
Setelah berdangdut ria, seluruh keluarga pamit untuk pulang dari rumah mewah yang di berikan Rava untuk Renata. Tinggalah keduanya, bersama seluruh para asisten rumah tangganya. Berjalan dengan saling berpegangan tangan menaiki anak tangga menuju kamar baru mereka.
Sesampainya di depan pintu kamar mereka, Rava meminta Renata untuk membuka pintu kamar mereka. Dengan perlahan Renata menarik handle pintu kamar. Tampak suasana kamar baru yang sebelumnya tidak di ajak Rava untuk melihat-lihat, karena mereka menggunakan kamar ganti yang ada di bawah.
Kedua matanya terkesiap, ruangan kamar yang besar di hiasi dengan lukisan serta foto kami menikah, foto Renata kecil, foto Rava dan juga pernak pernik dinding yang di rancang semewah mungkin.
"Ini sangat seleraku sayang." kata Renata merangkul pinggang Rava.
Rava tersenyum, "Bukankah kau suka minimalis, karena itu aku memintanya agar interior dari kamar ini tidak berlebihan. Ayolah masuk, kau sudah lelah" ajak Rava ke Renata.
Keduanya berjalan masuk, renata menarik nafasnya, berasa segar aromaterapi yang melayang di udara kamar itu meringkuk masuk dalam indera penciumannya. Ia memilih duduk di pinggir ranjangnya, Rava datang mendekati Renata dan berdiri di depan Renata.
"Bagaimana sayang? apa kita harus mencobanya?" tanya Rava ke Renata.
"Haruskah malam ini?" jawab Renata yang langsung mengerti arti dari pertanyaan Rava.
"Ya... siapa tau saja sang pencipta menjawab doa semuanya tepat di hari ulang tahunmu." kata Rava bersemangat.
Renata mencebikkan bibirnya, "Itu hanyalah akal-akalan mu saja. Tidak usah banyak alasan, kalau memang mau ya sudah. Seenggaknya kita bersih-bersih dahulu" Renata beranjak berdiri menuju ke kamar mandi.
"Oh my Candy... Kau memang sangat manis, tau saja apa yang ku mau" celetuk Rava sambilan berjalan ke kamar mandi mengikuti Renata.
Beberpa menit kemudian keinginan Rava terpenuhi, sempat membhuat baku hantam antara keduanya dengan ranjang yang baru mereka seenggaknya hitung-hitung mencoba ketahanan dari ranjang baru. Seusai melakukan ritual mereka, Keduanya saling berpelukan di dalam balutan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
"Sayang..." panggil Renata dengan mendongakkan wajahnya ke arah Rava yang sudah terpejam dengan tangan yang masih mengelus-elus rambut Renata.
"Iya..." balas Rava membuka kedua matanya, menatap wajah Renata yang berada di atas dada montoknya.
"Kau masih hutang cerita denganku," Renata berkata dengan suara pelan.
"Agh... Soal yang kamu bertengkar di sekolah? saat Aku sudah enggak di sekolahmu?" Rava mencoba memastikan ke Renata.
Renata menganggukan kepalanya dan menunggu jawaban dari Rava.
"Itu... Aku tau dari Vara, katanya kamu berantam dengan kakak kelas kalian. Dulu suka sama Aku kan, Vara juga suka di cari-cari olehnya. Karena Anaya mungkin saja kesal denganmu, dia cemburu karena Aku selalu pulang bareng kamu, walaupun kita tidak terikat dalam satu hubungan, dan Aku memanfaatkan itu. Aku bilang saja, kalau kalian menyukaiku, bisa melewatkan murid bernama Renata, aku terima untuk dekat dengan kalian. Nah.. sama Anaya juga aku katakan seperti itu. Si Anaya bersahabat dengan Fio, Sayang." ujar Rava dengan suara terendahnya.
"Iya benar namanya Fio.. Terus kenapa kamu malahan datang ke sekolah, Aku hanya mengatakan padanya untuk tidak mengganggu Vara. Aku merasa enggak suka, dia asik meminta Vara untuk dekat denganmu. Lah.. dia malahan menamparku dan menarik rambutku. Vara dan Harsen syukurnya waktu itu datang membantuku melepaskan rambutnya, tapi tidak sampai menampar pipinya. Aku telat waktu itu, seenaknya saja dia menamparku, Papi dan Mamiku enggak pernah kasar ke Aku." cetus Renata dengan kesal.
"Karena itu aku datang ke sekolah besoknya tanpa kau tahu, Aku menunggu jam pulang sekolah, Aku memperingatinya dengan sangat tegas. Kalau tadi dia pria, sudah ku patahkan tangannya." umpat Rava.
"Apakah karena kejadian itu juga Vara semakin membenciku saat itu ya?" Renata kembali menengadahkan wajahnya ke arah Rava.
"Hemmmm...Karena bagi Vara, Kau sama saja dengan mereka. Vara enggak mau ada wanita yang mendekatiku dari dirinya. Dia membenci itu sayang, maafi Vara di masa dulu ya sayang. Aku hanya tidak mau, kau terus berkelahi karena ku. Anaya dan Fio sama-sama menyukaiku sayang... dia sempat katakan itu ke Aku, Aku tolak. Bukankah suami mu ini idaman para kaum Hawa?" Rava berlagak sombong.
"Iyalah... Terserah Kau saja. Ya sudah... Aku tidur... Terima kasih untuk semuanya." balas Renata kembali menidurkan kepalanya di atas dada telanjangnya Rava.
"Selamat malam Istriku, selamat tidur. Mimpi yang indah ya," katanya dengan menyentuh kepala Renata dan mengusapnya lembut.
***
Beberapa hari kemudian.
Tibalah di sini, di mana seluruh keluarga kembali berkumpul, mereka mengantarkan Renata, Rava, Harsen, Vara Anet dan Alice. Keluarga besar itu selalu setia bersama dalam memberikan yang terbaik untuk orang terdekat mereka. Buktinya saja Raka, Jimmy, Varel maupun Leo, mereka izin semua dari pekerjaan mereka.
Seusai berpamitan, peluk mesra antar keluarga, Rava meminta keluarganya semua untuk pulang. Tidak mungkin untuk menunggu, karena masih ada beberapa jam lagi menanti untuk melakukan Check in, Boarding Pass dan sebagainya.
Penerbangan Rava dan Renata mendapatkan jadwal duluan, akhirnya mereka berdua izin dari adik-adiknya.
"Tolong jaga Vara untuk Kakak, Sen, Defan." kata Rava memberikan pukulan pada pundak Defan dan Harsen.
"Siap Kakak Boss... Sudah tugas pengawal!" ujar Defan dengan melirik ke Harsen.
Harsen tersenyum, "Tenang saja Kak... Akan menjadi tanggung jawab Harsen" balas Harsen ke Rava.
"Wah... Senang banget dengarnya" timpal Renata.
"Kan cuma tunggu beberapa bulan aja sih kan kak... Siap nyusun, sidang dan Wisuda." kata Vara ke pada yang lainnya.
Rava mengacak rambut sang adik, "Yang terpenting Vara bisa melewatinya dengan baik. Kakak percaya padamu sayang." kata Rava dan menarik kedua pipi Vara.
"Siap Kak." kata Vara lalu memeluk tubuh Rava, "Senang-senang di sana ya, jangan lupa pulang bawa keponakan untuk Vara." katanya dengan semangat.
Rava dan juga yang lainnya tertawa kecil.
"Kau sangat lucu, terus merengek soal keponakan." kata Rava melonggarkan pelukannya.
Vara menatap Rava dengan tersenyum lalu Ia berpindah ke Renata dan memeluk Renata dengan hangat.
"Kakak juga ya di sana harus bahagia dan ekstra semangat. Kan kakak tahu, bulan madu tujuannya apa. Sudah paham dan mengertilah ya kan kak." bisik Vara ke Renata.
"Vara genit tahu." balas Renata dengan berbisik.
"Biarin aja... Karena Vara pengen punya keponakan yang cantik dan imutnya kek auntynya." kata Vara lagi.
"Iyaaa... semoga saja ya sayang... doakan buat kakak dan kak Rava. Kamu juga di sana baik-baik, jangan lupa kasi kabar ke kami, ke mama dan papa. Sukses buat Vara." Renata melonggarkan pelukannya.
"Baik Kakak iparku yang cantik" balas Vara.
"Baiklah... Kalau begitu... Kakak dan Kak Renata duluan, jaga diri kalian baik-baik." kata Rava menarik tangan Renata dan menarik koper mereka masing-masing dan berjalan meninggalkan ketiganya.
"Byeeeee Kak... semangatttt ya kak... Jangan lupa... Keponakan limaaaaa" jerit Defan.
Plakkkkkkkkkk....
"Awwwww"
"Jangan buat malu deh, semuanya melihat ke arahmu!" ketus Vara.
Harsen menggelengkan kepalanya kalau sudah berada bersama Vara dan Defan yang kalau bergabung menjadi kucing dan tikus.
"Biarlah... Bukan Kau yang ku jerit" balasnya.
"Iya memang bukan Aku, kupingku sakit dengarnya, maluku selangit di dekatmu" ucap Vara lalu melihat ke arah pembaca, Jangan lupa dukung kami ya? tekan like dan jangan lupa memberikan VOTE nya. Terima kasih...🥰🙏
Bersambung.
.......