
Dua hari kemudian.
Hari di mana Raka dan juga Eva yang memilih untuk kembali duluan. Karena memang, Raka juga sangat sibuk, jadi tidak bisa berlama-lama untuk meninggalkan perusahaan. Eva memilih untuk pulang tanpa menunggu yang lainnya.
Eva sendiri juga sudah mengabarkan kepulangannya dengan yang lainnnya. Jimmy mewakili mereka, membalas pesan singkat dari Eva itu. Meskipun begitu, Eva tidak merasa bersedih. Karena memang, semuanya memiliki hak masing-masing.
Di Bandara, keenam orang itu berjalan mengantarkan Raka dan Eva masuk ke ruangan keberangkatan luar negeri. Vara memeluk erat tubuh Eva, bergantian dengan Rava, keduanya memberikan ciuman ke wanita hebat mereka. Berpindah ke Raka, kedua anak itu melepas kepulangan papa dan mamanya.
Defan dan Harsen, juga memberikan pelukan untuk melepas kepergian Raka dan Eva.
"Sudah sana... Nanti Mama bisa menangis melihat kalian." ucap Eva yang sudah berkaca-kaca.
Barusan di bilang, Vara menangis, dia kembali memeluk Eva.
"Mama... Vara bakalan merindukan Mama." ucapnya dengan terisak.
Eva tak kuasa menahan sedihnya, Eva juga ikut menangis dengan memeluk Vara.
"Sayang... Kamu cepat tamat kuliah, bukankah hanya dua tahun lagi? kamu juga liburan nanti bisa pulang ke Jakarta. Apa Vara mau?" Eva membelai lembut rambut Vara.
"Mau Ma..." balasnya sedih.
"Vara... Sudah jangan menangis sayang... Kita masih bisa berjumpa lagi... " Raka menarik Vara dan memeluknya.
"Iya Va... Vara sayang sama Papa dan Mama." ucapnya dengan bergetar.
Raka mencium puncak kepala sang anak, "Papa juga sayang sama Vara dan Kak Rava. Sudah... jangan menangis. Kalau kamu terus menangis, Papa bakalan ikut nangis dan guling- guling di sini loh. Kamu mau?"
Vara langsung melepas pelukan sang papa dan menghapus air matanya, lalu menatap sang papa.
"Enggak Pa... Vara enggak nangis lagi." balasnya dengan menahan sedihnya.
Harsen, Rava, Defan dan Eva sudah tertawa. Itu ancaman Raka yang ampuh untuk menghentikan tangisan Vara. Kenapa seperi itu? Vara sangat ingat sewaktu Vara pertama kalinya masuk ke sekolah baru,karena Vara menangis sampai hampir satu jam dan tidak mau masuk ke dalam kelas, Raka memilih tiduran di atas lantai, dan ikut menangis. Betapa malunya Vara saat itu, semua orang melihat ke arah mereka. Jadilah Vara dengan cepat memilih masuk ke dalam kelas, ketimbang harus menahan malu karena ulah sang Papa.
"Nah... gitu dong, baru itu namanya anak Papa." Raka cengengesan.
"Sudah sini sama Kakak." Rava menarik sang adik dan memeluknya. Vara pun nyaman di pelukan sang kakak.
"Kau ini manja sekali." bisik Defan yang berdiri di samping Rava.
"Kau jangan mengatai dia," sambung Harsen yang berada di samping Defan.
Ketiganya saling memandang, Harsen sendiri menyunggingkan tawa palsunya.
"Kalau begitu anak-anak, jagalah diri kalian baik-baik. Papa dan Mama berangkat sekarang. Bye semuanya." Raka melambaikan tangannya ke arah anak-anak itu.
Eva juga tersenyum, masih menatap si Vara yang manja itu. Berat rasanya, melihat putri kecilnya yang bersedih. Tapi bagaimana pun, Vara memiliki orang-orang yang kuat untuk menjaganya. Jadi Eva tidak sedikitpun mengkhawatirkan Vara.
"Sudah jangan bersedih, liburan nanti kita akan ke Jakarta." ucap Rava ke Vara dengan membelai lembut rambutnya.
"Iya Kak." balas Vara.
Serasa Raka dan Eva tidak tampak lagi, Rava mengajak adik-adiknya untuk jalan.
"Ayo kita pulang," ajak Rava.
Berjalan menuju arah pintu keluar, si Defan asik mengajak ribut dengan si Vara. Membuat Rava dan Harsen yang berjalan di belakang mereka saling menggelengkan kepalanya.
Drtttt... Drtttt... Drttt...
Tiba-tiba ponsel Harsen bergetar, mengambilnya dan menatap pada layarnya dengan cepat Harsen mangangkat panggilan dari bawahannya. Tampak serius, hingga sambungan telepon terputus, dengan cepat Harsen mendekat ke Rava.
"Kak... Barusan di infokan, hari ini bibi Anna dan Paman Jimmy akan melakukan keberangkatan di penerbangan malam." ucap Harsen dengan wajah serius.
"Cuma mereka berdua?" tanya Rava.
"Paman Varel, Bibi Casandra dan Kak Rena, akan terbang tiga hari kemudian Kak." jawab Harsen lagi.
"Hemmm begitukah.... Baiklah Sen, habis dari sini antarkan Kakak langsung ke perusahaan. Karena kakak akan mengurus kerjaan yang menumpuk, kemudian kita jumpai Renata."
Harsen, Vara dan Defan bersamaan berhenti membuat Rava ikut terhenti hingga hampir terjatuh, karena Vara dan Defan yang di depannya berhenti tiba-tiba.
"Kenapa kalian berhenti! Buat kakak hampir jatuh saja!." Rava protes karena memang kaget sekaligus.
"Kak... Serius. Kakak sudah menemukan kak Renata?" tanya Vara histeris.
Rava memutar kedua bola matanya dan menganggukan kepalanya.
"Ya... Kakak tahu di mana dia, tidak susah mendapatkan keberadaannya." balas Rava dengan berjalan mendahului mereka.
Ketiganya saling menatap, lalu berlari mengejar Rava.
"Kak Rava serius?" Defan bertanya dengan semangat.
"Serius... Sudah ayo....masuk ke mobil Defan, kakak mau langsung bekerja. Mulai besok.. kalian sudah bisa masuk kuliah... terlalu lama libur akan membuat kalian bodoh." celetuk Rava dengan gaya kerennya.
"Siap Kak, Asal Kak Renata bisa kembali, Aku dan Defan akan semangat untuk belajar." balas Vara dengan posisi siap.
Rava tertawa, "Kau terlalu bersemangat sekali. Ayooo."
Masing-masing mereka masuk ke mobil dengan mengambil posisi mereka. Lalu mobil melaju dan meninggalkan area Bandara.
Jam pun menunjukkan pukul 15:00 waktu setempat, Rava yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, bersiap untuk menemui Renata. Rasa rindunya ke Renata sudah sangat menyala-nyala. Betapa penting dan berharganya Renata bagi dirinya.
"Tuan... Apa anda sudah siap?" Harsen masuk ke ruangan Rava.
"Sudah Sen... Apa kau sudah siapkan apa yang aku minta?" tanya Rava.
"Sudah...Tuan. Semuanya sudah beres." jawab Harsen dengan semangat.
"Baiklah... Ayo kita berangkat." ajak Rava dengan beranjak dari bangku kerjanya.
Berjalan keluar ruangan, memasuki Lift hingga tiba di lobby, dengan cepat Harsen mengambil mobil Rava, lalu memberikan kunci mobilnya. Rava mengemudikan mobilnya, dengan di ikuti oleh Harsen yang membawa mobil perusahaan. Dengan perasaan yang senang dan berbunga-bunga, Rava melajukan mobilnya, terdengar siulan dari bibirnya.
"Kali ini harus aku dapatkan." ucap Rava dengan penekanan.
Hingga tiba di satu tempat, yang tidak jauh dari lokasi perusahaan Rava. Di pinggiran kota New York, Renata hanya berpindah Apartemen. Karena itu... Rava tidak khawatir. Hanya saja, Rava memikirkan perasaan Renata dan kesehatannya.
Seusai memarkirkan Mobilnya, Rava turun dari mobil. Harsen dengan cepat menghampiri Rava yang menunggu Harsen untuk membawakan sebuket bunga mawar merah, Balon berbentuk hati berwarna merah, dan Boneka.
Harsen kewalahan sendiri, akhirnya dengan percaya dirinya, Rava mengambil boneka teddy bear cokelat dengan buket mawar merah dan membawanya dengan kedua tangannya sendiri. Keduanya berjalan, untuk masuk ke dalam loby apartemen lalu menuju pintu lift. Menjadi pandangan orang sekitar, Rava tidak perduli. Ia hanya perduli dengan, Mission Succses.
"Apa menurutmu ini akan berhasil?" tanya Rava ke Harsen.
"Pasti berhasil, Kak." jawab Harsen dengan mantap.
"Okey... Kalau tidak berhasil, akan aku pulangkan kamu Sen pada Mama dan Papamu." ancamnya dengan santai.
"Iya Kak... "
Rava menoleh, "Kenapa Kau jawab iya! Kau memang sudah bosan kerja sama kakak, Sen?" tanya Rava dengan kesal.
"Egh.... Bukan begitu kak. Harsen kan cuma mengikuti perintah kakak." balas Harsen dengan pelan.
"Kalau Aku salah, Kau itu harusnya koreksi. Jangan manut saja, bahaya Kamu ini." Rava berubah kesal.
Siallll... Salah mulu aku ini. Gumam Harsen.
Tinggggg.... Pintu lift terbuka.
Rava dengan cepat keluar dari lift, di ikuti dengan Harsen yang memegang balon-balon hati itu. Membuat Harsen terus berucap permisi pada penumpang lift.
Rava menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum tiba di depan pintu Apartemen Renata.
"Kak... keterusan, Ini kamarnya," tunjuk Harsen pada pintu di depannya.
"Hahh... Iya." Rava memutar tubuhnya.
"Baiklah.... Aku tekan bellnya. Kau siap-siap... jika di kasi masuk, langsung saja berikan balonnya itu pada Renata." perintah Rava.
"Iya Kak... Rebes, egh beres kak." balas Harsen tidak kalah semangatnya.
Rava bersiap, merapikan stelan jasnya, dasinya, lalu menatap ke depan pintu dan hendak menekan bell.
"Wah... Balonya banyak, Ma." ucap anak kecil yang melewati Harsen dan Rava.
"Herr.. Jangan ganggu Unclenya." bisik sang mama.
Rava menoleh, "Kamu mau?" tanya Rava dengan setengah duduk.
Anak kecil itu menganggukan kepalanya, " Iya Uncle... Her mau." balasnya dengan ramah.
"Baiklah... Kita minta sama Uncle Harsen ya." jawab Rava, "Berikan dua Sen." perintah Rava.
"Ini Adik Manis." ucap Harsen memberikan dua balon hati itu.
"Terima kasih, Uncle." Putri kecil itu mendekati Rava, dan mengecup pipi Rava, Rava tersenyum. Dalam hatinya, pengen benar rasanya punya seorang putri secantik Renata.
"Wah.... Untuk Uncle mana?" Harsen enggak mau kalah.
Anak kecil itu melambaikan tangannya ke Harsen, memintanya untuk menunduk. Langsung saja Harsen menyanggupi, dapat kecupan dari gadis kecil itu membuat Harsen mengingat Vara.
"Terima kasih sayang." ucap Rava.
"Ayo katakan terima kasih." ucap mama Her.
"Terima kasih, Uncle. Bye....Bye.." anak kecil itu melambaikan tangannya pada mereka berdua.
"Kak... Ayo ke misi semula" ucap Harsen.
"Baiklah..." Rava mengambil posisi siap, hendak menekan bell kamar Renata.
"Aku juga mau Balonnya." Suara ini, menghentikan niatan Rava untuk menekan tombol di depannya. Harsen dan Rava sama-sama menoleh ke arah suara. Keduanya sama-sama terkaget.
Bersambung.
.......
Jangan lupa tekan like dan Votenya. Terima kasih.