My Chosen Wife

My Chosen Wife
V&A.



2 Bulan Kemudian.


Terlihat dari kejauhan salah satu unit toko yang cukup luas berbentuk bangunan modern yang berlokasi di pinggiran jalan dengan letak yang strategis di desain sebaik mungkin untuk menampilkan karya desain dengan logo V&A milik Vara Atmadja. Di sinilah, seluruh keluarga, tamu undangan, kerabat dekat dan rekan bisnis memenuhi lapangan parkir, ruangan toko bertingkat tiga yang sudah di penuhi dengan gaun pakaian, dan fashions wanita lainnya dengan brand yang di rancang sendiri oleh Vara.


Vara menjual produk fashions hasil desain dan karyanya sendiri dan sudah mendapatkan beberapa kerja sama dari perusahaan yang menaungi butik Vara. Bukan hal sulit bagi Vara memiliki papa dan kakak yang merupakan seorang pengusaha. Tampak bunga papan ucapan peresmian sudah memenuhi area toko, pinggiran jalan yang menambah keramaian.


Setelah acara menggunting pita, Vara mengizinkan seluruh tamu untuk menikmati makanan yang sudah di hidangkan dalam acara syukuran butik Vara, begitu juga untuk penyambutan pembukaan, Vara memberikan potongan untuk harga yang tertera di seluruh prodok yang dia jual. Tampak Vara sangat bahagia, karena ini adalah pilihan Vara dan Harsen. Ya 2 bulan kemarin, Vara dan Harsen sama-sama sudah membicarakan soal pernikahan dan pekerjaan sehingga terjadilah kesepakatan antara Vara dan Harsen.


Harsen tidak mau egois, meskipun Vara sudah siap untuk menikah, setidaknya Harsen mau Vara menikmati hasil dari jerih payah serta keinginannya untuk membuka butik dengan rancangannya sendiri. Dengan demikian, Vara menerima masukan Harsen walaupun dengan berat hati. Meskipun begitu, Vara selalu memakai cincin yang di berikan Harsen untuknya. Karena melihat cincin Harsen, membantu Vara dalam mendesain apa saja yang ia mau.


"Nona Vara" panggil Audi asisten pribadi Vara.


"Iya.." Vara yang sedang rebahan menoleh ke Audi.


"Maaf Nona.. Papa anda memanggil." balas Audi.


"Ouu baiklah... Saya akan turun." ucap Vara.


Setelah di rasa cukup untuk Vara beristirahat, karena kakinya merasakan pegal, efek kebanyakan berdiri untuk menyambut seluruh undangan yang datang ke butiknya. Saat Vara beranjak untuk berdiri dan hendak memakai sepatunya, Harsen datang ke dalam kantor Vara.


"Apa masih sakit?" Harsen berjalan mendekati Vara yang sudah berdiri di dekat sofa.


Vara tersenyum dan mengangguk pelan. Harsen berjongkok dan memperhatikan kaki Vara dari dekat dan menyentuh pergelangan kaki Vara.


"Kak... berdiri, jangan seperti ini, Vara tidak apa-apa kok."


Harsen tidak mengindahkan ucapan Vara, Harsen membawa cream pereda nyeri pada otot kaki, dan mengoleskannya ke kaki Vara dan memijat pelan. Meskipun sudah beberapa bulan pacaran dengan Harsen, Vara masih suka gugup dengan perlakuan Harsen terhadap dirinya.


"Bagaimana apa sudah enakan?" Harsen menengadah ke atas menatap wajah gugupnya Vara.


Vara mengangguk pelan, "Sudah Kak... ayo berdiri."


"Kalau tidak enakan jangan di paksakan, bisa turun sendiri?" sambil berdiri dan menatap wajah Vara yang terlihat lelah.


"Bisa... kan ada lift kak." balas Vara tersenyum kecil.


"Baiklah....Ayo turun, Paman Raka memanggilmu." balas Harsen dengan seulas senyuman.


Dengan semangatnya Vara berjalan dengan di ikuti Harsen dari belakang. Setelah keluar dari Lift, Vara di sambut oleh beberapa tamu yang belum sempat memberikan Vara ucapan. Dengan setianya Harsen mendampingi Vara dari kejahuan. Seusai menyambut tamu, Vara mendekati keluarganya yang sudah berkumpul di satu ruangan.


"Ada apa Pa?" tanya Vara ke Raka.


Semuanya melihat ke arah Vara, ruangan khusus yang di batasi dinding kaca yang di gunakan untuk rapat.


"Kau tidak kenal dengan temanmu sayang?" tanya Raka lalu menunjuk ke arah samping James. Mereka semua baru tiba di acara Vara.


Vara mencoba mengikuti arah yang di tunjukkan Raka.


"Siapa?" tanya Vara melirik ke perempuan di samping James, "Pacarnya James?"


"Bukan Vara... mana ada yang mau sama si James." sambung si Jimmy yang mendapatkan pelototan si Raka.


"Kau benaran tidak tau Vara?" Rava membuka suaranya.


Perempuan yang di bicarakan sudah senyum-senyum sendiri.


"Kakak mengenalnya?" Vara balik tanya.


"Hemmmm... Kakak mengenalnya, bahkan kak Renata juga mengenalnya." balas Rava.


"Kak Renata mengenalnya juga?" tanya Vara bingung.


"Benar Sayang... Kakak mengenalnya. Masa kamu gak kenal?" Renata menautkan kedua alisnya.


Vara mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan orang sekelilingnya yang masih senyum-senyum sendiri.


"Duduklah dulu sayang."panggil Eva dengan menepuk sofa di sebelahnya namun Vara tidak bergeming dari penasarannya.


"Noona... Mungkin ingatan Vara sedang buruk, cuaca di luar sangatlah panas, jadi ingatan Vara sedikit rusak." James menimpali.


"Kau ini ada-ada saja sij James, Vara kelelahan, karena itu dia belum bisa mengingat siapa Jenny." sambung Anna.


"Astaga sayang... " Jimmy menoleh ke Anna yang menyentuh mulutnya.


"Keceplosan." bisik Anna.


"Biasalah Anna memang begitu orangnya." saut Casandra.


Vara masih berpikir, "Jenny?" gumamnya dalam hati dan memiringkan kepalanya, lalu ia menatap lagi ke Jenny yang membalas tatapannya dengan senyuman.


"Astaga... Kau Jenny yang di juluki si tukang ngences kan?" Vara mencoba menebak.


"Si tukang ngences?" gumam Jimmy.


Jenny bukannya malu, Ia tersenyum dan menganggukan kepalanya cepat, kemudian berdiri dan memeluk Vara.


"Iyaaa... Aku Jenny, yang kau berikan julukan si tukang ngences Vara." kata Jenny dengan bahagia.


"Astagaaa... Maafkan Aku Jen, Kau sekarang semakin cantik. Aku sampai pangling tidak bisa mengenalimu. Mana rambut kamu sekarang pendek, bukankah dulu rambut kamu panjang? kau memotongnya?" Vara membalas pelukannya dengan banyak pertanyaan.


"Iya... Aku merubah penampilanku. Aku tidak tau, Kau juga sudah bertambah cantik. Kau tidak operasi pelastikan kan Vara?" tanya si Jenny dengan polosnya.


Vara melonggarkan pelukannya dan menatap Jenny dengan dingin.


"Enak saja kau bilang aku operasi pelastik, sejak di dalam kandungan Mamaku, Aku juga sudah cantik. Lihat ini batang hidungku," Vara menarik hidungnya ke atas, ke kiri, ke kanan, "Gak lentur kan? Ini elastis hidung bawaan sejak lahir. Kau ini bergurau saja." ketus si Vara.


Jenny malahan tertawa, "Jangan marah-marah, nanti bedak mu luntur Vara."


"Emang dari dulu ya, lugu-lugu oon mu itu tidak berubah." ledek si Vara.


"Oon? Sejenis makanan ringankah itu?" Jenny menatap sendu ke Vara.


"Bukaaaaan. Dari mana jalannya oon sejenis makanan ringan Jenny oh Jenny?" Jimmy menatap ke Jenny.


"Jangan di ladeni Paman....entar makin loh." saut Vara.


Jenny refleks memukul pundak Vara, "Selamat ya, sekarang sudah jadi boss."


Vara menyentuh pundaknya, "gila... itu tangan apa batu? sakit banget." gumamnya dalam hati.


Kedua sudut bibir Vara tertarik dengan paksa, "Hehehe... Terima kasih Jen, Kau memang cocok dengan James." balas Vara.


"Terima kasih Vara," balas Jenny berbangga hati, "Sebentar lagi teman kita akan datang juga Vara." Jenny tersenyum.


"Teman kita?" tanya Vara.


Vara meliriik semua keluarganya yang sudah sibuk berbincang satu sama lain. Sedangkan Vara, masih menatap bingung ke Jenny. Meskipun berada tidak dekat dengan Harsen, Harsen yang membantu mengurusi tamu-tamu dengan yang lainnya, tetap memperhatikan Vara. Kedua ekor matanya, tidak bisa melepaskan pandangannya dari Vara.


"Siapa yang kau maksud Jen?" tanya Vara penasaran.


"Nanti juga kau akan tau Vara." Jenny tersenyum.


"Terserah kau sajalah, bodoh mamat." balas Vara dengan malas.


"Oh ya Vara.. calon suami kamu sangat tampan." kata Jenny memuji.


"Awas saja lo naksir!" ketus Vara.


"Gak mungkinlah Vara, Kau ini bicara omong kosong. Jenny kan udah punya babang ganteng James." Jenny memuji James membuat James tersenyum.


Vara menajamkan mata kanannya sambil melirik ngenes ke James.


"Kenapa?" Jenny bertanya.


"Sama kaya Lo Jen, payahhhh..."


"Varaaaaaaa." teriak wanita yang membuat seluruh keluarga Atmadja dan para sahabatnya melirik ke arah suara yang menggelegar, meringkuk masuk ke indera pendengaran mereka.


Dengan di antarkan oleh Harsen, perempuan yang berteriak itu memeluk erat Vara. Vara merasa sesak, dengan pelukannya. Harsen sendiri mengangkat satu alisnya, karena Ia tau siapa yang memeluk Vara. Kemudian kembali keluar, untuk memantau tamu dan pengunjung. Karena memang acara puncaknya sudah selesai.


"Astagaaaa Vara.. akhirnya lo balik ke Jakarta juga, gue kan senang sahabat lama gue akhirnya sudah sukses. Gue mau dong jadi karyawan, Lo."


"Lo siapa?" tanya Vara saat pelukannya sudah terlepas.


"Ngeh... gak kenal? Sombong amat sih Lo! gua Rani, nama panjang gua Maharani. Ingat gak lo?"


"Iyeeee.. ingat, Dih... Gua benaran gila bisa ketemuan lagi sama lo berdua." Vara gak senang.


"Jadi lo gak senang, Lo masih marah sama gue? Dih Vara, udah jaman dulu.... gua juga uda punya calon suami. Kan gua cuma mengagumi kakak lo si Harsen dulunya, lo aja yang sensian. Sekarang kan uda gak, ayo dong kita sahaabtan lagi." Rani memohon dengan manik matanya yang sendu.


"Lo gak sopan Ran! harusnya Lo datang itu salami kek semua keluarganya Vara." Jenny memotong pembicaraan.


Seluruh keluarga menatapi si Rani yang masih bengong. Lalu Ia pun tersadar dan tertawa dengan cengengesan dan mendekati Raka duluan.


"Halo Om Raka, makin ganteng aja nih Om, awet muda gitu. Maaf ya Om gak sopan, lupa memberikan salam." Rani memberikan salim ke Raka.


Raka tertawa kecil, "Jangan memuji saya, kamu bisa kena lampu sorot matanya Istri saya loh." balas Raka.


"Benarkah? maafkan Rani, Tante Eva." kini Rani berpindah memberikan salim ke Eva.


Eva malahan tersenyum dan menepuk pundak Rani, "Tidak apa-apa, Rani."


Setelah dari Eva, Rani berpindah ke Jimmy.


"Salam kenal Om, calon mertuanya Jenny."


"Salam kenal Rani, lain kali suaranya jangan lupa di pasang rem ya?" Jimmy menatap Rani.


Seusai memberikan salim, Rani membalas tatapan Jimmy seoalah dia bingung.


"Di pasang rem om? caranya gimana Om?" tanya Rani polos.


"Belajar aja sama si Mira, biar pintar." celetuk Jimmy.


"Mira? Siapa lagi itu?" tanya Rani menoleh ke James.


James hanya menaikkan sebelah pundaknya dengan bibir terkatup.


"Temannya si Jabrik." saut Casandra ke Rani.


Rani menoleh ke si Casandra, "Siapa lagi si Jabrik Tan?"


"Temannya si Mira." Jimmy membalas lagi.


"Sudah sini, jangan di dengarin mereka berdua, yang ada kamu malahan pusing. Kenalkan Nama Tante Anna, kenapa kamu lucu banget? Padahal cantik loh,"


Rani memberikan salim ke Anna. "Terima kasih Tan sudah mengatakan cantik, Calon mama mertua Jenny kan?." tanya Rani tersipu malu.


"Benar sayang..." Anna tersenyum.



Kini Rani berpindah ke Casandra dan langsung memberikan salim.


"Sabar-sabar kalau jumpa dengan keluarga besar Vara. Karena kamu tadi jerit-jerit, semuanya jadi tau kedatangan kamu itu seperti kilat yang menghantam bumi." Casandra tersenyum.


"Sudah biasa Tante suara cempreng Rani keluar kalau jumpa sama Vara." balasnya malu.


"Bohong itu Bi, mana ada seperti itu. Dulu juga gak berteman dengan dia, orangnya usil!"


"Kok lo gitu sih Vara? Tunggu dulu, gue mau kenalan sama keluarga lainnya. Selesai ini, baru kita lanjut duel."


"Hallo Om...saya Rani." Rani memberikan salim ke Varel.


"Hallo juga Rani, saya Rina." ledek Varel.


"Loh... Om cewek ternyata?" Rani terkesiap.


"Kalau pagi Om cowok, siangnya Om Cewek, kalau malam dua-duanya." ujar Varel.


Casandra tertawa mendengarnya, Raka dan yang lainnya juga tertawa.


"Besan, ada-ada saja." gumam Raka.


"Rani gak percaya," kata Rani dengan berpindah ke Leo.


"Sore Om salam kenal dari Rani, jangan bilang nama om Ranu." katanya lalu memberikan salim ke Leo.


Leo tertawa kecil. "Nama Om Leo, papanya Harsen."


Setelah mendengarkan ucapan Leo, Rani masih memegang tangan Leo yang masih lengket di keningnya.


"Buessettt... Papanya aja ganteng. Pantesan saja kak Harsen tampannya cetar membahenol." gumam Rani di dalam hatinya.


"Satu lagi, calon mertuanya Vara." Leo berbangga diri, Vara di sana tersenyum malu.


Rani mendongak dan tersenyum, "Salam kenal ya Om, calon mertua Vara keren." kata Rani ke Leo.


"Kerenpeng" sambung Jimmy.


"Itu kerempeng maksud kamu Jim." Leo melirik ke Jimmy.


"Ya itulah Pak Leo.... biar pas aja." lanjut Jimmy sambil nyengir.


"Sini... Tante yang terakhir, salam kenal Rani, Tante namanya Rere" Rere menarik lengan Rani dengan lembut.


"Wah.... nama kita hampir mirip ya Tan?" Rani memberikan salim ke Rere.


"Jauh agh gak mirip," Rere meledek.


"Jauh ya... ayo berdekatan Tan biar kita semakin dekat gitu." balas Rani.


"Jangan mencari perhatian dengan calon Mama mertuaku Rani" Vara memberi peringatan.


Rere tersenyum, sedangkan Rani yang sudah selesai menyapa seluruhnya kembali ke Vara setelah kena ultimatum dari perkataan dan tatapan Vara.


"Terusss... calon suami ke mana Vara?" bisik Rani.


"Vara... banyak tamu yang hendak pamit pulang, bisakah kamu melayani mereka?" Harsen tiba-tiba datang dan mendekati keduanya, tanpa melirik ke Rani yang sudah menatapi Harsen sejak Ia berbicara.


"Baiklah Kak... Biar Vara yang melayani mereka." balasnya ke Harsen lalu menoleh ke keluarganya, "Semuanya, Vara keluar dulu ya? Titip Rani manusia langkah." kata Vara lalu berjalan di ikuti oleh Harsen.


"Apa itu Kak Harsen?" tanya Rani ke semuanya.


"Iyaaa Rani, Itu Harsen. Calon menantu saya," Raka yang menjawab.


Hueeeeeeeekkkkk....


Hueeeeeekkkkkkk....


Pandangan semuanya beralih ke suara yang berada satu ruangan dengan mereka, karena itu mohon dukungan VOTE nya dan juga LIKE nya... Terima kasih.🥰