My Chosen Wife

My Chosen Wife
SIAP MENIKAH!!!



“Selamat datang Tuan Raka.” seru salah satu dari kedua pria yang sudah duduk di salah satu meja dengan menatap kedatangan Raka dan Rava bersamaan.


Kedua ekor mata Rava mencoba menatap pada kedua pria yang sepertinya sudah sangat bernafsu untuk membicarakan bisnis dengan papanya.


Keduanya berdiri dan menyambut Rava dan Raka, mengulurkan masing-masing tangan dan saling menjabat. Setelah perkenalan dan duduk di tempat masing-masing, hingga berbasa-basi sejenak dan berada di titik temu kontrak kerja sama yang akan di tanda tangani Raka.


“Sepertinya sudah cocok, ini sudah bisa di tanda tangani,” Rava menyodorkan kontrak perjanjian kerja sama dari rekan bisnis papanya ke arah Raka.


“Baiklah,” Raka sudah mengambil pena dari dalam tas kerjanya dan bersiap membubuhkan tanda tanganya di atas kerja sama yang di minta dari perusahaan impor barang milik rekan bisnisnya.


“Tapi Tuan Raka.”  tangan Raka terhenti dengan suara dari rekan bisnisnya.


Raka mendongak, Rava ikut beralih ke pria paruh baya seusia papanya.


“Ada apa Tuan Edward?” tanya Raka dengan senyuman kecil dan kedua matanya menunggu jawaban dari mulut rekan bisnisnya.


“Bisakah, setelah melakukan kerja sama ini, saya melamar putri anda untuk putra saya ini?” Tuan Edward langsung ke inti tujuannya, yang akan mendapatkan kerja sama dari perusahaan Raka.


Pena yang berada di sela jemari Raka terlepas dengan kedua mata yang membelalak. Apa pula pikir Raka, kerja sama yang pertama kalinya dia terima dengan pergantian dari sang putri untuk keberhasilan kerja samanya.


Rava tidak kalah kagetnya dari Raka, Mulutnya tiba-tiba mengangah karena kaget. Bagaikan hentakan dari pukulan seseorang yang mengenai kepalanya. begitulah kata-kata Edward barusan membuat Rava emosi bukan kepalang.


“Apa maksud anda Tuan?” tanya Raka dengan kedua mata yang membulat penuh.


“Maksud Saya, bukankah setelah melakukan kerja sama antar dua perusahaan, bisa membuat hubungan kita semakin erat, apa lagi jika putra saya dan putri anda bisa bersatu dalam ikatan bekeluarga Tuan. Anak saya bernama Ansel, sudah memiliki rasa terhadap putri anda, sejak keduanya bertemu di New York.” jelas Tuan Edward, papanya Ansel.


“Tapi, tidak dengan Adik saya!” ini Rava berkata dengan menggertakkan giginya.


Tidak ada yang tau dari anak dan bapak itu, Rava adalah  putra Raka yang menemaninya untuk melakukan kerja sama. Ansel menoleh ke Rava, kedua ekor mata Rava tertarik untuk menyoroti mata Ansel.


“Maaf, Ta-“


“Saya bilang, tidak dengan adik saya!” kata-kata Rava di ulang dengan penegasan dengan kedua manik mata ketidak sukaan.


“Saya setuju dengan anak saya, saya tidak pernah melakukan kerja sama dengan perusahaan lain, membawa keluarga saya untuk di pertarukan seperti yang anda lakukan Tuan Edward. Begitu juga anak anda, meskipun keduanya mengenal satu sama lain, saya tetap tidak akan terima, anak saya di gantikan untuk mendapatkan tujuan seperti ini.” Raka menarik nafasnya yang terasa berat,


“Pria macam apa yang menggunakan kekuasaan Papanya untuk mendapatkan seorang wanita yang tidak bisa di dapatnya sendiri.Cih.. ini sungguh memalukan!” sindir Rava ke Ansel.


Ansel merasa malu, dengan sindiran Rava sebagai kakak dari Vara. Dia kira, Rava adalah asisten pribadinya Raka. Sebegitu terhinanya dirinya di depan Rava. Papa Ansel berkilah dan membuka pembelaannya.


“Bukan begitu Nak, bukankah jika adikmu dan anak saya, di satukan dalam ikatan pernikahan, bukankah masa depan mereka baik? Ansel anakku akan menjadi ahli waris dari seluruh kekayaanku. Putri dari Tuan Raka, sudah memiliki masa depan dan kehidupan yang sangat baik dari pada mencari pria di luaran sana yang tidak tau asal usulnya.” Tuan Edward mencoba membujuk.


“Tidak Pa, sudah jangan di teruskan lagi, Ansel sudah katakan ke Papa ini tidak benar Pa.” Ansel membujuk sang Papa.


“Jangan seperti ini Ansel, kita memberikan tawaran kerja sama yang baik untuk perusahaan Tuan Raka. Perusahaan di untungkan, kita menjadi keluarga dan berkiprah bersama untuk lebih menyukseskan setiap perusahaan kita.” Tuan Edward menggebu-gebu.


“Konyol! Jangan membicarakan omong kosong. Saya tidak setuju, Adik saya juga akan segera menikah dengan anak tunggal pewaris perusahaan Sun corp. Apakah anda pernah mendengarkannya? Sun Group anak perusahaan dari perusahaan keluarga Leonard corp. Dan itu perusahaan satu-satunya yang tidak masuk dalam daftar kerja sama perusahaan seperti kalian! yang meminta kerja sama dengan membawa keluarga kalian.” decak Rava dengan emosi membuncah.


“Sudalah Nak, tahan emosimu. Kalau begitu, saya tidak bisa melanjutkan kerja sama, dengan perusahaan anda Tuan. Lebih baik, saya kehilang kerja sama ini, dari pada mempertarukan kebahagiaan putri saya.” Raka beranjak dengan menatap kedua manik bapak dan anak di depannya.


“Ayo Rava, kita kembali Nak,” Raka berjalan dahulu meninggalkan Tuan Edward dan Ansel.


“Tuan Raka, tungg dulu.” panggil Tuan Edward.


Ansel tidak berkutik, dia sangat malu dengan tatapan Rava terhadap dirinya.Begitu pula dengan ambisi sang Papa. Rasa malunya terabaikan dengan kejadian yang menyangkut masa depannya. Hilang sudah harapan, untuk bisa memiliki Vara.


Rava bangkit dari duduknya, mengambil dompet dari dalam saku celananya. Selembar uang dia tarik keluar dari dompetnya. Sejenak ia menutup dan mengembalikan dompetnya ke dalam saku celananya. Kedua mata Rava tidak putus menatap Ansel.


“Anggap saja, kami mentraktir kalian minum.” Rava meletakkan selembar uang tadi di atas meja, kemudian pergi meninggalkan keduanya.


Papa Ansel di buat marah dengan sikap Rava yang sok hebat pikirnya. Seperti di permalukan dengan anak muda seperti Rava.


“Kenapa kau diam saja Ansel! Apa kau tidak bisa membujuk keduanya?”


“Paaa.. Apa Papa tidak melihat? betapa malunya Ansel mendapatkan hinaan dari mereka. Yang di katakan mereka memang benar Pa. Kenapa Ansel terlau bodoh mengiyakan permintaan Papa. Sudalah, lebih baik kita pulang Pa.”


Suara pertengkaran anak dan bapak itu, terdengar sayup-sayup di indera pendengaran Rava. Ia berjalan dengan penuh keyakinan. Rava dan Raka sama-sama memiliki Motto dalam hidup mereka.


‘Kebahagiaan orang yang di cintai, lebih penting dari besarnya harta semu  yang di miliki.’~ Rava Atmadja.


‘Tidak perlu bertaruh mati-matian, jika yang kau taruhkan adalah cinta dan kebahagiaan orang lain yang mencintai dirimu,’~ Raka Atmadja.


Maka dari itu, Raka dan Rava tidak pernah mau membawa keluarganya turut dalam bisnis mereka. Bahkan , mereka menjauhkan yang namanya public, hingga membawa nama keluarga mereka. Rava belajar dari sang Papa yang tidak suka pamer dalam kehidupannya. Bahkan, Raka menutup identitasnya sebagai anak keturunan Atmadja.


“Ayo pa,” Rava mengajak sang Papa untuk masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari kedai kopi yang tidak sempat mereka nikmati.


***


V&A Butik.


“Ini hujan. Bukankah tadi sangat terik mataharinya? kenapa bisa jadi segelap ini?” kedua mata Vara di selimuti kekecewaan. Tangannya  menyentuh pembatas dinding kaca yang ada di ruangannya, dia menatap dalam pada wajah awan yang bersemu sendu tak mendukung hati Vara.


“Karena dia menangis,” sambung Rani dari arah belakang.


Vara di buat kaget olehnya dan rekfleks memutar badan.


 


“Kau! Kenapa gak mengetuk pintu terlebih dahulu sih Ran?”


 


“Astaga Ibu Vara yang  terhormat. Saya berkali-kali mengetuk, berkali-kali memanggil, bahkan berkali-kali mengajak daun pintu itu bergoyang bersama. Anda juga tidak menyauti saya Bu Vara.” jelas Rani dengan kedua matanya di seriuskan.


“Jangan sok formal! Gak ada orang di sini!” ketus Vara dengan wajah masam dan berjalan ke arah sofa.


Ya, Rani di pilih Vara untuk menjadi asisten pribadinya. Mengurusi segala  urusan tentang butik Vara, hingga melakukan kerja sama di luar butik. Rani mampu memberikan kinerja baik, itu tidak di pungkiri Vara. Vara menarik Rani dari perusahaan tempat Rani bekerja sebelumnya, dengan imbalan lebih besar dari gaji yang Rani peroleh dari kerjaannya terdahulu.


 


Bukan semata-mata untuk itu juga, Vara ingin memiliki orang yang bisa di percaya untuk dirinya dan butiknya. Dan Rani-lah orang yang tepat itu. Meski dulunya keduanya suka sekali bertengkar. Dan sekarang tidak,mereka menjadi tempat peraduan bersama.


 


“Kenapa sih dengan Lo, Vara? Cerita sama gue, siapa tau bisa gue bantu gitu dalam doa.” celetuk Rani dengan mendudukan tubuhnya di samping Vara.


Vara menghela nafasnya yang terasa berat.


“Dih, kok kek nenek-nenek sih lo, berat amat dosanya” ledek Rani lagi.


“Ran, gue gampar sekali boleh gak? Siapa tau bisa mengurangi beban dosa gue!”


“Alamak, segitunya igh. Enggak, gue gak mau, wajah gue yang mirip Sandra Dewi ini ternodai oleh tangan lo! Gue keberatanlah. Meskipun lo itu atasan gue.”


“Terus, gue harus bagaimana dong?” rengek Vara menatap sendu ke Rani.


“Apanya sih! makanya ceritaaa. Buruaaaaan” kata Rani.


“Dih, kok lo yang sewot. gue yang punya masalah hidup Ran.”


“Astaga, bisa-bisa naik gula gue lo buat Vara. Kan gue bilang cerita, biar gue tau maksud lo!”


“Hari ini, gue dan kak Harsen mau jumpai papa dan mama gue.” Vara mendengus.


“Kenapa? lo hamil?’


“Enak aja lo!’ bantah Vara dengan mata yang membulat penuh.


“Terus kenapa Vara?? yang jelas dong kalau  ngomong, kayak kumur-kumur lo agh!”


“Kak Harsen mau minta izin, untuk menikahi gue.”


“Wowwwwwwwwwwwwwww!” Rani beranjak dari duduknya dan  menutup kedua mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membelalak dengan menatap Vara tidak percaya.


“Lo kenapa sih Ran?” Vara sendiri menjadi takut dengan reaksi Rani yang membuatnya aneh.


“Yakin lo mau kawin?” lagi-lagi Rani memasang wajah kekagetannya.


“Bukaaaan! Gue mau menikah, bukan kawin!” ketus Vara kembali menduudukkan tubuhnya dengan posisi semula.


“Sepertinya, semesta tidak berpihak pada gue, Ran. Kan tadi terang tuh, seperti hati dan perasaan gue  yang sangat bahagia menanti kedatangan kak Harsen , yang akan menjemput gue. Terus, kenapa ini malahan hujan? bukankah Tuhan tidak merestui? gue takut Ran.” rengek Vara dengan wajah masam.


“Apaan sih yang lo takuti? lo lebay deh. Tinggal bilang, pa, ma, Vara mau pecah perawan, di izinkan ya? gitu aja loh Vara. Kenapa lo jadi ketar-ketir seperti ikan yang mau di potong  sih?”


“Dih, susah amat sih ngomong sama lo! gak ngerti sih lo perasaan mau minta izin itu kayak  mana? bukan seperti lo minta izin mau beli permen ke depan gang!”


Dahi Rani mengernyit.


‘Bagaimana beli permen harus minta izin?’


“Lo becandaan ya Vara! gue mau beli permen gak pernah izin kali!”


 


Tiiiinnnn…


 


Suara klakson mobil Harsen terdengar, membuat Vara merasa kegugupan yang mendalam, Ia meremas tangannya, serasa berat.


 


“Sudah sana, jangan berdiam aja. Yok, gue antar lo turun” ajak Rani.


 


“Doakan gue dan kak Harsen ya Ran,” pinta Vara dengan mengambil tas jinjing miliknya di atas mejanya.


 


“Iya, ayolah”


 


Rani dan Vara sama-sama turun. Tampak Harsen dengan berpayung hijau menunggu di luar dinding kaca butik Vara, tepatnya di depan mobilnya.


 


“Jangan lupa tutup toko jam enam sore. Kalian semua bisa pulang duluan.” perintah Vara pada para staff nya dan mendapatkan  jawaban.


 


Harsen yang mendengar suara Vara yang mendekat, memutar badannya, Menyambut kedua manik mata sang kekasihnya. Teduh, di sertai senyuman yang terbalaskan.


“Ayo Kak.” ajak Vara dengan gugupnya.


 


“Kenapa seperti gusar?” Harsen mendekati Vara dengan menarik punggung tangannya dan menautkan jemarinya di sela-sela jari Vara.


 


“Vara takut Kak, hujan tidak merestui katanya.” Rani datang dari balik keduanya.


 


Harsen tersenyum dan membawa genggaman tangannya dan Vara menyentuh pipi Vara. Tangan kirinya mengarahkan payung ke atas kepala Vara dan tersenyum.


“Kenapa mengaitkannya dengan hujan? Tidak baik seperti itu, harus yakin. Bukankah itu janji kita?” Harsen menguatkan.


 


“Benar itu. Sudah kak, bawa saja dia dari sini! Sebelum hati dan jantungnya keluar dari tempatnya.”


 


“Hahaha, baiklah Ran. Kakak dan Vara  berangkat. Terima kasih ya.” Harsen membawa Vara kedalam pelukannya, merangkul pinggang Vara untuk bersama-sama masuk ke dalam mobilnya.


 


Setelah keduanya masuk, Harsen melajukan mobilnya, membelah hujan dan badai yang harus dia tempuh. Sederas dan sekencang apapun badai di depannya,tekad Harsen sudah bulat. Dia harus memiliki Vara sebagai pendamping hidupnya. Setelah beberapa menit menerjang badai hujan, mobil Harsen terhenti di carport kediaman sang kekasih.


 


“Bukankah ini mobil Kak Rava?” tanya Vara dan menunjuk ke Harsen.


 


“Benar, Kakak yang meminta Kak Rava untuk datang. Ayo turunlah.” Harsen melepas seatbeltnya dan membuka kembali payungnya. Berjalan cepat untuk melindungi sang pujaan hati. Harsen menarik pintu mobil, tampak kegusaran wajah Vara.


 


“Kak, apa semuanya akan baik-baik saja?” Vara menyentuh punggung tangan Harsen.


 


“Kau tidak yakin dengan Kakak?” Harsen tersenyum dan mebalas erat genggaman tangan Vara.


 


“Bukan seperti itu Kak, Vara hanya tegang saja” katanya dengan pelan.


 


“Tarik nafas kamu, rileks, dan pejamkan matamu sejenak. Yakinkan kita bisa melewatinya bersama.” kata Harsen memberikan kekuatan pada diri Vara. Vara sejenak mengikuti yang di perintahkan Harsen pada dirinya.


 


“Sudah ayo.” Harsen menarik lembut tangan Vara dan berjalan menuju pintu masuk keluarga besar Raka Atmadja itu.


 


Setelah mendapatkan sambutan dari asisten rumah tangga, Vara dan Harsen berjalan masuk kedalam  rumah. Bersama-sama keduanya berjalan dengan menggengam erat tangan mereka.


 


Keduanya saling memberikan dukungan dan semangat untuk diri yang terlanjur mengusik gugup, meskipun kegugupan itu kian bersarang. Dengan iringan detak jantung yang turut menjadi irama penyorak suara hati dari keduanya.


 


Keduanya menghentikan kaki yang telah melangkah dengan cepat, tepat di ruangan tamu dan di hadapan,  Rava, Eva dan  Raka. Tidak ada yang tau tujuan keduanya , yang meminta untuk menunggu kedatangan Vara dan Harsen.


 


“Vara” panggil Raka dengan kedua mata berbinar.


 


“Harsen, duduklah dulu Nak,” perintah Eva.


 


“Sudah duduk, kenapa kalian berdua hanya diam di situ? kayak mau pengakuan aja. Pegang-pegangan tangan lagi. Iya lah, Kakak tau, kalian kan sepasang kekasih yang fenomenal dari sang pencipta kehidupan kita. Jangan membuat kakak cemburu , ingin ku berteriaaaak” Rava meledek, Harsen membuka mulutnya dan memotong ledekan Rava.


 


 


 


“Paman, Bibi, Kak Rava. Harsen dan Vara siap untuk MENIKAH!!!”


 


 


Jangan lupa dukung mereka dalam bentuk VOTE juga Like.  Gak boleh pelit dong, ini udah dua bab dan dua ribu kata, demi kalian sayang-sayangnya mom yang ketje habis heheheh.. mana pendukung VARA dan HARSEN . ^^