
Raka dan Leo berada di depan pintu Unit Gawat Darurat. Tampak raut wajah kekhawatiran, ketakutan serta kebimbangan yang bersarang dalam pikiran kedua Pria yang di sebut seorang Papa bagi kedua anak yang masih terbaring lemah dengan kedua mata yang tertutup.
"Sabar Leo." Raka menyentuh pundak Leo yang sedang menangis haru, melihat keadaan sang Putra semata wayangnya terbaring dengan keadaan miris.
"Saya gak sanggup lihat anak saya babak belur begitu Pak Raka. Hati saya seperti nyessss... kek ada yang menyayat-nyayat di hati saya, Pak Raka." ujar Leo dengan air matanya yang tumpah melewati kedua pipinya.
"Saya tau perasaan Kamu, Leo. Kita telat ! Kalau saja team keamanan cepat bertindak sebelum Harsen, tidak ada yang seperti ini. Saya menjadi merasa bersalah dengan anak-anak."
Keduanya saling menguatkan, hingga terdengar suara sekelompok orang berlari ke arah Raka dan Leo, bersamaan dengan itu, Dokter dan team medis lainnya keluar dan membawa Harsen serta Renata yang barusan di bawa keluar dari pintu UGD.
Rava, Vara, Defan dan James berlari hendak mendekati Raka dan Leo, seiring keluarnya Renata dan Harsen, semuanya menjadi mendekati ranjang Renata dan juga Harsen.
"Bagaimana keadaan anak-anak saya, Dok." suara Raka yang penuh kekawatiran duluan bertanya ke Dokter, pun dengan Rava yang langsung menyentuh tangan Renata, menunggu jawaban Dokter.
"Keduanya dalam kasus yang berbeda Tuan Raka. Putri anda Renata hanya mengalami Dehidrasi , kekurangan asupan carian, hal pertama yang menyebabkannya pingsan. Tetapi tidak ada hal yang serius. Sedangkan putra anda tubuhnya mengalami trauma di akibatkan benda tumpul . Hanya saja, luka luar lebih parah, adanya memar tulang di beberapa bagian Kaki serta luka yang robek akibat pukulan benda tumpul. Sudah kita tangani, kita hanya menunggu perkembangan, saat kedua pasien sudah sadarkan diri. Sekarang, masing-masing pasien akan di pindahkan ke ruangan rawat inap. Tentunya masih dalam pemantaun team kita." ucap Dokter dengan seksama.
Rava dan Vara sama-sama lega, begitupun dengan yang laiannya. Ada hembusan nafas legah dari mereka.
"Tapi, bagaimana bayi Saya, Dok?" Rava tiba-tiba teringat dengan sang bayi.
Sejenak Dokter Ardian terdiam. Semua mata menanti jawaban dari mulut Dokter muda itu.
"Masih dalam kondisi yang baik. Janin bapak sangat kuat, hanya saja berefek ke volume air ketuban di dalam kandungan Ibu Renata berkurang. Akan tetap kita pantau sesudah Ibu Renata sadar" Dokter Ardian sedikit mengulas senyumannya.
Rava sekilas memejamkan matanya dan mengusapnya, rasa bersyukur dia ucapkan ke sang pemilik kehidupan. Begitupun dengan yang lainnya, dengan rasa syukur yang tidak henti-hentinya terlontar dari bibir mereka. Sebab sebelumnya kehamilan Renata memang lemah, hanya saja sebelum mereka terbang, Dokter memberikan kabar baik karena janin Renata semakin kuat dan bertumbuh dengan baik dari sebelumnya.
"Terima kasih Dok." balas Rava dengan mencoba tersenyum.
"Sudah tugas saya Pak Rava. Baiklah, saya permisi. Pasien akan di antarkan oleh team medis."
Setelah berpamitan dan Dokter Ardian berlalu, Raka memandang putrinya yang sedang menangis di depan ranjang Harsen.
“Sayang.. Harsen akan baik-baik saja. Mari kita obati luka di bibir-mu.” Raka merangkul tubuh putrinya dan mengusap lembut pundaknya. Sejenak Raka menutup matanya, memberikan kekuatan dan penghiburan untuk anaknya.
“Vara sedih banget Pa. Kado pernikahannya benar-benar ekstrim. Kalau tau begini akhirnya, Vara lebih memilih kena kerjain sama Defan.” ungkap Vara dengan menangis di dalam pelukan Raka, dia terisak dengan sedihnya.
“Siapa yang mau seperti ini Sayang. Papa juga gak mau kejadian seperti ini terjadi di awal kalian berumah tangga. Tapi, Papa tidak bisa mencegah ini semua agar tidak terjadi. Sekarang kamu harus kuat, agar saat Harsen sadar nanti, dia merasa tenang, Karena Istrinya baik-baik saja. Apa kau mengerti? “tanya Raka dengan mengelus pundak Vara.
“Ia Vara. Yang di bilang Papa kamu memang benar. Vara gak boleh sedih, kalau kamu sedih Harsen akan merasakan apa yang kamu rasakan di sini. Jadi sekarang, ada baiknya kamu dan Defan meminta ke team medis, untuk di obati luka-luka kalian.” Leo menyentuh puncak kepala Vara sebagai bentuk kepeduliannya.
“Baiklah Pa.” balas Vara pada Leo dan Raka.
“Ayo Vara,” ajak Defan yang mencoba akur sejenak dengan Vara.
Vara dan Defan berjalan ke arah ruangan UGD untuk meminta bantuan para medis, jika memang di perlukan tindakan yang serius pada luka yang mereka terima saat menghadapi Ansel.
Dua kamar berbeda, hanya dinding yang menjadi pemisah ruangan kamar VVIP untuk Harsen dan Renata tempati. Masing-masing dari mereka memilih untuk bergantian melihat keadaan Harsen maupun Renata, hingga memberikan waktu untuk Rava maupun Vara, melihat masing-masing orang yang mereka cintai, hanya berdua saja.
Di sini Rava berada, di samping ranjang Renata. Menatap wajah Renata yang memucat, kedua matanya yang masih enggan terbuka. Berapa kalinya, Rava menanti Renata tersadar di ruangan Rumah Sakit seperti sekarang.
"Aku benar-benar tidak percaya, seperti ini terjadi pada dirimu dan calon anak kita." Rava berucap denggan menarik lembut punggung tangan Renata, menggenggamnya dengan erat.
"Segera buka matamu Sayang. Aku benar-benar sangat merindukan dirimu." ujar Rava dengan bergetar.
"Aku yang salah, kenapa Aku membiarkanmu bersama Vara tanpa di dampingi dengan suami sendiri. Mana gerakku juga lambat, aku benar-benar jadi suami buruk dan papa yang buruk untuk kalian berdua." Rava menunduk, sambil merangkul punggung tangan Renata.
Tidak lama kedua mata Renata mengerjap. Kedua matanya masih menatap satu pandangan ke arah langit-langit ruangan kamarnya. Masih merasa samar akan beradaannya, Ia mengubah pandangannya ke arah kiri. Menyoroti seluruh ruangan yang bernuansa putih. Semakin membuatnya bingung akan beradaannya. Bau rumah sakit pun meringkuk masuk ke dalam indera penciumannya dengan merasakan jarum infus yang bersarang di dekat punggung tangannya. Dan Renata mulai tersadar, dirinya bukan berada di gudang lagi.
“Aku haus,” gumam Renata masih setengah sadar.
Rava yang mendengar suara Istrinya terkesiap dan refleks beranjak dari duduknya.
“Sayang, Kau sudah bangun? bagian mana yang sakit sayang? kasi tau Aku,” katanya dengan menatap kedua mata Renata.
“Aku haus.” katanya lagi.
Buru-buru Rava mengambil gelas dari teko yang di siapkan oleh pihak rumah sakit di atas nakas.
“Ini, minumlah Sayang.” Rava menyodorkan gelas dan membantu Renata untuk duduk.
Renata mengambil gelas dari tangan suaminya dan meneguknya hingga habis. Rava yang melihat Renata keahusan, membuat rasa geramnya kembali bersarang di dalam ingatannya. Rava mengabaikan itu untuk sementara, yang terpenting baginya, Renata sudah sadar dari pingsannya.
"Apa kau masih mau minum?" tanya Rava sesaat setelah Renata mengembalikan gelasnya ke Rava.
Renata kembali membaringkan tubuhnya.
"Tidak, sudah cukup. Apa Aku di rumah sakit?" tanya Renata dengan menoleh ke wajah suaminya.
Rava kembali mendudukkan tubuhnya.
"Iya. Apa kau baik-baik saja?" tanya Rava dengan suara berat.
"Bagaimana dengan Harsen?" tanya Renata saat mengingat kedatangan Harsen yang langsung di pukul dengan broti kayu di depan kedua matanya.
“Bagaiamana dengan Vara? Vara bersama denganku di ikat di dalam gudang yang baunya sangat menyengat Rava.” kali ini Renata semakin takut, saat semua ingatannya akan kejadian yang dia lalui, sudah memenuhi pikirannya.
“Vara hanya lebam di bagian sudut bibirnya, tidak serius. Tapi sangat sakit buat Vara, bagaimana dengan kamu?”
“Kalau Defan?”
“Sayangggg… Aku sedari tadi bertanya tentang keadaan kamu? kenapa kau tidak menjawabnya? Aku benar-benar butuh jawaban dari keadaan kamu, sedari tadi yang kamu tanyai mereka. Gak tanya tuh keadaan Aku gimana?” Rava mulai kesal karena tidak di tanggapin, tetapi rasa sedihnya jauh lebih besar ketimbang kesalnya.
Seulus senyuman Renata berikan.
“Sayang, Aku tidak apa-apa. Hanya merasakan lelah, haus dan sangat lapar. Mungkin karena efek dari infus ini, aku merasa kuat dari sebelumnya. Terus kenapa Aku harus menanyakan keadaan kamu? bukankah kamu baik-baik saja?” tanya Renata.
Rava menghela nafasnya.
“Aku benar-benar sangat mengkhawatirkan kamu, Sayang. Karena kesalahanku, kelalaian Aku, Kau dan Vara berada dalam bahaya. Semuanya karena Aku yang kurang pekah dengan keadaan sekitar kita. Harusnya Aku yang secara langsung menjaga kamu, memastikan kamu aman. Begitupun dengan Vara, jika Aku ikut bersama kalian, seharusnya tidak ada yang terluka. Begitupun Harsen, Aku sungguh kecewa terhadap diriku sendiri. Aku benar-benar minta maaf kepada kamu dan anak kita ” air mata Rava tiba-tiba lolos dari kedua pelupuk matanya.
“Kok jadi nangis? “ Renata mengernyitkan dahinya, suaranya yang serak-serak becek akibat kekurangan cairan, terdengar jelas bagi Rava.
“Aku sedih Sayang, kau dan bayi kita, mengalami yang tidak mengenakan. Rasanya aku benar-benar gagal, menciptakan kenangan bahagia di memori ingatanmu.” balas Rava dengan sesenggukan.
Renata menarik lengan Rava dan memintanya untuk mendekatinya. Mengusap air mata Rava dengan ibu jarinya.
“Tidak ada yang gagal. Tidak ada yang tidak bahagia. Kita juga tidak mau ini terjadi Sayang, kenapa Kau berbicara seperti itu? Aku tidak di apa-apain sama mereka, hanya saja mereka tidak memberikan aku makan dan minum. Karena tidak ada toko yang buka di tengah malam, itu saja. Jadi Kau tidak boleh menangis, seperti Aku sudah mati saja.” balas Renata dengan seulas senyumannya.
Kedua mata Rava terperanjak.
“Kenapa Kau berbicara tentang kematian? Hikss…hiksss… Kau mau menghukumku? Aku hanya trauma Renata. Kau sudah terbaring di Rumah sakit di dalam hidupku sudah berkali-kali. Apa Aku masih bisa tenang? melihat wajahmu yang pucat, terus kedua matamu itu tertutup bukan karena tertidur, Aku benar-benar takut. Huuh.. Hikss..Hikss.” Rava sesenggukan dan menangis dengan sedihnya.
Renata di buat bingung sendiri melihat Rava yang menjadi melankolis itu. Tidak seperti biasanya, menangis seperti anak kecil.
“Sini Aku peluk.” bujuk Renata.
“Gak mau.” balas Rava sambil nangis.
“Terus maunya apa?”
“Di cium dong, biar gak sedih lagi.” balas Rava.
“Ya da sini. Sini biar aku cium.” balas Renata .
Rava beranjak dari duduknya dan mencoba mendekati wajahnya ke arah Renata, agar bisa di jangkau oleh bibir Renata.
“Huaaaahhhu…huaaaaaauuu..huaaaaaaaaaaaaahu… “suara tangisan lain terdengar dari pintu masuk, sehingga membuat kegiatan yang mereka akan lakukan terhenti dengan adanaya orang yang tidak di undang.
Rava dan Renata sama-sama menoleh ke arah pintu yang sudah menutup.
“Defan.” gumam Renata.
“Huhuhu…huaaa… huauauau.” Defan dengan cepat berjalan menuju ke ranjang Renata dengan terpiar-piar sedih.
“Kamu kenapa Fan? “ tanya Renata saat tubuhnya sudah di peluk oleh Defan yang masih menangis.
“Huaaa… Defan sedih Kak.”
Kedua manik mata Rava menyoroti dengan dingin di sela-sela sisa sesunggukannya, air mata Rava kaget karena kalah saing dengan air mata Defan dan suara Defan. Membuat air matanya Rava kembali masuk ke dalam matanya.
“Apaan sih lo Fan! datang-datang ganggu Kakak aja!” ketus Rava pada Defan.
“Defan kan sedih Kak!” balasa Defan sambil merengek dan peluk-peluk Renata.
“Apaan sih lo! pakai peluk-peluk segala. Kalau sedih ya sedih aja! jangan meluk-meluk bini Kakak!” Rava sebenanrya merasa kesal, niatannya di cium oleh Renata, hilang sudah karena kedatangan Defan.
Renata menggelengkan kepalanya, melihat keduanya yang tidak akur dalam suasana biasa.
“Dih Kakak! Defan kan hanya sedih, Kak Renata itu di ikat sama si Ansel. Dan sekarang, Defan uda bisa lihat wajahnya kak Renata lagi. Emangnya cuma Kakak aja yang sedih? Defan juga kali Kak!”
“Berisik amat si lo! uda ganggu momen penting yang gua tunggu-tunggu.” matanya menatap dingin.
“Emangnya kakak lagi mau ngapain?” tanyanya dengan senggugukan.
“Bukan!” balas Rava kesal.
“Bukan apa sih Kak?”
“Bukan urusan lo!”
kriukkkk….kriuuuukk…kriuukk….
Semuanya hening, hingga menoleh ke arah si pemilik suara.
“Busettt…suara apaan itu?” tanya Rava.
Defan mengusap-ngusap perutnya dan cengengesan ke arah Rava.
“Defan lapar Kak!” celetuk Defan dengan ekspresi wajahnya yang minta di gampar.
Renata tertawa. Rava menarik nafasnya dalam-dalam.
Bersambung.
****
Terima kasih semuanya yang uda bantu VOTE, Like dan komontar. Maaf kalau komentarnya gak bisa dibalas satu-satu, tapi Mom baca kok, setelah seluruh ketikan mom siap. Jangan lupa di bantu terus untuk naik ke atas ya ^^. Kalau VOTE kalian kencang, ntar malam satu Bab lagi ya. Terima kasih pembaca mom yang baik hati ^^.