
Hueeeeeeeekkkkk....
Hueeeeeekkkkkkk....
Seluruhnya menoleh ke Renata yang beranjak berdiri berlari keluar menuju toilet. Rava berlari mengejar Renata di ikuti oleh Casandra, Varel, Eva dan Raka.
"Kau baik-baik saja?" Rava menepuk pelan pundak Renata. Renata mengarahkan tangannya untuk mencegah Rava mendekatinya,
Hueeeeeekkkk.....
Hueeeekkkkkkk....
Rasa mual Renata tidak bisa di tahannya, terus menerus ingin muntah, tapi tidak juga mengeluarkan makanan yang sebelumnya di makan olehnya, hanya cairan bening yang keluar dari mulut Renata. Rava panik sendiri, tampak guratan wajah ketakutan dari Rava melihat wajah istrinya yang pucat.
"Renata baik-baik aja Nak?" tanya Eva yang duluan masuk ke dalam toilet.
"Gak tau Ma, sedari tadi hanya seperti ini, ingin muntah tapi cuma cairan bening aja yang di keluarkan Renata." Rava terus mengusap lembut tengkuk leher Renata.
"Renata hamil mungkin Rava," Casandra menimpali.
"Apa mungkin Mi?" tanya Rava polos ke Casandra.
"Kapan terkahir kali anumu—" ucapan Casandra menggantung dan menggelengkan kepalanya, "Kapan terakhir kali bulanan Renata, Rava?"
Kedua mata Eva dan Rava sama-sama membulat, kedua manik mata Mama dan Anak itu seoalah bingung.
"Kenapa kalian berdua hanya menatapiku? Apa aku salah ngomong?" Casandra bengong.
"Ya salahlah... anak kita sedang mual , kamu tanya tentang bulanannya ke Rava. Mana mungkin Rava mengingatnya. Selama Aku menikah dengan Raka, dia tidak pernah tuh mengingatnya. Gimana sih Kamu, San?" Eva mencoba mendekati Renata.
Eva menarik tubuh Renata, Mengusap lembut kening Renata yang berkucuran peluh di keningnya.
"Masih tidak enakan Sayang?" tanya Eva.
"Masih terasa begah saja Ma." keluhnya.
"Apa Kau ada asam lambung, maag atau sejenisnya Sayang?" Eva menatap dalam kedua manik mata Renata yang sayu.
Casandra tersenyum melihat Eva yang menyayangi dan mencintainya dengan tulus. Sahabat terbaik yang selalu ada dalam susah dan senang.
"Ada Ma, tapi akhir-akhir ini Renata makan teratur Ma. Jarang kambuh." Renata menatap Eva dengan lemas.
"Ayo kita ke Rumah sakit, aku tidak bisa melihatmu kesakitan." Rava menarik lembut tangan renata.
"Rava, Tunggulah dulu. Jangan tergesa-gesa Nak, siapa tau ini gejala awal kehamilan. Bawa Renata pulang Nak, biar bisa beristirahat. Mungkin Renata kelelahan," Eva memberikan saran.
"Iya Rava, Ini hanyalah masalah biasa. Kalian pulang saja duluan, pamit sama Vara agar dia tau Renata sedang tidak enak badan." Casandra menimpali.
"Kamu yakin kita gak usah ke Rumah Sakit?" tanya Rava ke Renata
"Tidak usah Sayang... Mama dan Mami kan sudah berpengalaman. Bawa saja Aku pulang, Aku ingin rebahan saja." Renata menatap ke Rava dengan kedua mata yang sendu.
"Baiklah.." Rava menggenggam erat tangan Renata, saat keduanya keluar tampak Raka dan Varel yang gak kalah paniknya.
"Bagaimana denganmu Nak?" Varel menyentuh kepala Renata dan mengusapnya lembut.
"Tidak masalah Pi... hanya tidak enakan saja." Renata tersenyum menatap sang Papi.
"Apa asam lambungmu kambuh Nak?" Raka menimpali pertanyaan Varel.
"Sepertinya sih enggak Pa. Tapi Rena gak apa-apa kok Pa." Renata memasang wajah semangat.
"Mungkin gejala awal untuk mendapatkan cucu, Besan." Casandra membantu menjelaskan.
"Cucu? wah... Kalau begitu, bawa Renata pulang untuk beristirahat Nak." kedua mata Raka berbinar mendengar kata cucu, dan diikuti perasaan bahagia dari Varel.
"Iya Pa... Pi... kami pulang duluan ya." Rava membawa sang Istri mendekati Vara dan Harsen yang usai mengantarkan tamu Vara.
"Kak Renata?" Vara menoleh ke belakang.
"Kenapa dengan Kak Renata, Kak?" Vara mendekati Rava dan Renata. Wajah Renata yang pucat terlihat jelas dari tempat Vara berdiri.
"Kakakmu sedang mengalami gejala awal kehamilan" celetuk Rava.
"Seriussssss?" kedua mata Vara membulat sempurna, dengan cepat Vara memeluk tubuh Renata.
"Benarkah itu Kak? Apa ini hadiah untuk Vara kak?" Vara melonggarkan pelukannya dan menyentuh wajah Renata, "Harus kuat ya Kakaku sayang,"
"Ini masih dugaan saja Vara," Renata tersenyum.
"Tapi Vara yakin, Kak Renata pasti hamil" Vara meyakinkan Renata.
"Apa kau sudah pernah mengalaminya?" sambung Rava.
"Apaan sih Kakak... " Vara protes dengan kedua mata di bulatkan.
"Hehehe.. Sudah... Kakak mau bawa kak Renata pulang. Kakak gak bisa ikut makan malam bersama kalian ya. Jadi, kami pamit pulang duluan Vara. Doa Kakak, semoga apa yang Vara inginkan tercapai dan butik kamu ini berjalan seperti air mengalir tanpa hambatan." Rava menarik lembut wajah Vara dan mengecup kening sang adik, "Kakak bangga sama Vara."
Vara merasa sangat senang dengan doa yang di berikan Rava. "Terima kasih Kak, semoga yang di dalam perut Kak Renata benaran ada adik bayi ya Kak." balas Vara dengan penuh pengharapan.
Rava tersenyum dengan mengusap puncak kepala Vara. "Kau doakan saja, agar semuanya terwujud."
"Ini ada hadiah untuk Vara dari kami berdua sayang." Renata memberikan kotak kecil yang di ambil dari tasnya.
"Kok di kasih hadiah?" Vara menatap keduanya.
"Sudah bukalah, itu dari kami. Kami duluan, jaga Vara ya Sen." kata Rava dengan menepuk lengan Harsen.
"Baik Kak..." Harsen bersemangat.
Mendapatkan jawaban Harsen, Rava membawa Renata keluar dari butik Vara. Vara sendiri penasaran dengan isi di dalam kotak kecil yang di berikan Renata.
"Kak RaRennnnnnn....." teriak Vara bersamaan.
Rava hanya mengangkat tangannya tanpa menoleh ke Vara dan melambaikan tangannya. Kemudian Rava membawa Renata masuk ke dalam mobil.
"Ada apa Vara?" Harsen mendekati Vara.
"Ini Kak... " Vara menunjukkan kotak kecil yang di berikan kedua kakaknya.
Harsen tersenyum dan menyentuh puncak kepala Vara.
"Sangat cocok untukmu." Harsen memberinya semangat.
"Kak... bukankah ini pertandanya Kak Rava memberikan izin ke Vara?"
"Memang iya, sejak kemarin kau yang lari ke rumah Kakak mereka sudah mengizinkan untuk Vara membawa mobil." jawab Harsen.
"Agghhhh... rasanya bahagia banget." kedua mata Vara berkaca-kaca.
"Ada apa Vara?" tanya Raka di ikuti Eva dan yang lainnya.
"Idih.. kenapa kalian semua pada kesini?" tanya Vara menguap air matanya dengan cepat.
"Kan tadi Lo jerit Vara." balas Rani.
"Iya... Karena suara Lo, kita kira lo kenapa-kenapa." Jenny menimpali.
Vara tertawa kecil melihat kedua temannya.
"Kenapa sayang? kenapa Vara menangis?" tanya Raka.
"Ini...Pa." kembali lagi dia menunjukkan kotak kecil berisi kunci mobil.
Raka Eva, James, Jenny, Rani, Casandra, Varel, Leo dan Rere melihat ke arah kotak yang di tunjukkan Vara.
"Woww... Range Rover ini" gumam James membulatkan matanya.
"Iya....Rezeki Vara ini." sambung Jenny.
"Itu memang sudah di rencanakan kedua Kakakmu, agar Vara tidak menggangu Harsen kerja nantinya. Nah, kalau sudah menikah kan lain lagi cerita." Eva menimpali.
"Harsen enggak pernah terganggu kok, Bi." balas Harsen.
"Tapi Kakakmu yang terganggu, Sen." sambung Raka.
"Selamat sore semuanya."
Semuanya menoleh ke arah pintu masuk butik Vara. Karena ini sudah dua bab, mohon jangan pelit kasi VOTE dan LIKE nya ya 🤗