My Chosen Wife

My Chosen Wife
CURHATAN DEFAN.



Keesokan paginya, karena Eva, Casandra dan Rere sama sekali belum mengunjungi anak-anak mereka, setelah sarapan pagi, langsung meminta untuk di antarkan ke Rumah sakit. Dengan di temani, Jimmy, Defan, Anna dan James, mereka berangkat menuju Ruma Sakit.


 


Beberapa jam kemudian, mobil yang di kendarai Jimmy tiba di area parkiran rumah sakit. Karena memang sudah jam besuk, mereka semua di izinkan masuk.


 


Dengan cepat para mama itu melangkah dengan perasaan cemas, menuju tempat di mana anak-anak mereka di rawat. Tak butuh waktu lama, kelurga itu menjadi pecah dua, menuju kamar Harsen dan Renata.


 


"Mama." seru Vara saat mendapati Eva , Rere dan Defan.


 


Eva dengan cepat membuka kedua tangannya dan memeluk tubuh Vara.


 


"Kau baik-baik saja Nak?" tanya Eva dengan mengusap lembut kepala Vara.


 


"Vara hanya luka kecil, Ma. Kak Harsen yang terluka parah." gumam Vara.


 


Eva langsung melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah Harsen. Tampak Rere menangisi sang anak yang terlihat sangat tidak baik.


 


"Hibur mertua kamu, Sayang." bisik Eva ke Vara.


 


Vara menganggukan kepalanya. Dan berjalan mendekati Rere.


 


"Maaa... Maafi Vara ya."


 


Suara Vara bergetar, saat tangannya menyentuh lengan Rere.


 


"Tidak Sayang. Bukan karena dirimu." ujar Rere menarik tubuh Vara dan memeluknya serta membelai puncak kepala Vara.


 


Defan mengikuti Eva yang berdiri di samping ranjang Harsen, memperhatikan luka yang menghiasi permukaan kulit Harsen. Sedangkan Harsen, dia masih tertidur.


 


"Apa Harsen sudah makan Nak?" tanya Eva ke Vara.


 


"Belum Ma... sedari tadi, Kak Harsen belum membuka kedua matanya, karena tadi malam memang sangat susah untuk tertidur." balas Vara yang masih merangkul tubuh Rere.


 


Rere mengusap air matanya, harusnya dia tidak menangis, harusnya dia tegar seperti Vara, harusnya juga Rere memberikan semangat untuk anak dan menantunya, yang mendapatkan musibah di awal mereka menjadi pasangan suami istri.


 


"Bibi Rere, harus semangat." gumam Defan pelan.


 


Rere akhirnya tersenyum, melihat wajah Defan yang imut itu. Hingga keempatnya menanti Harsen terbangun dari tidurnya.


 


Sedangkan di kamar Renata, tampak Rava sedang menyuapi Renata, hingga menyadari kedatangan keluarga besar Renata yang barusan membuka daun pintu kamar Renata.


 


"Mami, Paman, Bibi, Jemas." ucap Rava seketika itu dia beranjak dan meletakkan piring di atas nakas.


 


"Renata." Casandra menangis dan berjalan menuju ranjang Renata hingga berhamburan langsung ke tubuh Renata dan memeluk anak semata wayangnya.


 


"Mami... Jangan menangis." Renata menangkan Casandra di sela pelukannya.


 


"Iya Sayang, bagaimana keadaanmu Nak?" tanya Casandra.


 


"Sudah baikan Kok Mi." balas Renata.


 


"Bagaimana dengan kandunganmu Sayang?" Anna menimpali.


 


Seluruh pasang mata menatap Renata.


 


"Renata hanya Dehidrasi Bi, setelah tadi di USG ulang, janinnya dalam keadaan baik." Rava membantu menjawab pertanyaan Anna.


 


Semuanya mengucapkan syukur.


 


"Tidak ada yang meragukan cairan keluarga Atmadja." gumam Jimmy dengan kedua mata yang menatap semuanya, bibirnya di tipiskan.


 


"Maksud Papa?" James mengerutkan dahinya.


 


"Ouu egh.. maksudnya ya itu, pabriknya dari janin Renata itu kuat dan perkasa. Halah, James, iyakan saja. Jangan mengajukan pertanyaan, buat Papa bingung saja." protes si Jimmy ke anaknya. James hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya. Dia gagal mencerna ucapan papanya.


 


"Paman bisa aja." balas Rava mengerti.


 


"Mandilah Nak, Mamamu ada di sebelah, melihat keadaan Vara dan Harsen, tas yang ada di James ada pakaian-mu." ucap Casandra.


 


"Terima kasih Mi." balas Rava kemudian berjalan mendekati James yang memberikan tas ke arah Rava.


 


"Sini Mami suapi." ucap Casandra mengambil alih makanan Renata.


 


James yang sedikit jenuh itu, berjalan keluar kamar Renata. Bukan jenuh karena di Rumah sakit, James hanya sedikit bingung dengan keadaan di Rumah sakit. Saat sudah di luar, James mendapati si Defan yang sedang asik duduk di depan pintu kamar Harsen.


 


"Astaga! lo ngapain jongkok di depan itu Bro?" James mendekati Defan.


 


"Gue lagi berpikir." ucap Defan dengan menengadah ke arah James.


 


"Berpikir? tentang?" James bertanya dengan memiringkan kepalanya.


 


"Bagaimana, kalau ranjang Kak Renata di dorong ke dalam kamar Kak Harsen? bukankah kamar ini sangat luas? Kenapa kita jadi terpisah begini? bukankah adanya jarak di antara kita, membuat hubungan itu terasa sulit? seperti gue sama Alice dan lo sama si Jenny. Cocok gak? terasa banget kan sakitnya tuh di sini!" tunjuk Defan pada dadanya.


 


James refleks menyembulkan senyumannya dan menggelengkan kepalanya.


 


"Ide lo briliant Bro. Lo buka pintu ini, gue ke kamar kak Rena."


 


Keduanya sama-sama beranjak dari posisi mereka dengan semangat dan melakukan sesuai yang mereka rencanakan. Defan langsung membuka lebar kedua pintu kamar ruangan Harsen, dan mendapati tatapan bingung dari seluruh orang yang berada di dalam.


 


Sedangkan James yang buru-buru masuk ke dalam kamar Renata di buat kaget karena mendapati si James yang panik.


 


"Kak Rava, ayo pindahkan ranjang kak Renata ke sebelah." ucap James bersemangat.


 


"Maksud Kamu apaan James?" tanya Anna bingung.


 


 


"Seperti kamu dengan Jenny dong?" Jimmy menimpali.


 


Dengan wajah polosnya James menganggukan kepalanya.


 


"Baiklah, ide nya sangat bagus, bawa Aku dan ranjang ini ke kamar Harsen. Aku juga belum melihat keadaan Harsen." ucap Renata seakan memohon ke Rava.


 


"Ide gila siapa ini?" tanya Casandra sebelum Rava menjawab.


 


"Defan Bi." balas James.


 


Rava tersenyum.


 


"Okey, boleh juga, mari kita pindahkan dan satukan kamar mereka." ucap Rava langsung bersemangat di bantu oleh James membawa tiang infus dan mendorong ranjang Renata keluar dari kamarnya.


 


Casandra, Jimmy dan Anna hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Lalu semuanya berjalan menuju kamar Harsen yang di sambut wajah Defan yang bersemangat, mendekati keluarga itu.


 


"Nahhh... gini baru namanya keluarga." Defan membantu menarik ranjang Renata.


 


Vara yang sedang meyuapi Harsen makan, pun ikut tersenyum. Begitu juga dengan Harsen, kekhawatirannya pun sirna melihat kedatangan Renata yang di hiasi senyuman itu. Seulas senyuman tampak di sudut bibir Harsen.


 


Eva langsung mendekati anak dan menantunya.


 


"Bagaimana keadaan Renata, Nak?" tanya Eva yang sudah di samping Rava.


 


"Renata baik-baik aja kok Ma." bisik Rava dengan meluruskan ranjang Renata sejajar di samping Harsen.


 


"Selamat pagi Ma." sapa Renata ke Eva yang sudah lebih baikan dari sebelumnya.


 


Eva langsung mendekati Renata dan memeluk tubuh menantunya.


 


"Selamat pagi anakku, baru aja Mama mau ke sebelah menjenguk kamu. Defan sudah membuka pintu lebar-lebar." gumam Eva.


 


"Iya Ma. Ini kita sudah berada di satu ruangan. Kenapa tidak terpikir oleh kita sebelumya?" tanya Renata mengarahkan pandangannya ke Rava dan Vara.


 


"Karena tidak ada Defan." balas Harsen semampunya.


 


Semuanya tertawa dengan senang. Meskipun rasa sakit masih membelenggu jiwa. Tapi, karena dengan adanya keluarga terdekat, semangat dari keluarga yang sangat di butuhkan oleh Harsen dan juga Renata memang sangat mengobati sedikit rasa sakit mereka.


 


"Defan gitu loh." ucap Defan berbangga hati.


 


"Sombong lo!" timpal Jimmy kesal liat gaya Defan.


 


"Oh ya, teringatnya Fan, pistol yang lo bawa waktu itu asli gak?" tanya James ke Defan di sisa tawanya.


 


Semua mata menuju ke Defan.


 


"Iya Fan... pertanyaan James mewakili pertanyaanku." timpal Vara.


 


Dengan tampang santainya Defan menjawab sambil menatap James.


 


"Kw!"


"Tapi Kw 1." sambung Defan lagi dengan tampang nyeleneh.


 


"Kw1?" tanya James bingung, dengan kedua mata yang di sipitkan.


 


Defan menganggukan kepalanya.


"Iya\, KW1. Kayak tas H***M*S itu loh\, yang banyak di jual di Mall." balas Defan lagi.


 


"Hah... berti palsu dong?" tanya James lagi.


 


"Ya aslilah!" ujar Defan, kini matanya menatapi satu-satu dari mereka, sangat misterius gitu.


 


"Asli nemu di mobil yang gue rental waktu itu!" sambung Defan lagi.


 


Semuanya masih tampak memasang wajah serius , masih gagal mencerna perkataan si Defan.


 


"Itu loh, yang kalau di pencet pistolnya keluar suara, bluppp.... bluppp... bluppp.. tenot... tenotttt. Terus keluar lampu warna-warni. Syukur gak gue pencet James, waktu gue gertak tuh para bapak-bapak gendut. Coba aja gue pencet, mungkin nyawa gue uda byeeeeee... hiii... atut gak itu?" tanya Defan dengan mata melotot.


 


'"Mana gue nahan pipis waktu gertak mereka James, karena gue benaran takut lihat badan mereka besar-besar kek onde-onde isi gula merah. Dih, sampai-sampai itu ya, gue juga mau buang angin , gue buang sikit-sikit biar suaranya gak keluar. Pokoknya seram banget James. Tapi, karena gue lihat kak Renata, Kak Harsen dan Vara, gue berusaha tegar. Kayak pahlawan bertopeng gitu yang di film shincan. Bipppp... bippp.... bippp." ucap Defan menepuk dadanya dengan membanggakan dirinya.


 


Alis Jimmy terangkat menanggapi penuturan James barusan, dengan berkacak pinggang, Jimmy menanggapi.


 


"Dasarrrr SOMPLAK ! kalau kamu pahlawan bertopeng, Om Ultramen dong!" Jimmy tiba-tiba tertawa.


 


"Sama gilanya lo Jim. Sok ngatai si Defan, lo!" saut Casandra.


 


"Wooohh... gila-gila gini, gue pahlwan di hati lo kan San?" Jimmy menatap Casandra.


 


"Yeeee itu Jaman dulu! Kalau sekarang, lo tetap pahlwan di hati adik gue!" balas Casandra menunjuk Anna.


 


"Eyaaaaakkkkk.... Tarik terussss Mang." sambung Defan sambil joget.


 


Terjadilah gelak tawa di satu ruangan itu. Membuat semuanya tertawa dan melupakan masalah mereka hari itu. Rasa-rasanya, kebersamaan mereka memang memiliki penawar akan rasa sakit Harsen terutama. Melihat seluruhnya bisa tertawa dan bercanda seperti biasa, perasaan bersyukur terucap dalam hati Harsen.


 


"Mba Evaaaaaaa..."


 


 


Suara seseorang yang berada di depan pintu, menghentikan tawa mereka karena kaget. Seluruh tawa itu, pun pudar. Berganti dengan keterkejutan yang susah di gambarkan. Kedua mata mereka membulat, dan keheningan seketika itu pun meliputi ruang lingkup kamar yang mereka tempati. Karena itu, saya butuh VOTE dan LIKE dari kalian hahahaha... Terima kasih sayangnya Mom yang sudah bantu VOTE, Like dan Komentar.


❤❤❤❤❤❤