
Sesampainya di rumah, dengan cepat Raka membwa barang belanjaan mereka turun. Begitu juga dengan Vara, walaupun sang kakak melarangnya untuk ikut membantunya, ia tetap bersikuku untuk membantu, karena ia takut di katakan anak manja sama defan. Padahal, Defan kan enggak ada di rumah. Sesampainya mereka di dapur, Vara dan Rava kemudian mengeluarkan seluruh barang yang mereka bawa untuk di masukkan ke dalam kulkas.
Tak lama suara nada dering ponsel Rava, berdering. Pertanda ada panggilan masuk, dengan cepat Rava mengambil ponselnya dan melihat nama yang muncul dari layar ponselnya. “Bibi Casandra.”
Dengan cepat Rava menjawab panggilan dari mami Renata itu, sebelumnya ia berpikir kenapa di sore hari sang bibi menghubunginya, jika di tempat Rava sore hari yang waktunya berbedah 11 jam dengan Jakarta, bukankah harusnya di sana tengah pagi atau subuh.
“Halo,bi….” jawab Rava mengangkat sambungan teleponya.
“Apa? Renata? Enggak ada bi, renata tidak ada mengabarkan Rava tentang keberangkatannya.”
“Baik bi, bibi Sandra yang tenang ya. Kalau renata sudah tiba, rava langsung mengabarkan bibi.”
Seusai ponselnya terputus, Rava masih terdiam. Berpikir dengan rasa kalut, sedangkan Vara yang melihat kakaknya mematung, memanggilnya agar tersadar.
“Kakak,” panggilnya.
“Iya.”
“Kakak kenapa? Ada apa dengan kak renata?” Vara penasaran.
“Ouh… kata bibi Sandra, kak renata ada tugas di sini. Keberangkatan malam, harusnya sih tiba besok hari. Tetapi bibi, merasa cemas. Karena renata, terbang sendiri. Tidak di temani asisten pribadinya. Bibi kirain renata mengabarkan ke kakak akan kedatangannya.” jelas Rava ke Vara.
“Ouu... wajarlah bibi sangat cemas. Kak renata kan anak semata wayang, terus pergi jauh malahan sendiri. Waktu itu aja, mama enggak izinkan Vara untuk terbang sendiri, malah papa, mama dan kak Rava yang bawa Vara ke sini.”
Rava tersenyum, “benar dong, mana ada orang tua yang mau anak gadis manjanya berkeliaran sendiri. Sudah ayo kita lanjutkan,” ucap Rava kembali mengambil barang-barang yang harus di masukkan ke lemari pendingin. mencoba menepis rasa cemasnya.
***
Dengan memakai kaca mata hitam, celana jeans ketat berwarna terang dan menggunakan kaos berwarna hitam dan kaca mata hitam yang melingkar di kedua matanya, rambut pirang yang tergurai indah , duduk sendiri di dalam kursi penumpang. wanita itu sebenarnya sangat takut berpergian sendiri. Karena ini pengalaman pertamanya untuk berpergian dengan pesawat sendirian.
Sesekali dia mengumpat dalam hatinya, pikirnya kenapa waktu sangat lama berlalu. Rasa takut dan bosannya, menghantui diri nya. Pengen cepat sampai, dan sedihnya ia tidak punya teman untuk di ajak berbicara. Sampai-sampai Renata memilih untuk mengintip ke arah sekelilingnya, kali aja ada yang dia kenal atau mengajaknya berbicara.
“apa anda bosan?” nah benar yang di pikir Renata, penumpang pria di sebelahnya mengajaknya mengobrol. Dan senangnya,itu anak sama-sama bisa berbahasa yang sama dengan Renata.
“Maaf,Tuan. Bukan maksuda saya membuat anda terganggu,” balas Renata.
“Tidak… karena saya juga merasa bosan nona,”
“Agh… iya. Saya juga merasa begitu,’
“Anda suka membaca buku, Nona?”
Renata pun tersenyum, “suka banget,” balasnya tanpa kaku.
“Boleh, saya suka bisnis. Terima kasih, Tuan.” ucap nya ramah.
“Selamat membaca,” jawabnya singkat.
Penumpang yang sedang berbicara dengan Renata itu, berjenis kelamin laki-laki. Seawal masuk kedalam pesawat, ia memperhatikan, gerak-gerik Renata yang gugup dan seperti ketakutan. Dan ternyata, Renata sebagai teman duduknya. Lalu merasa risih, dengan benturan kepala Renata di dinding bangku pesawat, kepalanya yang ilang timbul, membuat fokus sang pria hanya terarah pada Renata. Hingga tak kuasa menahan penasaran, si Pria itu pun memberanikan dirinya.
Selang beberapa menit, pria yang meminjamkan bukunya ke Renata, merasa tidak ada lagi suara dari Renata. Dia pun tersenyum, karena bisa fokus untuk melanjutkan bacaannya. Tetapi ada yang aneh pikirnya, kenapa secepat itu juga tidak bersuara. Pria itu pun mencoba mengintip kearah Renata, daaaan pria itu pun tertawa kecil.
“Katanya suka bisnis, baru beberapa menit membaca sudah molor. Gadis yang sanagat unik.” ucapnya seraya tersenyum
***
Seusai Rava memasak dengan di bantu Vara, untuk makan mereka. Dengan cepat, Vara menghidangkan nasi besera lauk pauk di atas meja mereka. Defan yang barusan tiba, di sambut tatapan tajam oleh Vara.
“Wah… wangi banget, ini kak Rava semua yang masak?” tanya Defan saat melihat makanan yang ada di atas meja.
“Lebih tepatnya, kakak dan vara,Fan,” balas Rava seraya mematikan knop kompor gas.
“Sudah, sana cuci tangan yang bersih. Baru gabung, enggak mau makan apa?” tanya Vara dengan lirikan tajam,Defan tidak mau kalah dan menatapnya tajam.
“Jangan memulai, cepat duduk semua.” perintah Rava, karena dia pengen tenang. Pikirannya sedang tidak baik mengingat Renata.
Defan dengan segerah mencuci tangannya ke wastafel, sedangkan Vara langsung saja duduk, aura dingin kakaknya sangat jelas mereka rasakan. Sekilas menatap sang kakak, yang sedari tadi lebih banyak diam, Vara mulai curiga ke kakaknya. Walaupun Rava tidak pernah mengakui perasaannya akan Renata, Vara tahu kakaknya sangat perduli tentang Renata. Karena itu Vara sangat bingung dengan kakaknya yang enggak jelas, walaupun perduli kan belum tentu cinta. Buktinya, sang kakak memilih Vanessa sebagai wanita pertamanya. Dan usai wisuda malahan kakaknya di campakkan dan di sia-sia kan. Otomatis semenjak kakaknya di campakkan, hidupnya sangat berubah. Lebih memilih perduli ketimbang mencintai, itu salah satu yang Vara nilai. Dan semenjak vara tahu tentang vaness, ia sangat membencinya. Karena ulahnya, kakak eenggak mudah untuk jatuh cinta. Kadang saja, ia merasa kakaknya seperti hambar dengan cinta.
“Selamat makan kak,” ucap Defan sebelum memulai makannya dan diikuti oleh Vara.
“iya selamat makan semuanya.”
Defan dan Vara sangat suka masakan Rava, semenjak rava berkuliah dan tinggal sendiri. Rava menjadi pintar memasak apapun yang bisa dia masak. Begitu juga, Eva sangat membantunya memberikan resep masakan, karena Eva yakin, putranya itu memiliki sifat yang berasal dari Eva. Sangat mandiri dan penuh tanggung jawab seperti papanya.
Seusai makan, Rava memberikan perintah agar Defanlah yang mencuci dan membersihkan meja makan. Ya karena Defanlah yang hanya membantu menghabiskan makanan yang sudah Rava dan Vara siapkan. Dan wajar, tugas itu di berikan untuk Defan. Vara tertawa senang, karena sang kakak memang orang yang adil, sedangkan Defan menerima perintah itu dengan lapang dada. Siapa yang berani melawan perintah Rava? Hanya Renata. Ya Renata yang berani melawan perintah si Rava, tidak termasuk dalam bagian mama dan papanya Rava.
Sesampainya di kamar, Rava langsung saja menghubungi Harsen. Memberikan perintah, untuk mencari tahu kapan dan waktu penerbangan Renata, hingga waktu tepatnya renata tiba di New York. Rava harus tahu, karena ia sudah berjanji pada Casandra untuk memberikan info ke maminya Renata serta menjaga renata selama di New York.