My Chosen Wife

My Chosen Wife
NGETEN.



Tolong yang komentarnya bilang kalau ada Renata dan Rava di skip, itu hak Kalian, tetapi cukup kalian saja yang tahu, enggak usah pala di buat di komentar yang kemudian saya cek riwayat VOTE, enggak ada VOTE sama sekali. Tolong Hargai ide saya yang uda saya ketik di sela-sela kesibukan saya sebagai seorang Ibu. Kalau enggak SUKA cukup Skip. Terima Kasih.


 


****


 


Kediaman Raka Atmadja.


Hari itu sudah sore, seluruh keluarga masih betah di rumah keluarga Raka, sambilan menunggu Rava dan Renata pulang. Jadilah para Istri, bersama-sama menghidangkan makanan untuk makan malam mereka. Saling bantu dan tolong menolong, karena bagi mereka, perkumpulan mereka adalah momen terbaik yang mereka miliki.


 


 


Casandra paling senang kalau urusan memasak dia juga ahlinya, enggak kalah dengan yang lainnya. Ini adalah momen penting mereka, di mana mereka semua bisa berkumpul bersama. Sedangkan para suami, mereka memilih untuk bermain kartu di ruangan santai yang Raka desain untuk berkumpul dengan keluarga kecil. Siapa yang kalah, dia menerima hukuman. Karena Jimmy selalu kalah, jadilah dia memilih untuk mengundurkan diri secara hormat grak dari para lelaki yang membuatnya terus kalah.


 


 


Jimmy keluar dari ruangan santai itu, saat keluar, tampak Harsen dan Vara yang berduaan di balkon atas melihat pemandangan dari perumahan elit tersebut. Harsen menatap ke Vara yang sejenak menutup kedua matanya dengan menengadah ke atas langit jingga yang akan menjemput malamnya.


 


 


Dengan meregangkan kedua tangannya ke atas sambil memejamkan matanya, Vara menarik nafasnya.


 


"Aghhhh... Rasanya tuh segar banget masih bisa merasakan udara di atas rumah ini. Aku sangat merindukannya." kata Vara dengan semangatnya.


 


Harsen tersenyum gemas menatap wajah segarnya Vara sehabis mandi, rasanya pengen sekali ia memeluk gadis kecil itu. Vara tiba-tiba menoleh ke arah Harsen yang tersenyum menatap wajahnya.


 


"Apa ada yang lucu?" tanya Vara.


 


"Tidak." balas Harsen singkat, dan menutup bibirnya rapat-rapat.


"Terus... Kenapa Kakak senyum-senyum sendiri?" Vara menatapnya aneh.


 


 


Harsen kembali tersenyum, lalu merubah ekspresi wajahnya, "Apa aku tidak boleh tersenyum? Apa kakak harus menangis saat melihatmu yang sedang terbar pesona?" Harsen bertanya dengan nyolot.


 


 


"Dih... Nyolot amat sih! biasa aja Kak, Bro. Siapa juga sih yang tebar pesona di depan pria kaku seperti kakak? Iii... Enggak deh." kata Vara dengan membuang pandangannya kedepan.


 


 


Harsen tersenyum, "Aku sungguh tidak sabaran untuk menikahi gadis ceriwis sepertimu." katanya dengan santai.


 


 


Vara terkesiap dan terdiam mendengar ucapan Harsen barusan. Sedangkan Jimmy yang sedang nyempil di balik pintu balkon memasang telinganya sedari awal, di buat senyum-senyum dengan kedua pasangan di depannya.


 


"Gemesin deh si Harsen." gumam Jimmy pelan.


 


Harsen masih menatap ke Vara yang menjadi terdiam , tanpa berani menoleh ke Vara.


 


"Kenapa jadi diam? kamu enggak mau menikah dengan kakak?" tanya Harsen lagi.


 


 


Vara menoleh ke Harsen dengan senyum kecilnya, kedua matanya tidak berani menatap Harsen lama-lama.


 


"Iya mau sih Kak... Hanya saja—." ucapan Vara menggantung.


 


"Hanya saja, Kau belum wisuda? Belum menikmati masa kerjamu? Karirmu untuk membuka butik? benarkan?" tanya Harsen.


 


 


"Hah....Itu kakak tahu." balas Vara dengan tidak enak hati.


 


"Kakak akan menunggumu Vara, sampai Vara bersiap untuk menjadi suami kakak. Kejarlah apa yang ingin Vara kejar, Kakak akan mendukung kamu." kata Harsen dengan sangat lembut.


 


"Terima kasih Kak, Kakak sudah berjanji ya. Awas saja ingkar janji, Aku tidak akan memaafkan Kakak selama sisa hidupku." kata Vara dengan menyipitkan matanya ke arah Harsen.


 


 


Harsen di buat tertawa dengan ekspresi wajah Vara, sangkin gemasnya melihat Vara, Ia mendekati Vara, kemudian mengacak-acak rambut Vara.


 


"Kauuuu sangat menggemaskan sekali kalau seperti itu. Membuatku ingin menggigit pipi mu yang empuk." kata Harsen dengan berpindah pada kedua pipi Vara.


 


 


Vara menerima semua yang di lakukan oleh Harsen. Rambut yang sudah berantakan seperti Singa yang hendak menerkam mangsanya, menatap wajah bahagia Harsen dengan melototkan matanya.


 


"Sudah Puas bang?" tanya Vara.


 


"Sudah Dek." balas Harsen dengan tertawa.


 


"Kakak... Lihat kan, jadi berantakan rambut Vara. Sudah cantik juga, malahan jadi seperti Mak lampir." ketus Vara.


 


 


 


Jimmy di sana semakin terpukau melihat keromantisan, keimutan dari Vara dan Harsen. Jimmy tergelitik sendiri di buat keduanya. Sudalah cengengesan sendiri, tiba-tiba dari arah belakang sudah menatap aneh sedari tadi melihat gelagat mencurigakan dari Jimmy.


 


"Lagi ngeten ya?" bisik Defan dari belakang seraya melihat Vara dan Harsen yang bermanjaan menyentuh kepala Vara dan merapikan rambutnya.


 


Jimmy masih setia menatap keduanya dengan tertawa kecil akan keromantisan keduanya, "Hahaha... iya ni, seru banget." balasnya tanpa sadar.


 


Defan terkikik, "Siapa yang menang?" bisik Defan lagi.


 


"Siapa ya? Harsen keknya, tapi engg—" Jimmy tersadar ada Makhluk lain selain dirinya , dengan cepat Ia memutar kepalanya dan melompat kaget melihat Defan yang sedang tertawa ke arahnya.


 


 


"Hahaha...ketahuan kan ngintip orang lagi pacaran. Tak kasi tahu lah.." kata Defan bersiap untuk menjerit seraya ingin melangkah masuk ke balkon.


 


Jimmy kelabakan di buat si Defan, dengan cepat Ia menarik tubuh Defan dengan tangan kanan membekap mulut Defan.


 


"Awas saja kamu kalau menjerit, tak adukan kamu sama Marimar." ancam Jimmy.


 


 


Defan meronta agar Jimmy melepaskan kedua tangannya dari tubuh Defan.


 


"Kalau mau di lepas... Janji enggak boleh menjerit!." ancam Jimmy.


 


 


Dengan cepat Defan menganggukan kepalanya. Seketika itu juga Jimmy melepas tangannya.


 


"agh... Sesak jantungku Om. Tangan Om bau banget! Bekas apaan sih!." ketus Defan dengan mengusap-usap mulutnya.


 


 


Jimmy mencoba mencium telapak tangannya, jadilah ekspresi wajahnya menandakan bau yang menjijikan.


"Ini bekas jigong lu anak Marimar!." ucap Jimmy dengan mengusap telapak tangannya pada bajunya.


 


 


"Enggak agh... Bau jengkol gitu kok?" protes Defan.


 


"Dih... Lo sama bapak lo sama ya ngeselinnya, pengen gua cakar aja lo rasanya. Gua enggak ada makan jengkol, sedari tadi juga gua sama paman-paman lo main kartu anak Marimar." tutur Jimmy.


 


"Seterah Om lah, pokoknya bau banget!." ketus Defan.


 


"Terserah... Seterah," jawab Jimmy gemes.


 


 


"Ya itulah... kan sama aja. Buktinya Om tahu."


 


"Iyalah... Payah gua orang tua, debat sama anak si Marimar, rasanya membuat kepala gua mules." ujar Jimmy kesal.


 


 


"Idiiiihhh! Perut, bukan kepala. Ini orang tua, percuma ya kerja di perusahaan ternama, tapi ya ampunnn... Ampunilah hambamu ya Tuhan." celetuk Defan dengan menengadah ke atas sambil meringis.


 


 


 


Kali ini... giliran Vara dan Harsen yang berada di belakang Jimmy dan Defan. Sedari tadi mendengar jelas pembicaraan keduanya.


 


"Apa sudah selesai ngupingnya?"


 


 


Bersambung.


.....


Author : jangan lupa tekan like dan Vote ya.


Netizen : Iya thor, selalu kok, maaf ya cuma dikit.


Author : Enggak apa-apa, asal kamunya iklas, saya mah senang. Karena yang komentar belum tentu loh mau Vote.


 


Netizen : Sabar thor, mungkin mereka belum sadar aja, mereka sedang mimpi baca novelmu thor, entar kalau kembali ke alam sadar, mungkin saja mereka bukan sekedar berkomentar, tapi Like dan Vote juga.


 


Author : YANG BANYAAAAK YA!!!.


 


Netizen : Itu namnya thor lo enggak tahu diri dah.


 


Author : 💃💃💃💃💃💃