetuk Frans.
“Apaan sih Pa! Papa itu adik yang tertukar kata Paman Raka,” sambung Defan kesal.
“Jangan bawa-bawa Papaku,” sambung Vara menatap tajam ke Defan.
“Ayo Bi, Masuklah, jangan di tanggapi orang-orang di sini,” Harsen menarik lembut lengan Delia yang melihati keponakannya.
“Salam Bibi Delia,” kata Rava memberikan salim.
“Selamat Ya nak.. Maafkan Paman dan Bibimu, baru sempat untuk datang sekarang,” ucap Delia dengan lembut.
“Tidak masalah bi, Rava tahu kok. Ayo masuk Bi, Mama di dapur, mungkin enggak dengar kalau Paman dan Bibi datang.” ucap Rava mengajak mereka semua masuk dan berjalan melewati ruang tamu.
“Ma… Ada Paman Frans dan Bibi Delia,” teriak Rava.
“Terima kasih Mba Eva, Maaf kita baru bisa datang sekarang, Karena Frans sangat sibuk Mba,” ucap Delia.
“Tidak masalah Delia, kalian datang saja sudah bersyukur, ayolah masuk atau langsung ke atas saja, pasti sangat lelah.” ucap Eva.
“Mba… tunggu dulu, adik Mba yang tampannya enggak pernah pudar ini enggak di peluk Mba? Rindu loh Frans, Mba.” Frans meringis merasa di lupakan.
“JANGAAAAAANNN!!!” teriak Defan.
Teriakan Defan membuat seluruh orang di situ menoleh ke arahnya. Vara yang di dekat Defan mengusap-usap kupingnya merasa kupingnya berdengung seketika, Harsen yang di samping kanan Vara menyentuh kuping Vara, membantu menggosok-gosok dengan tatapan tajam ke Defan.
“Apaan sih Defan? Kenapa kau malahan menjerit, enggak sopan tahu!” kata Rava dengan tatapan tajamnya.
“Egh… Maaf kak… Tapi jangan! ini titah dan perintahnya paman Raka, anggap saja Defan ini paman Raka. Karena Paman Raka, enggak suka kalau Bibi Eva di peluk pria lain. Jadi Papa juga enggak boleh, nanti mata-mata Paman Raka muncul loh,” ancam Defan.
“Benar juga yang di katakan Defan, enggak jadilah Mba, Frans takut Mba. Takut ada apa-apa sama tubuhku yang sudah menua ini Mba,” kata Frans ketakutan.
“Ya sudah sini, Rava saja yang memeluk Paman Frans menggantikan Mama,” kata Rava dengan cepat memeluk Frans dengan erat.
“Heh,” Frans merasa sesak di peluk kencang.
“Sudah Kak, nafsu amat sih,” ucap Defan.
“Lah.. Kau tahu Defan, Papamu ini pernah mengasuh Kakak selama tinggal di sini, suka nemani mama sampai ke pasar, Papamu ini sangat baik di masa mudanya, enggak tahu ya di masa tuanya,” ucap Rava memuji.
Frans yang semulanya berbangga hati mendengarkan pujian Rava di awal, ketika mendengar bagian di ujungnya dengan kata tua, mata nya terkesiap dan menoleh ke Rava dengan menyipitkan keduanya matanya.
“Masa tua Paman lebih indah nak, bersama Bibimu ini, meskipun punya anak yang sudah besar tidak berbakti pada Papa dan Mamanya, malahan pacaran sama anak mantan pacar pamannya.” ungkap si Frans.
Eva dan yang lainnya kaget terkecuali Delia hanya senyum saja mendengarkan anaknya sudah pacaran.
“Dari mana kamu tahu Frans?” tanya Eva kaget.
“Dih Mba, Frans belajar dari bang Raka. Mata-mata ada di dekat si Defan, ke manapun dia, Frans kirim itu mata-mata untuknya, terkecuali dia bersama Rava dan yang lainnya. Alice kan nama gadis itu? anaknya Mba Anet, bisa juga ada yang mau sama anak aneh ini,” ucap Frans menatap ke Defan.
“Pa… Anakmu ini tampan, mana ada yang menolak,” kata Defan dengan percaya dirinya.
“Halah… Kau itu tahu dirilah, tampanan Papamu lagi. Awas saja kau bermain-main dengan anak orang!” ketus Frans.
“Bagaimana dengan keputusan kamu Frans?” tanya Eva tiba-tiba.
“Tunggu dulu Mba, soal ini Frans akan bicarakan dengan Mba dan Bang Raka seusai pernikahan Rava, Ini pembicaraan serius bagi Frans dan Delia, Mba.” balas Frans dengan wajah seriusnya.
Perasaan Eva dan yang lainnya seketika itu menjadi tidak enakan. Rava, Vara, dan juga Harsen menatap ke Defan yang juga tiba-tiba hanya terdiam. Mereka tahu, jika wajah Frans sudah merubah wajahnya dengan khasnya yang serius, itu pertanda ada sesuatu yang menurut Frans tidak baik ataupun tidak sesuai yang di harapkannya.
“Baiklah kalau begitu, apakah kalian sudah makan? Apa mau ke kamar langsung untuk rebahan?” tanya Eva dengan senyuman mengubah suasana.
“Sudah Mba, ada baiknya Frans dan Delia ke kamar dulu aja Mba, rasanya lelah banget,” ungkap si Frans.
“Okey Paman… Ayo Rava bawa Paman dan Bibi ke kamar, yang lainnya tolong bawakan koper ke kamar Paman dan Bibi,” kata Rava dengan santainya, sambilan menggandeng tangan Frans dan mengajak Delia berjalan ke atas.
Vara, Harsen dan Defan menatapi kepergian Rava dengan kedua tangan di atas dada.
“Soal beginian aja, Kak Rava pintar mengambil pilihan,” celetuk Vara tidak senang.
“Sudahlah.. Ayo bantu bawakan koper ke atas.” ajak Defan dengan berpindah ke belakang.
“Tidak usah, Vara di sini saja atau temani Bibi Eva, Biar Kakak dan Defan saja.” ucap Harsen dengan senyum yang melekat di bibirnya. Eva sendiri tersenyum, dengan lembutnya Harsen memperlakukan putri kecilnya. Melihat senyum Vara yang juga memukau. Rasanya tidak sia-sia semua pilihan anak-anaknya untuk kebahagiaan mereka masing-masing.
Seusai Part ini, benaran Part pernikahan Rava dan Renata, tolong VOTE nya untuk menyambut sepasang kekasih yang akan mengikat janji mereka di sebuah pernikahan ^^. Turun rankingnya loh :D .
Bersambung