
***
Hallo Ren, sahutnya saat menyadari yang datang ialah Rendy.
Apa aku boleh gabung dengan kalian, tanyanya
Sangat boleh,,, jawaban Kinaya membuat Rendy segera meletakan makanannya semeja dengan Kinaya.
Apa kalian sudah sebegitu akrab,?, tukas Marissa
Tidak Marissa, emm maksudku kita bekerja d bawa naungan yang sama jadi kita sering bertemu dan akhirnya berteman.
Ooooowww, ucapnya dengan bentuk bibir dengan bulat yang sempurna, aku pikir kalian sudah sedekat ini, lanjutnya,
Mereka bertiga menyantap makanannya masing masing di selingi candaan ringan, tak hentinya Marisa terus tertawa membuat Kinaya terbawa suasana untuk mengikutinya...
Setelah makan siang selesai, mereka bertiga berjalan dan menuju keruang kerja dan tak luput dari pembicaraannya dan terus tertawa namun terdengar ringan. tiba-tiba seseorang menghentikan langkah dan tawanya,
Tu.tuan, kita baru saja selesai makan siang, ucap Marisa menunduk dengan begitu gugup,
Dengan tatapan begitu dingin, matanya begitu fokus menatap Kinaya yang berdampingan dengan Rendy,
Kinaya temui aku sore nanti, ucapnya tanpa bergeming, Kinaya hanya diam menatap wajah yang terpasang tidak ramah ini di hadapannya, sejenak beradu pandang namun perempuan tersebut secepatnya mengakhiri tatapan itu, Rey hendak berjalan meninggalkan tiga pegawai kantor ayahnya namun ia terhenti tatkala masih ada yang ingin ia katakan,
Oh iya, jangan lupa kontrak kita bulan depan, ucapnya dengan tatapan tajam pada Rendy, namun dengan begitu takut Rendy hanya menunduk mengingat yang berbicara di depanya tak lain adalah anak dari bos besar di tempatnya bekerja.
Kinaya menarik nafas dan menghempasnya dengan begitu sabar.
Ayo, ajaknya pada dua manusia yang masih menunduk, di angkatnya wajah itu dan seketika mengusap pelan dadanya,,, aku hampir pingsan, ucap Marisa setelah hembusan nafasnya.
Apa kalian berdua sebegitu parnonya, katanya melanjutkan langkahnya,
Aku tidak tahu bagaimana wajahnya bisa berubah ubah, wajah dinginnya seperti tadi benar-benar membuatku sangat takut, ucap Marisa sambil mendekik membayangkan wajah galak dari anak bosnya itu.
Apa dia memang sering datang kemari? Tanya Kinaya d sela langkahnya
Baru kali ini dia sering mendatangi kantor ini, biasanya dia hanya bekerja di kantornya sendiri dan kalau ada perlu asistennya yang selalu mengurusnya. Jelas marisa membuat Kinaya mengangguk mengerti tanpa menanyakan lagi sosok Rey, meski sebenarnya ia tidak tahu kalau Rey adalah anak dari atasannya sendiri, mengingat kerja sama yang baru saja diterima membuat akalnya menerima penjelasan Marisa yang Rey sering datang ke kantor akhir-akhir ini,
^
Kinaya, apa maksud tuan Rey dengan kontrak bulan depan, apa kau sudah lama mengenalnya? Perkataan Rey membuat Marisa penasaran hingga akhirnya ia bertanya,
Kontak kerja sama di perusahaan ini, aku baru saja mengenalnya setelah pertemuan di ruang meeting kemarin, jawabnya.
Kinaya apa kau tau kalau tuan Rey...^ ucap Marisa menggantung karena tiba-tiba handphonenya berdering
Kinaya kau duluan saja masuk ruangan, aku akan mengangkat telfon dari kakaku, imbuhnya dan Kinaya pun mengangguk meski merasa ada yang janggal dengan ucapan Marissa yang menggantung..
~.
Dengan lihai tangan mungil itu menyentuh kursor dan sesekali beralih ke keyboard komputer melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena waktu makan siang, ia terus mengotak atik dan matanya hanya berfokus pada layar komputer yang sedang memunculkan data-data arsip perusahaan hingga sore hari.
Kinaya, ayo kita pulang, panggil Marisa tanpa permisi lagi untuk memasuki ruang yang berukuran tidak kecil itu.
Sebentar Marisa, kau duluan saja, beberapa berkas ini harus diamankan dulu, balas Kinaya sembari menyusun beberapa map kedalam rak yang tersusun di belakang meja kerjanya
Suara ketukan pintu ruangan tersebut terdengar begitu mendesak,,,
Marisa siapa yang datang, tanya Kinaya penasaran, bukannya ini sudah bukan jam kantor lagi, tambahnya
Tanpa bersuara Marisa mengangkat kedua bahunya tanda ketidaktahuannya,
Kinaya bergegas menuju pintu dan segera menarik gagangan pintu tersebut hingga terbuka lebar, tanpa ada sautan hanya tatapan yang saling beradu namun berlangsung sebentar saja,
Kinaya siapa yang datang.? Teriak Marisa yang tidak melihat siapa orang di balik tubuh Kinaya karena tertutupi sebagian pintu.
pak Rey, ada apa pak kemarin, ini bukan jam kantor lagi pak, ucap Kinaya dengan nada rendahnya,
Kau lupa perusahaan aku kan sudah bekerja sama denganmu, sesuka hati aku bisa kemari, apa kau lupa perintahku tadi siang. Seru Rey,
kau tidak mempersilahkanku untuk masuk? Tanyanya dengan tatapan begitu memaksa membuat pemilik ruangan itu seketika diam.
Tanpa berucap, Rey pun masuk ke ruangan tersebut.
Marisa yang melihatnya seketika membungkam, posisi tubuhnya yang duduk semaunya seketika di ubah menjadi posisi yang begitu sopan dengan wajah yang terus menuduk.
Ma,maaf tuan, kata itu lolos ia ucapkan dengan suara gugupnya, tanpa ada sautan ia merasa sangat takut dan segera beranjak berdiri untuk meninggalkan ruangan yang baginya sangat menakutkan itu.
Kinaya aku menunggumu di depan, ucapnya pada Kinaya sebelum tubuhnya benar-benar lari dari jangkaun Rey.
Aku hampir saja mengencini diriku, ucapnya setelah tubuhnya berada di luar ruangan Kinaya.
Maaf pak, kita bisa bicara besok, aku tidak bisa meladeni anda saat ini, sekarang bukan jam kantor lagi, .
Aku hanya ingin memastikan kau bersedia mendampingiku dalam proyek nanti? Tanyanya dengan suara rendah, terlihat sangat berbeda wajah ramah dan dinginnya saat berhadapan dengan karyawan ayahnya yang bukan Kinaya.
Aku akan usahakan pak, jawab Kinaya sembari membereskan beberapa benda yang masih berserakan di atas mejanya.
Rey memandanginya dengan tatapan yang sangat ramah, senyuman itu memenuhi wajah tampan miliknya, membuat objek tatapannya merasa sangat tidak nyaman. Kenapa dia selalu melihatku seperti itu, ekor mata Kinaya berhasil menangkap tatapan itu, meski terlihat ramah tapi bagi wanita itu adalah sebuah masalah dalam batinnya.
Kedua manusia ini segera meninggalkan ruangan tersebut, itu masih tak luput dari tatapan Rey, Kinaya dan Marisa berjalan melewati beberapa anak tangga,
Kinaya, kenapa dia masih mengikuti kita, harusnya dia turun menggunakan lift, kenapa harus ikut menuruni anak tangga juga, bisiknya pada Kinaya di sela langkahnya.
Biarkan dia berjalan sesuai maunya, jawab Kinaya
Setelah mereka berada di parkiran, Marisa dan Kinaya akan berpisah dan mengendarai kendraan pribadi miliknya masing masing,
Setelah lambain tangan di turunkan, Marisa melajukan mobilnya meninggalkan halaman kantor tersebut,
perempuan yang ia tinggalkan hendak masuk kedalam mobilnya, tangannya mulai menarik gagang kecil pintu tersebut, namun ia mendengar suara teriakan yang seketika menghentikan aktivitasnya,
Tidak baik perempuan berkendara sendirian di malam hari,
Mohon dukungannya🙏💞
Jangan lupa tinggalkan like💕