My Chosen Wife

My Chosen Wife
CINTA SEJAK KECIL.



Kedua bola mata Renata memutar dengan bersamaan, Ia sedikit kaget dan berpikir. Renata kembali tersenyum dengan menatap Alea, "Sayang... boleh ceritain ke Mama enggak? Apa saja cerita Papa ke kamu tentang Mama?"


 


 


Alea menatap wajah Renata, Ia tersenyum ke Renata dengan wajahnya yang polos, yang sepertinya Alea mengagumi sosok Renata.


 


 


"Mama...Dulu saat Papa Rava sebelum berangkat ke tempat yang jauh, papa Rava ke sini bilang Papa sebenarnya merasa sangat berat buat ninggali seorang gadis manja bernama Renata untuk ke tempat yang jauh. Terus Kata Papa, dia takut merindukan gadis kecilnya selain Alea. Karena, gadis kecilnya yang bernama Renata itu sangat cerewet, manja, suka bilang cinta, bahkan sangat usil, resek, ngeselin, suka sekali membuat Papa Rava dalam masalah, seperti saat Mama Renata bertengkar di sekolah. Papa Rava yang sudah enggak sekolah lagi bareng Mama Renata, jadi kembali ke sekolah untuk memperingati teman berantamnya Mama Renata. Terussss... Apa lagi ya yang Papa katakan? soalnya sudah sangat lama Ma... oh iya... kata Papa... Mama Renata itu sebenarnya gadis yang baik, yang bisa menarik perhatian papa. Meskipun kata papa dia suka marah-marah ke Mama Renata, sebenarnya hati papa sangat sakit kalau sudah memarahi Mama Renata apa lagi sampai melihat Mama Renata menangis, rasanya papa juga ikut sakit. Mama Renata katanya hanya kesepian, karena cuma papa Rava yang menjadi teman dekat Mama Renata. Kalau Papa pergi, Papa takut Mama kesepian. Karena Papa mau belajar, jadinya papa melepaskan Mama. Terusss kata Papa, Papa juga mau menghindari perjodohan, karena Papa Rava tidak mau kehidupannya di atur. Papa Rava mau memilih masa depannya sendiri. Karena itu juga papa Rava memilih tempat yang jauh biar jauh dari Mama Renata. Biar Mama Renata bisa melupakan Papa. Satu rahasia kecil Alea katakan pada Mama Renata," ucap Alea dengan menatap serius ke Renata.


 


 


Renata yang sempat serius mendengarkan ucapan Alea, kini Ia menatap ke Alea.


 


 


"Apaan itu sayang?" tanya Renata.


 


 


Alea melambaikan tangannya meminta Renata mendekatkan wajahnya ke Alea. Langsung saja, Renata mendekati wajahnya mengarahkan indera pendengarannya ke Alea.


 


 


"Kata papa... sebenarnya... Papa sudah mencintai Mama Renata dari Mama Renata pindah ke sekolah papa. Hanya saja, Papa enggak mau berpacaran di masa muda." bisik Alea.


 


 


Renata langsung terbengong lalu ia menatap lagi ke Alea.


 


 


"Benarkah papa mengatakan seperti itu?"


 


 


Alea mengangguk cepat dengan kedua mata yang tidak berkedip menatap ke Renata.


 


"Astaga.... Apakah ini benar? kenapa Aku tidak tahu selama ini?"


 


 


"Mama Renata... jangan marah sama papa ya? papa cuma bimbang katanya. Waktu itu papa juga ingin fokus untuk masa depan. Kata papa juga, papa ingin melihat Mama Renata bahagia di bandikan dengan bersama papa." kata Alea lagi.


 


 


 


Renata malahan tersenyum, ia mengusap lembut kepala Alea.


 


 


"Kamu sangat pintar sayang, pantasan saja papamu itu sangat menyayangi kamu." kata Renata dengan sangat lembut.


 


"Papa juga sangat menyayangi Mama" balas anak sepulu tahun itu.


 


Renata tersenyum, "Apakah papa dulu sering ke sini sayang?" tanya Renata dengan suara yang di buat anak-anak.


 


 


Alea menganggukan kepalanya, "Sangat sering Ma, oma dan opa sama aunty Vara juga suka ke sini. Mereka sangat baik pada kami semua Ma. Keluarga papa suka membawakan ke kami makanan bahkan pakaian untuk kami semua." celoteh Alea.


 


 


"Wah... Sepertinya cuma Mama Renata saja yang Enggak tahu tempat ini sayang." balas Renata dengan memandangi area panti.


 


 


"Iya... Alea juga baru pertama kali melihat Mama Renata brkunjung ke panti kami, tetapi Alea langsung tahu itu Mama Renat." ucap Alea sangat polos.


 


"Terus... dari mana Alea bisa kenal atau langsung tahu, kalau ini Mama Renata?"


 


 


"Hahhh... itu Ma... Papa Rava memberikan hp nya ke Alea dan menunjukkan foto Mama. Foto Mama ada banyak di hp papa. Ada foto Mama lagi tersenyum, tertawa, ngambek, foto Mama apa lagi ya? ada banyak sih Ma." celetuk Alea lagi.


 


 


Renata berpikir keras, "Bagaimana bisa ada fotoku di ponselnya? Hah.. selama ini aku juga tidak pernah memegang ponselnya. Teerusss... Rava enggak pernah memintaku untuk foto dengannya. Jadi... dari manakah fotoku semua? Apa selama ini, dia memotoku diam-diam?" gumam Renata dalam hatinya.


 


 


 


"Iya sayang... kenapa sayang?" tanya Renata dengan lembut.


 


 


"Mama.... papa Rava sangat beruntung karena papa bisa bersama dengan Mama."


 


Renata memiringkan kepalanya, mencoba mencerna perkataan Alea padanya, "Kenapa bisa begitu sayang?"


 


"Iya Ma... kata papa, jika suatu saat nanti papa bisa bersama Mama Renata adalah keburuntangan papa." ungkap Alea.


 


 


Seketika itu juga Renata tersenyum, "Wah... Alea tampaknya menjadi tempat curhatan Papa ya?"


 


 


"Sayanggg.... Alea" panggil Rava dari belakang.


 


Keduanya menoleh ke Rava dengan bersamaan, kemudian Renata kembali menoleh pada Alea.


"Papa sudah memanggil, Ayo kita ke sana sayang." ajak Renata dengan menarik pelan tangan Alea.


 


Keduanya berjalan dengan senyuman yang masih melingkar di bibir mereka. Berjalan bergandengan tangan, mendekati Rava. Sampai di depan Rava yang sudah di temani Ibu Roidah dan Mas Yanto.


 


 


"Kalian sedang apa di sana? Apa kalian menggosipi Papa?" tanya Rava dengan setengah duduk di hadapan Alea.


 


 


"Tidak Pa... Alea hanya menceritakan tentang masa yang tertunda." celoteh Alea, membuat semuanya tertawa.


 


"Kamu ini... semakin pintar saja. Sayang.. Papa dan Mama pamit pulang ya.. jika papa sudah tinggal di sini, Papa akan sering menjenguk kamu lagi. Alea baik-baik di sini ya sayang." kata Rava membelai lembut rambut panjangnya.


 


"Baiklah Papa... Papa harus selalu menjaga Mama Renata ya. Jangan nakal-nakal ya, karena Mama Renata ternyata sangat baik Pa. Enggak seperti yang Papa katakan dulu." pinta Alea.


 


Rava tersenyum, "Baiklah Anakku sayang, kalau begitu Papa pulang ya." ucap Rava dengan mengecup pipinya Alea.


 


Seusai Rava berdiri giliran Renata berpamitan pada anak si Rava, "Sayang... Terima kasih untuk semuanya." bisik Renata, "Mama pulang dulu ya sayang " katanya dengan kuat.


 


Rava memiringkan kepalanya merasa penasaran dengan bisikan Renata barusan. Tetapi nanti sajalah pikirnya akan di tanyakan Rava ke Renata.


 


Renata dan Rava berpamitan pada Ibu Roidah dan Mas Yanto. Seusai berpamitan, keduanya berjalan ke arah mobil Rava.


"Hati-hati Papa dan Mama." seru Alea bersemangat dan dengan senyuman kecil di bibirnya.


 


Rava dan Renata yang sudah di dalam mobil dan hanya menginjak gasnya saja, menurunkan kaca, tersenyum ke arah Alea , Ibu Roidah dan Mas Yanto yang juga ikut melambaikan tangan ke arah Rava dan Renata.


 


"Bye sayang..." balas Renata dengan suara yang terdengar bahagia.


 


 


Akhirnya mobil Rava melaju keluar dari area panti, melaju sedang hingga menembus kota Jakarta. Terjadi keheningan di antara keduanya, membuat Rava sedikit panas dingin.


 


 


"Sayang." panggil Rava.


 


Renata menoleh ke arahnya, "Hemmmm?" jawabnya.


 


"Apa Kau tidak ingin mengajukan pertanyaan?" tanya Rava.


 


 


 


Bersambung.


........


 


Terima kasih semuanya yang sudah mau memberikan VOTE nya, Like dan juga komentarnya. Dukung karya penulis untuk masuk ranking ya. Vote akan di tutup dan kembali ke 0 di jam 22:59:59. Terima kasih semuanya 😍😘. Saya selipkan lagi cara Votenya ya di bawah ini.