My Chosen Wife

My Chosen Wife
EMOSI.



Seperti yang sudah di rencanakan sebelum pernikahan keduanya di adakan, Harsen dan Vara langsung terbang menuju Bali. Tempat favorit keduanya, mereka hanya berangkat berdua saja, karena memang tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Termasuk, untuk mengantarkan keduanya ke Bandara, Harsen dan Vara menolak.


Vara dan Harsen sama-sama berjalan dengan langkah pasti, tangan kiri Harsen menggandeng punggung tangan Vara dan tangan kanannya menarik Koper yang berisi pakaian keduanya.


Dengan mengenakan  jeans biru, sepatu casual dan pakaian couple berwarna putih dengan tulisan “Suami, Istri.” pemberian Renata untuk mereka, keduanya berjalan sangat mesra. Menjadi pandangan orang-orang yang sedang berlalu lalang.


“Apakah kau tidak kelelahan?” tanya Harsen ke Vara.


Vara menggelengkan kepalanya.


“Tidak, Vara sangat bahagia Kak. Karena ini adalah momen terindah yang akhirnya bisa kita lewati bersama. Yuhuuuu… Holiday, I'm Coming!!.”seru Vara sangat bahagia,


Harsen tersenyum dan juga ikut bahagia, sama halnya yang di rasakan Harsen. Dia juga teramat sangat bahagia, di mana juga keduanya, pertama  kali melakukan penerbangan  tanpa di kawal siapapun. Dan kali ini, Harsen akan benar-benar menikmati momen penting untuk pertama kalinya, untuk pertama kalinya menjadi seorang SUAMI.


Liburan di mulai.


Keduanya sudah berada di satu tempat duduk, untuk bersiap terbang, Entah kenapa, keduanya sama-sama tertawa karena mengingat, keberangkatan langsung mereka seperti lari dari kenyataan saja. Kenyataan dari pelajaran yang sempat mereka petik dari kejadian sang Kakak. Benar, keduanya mengingat si Defan.


“Kakak dengar ucapan Defan tadi? Dia bilang, kenapa kalian tidak tidur satu malam dulu di kamar ini. Barulah besoknya kalian berangkat di penerbangan pagi.” ucap Vara meniru perkataan Defan saat ia dan Harsen bersiap keluar dari kamar Vara.


Harsen tertawa.


“Benar, Kakak juga mendengar yang Defan katakan. Sungguh anak itu sangat usil, Kakak enggak tau, kalau Defan memang punya banyak bakat terpendam,dari semua ide yang sangat brilliant. Tapi Kakak lupa menanyakan, apa yang akan di lakukanya kepada kita? Kalau saja tadinya, kita menginap di kamar kamu.” Harsen masih tertawa dan menatap Vara.


Vara terkikik.


“Kakak juga usil. Masalah itu juga mau Kakak tau,” balas Vara dengan menyipitkan kedua matanya.


“Karena hanya Defan, Sayang. Punya segudang ide yang gila” kata Harsen lagi.


Kedunya pun tertawa bersama-sama. Sungguh indah pengantin baru ini, tidak ada raut wajah kelelahan dari masing-masing wajah keduanya. Hanya kebahagiaan yang di tunjukkan oleh keduanya.


Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi, lepas landas. Keduanya hanya menikmati momen-momen kecil selama di penerbangan. Dengan menikmati coklat dan berbagi musik dari lagu-lagu favorit yang di putar dari  ponsel Vara. Keduanya sama-sama menikmati iringan music yang terdengar dari headset yang di pasang Vara ke lubang telinga Harsen.


Pasang mata yang melihat kemesraan meraka pun menjadi iri. Apa lagi, terpancar raut wajah cantiknya sang pengantin wanita.


Beberapa Jam Kemudian.


Pesawat mendarat di Bandara Bali. Vara dan Harsen masih bersemangat, berjalan bersama dengan banyaknya pengunjung Bandara. Harsen mencari-cari tour guide yang sudah di atur Harsen sebelumnya. Vara sudah sangat tidak sabaran untuk melihat pesisir pantai, yang sedari tadi bersarang di bayangannya.


"Itu dia. Ayo kita ke sana." Harsen menunjuk ke salah satu pria yang mengenakan kacamata hitam dengan stelan jas hitam, memegang kertas yang bertuliskan, "Mr. & Mrs. Harsen Leonard."


Setelah sang tour guide menenemukan mereka. Langsung saja, keduanya berjalan mengikuti sang tour guide misterius. Untuk menunggu mobil di tempat penjemputan.


"Kak....Apa Kakak gak merasa, itu Pria sangat misterius?" tanya Vara dengan dahinya yang mengernyit.


"Iya... Kakak juga merasakan hal yang sama. Tapi tidak usah takut, kan ada Kakak." kata Harsen menangkan.


"Kalau kita di culik gimana Kak?" tanya Vara menjadi-jadi.


"Hahaha.. konyol itu. Siapa yang mau culik kamu. Makannya banyak." ledek Harsen ke Vara.


"Dih, segitunya menghina Istri sendiri." balas Vara dengan mencebikkan bibirnya.


"Jangan bersungut-sungut. Kita akan memulai liburan kita. Di mulai dari mobil itu." tunjuk Harsen ke mobil hitam yang sudah mendekati keduanya.


Sopir mobil, yang akan membawa Harsen dan Vara ke hotel, turun dari bangku kemudi. Dengan sopan, keduanya di minta untuk masuk. Tidak ada rasa kecurigaan Vara dan Harsen terhadap sopir dan si tour guide keduanya.


Vara dan Harsen sudah duduk di bagian jok di belakang kemudi. Keduanya tidak merasa ada yang aneh dengan situasi kaca yang serba hitam. Tiba-tiba, jok paling belakang, keluar sosok makhluk tak kasat mata, membungkam mulut Vara dan Harsen secara bersamaan. Dan langsung beraksi mengikat tangan Vara dan Harsen.


Vara dan Harsen sama-sama meronta-ronta. Tapi tidak bisa terlepas dari tawanan. Karena memang, Harsen kalah kuat dengan tiga orang di belakangnya.


"Lo orang bisanya main kroyokan! lepaskan Istri gua! Jangan beraninya sama perempuan lo pada! cemen banget!"


Vara sudah menangis. Ia merasa ketakutan saat tangan dan mulutnya sudah di ikat dan di tutup lakban.


"Gak usah banyak bicara! Kita cuma di suruh sama atasan kita. Ya kan bro?"


"Iyaaa! Nikmati saja dulu, jangan protes Om." balas yang satunya.


"Om...Om... Om.. OMPONG! jangan sembarangan ya lo pada! Kasi tau gua siapa atasan lo pada! beraninya main keroyokan! Satu lawan satu sama gua! Lepaskan istri gua!" bentak Harsen lagi.


"Tenang Bos.... ini cuma permainan singkat." kata pria berkaca mata hitam yang membawa mereka keluar dari Bandara.


"Awas aja Lo pada menyakiti Istri gua sedikittt pun! Bahkan sehelai dari rambutnya gugur karena tangan kotor kalian! Gua gak kasi kalian ampun!" umpat Harsen dengan emosi yang membuncah.


"Duh galak amat sih Bro... si eneng gak di apa-apain kok. Tenang saja, ikuti permainan yang di buat oleh atasan kami. " balas si tak kasat mata.


Harsen mencoba untuk melepaskan ikatan tali dari tangannya. Karena tangisan dari Vara, benar-benar membuat hati Haresen merasa tidak tenang.


"Sayang, tenang saja. Kakak pastikan Vara aman dari pria-pria cemen ini. Jadi, jangan menangis lagi." Harsen mencoba menggenggam tangan Vara dari bawah.


Vara menganggukan kepalanya, pertanda Ia mempercayai sang suami. Meskipun hatinya sangat tidak tenang. Selang beberapa menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi tiba di salah satu pantai yang memperlihatkan matahari yang di selimuti awan jingga.


Kaca mobil perlahan terbuka, Sungguh sangat indah pemandangannya, membuat Vara benar-benar terhenti dari tangisannya. Apa lagi, di sana tuh, kelihatan wajah Rava, Renata, Defan, Raka, Eva, Jimmy, Anna, Leo, Rere, Varel, Casandra dan James.


Vara menghela nafasnya. Kesialan macam apa ini namanya? Seluruh keluarga itu melambaikan tangannya ke arah Harsen dan Vara yang masih duduk di dalam mobil. Tertawa senang pula itu , di atas penderitaan orang.


Harsen masih tidak bergeming. Dia masih terdiam dan terpaku, saat keluarga mereka sudah tertawa terbahak-bahak karena sangkin senangnya, permainan kecil yang di buat oleh mereka bisa berjalan dengan baik mengelabui keduanya.


"Lepaskan Istri Gua!" jerit Harsen tiba-tiba ke arah orang-orang yang masih berada di dalam mobil.


Buru-buru ketiga orang tadi yang mengikat Vara dan Harsen, melepaskan ikatan Vara dan Harsen. Saat tali sudah terlepas, dengan lembut Harsen membuka lakban yang menempel di bibir Vara.


"Awwww." Vara mengadu sakit.


"Maafkan Kakak, Kakak gak tau, kalau kita kena kerjain mereka. Padahal dari awal, sudah merasa keanehan." kata Harsen, kini ia mengedarkan pandangannya.


"Lo! Lo orang yang melakban bibir Istri gua! Turun lo! Lihat pipi Istri gua, jadi merah-merah. Enak aja lo buat Istri gua kesakitan!"


Harsen menolak-nolak orang suruhan dari keluarga mereka. Hingga semuanya sama-sama turun, termasuk Vara yang sangat takut melihat kedua mata Harsen sudah sangat menyala-nyala.


Dengan sekali tarikan kera baju pria yang melakban mulut Vara,tubuhnya jatuh di atas pasir. Harsen mulai tersulut emosi.


"Sudah Kak, jangan seperti ini. Kan mereka yang menugaskan ketiga orang ini Kak." kata Vara menghentikan Harsen yang sempat ingin memukul wajah pria yang menjadi utusan suruhan keluarganya.


"Sen... cukup." Rava yang sudah tiba lebih dulu berlari dari kejauhan pun menyentuh tangan Harsen. Bersamaan itu, James, Defan, Raka, Leo dan Varel mendekati Harsen dan menahannya.


"Kenapa kalian sekampung sih ke sini?" protes Vara sebelum amarah Harsen berhenti.


"Dia melakban mulut Vara! lihat saja kak, itu membekas." tunjuk Harsen ke mulut Vara.


"Iya-iya, Kakak paham.Ayolah, ini hari baik. Jangan emosi lagi. Ini cuma permainan sebelum menuju malam pertama. Buat pemanasan gitu," kata Rava membujuk.


Harsen melepas kasar kerah kemeja pria didepannya. Lalu Ia menatap ke Defan.


"Pasti ini semua rencana Lo kan Fan?" mata Harsen menatap panas.


"Whattttt??? Gueeeee.... bukaaaaan! Bukan Defan Kak. Benaran kok, Defan aja di ajak paksa sama Paman Raka naik pesawat pribadinya. Jadi jangan sembarangan menuduh Defan. Mau lihat Defan marah nih?" Defan yang semulanya ciut, kini berkacak pinggang.


"Terusss ini idenya siapa?" tanya Harsen, dengan santai karena Ia bertanya ke arah para paman , papa dan mertuanya.


Rava, Raka, James, Varel dan Leo saling memandang. Hingga keempat pria itu sama-sama menjulurkan jari telunjuk mereka ke arah DEFAN.


Defan yang di tunjuk, mengangkat kedua tangannya dan mengibas-ibas telapak tangannya, membentuk penolakan.


"Bu-Bukan Defan Kak. Defan gak tau apa-apa." protes Defan takut. Dia mendapatkan pandangan sorot mata kebencian Harsen.


"Bukan Defan! Percayalah kak." Defan mundur beberapa langkah, dengan diikuti Harsen yang berjalan ke arahnya. Sebelum lebih dekat lagi, Defan bersiap. "Lariiiiiiiiiiiiii." Defan lari terbirit-birit.


Seluruhnya tertawa geli melihat Defan yang sudah kabur ketakutan. Sedangkan Harsen, mencoba mengejar Defan.


**


"Bossss! Sepertinya kedua target sudah di bawa oleh penyusup lain." kata seseorang di balik handphonenya.


"Maksud kamu! Penyusup bagaimana?"


"Target anda, masuk ke dalam mobil ke penculikan lainnya. Saya melihatnya langsung. Keduanya di bawa oleh beberapa orang yang bersembunyi di belakang mobil yang mereka tumpangi."


"Bodoh sekali kau! Kenapa tidak kau rebut saja!"


"Maaf Bos. Mereka termasuk orang-orang kuat dari pengawal keluarga Atmadja."


"Percuma saja saya membayar kalian! Pekerjaan seperti itu saja tidak bisa kalian urus!"


Bersambung.


***


Anggap saja ini Vara dan Harsen di dalam pesawat membicarakan Defan 🤣