My Chosen Wife

My Chosen Wife
CHEESE CAKE.



Setelah di rasa Renata, keadaan Defan mulai membaik. Renata meminta ke Rava untuk membawa mereka ke rumah paman dan bibknya. Apa lagi, Renata sudah mendapatkan kabar, kalau James akan pulang lebih awal. Ini di karenakan, James hanya memliki dua mata kuliah saja. Renata bersorak senang, karena keinginannya yang menikmati hasil masakan James dan Defan sudah terlintas di


bayangannya.


"Apa kau sudah siap?" tanya Rava saat ia menghampiri Renata ke dalam kamar.


"Sudah. Apa Defan sudah bersiap?" tanya Renata dengan mengambil tas jinjingnya.


"Dari tadi dia sudah bersiap untuk perang katanya." Rava memperhatikan Renata yang berjalan ke arahnya dengan dahi yang mengerut.


"Berperang? Di mana dia mau berperang?" tanya Renata, kini dia berdiri di depan Rava yang terus memperhatikan Renata.


Kedua sudut mata Rava mengerut.


"Ada apa?" tanya Renata dengan memperhatikan tubuhnya sendiri.


"Pakailah sweatermu Sayang. Agar tubuhmu, tidak terkena angin." Rava menarik pinggang Renata dan mendekatkannya ke arah tubuh Rava.


"Ouuu... baiklah. Jangan menggodaku." bisik Renata saat Rava mendaratkan ciumannya ke bagian tengkuk leher Renata dan menepis pelan tangan Rava dari pinggannya.


'Sudah ku bilang, dia ini sangat liar.'


Rava tersenyum dan menunggu Renata mengambil sweaternya. Tidak beberapa lama, tampak Renata berjalan keluar dari ruangan pakaian langsung mengenakan sweater rajutnya dan berjalan ke arah Rava.


"Ayo kita berangkat." Renata mengulurkan tangannya ke arah Rava. Tidak menunggu, Rava langsung menautkan jemarinya di sela-sela jari jemari Renata yang mulai menggendut.


Keduanya berjalan berlalu meninggalkan kamar. Menjejakkan kaki di atas anak tangga, hingga sampai di ruangan tamu. Tampak wajah Defan yang kesal. Membuat Rava seketika ingin menarik pipinya. Kenapa seperti itu? baru dua hari tinggal di rumah Rava, pipi Defan sudah berubah seperti bakpao mekar karena baru matang.


"Ayo Fan, kenapa badmood sih?" tegur Renata.


"Habisnya sih! Kakak sangat lama. Defan kan sudah bersemangat. Masa di buat menunggu sih Kak?" rengek Defan.


"Kau tidak mengerti ibu hamil itu gimana Fan? gitu aja kau protes. Sudah jalan! Kakak yang bawa mobil!" perintah Rava.


Defan beranjak dari duduknya, mulutnya komat-komit seakan membuat gayanya Rava.


"Lo lagi ucapkan mantra ya Fan?" sindir Rava dari belakang Deffan.


“Gak kok Kak, cuma kumur-kumur.” balas Defan dari depan.


“Jangan memulai keributan,” bisik Renata mengingatkan Rava.


Sampai di carport, Rava membuka kunci otomatis. Defan lasung menarik pembuka pintu dan langsung menghamburkan tubuhnya di jok belakang. Perasaan Defan sebenarnya tidak karuan. Bagaimana tidak., memikirkan permintaan Renata yang tidak biasanya membuat dirinya frusatasi. Seperti kehilang ion tubuh dan cairan tubuhnya yang memang banyak terkuras akibat mangga muda yang membuat perutnya mulas. Dan kali ini, Renata memintanya ikut, suatu kecurigaan besar baginya. Renata duduk di jok depan, ia menoleh ke belakang melihat Defan yang sedang menutup wajahnya dengan lengan tangan dan rebahan.


“Fan.” panggil Renata cemas.


“Ya kak?” kedua matanya kini beralih membalas tatapan Renata.


“Kamu masih sakit Ya? Apa tidak usah Kakak aja? Kamu mau di rumah, rebahan gitu?” tanya Renata tidak enakan.


“Dih, siapa yang bilang. Defan hanya seperti menunggu di jemput sama Malaikat maut Kak. Defan mau di apain sih Kak?” ini dia penasaran banget sampai mendudukkan tubuhnya.,Mana Rava tidak bilang apapun alasan Renata mengajaknya keluar.


“Sembarangan ngomong kamu, Fan. Tak tampar pakai duit mau?” Rava melajukan mobilnya dengan sekilas melihat Defan dari kaca depan mobilnya.


Tampak mobil yang di lajukan Rava sudah menjauh dari kediaman mereka. Defan tidak berhenti, terus bertanya-tanya, apa yang di lakukan keduanya terhadap dirinya. Ia berpikir, kalau-kalau Rava membalas dendam akan ulahnya selama ini. Renata sangat pusing di buat oleh Defan, terus-terus bertanya yang itu-itu aja. Sementara bagi Renata, Renata ingin memberitahukannya di saat tiba di rumah paman dan bibinya.


Rava menahan emosi dan kesalnya, acap kali mendengar suara Defan yang terus-terusan bertanya. Mana lagi, jalanan kota Jakarta siang itu sangatlah padat. Kemacetan pun terjadi, hingga membuat mobil yang di kemudikan Rava, berkali-kali terhenti. Lagi-lagi suara Defan yang tidak ada remnya. Lempang bagaikan berjalan di atas jalanan yang lurus, membuat kuping Rava dan Renata memanas. Terus-terusan ia memaksa keduanya untuk memberitahukan tujuan mereka ke rumah Jimmy.


Apa lagi, Defan berpikir hubungannya dengan si Jimmy, kadang baik, kadang tidak baik. Kadang cocok, kadang tidak cocok. Selalu saja berbeda argumentasi. Melihat arah angin selatan dan utara, jika mereka sudah bertemu.


Jarak rumah Rava dan Jimmy lumayan menyita waktu di jalanan. Butuh satu jam lebih sedikit, membuat Renata meminta Rava berangkat di awal setelah mereka makan siang.


"Masih jauh ya kak?" tanya Defan menatap jalanan di depan.


Rava mengela nafasnya dan membuangnya kasar.


"Masih Fan....lo yang sabar! Kan lo bisa liat sendiri di depan kita itu macet!" ketus si Rava menunjuk dengan kesal ke arah suasana di luar.


"Karena itu, Defan malas sebenarmya untuk berpergian di jam segini Kak." bantah Defan.


"Kalau gak karena Renata ngajak Lo juga, gak akan Kakak ajak!" ketus si Rava.


"Dih, biasa aja dong. Gak pakai bakso urat berapa mang?" tanya Defan ke Rava.


"Buat lo ambil aja!"


Defan tertawa, itulah kalau si Rava sudah ngomel, membuat suasana itu menjadi hidup bagi Defan.


"Sudah lampu hijau Kak." tunjuk Defan ke kiri.


"Kakak tau, punya mata juga." balas Rava dan kembali melajukan mobilnya.


Sengatan matahari siang itu, menembus kaca mobil di jok depan. Dengan menutupi wajahnya dengan punggung tangannya, Renata berusaha untuk menghindari paparan matahari yang menyengat kulit. Rava melirik ke Renata, dengan cepat Rava menarik penutup dari atas ranjangnya.


"Bersabarlah Sayang, 10 menit lagi kita sudah tiba." kata Rava sangat perhatian.


"Iya Sayang." balas Defan.


"Bukan lo! jangan ke GR an!" ketus Rava.


"Idih, tadi aja di tanyain gak mau jawab. Tiba kak Renata yang kepanasan dan gak ada tanya apapun ke Kakak malahan di kasi tau." proretes Defan.


"Wajar, Istri. Lah kamu? pengacau!"


"Egh.. Defan si pelayan seksi!"


Renata refleks tertawa. Bersamaan itu, mobil Rava yang di kemudikannya memasuki halaman rumah Jimmy dan Anna yang memang tidak berpagar. Perumahan yang asri, yang acap kali membuat Renata suka bermain di kediaman Jimmy.


Mobil terhenti di samping mobil James yang terparkir rapi di dalam carport. Dengan perasaan yang senang melihat mobil James berada di rumah, Renata bersemangat untuk turun dari mobil dan menjejakkan kakinya di atas lantai.


"Pelan-pelan saja Sayang." Rava mengingatkannya.


"Iya sayang.. Jangan mengkhawatirkan Aku." sebelum salah satu kakinya turun, Renata melepas pengangit sabuk pengaman yang melilit tubuhnya.


"Bibi Anna." seru Rava saat melihat Anna sudah berjalan menghampiri Renata.


"Halo Bibiku Sayang." Renata merangkul tubuh Anna.


Anna membalas lembut pelukan sang keponakan.


"Kayak Dipsy dan Po ini." tunjuk Defan kearah Anna dan Renata.


"Bukaaaan!" balas Anna dengan cepat.


"Ayo masuk kedalam." ajak Anna dengan merangkul lengan Renata dan menatap Rava juga Defan. Sampai di dalam rumah, Anna membawa mereka berjalan masuk ke ruangan keluarganya.


"Paman Jimmy belum pulang Bi?" Rava berbasa-basi, dan mendaratkan tubuhnya duduk di sofa.


"Belum Nak. Kalian tunggulah di sini, nanti Mba Icha yang mengantarkan minuman kalian. Bibi mau lihat James, soalnya sedari tadi sesampai di rumah dia langsung memilih untuk tidur." kata Anna kemudian berlalu.


Bukan Defan namanya, kalau Ia duduk tenang. Kini Ia berdiri menelusuri setiap sudut ruangan keluarga itu. Tampak berjajaran lukisan, foto-foto keluarga mereka. Kini mata Defan berhenti di foto pernikahan Anna dan Jimmy.


"Kak Renata, ini Om Jimmy?" tanyanya dengan jari menunjuk ke foto, mata mengarah ke Renata.


"Tidak apa-apa Kak. Hanya saja, kenapa Om Jimmy lebih tampan di foto? kok aslinya hancur?" tanya Defan sesuka pikrannya.


Kening Rava berkerut, dengan mata yang di sipitkan menatap ke Defan yang masih memperhatikan segala foto-foto yang terpaku di dinding.


"Jangan asal ngomong. Kau belum pernah melihat Bibi Anna marah besar Fan?"


"Tidak! sama halnya dengan di sini, Defan juga baru pertama kali berkunjung ke sini." jawab Defan dengan polosnya.


Benar saja yang di katakan Defan. Untuk pertama kalinya dia berkunjung ke rumah Jimmy. Dan syukurnya, mulutnya tidak membanding-bandingkan rumahnya dengan rumah si Jimmy. Tapi Defan berdecak kagum akan interior rumah Jimmy. Apa lagi lukisan-lukisan yang membuat rumah itu terkesan memiliki seni di kedua manik mata Defan.


"Astagaaaa! ini mesum." tunjuk Defan ke salah satu foto yang bersejajar di atas meja.


Rava refleks beranjak dari duduknya dan mendekati Defan. Tepatnya menatap ke arah telunjuk Defan yang menyentuh salah satu foto sambil membungkuk. Kini arah pandangan Rava menoleh ke Defan. Keduanya saling beradu pandang, dengan mata yang membulat penuh, Rava menatap dalam ke Defan.


"Mesum kan Kak?" tanya Defan dengan cengengesan.


"Bukaaaaan! Itu namanya foto masa kecil Defan! Kau ini sembarangan saja kalau ngomong!"


"Jiaghhhh... penonton kecewa ya?" tanya Defan dengan tertawa sendiri.


Renata yang sudah tau, siapa yang di tunjuk Defan hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.


"Silahkan di minum Nak." Mba Icha datang meletakkan minuman di atas meja. Defan langsung menyambar bagiannya, jus jeruk dingin kesukaan Defan.


"Brrrrrrr.... segernyaaaaa." Defan terus meneguk jusnya hingga habis. Ada-ada saja tingkah dia ini, kadang gemasnya sama Defan pengen di tampol sesekali.


Setelah kepergian Mba Icha, tampak Anna dan James yang teramat senang saat mendapati Renata. Dengan sangat bersemangat, James langsung menghampiri Renata dan hendak merangkul lengannya.


"Jangan!!! Punya Rava ini!" ketus si Rava, menarik lengan Renata saat James sudah di samping Renata.


Defan dan Anna tertawa. James manyun, kesal banget dia sama Rava. Renata menatap ke Rava.


"Cemburun amat sih? Kan James uda lama gak ketemuan sama Aku." kata Renata membujuk.


"Ini kemaun babynya." alasan Rava.


Anna semakin mengembangkan tawanya.


"Rava mirip banget sama Kak Raka. Dulu juga papa kamu begitu. Frans yang dekat-dekat sama Kak Eva di marahin tuh sama Kak Raka. Ya sudah gak apa-apa James. Jangan di paksakan, Kakakmu itu pencemburu!" ledek Anna.


"Benar itu Tante... Ini kak Rava kadang ngesalin banget." timpal Defan.


"Ehmmm... Sambung terus sampai puassss." Rava melototkan matanya.


"Sudahlah, jangan bertengkar. Jadi gak kalian masak-masaknya?" tanya Anna.


"Masak apaan Ma?" tanya James bingung.


"Masa Kue. Kakakmu ngidam tuh, bawaan hamilnya. Dia pengen lihat kamu dan Defan masak. Terus, merasakan masakan kalian berdua." Anna berucap dengan kedua matanya yang berbinar.


Rava dia menahan tawanya. Kemudian Rava mengelus perut Renata.


'Baik banget kamu Nak. Bukan hanya Papa saja yang di kerjai. Para om-om kamu yang culun itu pun kamu bawa-bawa. Semesta sangat adil ini judulnya.' Rava bergumam dalam hatinya.


"Wooowww... Ini mah kecil!!! Selepeh dengan James. Ayolah kita memasak Fan." mata James memandang Defan.


"Lo yakin bisa masak?" raut wajah Defan berubah pucat.


"Kagak!" balas James sekenahnya.


"Dasarrrr! katanya selepeh. Bilang sepeleh aja salah! Kecil lagi katanya, apanya yang kecil? anunyaaa? Haaaais.. sial ini namanya!" omel si Defan.


"Jangan banyak berpikir! Ini demi keponakan kita, jarang-jarang kita di suruh masak. Ayolah...." ajak James ke Defan.


"Bukan jarang-jarang lagi! Gua gak pernah masaaaak! Masak air aja gua gosong. Ini masak apa pula lagi?" protes Defan.


"Sudah ayolah, kita coba. Lihat Renata sudah manyun. Ingat keponakan kalian, mau menguji pamannya itu baik apa enggak dengannya." Anna berkata dengan beranjak dari duduknya.


Defan menatap ke Renata yang menyungginggkan bibirnya. Raut wajahnya bersedih, dengan kedua mata memohon ke Defan.


"Lihat kan Fan? Kau merubah suasana hati Kakakmu." tegur si Rava.


"Iya deh Kak. Defan mau, mau masak apaan sekarang?" tanya Defan dengan mencoba tertawa kecil.


Refleks wajah Renata berubah senang. Senyumannya menghiasi bibirnya, tampak sangat bahagia.


"Kakak kepengen, kalian masak Cheese Cake." kata Renata dengan semangat.


"Alamak, bukankah itu bisa di beli di toko kue Kak?" tanya Defan.


Renata menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Kakak enggak mau. Kakak maunya kalian berdua yang membuatnya." balas Renata semakin menuntut.


"Sudalah Bro. Bukankah calo mertua lo membuka toko kue? Kenapa kau tidak bertanya bagaiamana cara membuatnya?" James merangkul tangannya di tengkuk leher Defan , seraya membujuk.


Defan pun teringat.


"Benar juga ya?"


"Dasar payah!" ketus Rava.


"Kenapa tidak kak Rava saja yang membuatnya?" Defan mencebikkan bibirnya.


"Anakku mau nya kamu, Fan! Pamannya yang somplak, suka ngerjai papanya. Jadi itu cocok untukmu. Lakukan saja!" Rava membuat tangannya mengusir Defan.


"Dih! Awas kalau jadi ya, gak akan Defan izinkan kak Rava menikmatinya! Cukup kak Renata dan keponakanku." balas Defan dengan berjalan meninggalkan ruangan dengan di ikuti oleh James yang sudah mengedipkan salah satu matanya ke Renata.


"Ayoooo." ajak Renata dengan menarik lengan Rava.


Rava menoleh ke arahnya.


"Mau ke mana?" tanya Rava.


"Kau temani mereka membuatkan kue untukku."


"Akuuuuu???"


"Iyaaa... sekalian kita buat dua dan membawanya untuk Vara. Aku sangat merindukan Vara dan ingin mengucapkan selamat untuknya. Sisa enam hari lagi pernikahannya. Pastilah dia sangat sibuk-sibuknya, Aku ingin membantunya Sayang. Siapa tau aja Vara membutuhkan teman untuk bertukar pikiran. Bukankah mengurusi pernikahan itu sangat sulit?"


"Iya sih.. tapi kalau aku ikut memasak kue kan gak benar aja Sayang? Bukankah Kau hanya ingin Defan dan James saja?" Rava di buat kelabakan sendiri.


"Kalau Aku katakan dari awal kamu juga ikut membuatnya, pasti kamu akan menolak." kata Renata dengan tersenyum.


"Mana mungkin! Aku bukan suami kaleng-kaleng. Baiklah, demi kau dan si buah hati, aku akan masak kue buat kamu dan si kecil. Aku kan pintar masak." Rava berbangga diri.


Renata tersenyum senang. Rava membantunya untuk bangkit berdiri dan berjalan bersama-sama menghampiri seluruhnya yang sedang mempersiapkan alat perangnya masing-masih di dapur rumah Jimmy.


****


Kalau suka tolong berikan VOTE dan LIKE nya. Jangan hanya menuntut saya untuk Update. Kok lama kali updatenya. Tolong kerja samanya dong, saya berharap banget kalian yang sudah baca jangan hanya berkomentar. Berapapun VOTE dari kalian, itu semangat buat saya. Yang lagi nunggui up nya Kekasihku Seorang CEO2 , entar malam saya upadate ya... Terima kasih...^_^