
"Ayo Nak.. Kalian duduklah. Kami sedari tadi menunggu kalian, tetapi kata Defan kalian berdua belum bangun," ucap Raka.
"Bukan belum bangun Paman, tidak ada jawaban lebih tepatanya." sambung Defan menatap kesal pada Rava.
Renata yang mendengar ucapan Defan ,menjadi gugup dan memutar cepat kedua bola matanya.
"Bukan belum bangun Pa, hanya saja, Defan itu sangat berisik, mengganggu urusan pengantin baru saja." jawab Rava dengan membalas tatapan Defan.
Renata semakin di buat malu dengan jawaban Rava, Bisa-bisanya dia jujur begitu. Batin Renata pun ikut malu.
"Emangnya sudah berapa ronde Rava?" tanya Frans seraya mengunya makanannya.
"Astaga Ferguso... Tolong dong.. Itu urusan pribadi Anak dan Mantu saya." kata Casandra nyolot.
"Iya nih... Mau tahu aja!" Jimmy menimpali.
"Lah... Kan situ tadi yang bilang, kalau Rava dan Renata mungkin saja sedang melakukan ronde kedua, kenapa Lo yang protes?" tanya Frans dengan membulatkan matanya.
"Huuukkk..Huuukkk..." Renata tiba-tiba tersedak, dengan sigap Rava mengambilkan segelas air putih dan memberikannya ke Renata.
"Kau tidak apa-apa? pelan-pelan saja makannya." ucap Rava dengan mengusap lembut punggung Renata.
"Pelan-pelan sayang." ucap Anna, melihat Renata meneguk habis minumannya, Anna sendiri juga sama pikirannya dengan Jimmy. Melihat dari rambut yang masih basah, serta kegugupan Renata menghadapi para orang tua somplak.
Varel yang melihat anak dan mantunya hanya tersenyum sambilan menyantap makanannya. Kalau sudah berkumpul seperti ini, dia selalu memilih untuk diam, jika di saat yang pas, barulah dia akan ikut menanggapi. Berbedah dengan Rava yang santainya seperti di pantai.
Seusai meneguk habis minumannya, Renata menarik nafasnya lalu berkata,
"Bukan seperti itu, kenapa Paman semua jadi membahas Renata dan Rava sih? Kan Renata jadi malu." tukas Renata menatap Frans dan Jimmy dengan malunya.
Raka yang mendengar ucapan Renata berpikir sejanak, "Benar yang di katakan mantu saya....Awas! siapa lagi yang membuka suaranya untuk membicarakan kehangatan Anak dan Mantu Saya, enggak segan-segan saya mengusir kalian dari rumah ini." ancam Raka dengan tegas.
Seluruh yang mendengar ucapan Raka di buat kaget, dengan cepat mereka melanjutkan santapan pagi mereka tanpa bersuara. Renata pun merasa legah, Rava melirik sekilas ke Renata yang wajahnya sudah memerah.
"Rava... Renata... Apa kalian sudah membuka hadiah dari kami semua?" tanya Eva tiba-tiba memecahkan keheningan.
Renata menoleh ke Rava, sebaliknya dengan Rava.
"Belum Ma....Bagaimana mau di buka, di kamar terlalu banyak semak belukar, mana catatan aneh-aneh di buat oleh Defan, buat kosentrasi hilang Ma. Nanti akan kami buka ya Ma," balas Rava.
"Baiklah sayang...Ada baiknya di buka, itu semua kado pernikahan dari kami dan adik-adik kalian." ucap Eva lagi.
"Paling berkesan... pasti Kado dari Paman dan Bibi Anna." Jimmy menimpali.
"Kepedean banget Lo Marimar, emangnya Lo tahu isi kado dari keluargaku?" tanya si Frans.
"Hemmm..palingan orang-orangan salju." celetuk Jimmy asal.
"Ribut lagi saya lempar kalian dua ke kolam berenang." kata Raka dengan sorotan mata dinginnya menatap ke Frans dan Jimmy.
"Bang Rakaaa." panggil Frans sedih.
"Apaaa!."
"Isss... Papa ini, sudah tua masih juga manja sama Paman Raka." ucap Defan risih.
Langsung saja Frans menyoroti Defan dengan mata membesar, "Kenapa kau yang sewot! Dia kan abangku satu-satunya, dan Kau anakku satu-satunya!." ujarnya ke Defan.
"Terus....Hubungannya Apa?" tanya Jimmy.
"Haisss... Kenapa ya....Paman Frans dan Paman Jimmy selalu saja enggak pernah akur, dari dulu hingga sekarang. Ya ampon... Akur dong seperti James dan Defan." kata Vara tiba-tiba.
"OGAH!!!." jawab dua-duanya bersamaan.
"Kalian memang berjodoh." jawab Leo sambilan tertawa.
Semua mata menoleh ke Leo yang asik tertawa itu. Entah kenapa, bagi mereka kalau Leo tiba-tiba berbicara rasanya kek langkah gitu mendengar suaranya.
"Leo... Lucunya di mana?" tanya Raka seraya mengernyitkan keningnya.
"Wajahnya Pak." balas Leo cepat, "egh...maaf enggak ada Pak." sambungnya lagi.
Jimmy dan Frans sama-sama menarik nafas mendengar ucapan si Leo, Raka sendiri menggelengkan kepalanya. Seusai makan pagi, seluruhnya pun bubar ke masing-masing tempat, di mana para kaum Mama dan kaum Papa memutuskan untuk berpisah secara damai ke tempat mereka masing-masing. Berbedah para anak, mereka berkumpul mendekati Rava dan Renata di ruangan tamu.
Rava yang melihat Defan dengan cepat Ia berdiri dan menarik lehernya dengan mengapitkan kepalanya ke bawah lengannya.
"Kak lepasin Kak... " ucap Defan meringis.
"Ampun Kak... cuma bercanda." ucap Defan dengan susah payah.
"Kak Rava! kasihan tahu! Wajahnya sudah merah." kata Vara menatap tajam ke Rava.
"Habisnya dia sih! Cuma nama dia mulu yang jadi Icon malam pertama kakak." ucap Rava dengan melepas leher Defan.
Defan mengusap-ngusap lehernya dan menatap sedih ke Rava, "Kakak harusnya berterima kasih padaku! Sudah menikmati malam pertama yang penuh dengan sensasi." kata Defan dengan sedihnya.
"Kau I—." ucapan Rava terpotong.
"Benaran... harusnya Kau itu bersyukur dengan adikmu." ucap Renata.
"Kenapa kau membela dia sayang?" protes Rava.
"Karena kak Rava aneh! barusan juga menikmati malam pertama, sudah marah-marah. Entar gak jadi loh!" ledek James.
Rava menatap aneh, "Heh.. Apaan yang enggak jadi?" tanya Rava pada James.
"Apa lagi Kak? Kenikmatan yang kakak berikan ke kak Renata. Purak-purak bodoh atau purak-purak apa ya?" ujar Defan seakan berpikir.
Harsen tertawa bersamaan dengan Vara dan James, Renata sendiri di buat malu mendengar perkataan Defan barusan. Rava menarik nafasnya dengan menggebu-gebu, seraya menatapi ke adik-adiknya yang tertawa. Rava berdiri dan melepas sandal rumahnya dan melemparkannya ke Defan.
Plakkkkkk....
Defan menghindar dan beranjak dari duduknya sambil menjulurkan lidahnya ke Rava yang sudah memasang wajah kesal dan memerah.
"Enggak kena-Enggak kena." kata Defan seakan bernyanyi dan menjulurkan lidahnya.
Semakin panaslah si Rava yang di ejeki anak kecil pikirnya, mulai mengerjar Defan.
"Kemariii Kau!!! jangan kaburrrr." teriak Rava ke Defan.
Defan berlari seraya tertawa sendiri, Renata menutup wajahnya seakan tidak percaya dengan tingkah Rava yang tidak pernah bisa mengalah dari Defan.
"Noona... Semangattt terus ya. Biar James punya keponakan." ucap James tiba-tiba dengan tersenyum kecil.
"James... Aiss... Kenapa ya... kalian ini membahas tentang itu sedari tadi." kata Renata.
"Terus? apa dong yang kita bahas kak? kan cuma itu yang lagi panas-panasnya." ucap Vara meledek.
"Vara." panggil Harsen lembut.
"Iya Honey." jawab Vara dengan kedua mata berbinar.
Harsen terkesiap di buat oleh Vara, Ia menjadi gugup dan mendapat tatapan dari Renata dan James.
"Hemmm... di jawab dong kak Honey." kata James.
Vara tertawa geli dengan wajah Harsen yang bingung Semakin aneh mendengar perkataan James lagi.
"Kak Honey.. Oh kak Honey... Kenapa jadi diam?" tanya James lagi.
Harsen berdiri seketika dengan kakunya dia menatap ke Renata.
"Kak Rena.... Harsen mau ke atas, permisi." ucapnya lalu ingin berjalan meninggalkan mereka. Tiba-tiba Harsen berhenti dan kembali mendekati James.
"Nama Kakak bukan Honey, tapi Harsen,James." ucapnya sekilas melihat ke Vara, kemudian berjalan menuju anak tangga.
"Yahhh... Benaran pergi." kata Vara dengan menatap kepergian Harsen.
"Kamu sih sayang... Harsen masih kaku di depan kakak dan James mungkin , wajar... dia belum pernah pacaran, selain sama Vara. Jadi Vara mesti kudu sabar menghadapi sikap Harsen. Mungkin dia malu, mana James meledeki lagi." tukas Renata.
"Jiagh...James memang rada bingung terkadang sama Kak Harsen, sangatlah pendiam sama seperti paman Leo dan bibi Rere." ucap James.
"Iya...Tidak seperti Kau dan Paman Jimmy kan?" tanya Vara.
James berpikir, "Benar juga ya?"
"Hemmmm.. Ya sudah. Oh ya Kak... Vara mau susul kak Harsen ya." ucap Vara permisi dan berdiri seraya melangkah.
"Okey Vara." jawab Renata.
"Noona....Apa Noona bahagia?" tanya James dengan riang gembira.
"Jamessss....Pertanyaan kamu ya. Ya tentu kakak bahagia, kan kamu tahu sendiri bagaimana perjuangan Kakak mendapatkan kak Rava." ucap Renata.
"Iya ya... Kenapa denganku?" tanyanya sendiri.
"Sudahlah.... Itu kak Rava dan Defan ke mana? Kenapa sudah enggak ada suara mereka?" tanya Renata seraya melirik ke arah kolam renang.
*Di sudut lain.
Rava dan Defan sama-sama terhenti, ketika ruangan yang berada tepat di depan kolam renang kediaman Raka, terdengar suara Raka , Frans dan yang lainnya. Defan memilih berdiri di samping dinding jendela, begitupun dengan Rava. Di dalam ruangan itu, semuanya berkumpul, Raka, Eva, Anna, Jimmy, Frans, Delia, Leo dan Rere. Frans sendiri yang meminta mereka berkumpul untuk meminta pendapat.
Bersambung.
......